Loading...
 

Ayo belajar dengan TV-e !,

 

GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Tampilkan postingan dengan label Riset - Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riset - Penelitian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2026

Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”

Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”  


Mayoritas masyarakat Indonesia berisiko terkena gangguan Digital Dementia, terutama anak kecil dan Gen Z yang sedang aktif-aktifnya menggunakan ponsel dan internet. 

Penggunaan ponsel pintar di Indonesia semakin masif dari hari ke hari. Melansir data statisik dari data.goodstats.id[1], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia cenderung naik dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2015 jumlahnya tidak sampai 60 juta pengguna, di tahun 2023, sewindu kemudian, jumlahnya melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 180 juta pengguna. 

Melansir prioridata.com[2], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia saat ini mencapai 187 juta, berada di urutan keempat sebagai negara dengan pengguna ponsel pintar terbanyak di dunia setelah China, India, dan Amerika yang berada di urutan pertama, kedua, dan ketiga. Namun jika dilihat dari persentase penetrasi ponsel pintar, Indonesia memiliki persentase penetrasi yang sama dengan China. 

Persentase penetrasi internet juga sejalan dengan pertumbuhan pengguna ponsel pintar di Indonesia. Menurut data yang diambil dari dataportal.com[3], penetrasi internet di Indonesia naik drastis di tahun 2024 dengan persentase 66.5 persen penduduk Indonesia adalah pengguna internet, dari yang sebelumnya hanya 28 persen di tahun 2015. Mirisnya, masih dari laman yang sama, rata-rata penduduk Indonesia dilaporkan memiliki waktu guna (screentime) internet sekitar 7 jam setiap hari, jumlah yang hampir setara dengan sepertiga waktu harian mereka telah habis digunakan untuk menjelajah dunia maya. 

Ternyata, kondisi serupa juga terjadi di pelbagai belahan dunia. Thailand, Mesir dan Mexico mencatat rata-rata waktu guna internet serupa dengan Indonesia, disusul oleh Malaysia dan Rusia yang penduduknya sedikit lebih lama aktif di dunia maya dengan rata-rata 8 jam waktu guna dalam sehari. Jika dilihat dari kategori usia, di seluruh dunia, pengguna internet yang paling lama aktif di dunia maya adalah Gen Z yang berusia 16-24 tahun yang rata-rata menghabiskan sekitar 7 jam setiap hari untuk eksis di dunia maya. 

Fenomena naiknya jumlah pengguna ponsel pintar dan durasi berselancar di dunia digital menggugah banyak peneliti dan pemerhati kesehatan untuk menginvestigasi dampak penggunaan ponsel pintar dan durasi waktu guna internet pada kesehatan penggunanya. 

Melalui berbagai tes seperti uji daya ingat, tes ketajaman fokus, tes kecemasan, dan indeks prestasi, para peneliti menemukan beberapa efek negatif dari penggunaan ponsel pintar dan internet yang ekstensif. Dampak negatif ini meliputi adiksi gawai, kecemasan jika tidak memegang gawai, fear of missing out (FOMO), penurunan indeks prestasi, dan yang terbaru adalah risiko gangguan Digital Dementia. 

Digital Dementia 

Istilah Digital Dementia pertama kali dikemukakan oleh seorang pakar neuropsikiatris asal Jerman, Manfred Spitzer, yang merujuk pada fenomena menurunnya fungsi kognitif karena terlalu sering bergantung pada teknologi seperti ponsel pintar dan internet. Istilah ini kemudian menyebar cepat melalui berbagai publikasi digital di banyak negara yang digunakan untuk menjelaskan fenomena penurunan kemampuan kognitif seperti menurunnya daya ingat, sulit mengambil keputusan, hingga berkurangnya kemampuan fokus dan bersosialisasi akibat penggunaan gawai yang berlebihan (Manwell et al., 2022). Meski memiliki gejala yang mirip dengan gangguan demensia pada umumnya, gangguan ini lebih berbahaya karena bukan hanya menyerang individu berusia senja, namun juga individu berusia muda sebagai golongan pengguna gawai paling aktif. 

Korelasi antara ketergantungan pada ponsel pintar untuk mengerjakan aktifitas manusia dan minimnya pelibatan kemampuan kognitif bawaan manusia adalah pemicu utama dari gangguan ini. Sejak lahir, otak manusia memiliki sifat plasticity atau neuroplasticitas yang berarti ia dapat berubah, berkembang, dan beradaptasi sebagai respons dari pengalaman, pembelajaran, dan ingatan yang dilalui manusia setiap hari. Artinya, perkembangan otak, berikut fungsi kognitifnya, sangat bergantung pada masukan informasi dan keterlibatannya dalam aktifitas sehari-hari. 

Saat manusia lebih sering bergantung pada ponsel pintar untuk mengerjakan tugas seperti mengingat, navigasi arah, atau menganalisis informasi, kemampuan kognitifnya tidak mendapat masukan dan pengalaman yang diperlukan untuk berkembang. Defisiensi aktivitas koginitif dalam jangka panjang bahkan dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. 

Penurunan fungsi kognitif  bukanlah efek akhir dari ketergantungan manusia terhadap teknologi. Dekadensi kognitif ini justru adalah awal dari ‘efek domino’ yang dapat mengebiri produktifitas manusia. Ironisnya, gangguan ini justru mengancam kaum muda yang seharusnya sedang berada di puncak produktivitas. 

Lebih jauh, penggunaan internet melalui ponsel pintar juga menambah daftar pekerjaan manusia yang diambil alih oleh gawainya. Bertambahnya jumlah tugas yang dapat didelegasikan tentu berbanding terbalik dengan jumlah aktifitas yang dibebankan pada otak. Laporan dari pelbagai publikasi ilmiah telah menyatakan bahwa semakin banyak aktivitas manusia yang didelegasikan pada ponsel pintar dan internet, semakin besar juga risiko mereka tekena digital dementia. Kondisi ini kemudian diperparah oleh durasi pemakaian gawai yang ekstensif. Tidak heran, gangguan digital ini lebih mudah menyerang anak muda di usia produktif yang hampir seluruh waktunya digunakan untuk memakai ponsel pintar dan internet, daripada orang berusia senja dengan waktu guna gawai yang sedikit. 

Menjaga Diet Digital 

Melihat besarnya dampat negatif dari Digital Dementia, sudah saatnya bagi pemerintah secara khusus, dan masyarakat luas pada umumnya untuk lebih memperhatikan ‘porsi’ konsumsi digital yang didapat melalui ponsel dan internet. Masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan aktivitas kognitif seperti membaca atau melakukan games teka-teki yang memerlukan usaha untuk mengingat dan menganalisis. Studi dari Eckroth-Bucher & Siberski (2009) menemukan bahwa memperbanyak aktivitas yang melibatkan fungsi daya ingat dapat secara signifikan memperbaiki daya ingat yang menurun akibat Digital Dementia. 

Sejalan dengan memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan kerja kognitif, penerapan salah satu ‘diet’ digital, digital detox, juga terbukti dapat mencegah risiko terkena Digital Dementia. Digital detox merujuk pada upaya secara sengaja untuk beberapa waktu lepas dan tidak aktif memakai ponsel dan internet. Program diet ini memiliki banyak bentuk yang dapat diaplikasikan dan disesuaikan mengikuti kondisi seorang individu. Contohnya, seseorang dapat dengan sengaja menonaktifkan salah satu aplikasi di ponselnya yang dinilai memiliki waktu guna paling lama. Bentuk lainnya adalah menerapkan program sehari tanpa memakai ponsel atau internet, dan menghabiskan waktu untuk berkegiatan jauh dari dunia maya. 

Orang tua dan sekolah, sebagai tokoh penting dalam kehidupan anak muda, juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak-anak muda di bawah umur. Orangtua dianjurkan mengawasi dan membatasi penggunaan ponsel pintar untuk anak, terutama saat di usia 0-5 tahun. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara mengajak buah hati beraktivitas di luar ruangan yang jauh dari gawai, menyibukkan mereka dengan eksplorasi lingkungan sekitar, atau mengenalkannnya pada permainan – permainan tradisional yang dapat melatih kemampuan motorik dan kognitif mereka. 

Pemerintah juga memiliki peran krusial sebagai fasilitator, inisiator, dan pengawas untuk mencegah meluasnya gangguan Digital Dementia. Jajaran pemerintahan terkait seperti Kementerian komunikasi dan digital (Komdigi) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat bekerja bersama untuk memulai penyuluhan, sosialisasi, dan perancangan program penggunaan gawai di akar rumput, sehingga seluruh lapisan masyarakat Indonesia mendapat informasi yang jelas mengenai gangguan Digital Dementia. 

Selayaknya pemerintah Indonesia yang menaruh perhatian penuh pada diet makanan masyarakat Indonesia melalui program makanan bergizi gratis (MBG) yang menargetkan pemuda dan anak – anak sebagai penerima manfaat utama, pemerintah seharusnya juga menaruh perhatian yang sama untuk ‘diet’ penggunaan gawai dan pemakaian internet dengan mulai merencanakan regulasi dan program diet digital yang sehat. Pertumbuhan gizi Masyarakat Indonesia yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas SDM bangsa bisa jadi hanya akan menjadi angan belaka jika fokus perbaikan diet terhenti hanya di perut tanpa sampai ke kepala. 

Literasi Digital 

Akses internet dan penetrasi ponsel pintar yang terus bertumbuh di Indonesia tidak serta merta hanya membawa dampak positif, ada dampak negatif yang membayangi seiring dengan penggunaan teknologi mutakhir tersebut. Digital Dementia yang mengganggu dan menurunkan kemampuan kognitif menjadi bukti nyata bahwa penggunaan teknologi yang tidak bijak bukan membawa manfaat, justru mendatangkan mudarat yang membahayakan. 

Peran literasi digital sangat penting untuk mendeteksi dampak-dampak negatif dari penggunaan teknologi seperti ponsel pintal dan internet agar potensi dari kemajuan di bidang tersebut dapat dioptimalkan sambil tetap menghindari dampak negatifnya. Akhirnya, saat ponsel pintar dan internet menawarkan ketidakbatasan dan kebebasan untuk mengakses informasi, kontrol diri dan dukungan dari lingkungan dan pemerintah menjadi kunci utama untuk tetap menjadi bijak dalam menggunakan teknologi. 

Artikel oleh : Iqbal Fathi Izzudin, Peneliti Linguistik Kognitif Lancaster University 

Jumat, 06 Februari 2026

Kearifan Ibunda Thomas Alva Edison Dalam Mendidik Anak


Kearifan Ibunda Thomas Alva Edison Dalam Mendidik Anak 


THOMAS EDISON, murid kelas tiga sebuah sekolah dasar, suatu hari pulang lebih awal dari sekolahnya. Ia diminta oleh Kepala Sekolah untuk menyampaikan surat kepada ibunya. 

Sesampai di rumah, ia menyerahkan surat itu, dan Ibu Thomas segera membacanya. Lalu airmatanya mengucur tak terbendung. 

Thomas bertanya, apa isi surat itu dan kenapa ibunya menangis. Ibunya tak menjawab, tapi membacakan surat itu dengan suara keras: "Anak Ibu adalah seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil baginya dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mendidiknya. Silakan Ibu ajari dia sendiri.” 

Itu adalah pesan yang sangat jelas bahwa Thomas, anak bungsu dari tujuh bersaudara, diberhentikan dari sekolahnya. Maka ibunya kemudian melakukan apa yang persis disarankan oleh Pak Kepala Sekolah. Ia mengajar sendiri anaknya dengan tekun, sabar dan dedikatif. 

Kerja keras, kesabaran dan ketekunan ibu Thomas dalam mendidik anaknya membuahkan hasil yang melampaui harapan. Thomas pun mewarisi ketekunan ibunya. Ia dengan cepat menunjukkan bakat besar dalam urusan mekanik, selain rajin melakukan bermacam-macam eksperimen kimia. 

Lalu ia menjelma salah satu inventor terbesar di dunia, dan memegang hak paten yang sangat banyak — ada yang mengatakan hingga seribu buah; bola lampu pijar hanya salah satu yang paling terkenal. Ia juga mendirikan perusahaan yang sampai sekarang menjadi salah satu grup bisnis terbesar dan paling mashur di dunia, General Electric. 

Ibunya meninggal dunia dalam usia tua. Dan ketika Edison memeriksa barang-barang peninggalan sang ibu, ia menemukan surat Kepala Sekolah di masa ia duduk di SD dulu. Ia segera membuka dan membacanya: 

"Anak Ibu mengidap gangguan mental. Kami tidak akan mengizinkannya datang ke sekolah lagi." 

Saat itulah Edison baru menyadari apa yang telah dilakukan ibunya untuknya puluhan tahun lalu. Ia kemudian menulis di buku hariannya: "Thomas Alva Edison adalah seorang anak yang lamban yang, berkat ibu pahlawan, menjadi jenius abad ini." 

Bisakah Anda bayangkan apa yang mungkin terjadi pada Thomas Edison jika ibunya ketika itu membacakan untuknya kata-kata kasar dan menyakitkan yang ditulis oleh Pak Kepala Sekolah? 

Ibunda Thomas Edison memilih untuk tidak berbuat seperti kebanyakan orangtua yang menerima surat semacam itu dari sekolah anaknya; yang biasanya kontan menginterogasi si anak tentang perbuatan apa yang dia lalukan di sekolah. 

Ia memilih menyusun skenario yang justeru membesarkan hati, membalik cerita dan menutupi kelemahan yang tampaknya ia ketahui memang diidap oleh anaknya. 

Ibu Thomas lalu menciptakan konteks di mana anaknya dapat tumbuh mencapai potensi penuhnya — suatu potensi yang luput dari pandangan guru-gurunya di sekolah. 

Kisah Thomas Edison membuat kita, sebagai orangtua, sebagai orang dewasa, harus berpikir matang-matang sebelum menyampaikan suatu pesan kepada anak-anak. 

Cerita Edison juga mestinya menginspirasi para guru tentang apa yang sebaiknya mereka katakan kepada murid-murid, terutama yang dianggap kurang berprestasi. 

Perlakuan mereka, kata-kata mereka, akan terpatri abadi dalam diri anak-anak, dengan segala konsekuensinya. Pada kasus Thomas Edison, patri itu membuatnya menjadi penemu cemerlang berkat kearifan ibunya, Nancy Matthews Elliot. 

Pada banyak kasus lain, pada anak-anak yang orangtuanya tak searif ibu Edison, mungkin yang terjadi sebaliknya. 

Tapi kabar baiknya: bersikap seperti Nancy Elliot, seorang ibu rumah tangga biasa di kampung kecil bernama Milan di Ohio, Amerika, sebetulnya sama sekali tidak sulit. 

Minggu, 12 Oktober 2025

Pendidikan Kaum Tertindas, Ikhtiar Memecah Masalah Sosial dan Politik

Buku "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dan pendekatan pedagogi kritis. Tahun publikasinya pada tahun 1970, buku ini masih relevan dan memiliki pengaruh yang besar hingga saat ini. 

Argumen utama yang diusung oleh Freire adalah bahwa sistem pendidikan konvensional sering kali menjadi alat yang mempertahankan ketidakadilan dengan memperlakukan siswa sebagai penerima pasif pengetahuan, bukan sebagai peserta aktif dalam proses belajar. 

Freire memperkenalkan konsep "pedagogi dialogis," yang menekankan pendekatan kolaboratif dalam pendidikan di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog untuk bersama-sama menciptakan pengetahuan dan mengevaluasi secara kritis masalah-masalah sosial dan politik. 

"Ia memperjuangkan pembebasan peserta didik melalui conscientization, suatu proses untuk meningkatkan kesadaran kritis tentang ketidakadilan sosial dan memberdayakan individu untuk mengambil tindakan". 

Buku ini telah memiliki dampak yang signifikan dalam teori dan praktik pendidikan, terutama dalam bidang literasi dan pendidikan keadilan sosial. Ide-ide Freire telah diterapkan di seluruh dunia untuk mempromosikan pengalaman pendidikan yang lebih adil dan partisipatif. 

Meskipun buku ini mendapat banyak pujian karena potensinya untuk membawa perubahan yang fundamental, namun juga mendapat kritik. Beberapa berpendapat bahwa implementasinya mungkin sulit dalam konteks pendidikan tradisional, dan ada juga pandangan bahwa pendekatannya mungkin tidak selalu berlaku secara universal. 

Secara singkat, "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya revolusioner yang menantang paradigma pendidikan konvensional dan menawarkan visi pendidikan sebagai alat untuk perubahan sosial. Buku ini tetap menjadi bacaan penting bagi pendidik, aktivis, dan siapa pun yang tertarik pada persilangan antara pendidikan dan keadilan sosial. 

Sebelum kita menjelajahi lebih dalam isi buku ini, mari kita kenali penulisnya, Paulo Freire, serta konteks sejarah dan sosial di mana karyanya muncul. 

Siapa Paulo Freire? 

Paulo Freire (1921-1997) adalah seorang pendidik dan filsuf Brasil yang diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam bidang pendidikan abad ke-20. Ia lahir dan dibesarkan di Recife, Brasil, dalam keluarga yang kurang mampu. Pengalaman masa kecilnya yang penuh dengan kemiskinan dan ketidakadilan sosial telah membentuk pandangan dan komitmennya terhadap pendidikan yang adil dan pembebasan manusia. 

Freire memulai karirnya sebagai seorang guru di sekolah menengah dan kemudian menjadi direktur pendidikan di Departemen Pendidikan Kota Natal. Pada tahun 1960-an, dia mengembangkan pendekatan pendidikan yang dikenal sebagai "Pendidikan Pembebasan" atau "Pendidikan Kesadaran," yang kemudian menjadi dasar bagi bukunya "Pendidikan Kaum Tertindas." 

Karya ini muncul di tengah perubahan sosial dan politik yang signifikan di Brasil. Pada tahun 1964, pemerintahan militer merebut kekuasaan di Brasil, yang mengakibatkan penindasan politik dan sosial yang meluas. Freire sendiri ditangkap dan diasingkan selama beberapa tahun karena pandangan kritisnya terhadap rezim militer. 

"Pengalaman ini menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah senjata yang kuat dalam perjuangan melawan penindasan" 

"Pendidikan Kaum Tertindas" adalah hasil dari pemikiran dan pengalaman mendalam Freire. Buku ini mengeksplorasi konsep utama seperti kesadaran kritis, dialog, dan kesetaraan dalam pendidikan. Untuk lebih memahami isi buku ini, mari kita bahas beberapa konsep utamanya. 

Konsep Pendidikan Kaum Tertindas 

Salah satu konsep utama dalam buku ini adalah "Kesadaran Kritis" atau "Conscientization." Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya tentang transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi juga tentang mengembangkan kesadaran kritis siswa tentang dunia di sekitarnya. Ini melibatkan pengembangan pemahaman mendalam tentang masalah sosial dan politik serta kemampuan untuk menilai dunia secara kritis. 

Kesadaran kritis adalah langkah pertama menuju pembebasan, karena individu yang menyadari ketidakadilan sosial lebih cenderung untuk mengambil tindakan. 

Untuk mencapai kesadaran kritis, Freire mendorong pendekatan dialogis dalam pembelajaran. Dia berpendapat bahwa pendidikan seharusnya menjadi proses kolaboratif di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog yang saling menghargai. Ini berarti siswa tidak hanya menerima pengetahuan dari atas, tetapi juga memiliki peran aktif dalam proses pembelajaran. Dialog memungkinkan pertukaran ide dan pemikiran yang dalam, menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis. 

Selain itu, Freire menekankan pentingnya konteks sosial dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial di mana siswa hidup. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya mencerminkan dan mengakui pengalaman siswa dalam konteks mereka. 

Ini berarti bahwa pendidikan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan harus membantu mereka mengatasi tantangan dan ketidakadilan yang mereka hadapi. 

Kesetaraan juga merupakan elemen kunci dalam pemikiran Freire. Dia menggambarkan pendidikan yang adil sebagai pendidikan di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Ini adalah tantangan terhadap hierarki tradisional di kelas, di mana guru sering memiliki otoritas mutlak. Freire mendukung terbentuknya hubungan horizontal antara guru dan siswa, di mana keduanya dapat belajar bersama-sama. 

Dalam praktiknya, konsep-konsep ini dapat diilustrasikan melalui metode-metode dan teknik-teknik yang digunakan oleh Freire dalam pendekatannya terhadap pendidikan pembebasan. Salah satu teknik yang terkenal adalah "pemecahan kode" atau "decoding," di mana siswa diajak untuk menganalisis kata-kata dan konsep-konsep yang sering digunakan dalam masyarakat mereka. Ini membantu mereka memahami bagaimana bahasa dan budaya mereka dapat digunakan untuk mempertahankan ketidakadilan atau, sebaliknya, untuk memahami dan mengatasi ketidakadilan. 

Freire juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Ia mendukung gagasan bahwa pembelajaran harus terus berlanjut sepanjang kehidupan, dan bahwa pendidikan harus selalu relevan dengan perubahan sosial dan perkembangan individu. Ini juga mengaitkan konsep-konsepnya dengan pendidikan dewasa dan literasi, di mana pembelajaran dapat menjadi alat untuk memberdayakan orang dewasa yang mungkin telah ditinggalkan oleh sistem pendidikan formal. 

Saat membaca "Pendidikan Kaum Tertindas", kita juga harus menyadari bahwa buku ini ditulis dalam konteks sosial dan politik Brasil pada tahun 1970-an. Freire adalah seorang aktivis politik yang berjuang melawan ketidakadilan sosial dan politik di negaranya. Oleh karena itu, pandangan tentang pendidikan yang ia usung sangat dipengaruhi oleh pengalaman ini. Meskipun banyak konsepnya dapat diterapkan secara universal, ada elemen dalam bukunya yang sangat terkait dengan konteks Brasil pada saat itu. 

Minggu, 09 Juni 2019

Orang Cerdas Belum Tentu Bersikap Bijak

Ada alasan mengapa orang cerdas bisa melakukan hal-hal bodoh.


Sekelompok anak laki-laki dan perempuan berkostum hitam putih tengah mengobrol di angkringan, membicarakan proses Computer Assisted Test atau tes CAT yang baru saja mereka rampungkan beberapa menit yang lalu. “Tes seleksi kompetensi dasar atau SKD menggunakan sistem CAT. Pada tahap SKD, kita akan diminta menyelesaikan tiga kelompok soal yaitu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP),” cerita Kiki, salah satu pendaftar CPNS. Proses CPNS, seperti juga proses seleksi di perusahaan-perusahaan swasta, melibatkan beberapa ragam tes untuk menguji calon pekerjanya. Satu hal yang pasti tidak terlewat adalah tes-tes yang terkait dengan tingkat kecerdasan seseorang, atau yang disebut sebagai Tes Inteligensia Umum (TIU) dalam seleksi CPNS, atau juga akrab dengan sebutan tes IQ dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tes-tes sejenis sebenarnya pernah kita lakukan semenjak kita di bangku sekolah. Bahkan, pada beberapa media sosial, misalnya Facebook, ada pengembang aplikasi yang dapat digunakan untuk menguji tingkat kecerdasan. Banyak pengguna yang menjajal ragam aplikasi penguji kecerdasan dan tentu saja mengunggahnya di laman media sosial masing-masing, juga jamaknya penggunaan tes itu untuk menguji calon pegawai, memperlihatkan kuatnya pandangan bahwa kecerdasan adalah (salah satu) hal paling berharga bagi manusia. Sementara itu, belum lama ini, dunia pendidikan kita diriuhkan oleh berita mahasiswa doktoral yang melakukan kebohongan terkait kiprah akademiknya. Sebagai penerima beasiswa di salah satu kampus bagus di Belanda, Dwi Hartanto pasti tak kurang cerdas. Namun, mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan? (baca klik disini) Di luar urusan kasus itu, kita juga sering mendapati "orang-orang berpengaruh" di sekitar kita tak selalu orang ber-IQ tinggi. 

Senin, 15 Juli 2013

DOWNLOAD SITUS MANDEH SITI MANGGOPOH

Oleh : Gusphur  *) 

Mandeh Siti Manggopoh tertulis oleh sejarah sebagai “Singa Betina”  dari Sumatera Barat. Kelahirannya 15 Juni 1881. Wafatnya pada 20 Agustus 1965. Akankah umurnya di dunia hanya 84 tahun. Tidak! Menteri Sosial menerbitkan  surat keputusan tanggal 17 Januari 1964, nomor Pol: 1379/64/P.K. (Lembaran Negara nomor 19/1964). Isinya mencatat Mandeh Siti sebagai Perintis Kemerdekaan bagi Indonesia. Selama NKRI ini ada, selama itu pula surat keputusan tersebut boleh diketahui, dibaca, dan dikenang oleh segenap anak bangsa Indonesia.

Tertulis indah nama beliau di salah satu pusara TMP Kusuma Negara, Lolong, Padang. Guratan tulisan tersebut untuk mengenang tokoh perempuan yang merepotkan kaum kolonialis Belanda ini. Bersama suaminya (Rasyid) pernah membantai 55 serdadu Belanda di markasnya sendiri. Posisinya sebagai ibu bagi anak-anaknya tidak mengurangi kebenciannya pada kelaliman penjajah. Amarahnya membara demi membela bumi Tuhan ini dari ketamakan Belanda yang berniat mengembangan sayap jajahan.

Alasan apa yang mendorongnya ikut berperang. Bukankah wanita lebih pantas ada di garis belakang? Wanita sering dinggap makhluk lemah dan perlu dilindungi. Justru, sang Mandeh Siti membalik anggapan tersebut. Hal luarbiasa ini patut dikaji dan disemangati oleh generasi Mandeh Siti era sekarang ini. Tidak saja oleh generasi kaum perempuan. Kaum lelaki pun pasti malu atas kobaran semangat jihad pejuang wanita ini.

Dulu Mandeh Siti bergelut melawan penjajah. Generasi Mandeh Siti sekarang penting juga bergelut. Apa yang harus digeluti? Pertama kebodohan, selanjutnya kemerosotan akhlak, ketiga keterbelakangan. Zaman Mandeh Siti berhadapan dengan senapan belanda. Generasi Mandeh Siti sekarang berhadapan dengan teknologi dan informasi. Umpama ada situs www.mandehsitimanggopoh.com (ingat! Ini umpama).  Maka, link pada ‘Home’ sudah dibuka sebagaimana di atas. Berikutnya masih banyak link yang perlu di-klik. Untuk apa? Setelah link terbuka? Simak, pedomani, dan selanjunya lanjutkan perjuangan Mandeh Siti. 


Senin, 16 Juli 2012

Studi ADB soroti sisi gelap “pendidikan bayangan”


 

Booming industri les privat, yang dikenal sebagai "pendidikan bayangan", menurut sebuah laporan terbaru Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Pusat Penelitian Pendidikan Komparatif (CERC) di Universitas Hong Kong, lebih merupakan kompetisi dan penciptaan perbedaan ketimbang bantuan bagi para siswa.

Di Asia, hal tersebut mendominasi kehidupan anak muda dan keluarga mereka, meneruskan dan menimbulkan ketidakadilan sosial, mengalihkan pendapatan yang diperlukan bagi rumah tangga ke sebuah industri yang tidak diatur, serta menciptakan inefisiensi dalam sistem pendidikan.

"Pendidikan bayangan terus bertambah pada tingkat yang menghawatirkan. Hal tersebut amat luas terjadi di kawasan Asia, dan menambah porsi pendapatan rumah tangga yang dihabiskan untuk les privat," kata Jouko Sarvi, Pemimpin Praktik Pendidikan di Departemen Pembangunan Regional dan Berkelanjutan ADB.

"Para pembuat kebijakan akan lebih bijaksana jika melihat mengapa para orang tua merasa mereka perlu melibatkan guru privat, dan berpikir tentang cara untuk memastikan pendidikan bayangan berpadu dengan --bukan melawan-- sistem yang baku," kata Direktur CERD, Profesor Mark Bray, yang turut menulis laporan bersama Chad Lykins.

Sabtu, 14 April 2012

Video Hari Ini : Guru Ciptakan Alat Pengubah Air Jadi Bahan Bakar Kendaraan

Seorang guru besar fakultas teknik Institut Teknologi Surabaya (ITS) menciptakan bahan bakar kendaraan dengan air. Adalah Profesor Sungkono yang berhasil menciptakan alat yang merubah air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor.Lantas bagaimana cara kerja alat tersebut? Berikut liputannya.


Video Lainnya, klik :

Senin, 02 April 2012

Riset Kontroversial : Apakah Internet Membuatmu Bodoh?






Pada tahun 2008, Nicholas Carr mempublikasikan opininya tentang internet yang memicu perdebatan sengit para ilmuwan. Dalam majalah Atlantic, ia menyatakan bahwa situs pencari terpopuler di dunia, Google, membuat generasi ini menjadi lebih bodoh.

Menurut Nicholas, kebiasaan mengklik setiap link dan melompat-lompat dalam “lubang kelinci” informasi online dapat menurunkan kecerdasan kita. Betapa tidak?. Manusia modern lebih senang berselancar di dunia maya mencari pengetahuan instan dari pada menenggelamkan diri dalam buku-buku bermutu ketika melakukan riset. Nicholas memang memiliki pendapatnya sendiri, tetapi ia juga tidak berani mengatakan internet akan membuat seseorang menjadi bodoh.

Bukan hanya riset Nicholas yang menyedot perhatian kaum intelektual, tetapi sebuah lembaga penelitian dari Elon University juga menyerukan isu kontroversial ini dalam studi mereka yang diberi nama Pew Internet Project. Para ilmuwan dalam proyek ini telah mensurvei 317 ahli telekomunikasi untuk membantu menentukan skornya. Menjawab pertanyaan “Apakah google membuat orang-orang bodoh?”, mayoritas peserta sebesar 81% membantahnya.

Janna Anderson dari Elon University berkata,”Tak dapat kita pungkiri bahwa internet menyediakan banyak informasi lebih cepat, dengan format yang lebih bervariasi dan ditujukan pada lebih banyak orang. Alat komunikasi ini kelihatannya dapat meningkatkan kecerdasan para pengguna yang berselancar di dalamnya”

Senin, 12 Maret 2012

Perilaku Kita Ditentukan Oleh Penggunaan Tangan

Oleh : Oleh Lylah M. Alphonse




Kita sering berpikir bahwa kita membuat keputusan berdasarkan mana yang baik dan mana yang buruk — dan itu memang benar. Namun menurut penelitian terbaru, pilihan kita mungkin juga dipengaruhi penggunaan tangan yang dominan, entah kita kidal atau tidak.

Hal itu karena orang-orang yang menggunakan tangan kanan lebih sering memerhatikan sisi kanan halaman atau layar, sementara orang kidal memerhatikan sisi kiri. Peneliti kognitif Daniel Casasanto dari The New School for Social Research mengatakan bahwa ini dinamakan "hipotesis kekhususan tubuh", alias sebuah pendapat bahwa tubuh fisik kita memengaruhi keputusan yang kita buat dancara kita berkomunikasi satu sama lain.

Salah satu cara yang paling mudah untuk menerapkan hipotesis ini adalah dengan melihat apakah seseorang itu kidal atau tidak.

"Melihat tangan mana yang dominan sangat mudah dijadikan parameter karena mudah dilakukan. Tangan kita sangat penting dalam menentukan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia," ujar Casasanto pada MSNBC.

Dalam penelitiannya, yang dipublikasikan dalam edisi terbaru Current Direction in Psychlogical Science, sebuah jurnal dari Association for Psychological Science, Casasanto menemukan bahwa orang-orang cenderung memilih hal yang mereka lihat dan rasakan dengan sisi yang sama dengan tangan mereka yang dominan.

Selasa, 21 Februari 2012

Hakikat Seberkas Makalah Ilmiah

Oleh : Terry Mart
Pengajar Fisika FMIPA UI




Tajuk rencana Kompas, 8 Februari lalu, jernih dan obyektif membeberkan
masalah sebenarnya di balik ”Polemik Sekitar Jurnal Ilmiah”.

Kita tentu berharap langkah berani Dirjen Dikti dapat memperbaiki kesalahan masyarakat ilmu kita yang sangat mungkin telah menjadi penyebab ketertinggalan prestasi kita dibandingkan dengan negara tetangga. Namun, tulisan Franz Magnis-Suseno yang berdampingan dengan tajuk rencana tersebut dengan kesimpulan yang sangat berseberangan menggelitik hati saya untuk mempertanyakan hakikat
seberkas makalah ilmiah yang jadi pokok soal. Saya khawatir hakikat ini telah dilupakan.

Hakikat makalah ilmiah

Pada hakikatnya, seberkas makalah ilmiah tak lebih dari sebuah laporan hasil salah satu kegiatan tridarma perguruan tinggi: penelitian dalam bentuk ringkas, tetapi padat dan mengikuti kaidah yang telah disepakati komunitas penelitian itu. Tentu jika ada pelaporan harus ada penerima dan pemeriksa laporan. Siapa lagi yang kompeten memeriksa laporan itu jika bukan kolega sejawat dan sebidang yang sangat paham makna hasil penelitian itu.

Jumat, 27 Januari 2012

Research Channel

 

Research Channel TV and Video :

Peneliti Indonesia Diingatkan Belajar Menulis


JAKARTA, KOMPAS.com - Lesunya iklim penelitian di Indonesia tidak hanya dipicu oleh kurangnya dukungan dana dari pemerintah. Faktor lain yang turut melesukan dunia penelitian di Indonesia karena banyak peneliti yang lemah dalam kemampuan menulis, khususnya menulis dalam bahasa Inggris. 

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Eky S Soeria Soemantri mengatakan, hal itu dapat dilihat dari sepinya hasil penelitian para peneliti Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian internasional.

"Itu makanya para peneliti harus diberikan pelatihan agar memiliki kemahiran dalam menulis," kata Eky kepada Kompas.com, Kamis (19/1/2012), di Hotel Mulia, Jakarta.

Kamis, 12 Januari 2012

Bersekolah Lebih Lama Bisa Pertinggi Tingkat Kecerdasan

Sebuah penelitian di Norwegia menunjukkan orang yang bersekolah lebih lama dari rekan seusianya punya skor tes kecerdasan atau IQ lebih tinggi.  

Menurut Tarryn Ann Galloway, peneliti Norwegia, anak yang bersekolah dua tahun lebih lama punya tingkat kecerdasan lebih tinggi hingga 7 poin. Mereka yang menjalani wajib sekolah setahun lebih lama mendapat kenaikan poin IQ sekitar 3.7.

Pada pertengahan dasawarsa 1950-an Pemerintah Norwegia mewajibkan setiap anak bersekolah hingga berusia 16 tahun. Sampai tahun 1972 masyarakat harus ikut dalam reformasi pendidikan wajib, yang berarti selama hampir 20 tahun anak-anak di beberapa kota bersekolah sampai tujuh tahun dan lainnya bersekolah hingga sedikitnya sembilan tahun.

Perbedaan lamanya waktu bersekolah itu diteliti oleh Taryn Ann Galloway dari Universitas Oslo. Ia meneliti dampak bersekolah dua tahun lebih lama terhadap perkembangan kecerdasan siswa. Ia mengatakan semua orang muda di Norwegia diwajibkan mengikuti tes kecerdasan atau IQ untuk mengikuti wajib militer pada usia 19 tahun.

Galloway dan koleganya meneliti data 107.000 pemuda yang ikut wajib militer untuk mencari hubungan antara lamanya mereka bersekolah dengan skor tes IQ yang diperoleh dari data militer.

Skor IQ rata-rata adalah 100, dan kebanyakan penduduk  mendapat skor antara 85 hingga 115.
Galloway mengatakan siswa yang bersekolah dua tahun lebih lama mendapat IQ yang lebih tinggi hingga 7 poin. Mereka yang menjalani wajib sekolah setahun lebih lama mendapat kenaikan poin IQ sekitar 3.7

Ia mengatakan bersekolah dua tahun lebih lama pada masa remaja bisa membantu menaikkan skor IQ.

[Sumber : http://www.voanews.com]

Minggu, 08 Januari 2012

Anak-anak yang Aktif Secara Fisik Lebih Berprestasi

Di banyak negara, sekolah-sekolah kini lebih fokus pada mata pelajaran akademis seperti matematika dan membaca. Aktivitas-aktivitas lainnya, termasuk pendidikan olahraga, seringkali dikesampingkan. Sekarang, riset terbaru menunjukkan anak-anak yang secara fisik aktif juga lebih berhasil secara akademis.

Anak-anak yang lebih aktif secara fisik, lebih berprestasi secara akademis (foto:dok).
Dalam studi terbaru ini, para periset dari Pusat Kesehatan Universitas VU di Amsterdam menggabungkan hasil-hasil berbagai studi sebelumnya dari Amerika Utara dan Afrika Selatan, termasuk kurang lebih 55.000 anak berumur 6 hingga 18 tahun.

Dalam apa yang disebut ‘tinjauan sistematis’ atas ke-14 studi tersebut, para periset menemukan keterkaitan antara aktivitas fisik dan perkembangan kinerja akademis.

“Berdasarkan hasil-hasil studi kami, kami bisa simpulkan bahwa aktif secara fisik bermanfaat bagi kinerja akademis,” ujar Amrika Singh, ketua tim periset itu.

Amika Singh, mengatakan mungkin ada penjelasan biologis untuk mengaitkan aktivitas fisik dengan prestasi di sekolah.

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]