Loading...
 

Ayo belajar dengan TV-e !,

 

GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Minggu, 12 Oktober 2025

Pendidikan Kaum Tertindas, Ikhtiar Memecah Masalah Sosial dan Politik

Buku "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dan pendekatan pedagogi kritis. Tahun publikasinya pada tahun 1970, buku ini masih relevan dan memiliki pengaruh yang besar hingga saat ini. 

Argumen utama yang diusung oleh Freire adalah bahwa sistem pendidikan konvensional sering kali menjadi alat yang mempertahankan ketidakadilan dengan memperlakukan siswa sebagai penerima pasif pengetahuan, bukan sebagai peserta aktif dalam proses belajar. 

Freire memperkenalkan konsep "pedagogi dialogis," yang menekankan pendekatan kolaboratif dalam pendidikan di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog untuk bersama-sama menciptakan pengetahuan dan mengevaluasi secara kritis masalah-masalah sosial dan politik. 

"Ia memperjuangkan pembebasan peserta didik melalui conscientization, suatu proses untuk meningkatkan kesadaran kritis tentang ketidakadilan sosial dan memberdayakan individu untuk mengambil tindakan". 

Buku ini telah memiliki dampak yang signifikan dalam teori dan praktik pendidikan, terutama dalam bidang literasi dan pendidikan keadilan sosial. Ide-ide Freire telah diterapkan di seluruh dunia untuk mempromosikan pengalaman pendidikan yang lebih adil dan partisipatif. 

Meskipun buku ini mendapat banyak pujian karena potensinya untuk membawa perubahan yang fundamental, namun juga mendapat kritik. Beberapa berpendapat bahwa implementasinya mungkin sulit dalam konteks pendidikan tradisional, dan ada juga pandangan bahwa pendekatannya mungkin tidak selalu berlaku secara universal. 

Secara singkat, "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya revolusioner yang menantang paradigma pendidikan konvensional dan menawarkan visi pendidikan sebagai alat untuk perubahan sosial. Buku ini tetap menjadi bacaan penting bagi pendidik, aktivis, dan siapa pun yang tertarik pada persilangan antara pendidikan dan keadilan sosial. 

Sebelum kita menjelajahi lebih dalam isi buku ini, mari kita kenali penulisnya, Paulo Freire, serta konteks sejarah dan sosial di mana karyanya muncul. 

Siapa Paulo Freire? 

Paulo Freire (1921-1997) adalah seorang pendidik dan filsuf Brasil yang diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam bidang pendidikan abad ke-20. Ia lahir dan dibesarkan di Recife, Brasil, dalam keluarga yang kurang mampu. Pengalaman masa kecilnya yang penuh dengan kemiskinan dan ketidakadilan sosial telah membentuk pandangan dan komitmennya terhadap pendidikan yang adil dan pembebasan manusia. 

Freire memulai karirnya sebagai seorang guru di sekolah menengah dan kemudian menjadi direktur pendidikan di Departemen Pendidikan Kota Natal. Pada tahun 1960-an, dia mengembangkan pendekatan pendidikan yang dikenal sebagai "Pendidikan Pembebasan" atau "Pendidikan Kesadaran," yang kemudian menjadi dasar bagi bukunya "Pendidikan Kaum Tertindas." 

Karya ini muncul di tengah perubahan sosial dan politik yang signifikan di Brasil. Pada tahun 1964, pemerintahan militer merebut kekuasaan di Brasil, yang mengakibatkan penindasan politik dan sosial yang meluas. Freire sendiri ditangkap dan diasingkan selama beberapa tahun karena pandangan kritisnya terhadap rezim militer. 

"Pengalaman ini menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah senjata yang kuat dalam perjuangan melawan penindasan" 

"Pendidikan Kaum Tertindas" adalah hasil dari pemikiran dan pengalaman mendalam Freire. Buku ini mengeksplorasi konsep utama seperti kesadaran kritis, dialog, dan kesetaraan dalam pendidikan. Untuk lebih memahami isi buku ini, mari kita bahas beberapa konsep utamanya. 

Konsep Pendidikan Kaum Tertindas 

Salah satu konsep utama dalam buku ini adalah "Kesadaran Kritis" atau "Conscientization." Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya tentang transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi juga tentang mengembangkan kesadaran kritis siswa tentang dunia di sekitarnya. Ini melibatkan pengembangan pemahaman mendalam tentang masalah sosial dan politik serta kemampuan untuk menilai dunia secara kritis. 

Kesadaran kritis adalah langkah pertama menuju pembebasan, karena individu yang menyadari ketidakadilan sosial lebih cenderung untuk mengambil tindakan. 

Untuk mencapai kesadaran kritis, Freire mendorong pendekatan dialogis dalam pembelajaran. Dia berpendapat bahwa pendidikan seharusnya menjadi proses kolaboratif di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog yang saling menghargai. Ini berarti siswa tidak hanya menerima pengetahuan dari atas, tetapi juga memiliki peran aktif dalam proses pembelajaran. Dialog memungkinkan pertukaran ide dan pemikiran yang dalam, menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis. 

Selain itu, Freire menekankan pentingnya konteks sosial dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial di mana siswa hidup. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya mencerminkan dan mengakui pengalaman siswa dalam konteks mereka. 

Ini berarti bahwa pendidikan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan harus membantu mereka mengatasi tantangan dan ketidakadilan yang mereka hadapi. 

Kesetaraan juga merupakan elemen kunci dalam pemikiran Freire. Dia menggambarkan pendidikan yang adil sebagai pendidikan di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Ini adalah tantangan terhadap hierarki tradisional di kelas, di mana guru sering memiliki otoritas mutlak. Freire mendukung terbentuknya hubungan horizontal antara guru dan siswa, di mana keduanya dapat belajar bersama-sama. 

Dalam praktiknya, konsep-konsep ini dapat diilustrasikan melalui metode-metode dan teknik-teknik yang digunakan oleh Freire dalam pendekatannya terhadap pendidikan pembebasan. Salah satu teknik yang terkenal adalah "pemecahan kode" atau "decoding," di mana siswa diajak untuk menganalisis kata-kata dan konsep-konsep yang sering digunakan dalam masyarakat mereka. Ini membantu mereka memahami bagaimana bahasa dan budaya mereka dapat digunakan untuk mempertahankan ketidakadilan atau, sebaliknya, untuk memahami dan mengatasi ketidakadilan. 

Freire juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Ia mendukung gagasan bahwa pembelajaran harus terus berlanjut sepanjang kehidupan, dan bahwa pendidikan harus selalu relevan dengan perubahan sosial dan perkembangan individu. Ini juga mengaitkan konsep-konsepnya dengan pendidikan dewasa dan literasi, di mana pembelajaran dapat menjadi alat untuk memberdayakan orang dewasa yang mungkin telah ditinggalkan oleh sistem pendidikan formal. 

Saat membaca "Pendidikan Kaum Tertindas", kita juga harus menyadari bahwa buku ini ditulis dalam konteks sosial dan politik Brasil pada tahun 1970-an. Freire adalah seorang aktivis politik yang berjuang melawan ketidakadilan sosial dan politik di negaranya. Oleh karena itu, pandangan tentang pendidikan yang ia usung sangat dipengaruhi oleh pengalaman ini. Meskipun banyak konsepnya dapat diterapkan secara universal, ada elemen dalam bukunya yang sangat terkait dengan konteks Brasil pada saat itu. 

Kamis, 12 Desember 2019

Ini Ronde Pertama dari Mendikbud Nadiem Makarim

Tak hanya satu, empat perubahan langsung digeber Nadiem Makarim sebelum 2 bulan genap menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Bagi Nadiem, ini baru ronde pertama.

Empat perubahan itu dipaparkan Nadiem di hadapan Dinas Pendidikan seluruh Indonesia. Dia menyebutnya sebagai 'Pokok Kebijakan Merdeka Belajar'. Empat hal yang diubah Nadiem yaitu terkait Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Nadiem mengakui bahwa perubahan yang digagasnya ini bukannya tanpa tantangan. Perubahan pasti tidak nyaman tapi itu diperlukan untuk melakukan lompatan.

Simak video berikut :





"Ini adalah ronde pertama 'Merdeka Belajar'. Tidak ada perubahan yang nyaman-nyaman saja. Semua perubahan itu pasti ada tantangnnya. Semua perubahan pasti ada ketidaknyamanannya," kata Nadiem di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019)


"Tetapi seperti yang kita tahu sudah waktunya Indonesia melompat ke depan bukan hanya melangkah," sambungnya.

Selasa, 26 November 2019

Membedah Teks Pidato Hari Guru Nadiem Makarim

Teks pidato Nadiem Makarim yang akan dibacakan pada Hari Guru viral di media sosial. Nadiem menyoroti tugas guru yang selalu tersandung birokrasi administasi hingga tak dapat berinovasi. 

Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem Makarim sebagai Mendikbud karena dianggap mampu mengatasi tantangan masa depan.

Mewakili generasi milineal di posisi menteri, Nadiem dianggap dapat memberi terobosan besar bagi dunia pendidikan. Aksi Nadiem selama menjadi menteri memang kerap mendapat perhatian publik.

Saat kunjungan kerja di Jawa Timur, Nadiem menggunakan busana santai ketika ia memantau kondisi Sekolah Dasar Gentong 1 Kota Pasuruan. 

Begitu juga ketika rapat dengan Komisi X DPR RI. Pendiri aplikasi GoJek itu hanya menyiapkan selembar halaman untuk materi presentasi. Namun paparan Nadiem tak singkat karena ia membedah satu per satu poin yang tercantum di kertasnya.

Kita ulas teks pidato Nadiem bersama dengan pemerhati dan praktisi pendidikan 4.0, Indra Charismiadji, di video berikut :





Berikut : Pidato Mendikbud untuk Hari Guru Nasional 2019



Baca atau download Pidato Mendikbud pada Hari Guru Nasional 2019 [ Klik Disini ]

Sabtu, 31 Agustus 2019

Wanita, Tetaplah Engkau Berada Di Dalam Rumah !

“JADI saya pikir pada saat itu setiap wanita akan bereaksi dengan berbagai cara yang berbeda. Beberapa wanita pada saat itu tidak akan memasak, sedangkan yang lainnya akan terlibat dialog dengan suami mereka. Di Seluruh negeri beberapa wanita akan keluar untuk berunjuk rasa. Mereka akan menekan anggota Kongres Senator agar meluluskan undang-undang yang mempengaruhi peran wanita.“

Kalimat di atas diucapkan Betty Friedan untuk menyambut demo besar-besaran wanita pada tanggal 26 Agustus 1970 di Amerika Serikat. Friedan adalah seorang tokoh feminis liberal yang ikut mendirikan dan kemudian diangkat sebagai presiden pertama National Organization for Woman pada tahun 1966. Ia menjadi pemimpin aksi untuk mendobrak UU di Amerika yang melarang aborsi dan pengembangan sifat-sifat maskulin oleh wanita.
Betty Friedan sendiri terlahir dengan nama Betty Naomi Goldstein pada tanggal 4 Februari tahun 1921. Pada giliranya Friedan berkembang menjadi seorang aktivis feminis Yahudi Amerika kenamaan pada durasi medio 1960-an. Puncak momentumnya terjadi setelah ia berhasil mengarang “The Feminine Mystique“ (baca/download bukunya, klik disini) Buku yang menjadi rujukan kaum feminis ini menggambarkan peranan wanita dalam masyarakat industri. Di situ, Friedan mengkritik habis peran ibu rumah tangga penuh waktu yang baginya sangat mengekang dan jauh dari penghargaan terhadap hak wanita.
Buku Freidan pun terjual laris. The Feminine Mystique berubah menjadi “kitab suci” bagi kaum wanita dan ia digadang-gadang sebagai pencetus feminisme gelombang kedua setelah ombaknya pernah menyapu dunia abad 18.
Teori yang sangat ternama sekali darinya adalah apa yang disebut oleh Freidan dengan istilah Androgini. Androgini sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu ανήρ (anér, yang berarti laki-laki) dan γυνή (guné, yang berarti perempuan) yang dapat merujuk kepada salah satu dari dua konsep terkait tentang gender.
Namun sejatinya, kata Androgini muncul pertama kali sebagai sebuah kata majemuk dalam Yudaisme Rabinik sebagai alternatif untuk menghindari kata hemaprodit yang bermasalah dalam tradisi Yahudi.
Akan tetapi, sekalipun telah menapaki karir yang sangat memuncak dalam dunia feminisme, gagasan Freidan pun juga menjadi sasaran kritik. Menariknya orang yang mengkritik Friedan adalah seorang feminis lainnya bernama Zillah Eisenstein. Eisenstein sendiri adalah Profesor Politik dan aktivis feminis dari Ithaca New York. Ia menulis kritikan tajam terhadap gagasan konsep wanita bekerja milik Friedan. Dalam bukunya, Radical future of Liberal Feminism, Eisenstsein mengkritik,
“Tidak pernah jelas apakah pengaturan ini seharusnya meringan beban ganda perempuan (keluarga dan pekerjaan) atau secara signifikan menstruktur ulang siapa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Bagaimana tanggung jawab ini dilaksanakan?”
Perdebatan antara Eisenstein dan Freidan yang sama-sama aktivis feminis hampir tidak pernah ditemukan dalam dunia Islam. Karena Islam bukanlah sebuah produk dari akal manusia, tidak juga lekang dimakan waktu, lebih-lebih relatif dalam standar manusia. NamunIslam adalah agama genuine yang langsung turun dari Allah SWT.

Sabtu, 06 Juli 2019

Pesan dari Anies Baswedan untuk mahasiswa baru

Menjadi mahasiswa berarti sebuah tantangan baru. Ini adalah pesan untuk teman-teman yang menyandang status baru sebagai mahasiswa.

Untuk teman-teman yang memulai perjalanannya sebagai mahasiswa gunakanlah beberapa tahun kedepan di kampus untuk mengembangkan diri supaya setelah wisuda Anda siap mengabdi! Pastikan mengikuti double track akademik dan kepemimpinan. Ambil semua kesempatan untuk unggul di dalam dan diluar ruang kelas.

Berikut pesan lengkap, klik video berikut :




Sabtu, 29 Juni 2019

Apabila menyontek sudah seperti hal yang biasa..,



Kondisi Indonesia saat ini menurut saya sangat buruk, dimana Indonesia mengalami berbagai masalah, baik dikalangan masyarakat maupun dikalangan pejabat. Dikalangan masyarakat baik remaja maupun orang dewasa banyak terjadi penyimpangan misalnya banyaknya pelajar yang tawuran, mencuri bahkan menyalahgunakan narkoba. Dikalangan para pejabat penyimpangan pun banyak terjadi, banyaknya para pejabat yang korupsi, manfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri. Masalah-masalah tersebut menghambat kemajuan bagi Indonesia sendiri.

Penyebab dari semua masalah diatas salah satunya adalah mulai pudarnya kejujuran yang dimiliki bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini kejujuran sudah mulai ditinggalkan, baik kejujuran kepada diri sendiri ataupun kejujuran terhadap orang lain. Untuk mengatasi permasalahan-permasalah yang sekarang ini banyak terjadi di Indonesia salah satunya yaitu dengan menanamkan kejujuran pada bangsa Indonesia. Pentingnya suatu kejujuranadalah karena sikap tidak jujur, sangat buruk dampaknya pada bangsa ini jika ketidak jujuran sudah dianggap sebagai hal yang sudah biasa. Dapat dilihat dari realita yang terjadi di negeri ini, khususnya di dunia pendidikan, dimana menyontek sudah seperti hal yang biasa. Semua orang sepakat menganggap bahwa menyontek itu adalah suatu hal yang buruk, tetapi semua orang tidak dapat mengelak dari situasi-situasi yang membawanya untuk melakukan menyontek.

Jumat, 14 Juni 2019

VUCA dalam Dunia Pendidikan

Oleh: Freddy Nababan *)
DUNIA sedang mengalami turbulensi. Efek­nya adalah banyak hal yang berubah de­ngan cepat, tidak pasti, kom­pleks dan bisa jadi membingungkan. Dan hari-hari ini kita kerap melihat ber­munculannya ben­da-benda yang tidak per­nah kita ba­yangkan akan hadir sebe­lumnya.
Contohnya, beberapa waktu lalu, kita me­nyaksikan bahwa Sophia-robot ber­basis kecerdasan buatan yang bisa ber­tin­dak sebagai asisten manusia besutan David Hanson-menerima status kewarga­ne­garaan untuk entitas nonmanusia per­tama di dunia dari Putra Mahkota Kera­jaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. Kemudian, kita menyaksikan Alexa, juga produk kecerdasan buatan persembahan Amazon yang mampu bertindak sebagai asisten pribadi dengan berbagai keunggulannya. Ada juga Rina (Microsoft), dan Siri (Ios Apple).


Intinya, semua entitas tersebut adalah pencapaian terkini manusia yang mampu mem­berikan nilai lebih dan kemu­dahan hidup bagi penggunanya. Inilah peruba­han-perubahan yang tampak kasatmata dan sangat signifikan memengaruhi cara hidup dan pola pikir manusia secara keseluruhan.
Sampai di sini, bisa disimpulkan bah­wa tidak bisa tidak, dunia akan terus me­­ngalami perubahan. Perubahan itu pasti dan abadi. Segala kesusahan ber­ubah menjadi kemudahan. Apa yang du­lun­ya tak mungkin, menjadi mungkin se­bagai­mana dikatakan oleh filsuf Yu­nani, Heraclitus (535 BC-475 BC) dengan kata-kata bijaknya the only thing that is constant is change.
Jika kita amati, ada berbagai macam ek­ses dari perubahan-perubahan ini, salah sa­tunya dikenal sebagai disrupsi atau ke­kacauan. Disebut “gangguan/keka­cau­an” karena hal ini-baik langsung maupun tidak langsung, masif maupun mikro-me­nyebabkan peralihan-peralihan yang tidak kentara, juga ketidaknyamanan bagi se­bagian orang, terutama yang berada dalam status quo atau zona nyaman (comfort zone).
Orang-orang menjadi tidak nyaman ka­rena bisnis ataupun karir pekerjaan mereka terganggu, bahkan “terancam” oleh para pendatang baru pengusung dis­rupsi, yaitu kaum mile­nial. Bagi kaum mi­lenial “berubah-ubah” dan “ketidak­ber­aturan” adalah lifestyle mereka.
Karena punya pola pikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya, dalam berbisnis ataupun berkarir mereka juga banyak menawarkan konsep-konsep baru yang tidak ter­pikirkan sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya bisnis rintisan (start up business) berbasis di­gital akhir-akhir ini, seperti Uber, Gojek, Grab dan lain sebagainya. Para pemain lama terganggu oleh karena inovasi dan berbagai kemudahan yang ditawarkan para pemain baru (milenial) pelaku bisnis rintisan tersebut. Inilah dunia VUCA.

VUCA Penawar VUCA

VUCA (volatility, uncertainty, com­ple­x­ity dan ambiguity)-sebagaimana di­sitir oleh Victor Yasadhana-adalah istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh US Army War College untuk meng­gam­bar­kan keadaan dunia yang semakin rentan, tak pasti, rumit dan membingungkan se­bagai dampak multi­lateralisme dunia pasca-Perang Dingin.
Jika pada awalnya fenomena ini ber­gelayut pada ranah bisnis dan teknologi-in­formasi, maka kini hal yang serupa bisa kita saksikan dalam domain pendidi­kan. Sebagaimana sudah banyak diulas oleh para ahli di bidangnya, tatanan dunia pen­didikan global sekarang ini mengha­dapi apa yang disebut jurang teknologi dan informasi antara digital im­migrants (guru lama pembelajar teknologi) dan dig­ital natives (siswa penikmat dan peng­guna teknologi), di mana kebanya­kan guru yang ada sekarang masih ter­bilang gagap menghadapi para siswa pe­nutur teknologi.
Para guru lama ini kerap susah untuk me­ngubah paradigma belajar dan me­ngajar, sulit menyesuaikan diri dengan tren-tren terbaru pengajaran berikut me­dia-media pembelajaran berbasis digital yang berkembang cepat, merasa ter­ancam dengan teknologi, dan merasa bim­bang/bingung untuk ber­ubah. Alasan paling klise adalah: sudah tua dan mau pen­siun. Dan barangkali sudah merasa nyaman dengan suasana yang ada.
Namun sejatinya, para guru harus mau dan mampu mengubah mindsettersebut sebab perubahan itu adalah abadi. Guru harus mau terbuka dengan perubahan zaman sebab guru adalah pembelajar sejati seumur hidup. Guru adalah role model dan agent of change kehidupan.
Perubahan dan kesulitan yang mung­kin ditimbulkannya tak mesti ditakuti se­bab sesungguhnya di balik kesulitan pasti ada jalan. Di balik perubahan pasti ada kemudahan. Selalu ada semacam “serum” penetralisir. Dalam bukunya, Lea­ders Make the Future: Ten New Lea­dership Skills for an Uncertain World, Bob Johansen yang juga peneliti pada Ins­titute for the Future menawarkan so­lusi untuk mengatasi dunia VUCA ini, juga dengan VUCA (vision, understan­ding, clarity dan agility).
Sejatinya resep VUCA ini bisa di­aplikasikan dalam dunia pendidikan se­bagai berikut. Volatility (perubahan cepat tak terduga) bisa diakomodir dengan me­nerapkan visi (vision) yang jelas. Apa yang hendak dicapai di masa depan di­tetapkan hari ini. Guru harus me­netapkan apa yang menjadi program bulanan, se­mester, dan tahunan. Guru harus memas­tikan semua materi sudah on the track, kon­tekstual dan sinkron dengan tren terbaru.
Uncertainty (sulit terprediksi) dinis­bih­kan dengan pe­mahaman (under­stan­ding) yang baik akan apa yang menjadi pe­nyebabnya. Hal ini umumnya berkai­tan dengan karakter siswa. Untuk itu, guru harus menjadi fasilitator yang lebih ba­nyak mendengar, membaca dan meli­hat perspektif yang berbeda dari para mu­­rid­nya. Guru harus mengenali gaya be­lajar mereka karena mengenali murid secara utuh adalah keharusan.
Selanjutnya, complexity (keruwetan dan kerumitan) yang dialami dari para sis­wa dalam pembelajaran diatasi dengan ke­mauan para pendidik untuk lebih ba­nyak merespon, tidak reaktif, dan meng­kla­rifikasi setiap permasalahan yang ada agar tercipta kejelasan (clarity) dalam mengambil keputusan.
Dan terakhir ambiguity (kebingungan/kebimbangan) dalam pembelajaran dapat diselesaikan dengan agility (kelin­cahan/keluwesan) para guru melihat solusi-solusi yang ada. Kelincahan (baca: ke­ari­fan) para guru dalam memberikan jalan ke­luar yang terbaik dari kebimba­ngan sis­wa berkorelasi dengan kemata­ngan se­orang pendidik dan “jam terbang­nya” yang hanya bisa didapat dari ke­mau­an para guru untuk terus belajar, baik in­dividual maupun kolaboratif dengan sia­pa saja dan di mana saja.
Esensinya adalah para pendidik harus adaftif dengan segala macam dinamisasi pendidikan, termasuk denga per­kemba­ngan-perkembangan terbaru dalam dunia teknologi (digitalisasi pendidikan). Guru harus selalu on, tidak boleh off.
Volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity boleh jadi hanyalah salah satu fe­nomena yang kebetulan mendera dunia se­karang ini. Akan ada fenomena-fe­nomena lain ke depannya. Untuk itu, tu­gas kita semua adalah, tidak hanya pen­didik, bersiap-siap sebab perubahan itu pasti dan abadi adanya.***
Penulis adalah alumnus CULS (Ceko), mahasiswa FKIP Pascasarjana Nommensen, Medan dan pegiat literasi di Toba Writers Forum (TWF) Medan.
[Sumber : http://harian.analisadaily.com]

Minggu, 09 Juni 2019

Orang Cerdas Belum Tentu Bersikap Bijak

Ada alasan mengapa orang cerdas bisa melakukan hal-hal bodoh.


Sekelompok anak laki-laki dan perempuan berkostum hitam putih tengah mengobrol di angkringan, membicarakan proses Computer Assisted Test atau tes CAT yang baru saja mereka rampungkan beberapa menit yang lalu. “Tes seleksi kompetensi dasar atau SKD menggunakan sistem CAT. Pada tahap SKD, kita akan diminta menyelesaikan tiga kelompok soal yaitu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP),” cerita Kiki, salah satu pendaftar CPNS. Proses CPNS, seperti juga proses seleksi di perusahaan-perusahaan swasta, melibatkan beberapa ragam tes untuk menguji calon pekerjanya. Satu hal yang pasti tidak terlewat adalah tes-tes yang terkait dengan tingkat kecerdasan seseorang, atau yang disebut sebagai Tes Inteligensia Umum (TIU) dalam seleksi CPNS, atau juga akrab dengan sebutan tes IQ dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tes-tes sejenis sebenarnya pernah kita lakukan semenjak kita di bangku sekolah. Bahkan, pada beberapa media sosial, misalnya Facebook, ada pengembang aplikasi yang dapat digunakan untuk menguji tingkat kecerdasan. Banyak pengguna yang menjajal ragam aplikasi penguji kecerdasan dan tentu saja mengunggahnya di laman media sosial masing-masing, juga jamaknya penggunaan tes itu untuk menguji calon pegawai, memperlihatkan kuatnya pandangan bahwa kecerdasan adalah (salah satu) hal paling berharga bagi manusia. Sementara itu, belum lama ini, dunia pendidikan kita diriuhkan oleh berita mahasiswa doktoral yang melakukan kebohongan terkait kiprah akademiknya. Sebagai penerima beasiswa di salah satu kampus bagus di Belanda, Dwi Hartanto pasti tak kurang cerdas. Namun, mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan? (baca klik disini) Di luar urusan kasus itu, kita juga sering mendapati "orang-orang berpengaruh" di sekitar kita tak selalu orang ber-IQ tinggi. 

Rabu, 03 April 2019

Mampukah Pendidikan Kita Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0?


"Revolusi Industri 4.0" - Studium Generale KU-4078 oleh : Rektor ITB : Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, Rabu, 27 Maret 2019


Oleh: Diyan Nur Rakhmah

Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution (2016) mengemukakan tentang Revolusi Industri Generasi Keempat (Revolusi Industri 4.0) yang ditandai dengan kelahiran artificial intelegent pada ragam bentukan produk yang dapat bekerja layaknya fungsi otak manusia yang dioptimalisasikan.

Otomasi dan pengambilalihan bidang kerja yang dimekanisasi melalui perangkat digital menjadi keniscayaan dan mengarahkan pada praktik-praktik bidang kerja yang berpusat pada eliminasi 'berkedok' efisiensi tenaga kerja manusia sebagai muaranya.

Ragam 'kecerdasan buatan' tersebut di antaranya adalah super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, dan lain sebagainya. Konsep Revolusi Industri 4.0 ini menemukan pola dan mekanisme kerja baru ketika disruptif teknologi hadir begitu cepat yang secara bertahap mendominasi sendi kehidupan dan keseharian manusia.

Tuntutan Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 merupakan perubahan strategis dan drastis tentang pola produksi yang mengolaborasikan tiga dimensi utama di dalamnya, yakni manusia, teknologi/mesin, dan big data.

Dalam banyak literatur, kunci dari era industri generasi keempat ini bukan lagi berkisar pada ukuran atau besaran perusahaan atau organisasi, tetapi kelincahan dan sifat adaptif yang dimiliki untuk dapat bertahan dalam iklim kompetitif dan dinamis menghadapi perubahan yang bergerak melesat.

Soft skills dan transversal skills menjadi modal penting bagi generasi yang hidup dan menjadi pelaku perubahan di era revolusi industri tersebut.

Selasa, 30 Oktober 2018

Guru Berbicara Politik, Dia Berpolitik?

Oleh : Bonefasius Sambo 
           Penulis Kompasiana


[ Video Ilustrasi : Kumpatran ]

Bagi saya ini pertanyaan kritis. Pertanyaan yang perlu dijawab mungkin harus pakai referensi hukum dan dilanjutkan dengan diskursus biar bisa jelas dan terang.

Kalau seorang guru yang aktif berbicara politik kadang ia dituduh melakukan praktik politik atau memiliki afiliasi dengan kelompok tertentu. Apakah benar?

Seharusnya kita melihat konten, konteks dan momentum pembicaraan baru kita membuat kesimpulan. Jangan langsung menuduh.

Jika politik yang seharusnya menjadi diskursus dalam konteks pendidikan dianggap tabuh bagi seorang guru (PNS) maka saya yakin ada sikap pembiaran dari guru ketika politik menempuh jalur pragmatisme dan ketika politik membangun budaya permisif.

Jumat, 02 Juni 2017

Mengenang 1 Juni


Oleh: Andi Achdian

Ibu saya suka bercerita, melukis dan menembang. Itu dilakukannya saat menghabiskan waktu luang ketika langit mulai berwarna jingga keemasan. Suatu sore saya duduk di sampingnya. Lalu ia menuturkan sebuah kisah tentang tradisi lama nenek moyangnya. Tugas kita di dunia adalah mengabdi pada negara, agama dan rakyat jelata. Begitulah kira-kira terjemahan kasarnya. Ia menyampaikan dengan pribahasa yang diiringi nada merdu dari tembang kesukaannya.

Saya kira setiap keluarga Indonesia memiliki kisah-kisahnya sendiri tentang kebajikan sosial yang patut dilakukan sebagai anggota masyarakat. Keluarga adalah tempat awal kebajikan sosial itu diajarkan. Kemudian dilanjutkan di sekolah, madrasah, ataupun ketika kumpul-kumpul keluarga. Sebuah buku yang ditulis Hildred Geertz menyampaikan dengan indah kebiasaan kehidupan keluarga Jawa di rumah-rumah mereka. Semua keluarga Indonesia memiliki kebajikan sosial yang mereka ajarkan untuk setiap anak-anaknya dari buaian sampai remaja.

Jumat, 21 April 2017

Alasan Saya Tak Memasukkan Anak ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)

Oleh : Doni Swadarma

Bagi sebagian orang usia SD merupakan masa kritis. Dimana anak mulai mempertanyakan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, menyentuhnya dan mengamati secara langsung. Hal tersebut diperkuat dengan teori konstruksivisme Piaget yang mengatakan usia 7-11 tahun adalah tahapan “operasional konkret”, dimana anak mulai berpikir secara logis dengan mengoperasikan benda-benda secara konkret.

Sedangkan khusus untuk muslim, anak usia 7 tahun sudah dituntut untuk menjalankan shalat, bahkan dalam salah satu hadits orang tua diperbolehkan memukul anak yang tidak melakukan shalat bila sudah berusia 7 tahun, asalkan bukan pukulan yang membahayakan fisik maupun psikis anak.

Oleh karenanya tak mengherankan bila banyak orang tua muslim (perkotaan) yang menyekolahkan anaknya di Sekolah Dasar Islam Terpadu.Dengan harapan anak mereka tumbuh dengan dasar pemahaman agama Islam yang baik.

Bila kita perhatikan perkembangan SDIT memang luar biasa. Luar bisa cepat pertumbuhannya, luar biasa mahalnya. Saking banyaknya, sampai-sampai dibentuk JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu), yaitu sejenis forum komunikasi antar SDIT/SMPIT. Segmen masyarakat muslim perkotaan memang konsumen yang mereka bidik oleh karenanya biaya sekolah di SDIT terkenal mahal.

Namun bagi saya pribadi, saya tak tertarik untuk ikut-ikutan memasukkan anak saya untuk sekolah di SDIT manapun, mengapa?

Selasa, 21 Maret 2017

Mendidik Karakter

Oleh: Mohammad Nuh

TRANSMISI nilai-nilai kebaikan adalah kerja peradaban. Sejarah mengingatkan kita bahwa perabadan tak selamanya tumbuh. Kadang bangkit, kadang runtuh. Ia meruntuh saat moral merosot—kala suatu masyarakat gagal mewariskan kebaikan-kebaikan utama—kekuatan karakternya—kepada generasi barunya. (Lance Morrow)

Pagi yang cerah, murid-murid kelas IV turun ke sawah untuk melihat proses pengolahan padi. Mulai dari menuai, merontokkan, menjemur, hingga menggiling padi. Mereka bersemangat dan bergembira, berjalan menyusuri pematang sawah, bertegur sapa dengan petani.

Ketika sampai di sawah, mereka membantu petani menuai padi dengan menggunakan sabit. Batang padi yang sudah dipotong dikumpulkan di pinggir sawah, lalu diangkut ke lapangan. Siswa melihat bagaimana petani merontokkan padi kering dalam karung berukuran kecil yang memungkinkan diangkut oleh siswa. Satu per satu mereka bergantian memanggul karung padi itu ke tempat penggilingan.

Saat berada di tempat penggilingan, spontan Akbar bertanya kepada gurunya. “Bu Guru, berarti kita harus melepaskan dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik ya?”

Senin, 28 November 2016

Guru itu Digugu dan Ditiru

Oleh : Itje Chodidjah

Slogan guru digugu dan ditiru ini ini memiliki makna yang dalam bagi kehidupan seorang guru. Landasan falsafah di balik slogan ini adalah bahwa  sosok seorang guru dapat dipercaya dan ditiru. Hal ini mengisayaratkan bahwa dalam berbagai kegiatan kehidupan, masyarakat berharap guru sebagai tauladan. Ketika di sekolah guru menjadi panutan bagi siswanya.

Dalam konteks sekolah, guru dipercaya karena diharapkan guru akan selalu menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan siswanya baik secara akademis maupun pribadi. Guru juga diharapkan bertingkahlaku sesuai dengan azas moral dan adat istiadat setempat. Secara komulatif diharapkan hasil pendidikan di sekolah dengan anak didik yang berasal dari berbagai keluarga yang berlatar belakangnya berbeda akan menjadi kelompok masyarakat yang madani.

Sekolah yang penyenggaraannya harus dipimpin oleh para guru memiliki peranan penting bagi tumbuh kembangnya masyarakat. Tingkah laku yang muncul di masyarakat mau tidak mau tetap diwarnai oleh apa yang dianut oleh para guru, yang didalamnya ada kelompok kepala sekolah dan pengawas sekolah, dalam menyelenggarakan proses mendidik.

Bertanggung jawab

Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil profesi menjadi guru, maka ia harus memahami bahwa ia sedang memutuskan untuk menjadi bagian dari  kehidupan individu-individu yang dididiknya. Secara bawah sadar, anak didik yang bernaung di kelasnya berharap banyak bahwa mereka akan mendapat berbagai pengetahuan dan kemampuan untuk bekal hidupnya. Harapan tersebut tentu saja juga merupakan harapan orang tua, masyarakat, dan negara.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Sekolah 24 Jam, untuk Apa

Oleh: Daoed JOESOEF

Kebijakan pendidikan berupa full day schooling sebaiknya dibatalkan. Menerapkan kebijakan berkonsep mentah di bidang pendidikan sama saja dengan membuat semua peserta didik menjadi kelinci percobaan, mengotak-atik masa depan negara-bangsa melalui anak-anak yang lugu tak berdaya. Jangan mempermainkan pendidikan hanya bersendikan kekuasaan formal.

Tanggapan harfiah full day schooling, yaitu siswa berada sehari penuh di sekolah, harus ditolak karena membebaskan orangtua dari tugasnya mendidik anak- anaknya sendiri. Rumah adalah home, sekolah kedua dan orangtua adalah guru kedua anak di rumah. Anak butuh family education. Ada nilai-nilai kekeluargaan khas yang pantas kita hormati kalau kita tidak mau negara kita menjadi totaliter.

Di samping family education, anak-anak Indonesia, selaku warga dari negara-negara yang merdeka, memerlukan pula formal education. Ia berupa proses pembelajaran nasional yang mengembangkan mereka dari makhluk menjadi warga negara terbaik dan yang terbaik dalam diri warga negara-to cultivate the best citizens and the best in citizens. Berarti yang kita perlukan adalah education, bukan schooling. Schooling memang beda dengan education. Mengidentikkan kedua nomenklatur kerja ini bisa dan sudah mengacau pelaksanaan pendidikan selama ini.

Minggu, 14 Agustus 2016

Agar Tidak Menjadi Orangtua Durhaka

KATA durhaka memang selalu disandingkan kepada anak. Ya, biasanya anaklah yang durhaka dengan menentang dan tidak menghormati orangtuanya. Padahal, Allah Ta’ala melarang keras hal itu. Dan anak tersebut telah tergolong pelaku dosa besar. Di mana adzabnya akan ia rasakan di dunia ini juga.


Meski begitu, tak dapat dipungkiri bahwa orangtua pun bisa saja durhaka pada anak. Seperti halnya tidak memperhatikan anak, tidak memberi nama yang baik pada anak, dan hal lain yang semisal dengan itu. Hal tersebut juga bisa mengundang murka Allah Ta’ala. Lantas, langkah apa yang harus dilakukan orangtua agar tidak tergolong sebagai orangtua yang durhaka?
Pertama, Pentingnya Pendidikan Agama
Sudah menjadi rahasia umum, pendidikan agama menjadi sarana penting guna membentuk insan yang mulia dan berakhlak baik. Walaupun begitu, masih sangat banyak orangtua yang mengabaikan permasalahan ini. Dalam pemilihan tempat pendidikan, banyak orangtua yang lebih memilih menyekolahkan anakanya di sekolah bergengsi, berbau kebarat-baratan, yang di dalamnya cenderung mengesampingkan pendidikan agama. Agaknya, alasan pekerjaan di masa mendatang masih menjadi alasan klasik bagi orangtua dengan tipe seperti ini.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan tindakan terburuk terhadap anaknya itu. Kerusakan anak-anak itu kebanyakan bersumber dari orang tua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah din ini kepada mereka. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah agama tersebut saat masih kecil. Sehingga saat sudah besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bagi orangtua mereka,” (Tuhfatul Maudud, I: 229).
Kedua, Perhatikan Lingkungan

Kamis, 11 Agustus 2016

Full Day School atau Bete School?

Oleh : Haidar Bagir
Ketua Yayasan Sekolah-Sekolah Lazuardi 


"... Kegagalan akademik siswa bukanlah dikarenakan tidak adanya/kekurangan upaya oleh sekolah, melainkan justru akibat 'ulah' sekolah." John Holt dalam How Children Fail

PENDIDIKAN, tidak seperti pendapat orang-orang seperti John Locke (teori tabula rasa), pada dasarnya bukanlah penanaman atau pengisian, melainkan aktualisasi potensi siswa. Sudah sejak berabad lalu, dengan puitis Plutarch menyatakan, "Pikiran bukanlah bejana untuk diisi, tapi api untuk dinyalakan." Di zaman modern, Paulo Freire menolak apa yang disebutnya sebagai banking concept of education, yang di dalamnya siswa dianggap sebagai 'celengan' yang harus diisi guru.

Pandangan yang sejalan juga diungkapkan para ahli seperti Steven Pinker, Sir Ken Robinson, dan Noam Chomsky. Dalam metode banking, peserta didik bukan saja dianggap sebagai celengan kosong, ke dalam celengan itu pun dijejalkan terlalu banyak 'uang receh'. Bukan hanya banyak, malah tak banyak bermakna bagi kebutuhan siswa.

Selasa, 09 Agustus 2016

Pedidikan yang Apolitis


Oleh : Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Ketika ditanya, apa hal yang perlu diperbaiki, supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih baik, kebanyakan orang akan menjawab: pendidikan. Mereka berpikir, ketika semua orang Indonesia bisa mendapatkan pendidikan bermutu, maka kemampuan sumber daya manusia akan meningkat, dan ini akan bisa memperbaiki situasi Indonesia. Saya setuju dengan pendapat ini. Pertanyaan berikutnya adalah, pendidikan macam apa yang kita perlukan?

Pendidikan Apolitis

Jawaban yang kerap muncul adalah, pendidikan sains dan pendidikan moral. Pendidikan sains lalu disamakan dengan pendidikan fisika, matematika, kimia, dan biologi. Sementara, pendidikan moral disamakan dengan pendidikan agama. Pada titik ini, saya amat tidak setuju.

Pendidikan sains, dengan beragam cabangnya, tentu diperlukan. Pendidikan moral dan pendidikan agama tentu juga diperlukan. Namun, cara mengajarnya harus diubah. Dengan kata lain, paradigma mengajarnya harus diubah, sehingga bahan yang diajarkan juga ditafsirkan dengan cara yang sama sekali baru.

Senin, 01 Agustus 2016

Jalan Guru

Oleh : Iwan Pranoto
(GURU BESAR ITB SERTA ATASE PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DI KBRI NEW DELHI, INDIA)
Bagi negara dengan mutu pengajaran di sekolah masih rendah, tak menguntungkan menceraikan perguruan tinggi dari pendidikan dasar dan menengah. Di zaman ini, perjalanan karier seorang guru -- dari sebelum mengajar sampai saat mengajar—senantiasa berhubungan dengan perguruan tinggi.
Tersebutlah seorang profesor kimia yang tak senang saat mengetahui bagaimana cara anak kandungnya diajar kimia di sekolah. Maka, kemudian sang profesor minta bertemu dengan guru kimia anaknya tersebut untuk menegur dan hendak ”mengajari” bagaimana seharusnya mengajarkan kimia. Saat bertemu, sang profesor kaget karena ternyata guru kimia itu bekas mahasiswanya sendiri. Kejadian ini dikutip di laporan ”Educating Teachers of Science, Mathematics, and Technology” keluaran National Research Council, 2001.
Kisah ini, pertama, mengingatkan para dosen dan perguruan tinggi bahwa mahasiswanya ada yang akan menapaki jalan guru. Perlu disadari, tak semua mahasiswa di perguruan tinggi akan menjadi peneliti, rekayasawan, arkeolog, apoteker, pengacara, sejarawan, manajer, atau politisi. Sebagian insan menetapkan hati untuk menelusuri jalan guru saat ia studi di perguruan tinggi. Maka, semua perguruan tinggi, tanpa kecuali, bertanggung jawab dan berperan dalam merawat jalan guru. Terlebih karena saat ini institut keguruan dan ilmu pendidikan (IKIP) juga sudah tak ada lagi.
Kedua, pengajar perguruan tinggi berperan dan amat berdaya dalam menginspirasi mahasiswa untuk menjadi guru. Momen kegiatan akademik sarat perdebatan pemikiran mendalam serta argumen mencerahkan, semacam yang digambarkan di film Dead Poets Society, mengilustrasikan keindahan dan kenikmatan mengajar. Pengalaman intelektual macam ini kerap mengukir sukma mahasiswa dengan hasrat diri menapaki jalan guru.
Walau demikian, harus diakui bahwa banyak yang memilih jalan guru berdasar motivasi lebih rasional, seperti ekonomi. Akan tetapi, ada pula insan menapaki jalan guru karena alasan yang dianggap emosional dan romantis seperti di atas.

Kamis, 21 Juli 2016

Didiklah Anak-Anak Kami

Oleh: Doni Koesoema A 
Pemerhati Pendidikan dan Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara,Serpong
APA sikap yang mestinya dimiliki orangtua saat mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah di hari pertama?
Kolaborasi sekolah, rumah, guru, dan orangtua hanya akan efektif bila ada sikap percaya.
Orangtua percaya pada guru, sekolah, dan putra-putri mereka.
Hilangnya rasa kepercayaan dalam dunia pendidikan telah melahirkan berbagai persoalan yang justru menjauhkan para pendidik dari tugas utama mereka.
Tidak adanya kepercayaan antara orangtua dan guru telah memosisikan guru dan orangtua dalam keadaan yang saling berlawanan.
Guru memersepsikan orangtua tidak mau aktif terlibat dalam pendidikan.
Sebaliknya, orangtua menganggap guru tidak bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka ketika nilai akademis anak mereka rendah.
Ketidakpercayaan orangtua pada guru juga berimbas pada kepercayaan mereka pada lembaga pendidikan.
Ketidakpercayaan orangtua pada lembaga pendidikan bisa kita lihat dari maraknya fenomena les-les tambahan yang menjadi beban bagi anak-anak setelah mereka menjalani proses pendidikan di sekolah.
Bahkan, sampai pada tahap tertentu, putusnya rasa kepercayaan ditandai dengan maraknya berbagai macam persoalan yang menghadapkan para pendidik sampai ke ranah hukum, baik itu karena persoalan pendidikan biasa, kasus kekerasan, dan tindakan kriminal.
Ketidakpercayaan orangtua pada anak juga ditandai dengan maraknya sikap protektif yang berlebihan terhadap anak.

Roh keterlibatan

Anjuran Mendikbud Anies Baswedan agar orangtua menghantar putra putri mereka di hari pertama mungkin bagi beberapa orangtua bukan hal yang baru. Di desa-desa sudah ada kebiasaan ini.
Di kota besar, malahan ada orangtua yang menghantar anak-anak mereka bukan saja hari pertama, melainkan juga di hari-hari berikutnya.
Meskipun anjuran ini sangat klise, ada satu spirit utama yang ingin diangkat kembali, yaitu perbaikan kualitas relasi dan keterlibatan orangtua dalam pendidikan.
Menghantar anak bukanlah persoalan utama pendidikan kita saat ini.
Absennya kualitas kerja sama antara rumah dan sekolah sebagai roh utama pendidikan inilah yang perlu dihadirkan kembali.
Menghadirkan orangtua dalam pendidikan terangkum dalam satu konsep dasar, yaitu pelibatan publik.
Anies Baswedan merupakan satu-satunya mendikbud yang menggemakan kata pelibatan publik bagi seluruh pelaku dalam ekosistem pendidikan.
Ia melihat bahwa orangtua ialah pelaku utama peningkatan kualitas pendidikan.
Merekalah kunci utama perkembangan putra-putri mereka, baik secara mental, akademis, maupun spiritual.
Karena itu, simbolisme keterlibatan aktif ini ingin ia tampilkan secara nasional dengan mengajak para orangtua untuk menghantar putra-putri mereka ke sekolah di hari pertama.

Bukan simbolisme

Kolaborasi orangtua sekolah tidak boleh berhenti sekadar sebagai ritual dan simbolis.
Seolah-olah hanya dengan menghantar anak ke sekolah, orangtua sudah puas dan merasa terlibat dalam pendidikan putra-putri mereka.

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]