GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Kamis, 18 Agustus 2016

Apakah sudah saatnya kita mengucapkan good bye pada pola asuh Tiger Mom?

Oleh : Merry Magdalena

Nasib generasi X tidak terlalu indah agaknya. Seolah menjalani masa transisi tiada habisnya. Saat masih kanak-kanak, mereka mengalami didikan keras dari orangtua yang berasal dari Generasi Baby Boomers. Hardikan, pukulan, dan cubitan dianggap sebagai ekspresi sayang sekaligus disiplin dari orangtua dan guru.
Siapa generasi X yang tak mengalami atau setidaknya melihat teman seumurannya dihukum dengan kekerasan? Tak heran saat ada berita seorang guru dipolisikan akibat mencubit siswanya, netizen generasi X banyak yang mencerca. “Ah, saya dulu dipukul guru pakai penggaris kayu. Kalau mengadu ke orangtua, justru makin dimarahi,” komentar seorang dari mereka. “Cuma dicubit aja lapor polisi, kelewatan. Aku waktu SD pernah digampar,” komentar lainnya.
Dapat dikatakan, generasi X ada di posisi “serba salah”. Walau di masa kecil mengalami didikan keras dari orangtua dan guru, mereka kini tak bisa lagi menerapkan ke anak-anaknya. Zaman sudah berubah, konsep Tiger Mom yang menerapkan sistem keras dan disiplin ketat dianggap tak sesuai lagi oleh sebagian pendidik.
( Download bukunya klik disini )

Pola didikan superdisiplin disertai kekerasan terbukti  tidak berjalan efektif pada suatu eksperimen yang dilakukan UC Riverside Graduate School of Education. Riset yang dilakukan 2014 ini membantah konsep Tiger Mom yang dikemukakan Amy Chua melalui bukunya,Battle Hymn of the Tiger Mother. Di buku itu Amy meyakinkan bahwa pola didik keras yang banyak diterapkan di keluarga Cina adalah yang terbaik. Namun teori ini gugur seiring dengan kemajuan zaman. Makin ke sini, pola didik disertai kekerasan tak lagi disukai.

Minggu, 14 Agustus 2016

Agar Tidak Menjadi Orangtua Durhaka

 

 

KATA durhaka memang selalu disandingkan kepada anak. Ya, biasanya anaklah yang durhaka dengan menentang dan tidak menghormati orangtuanya. Padahal, Allah Ta’ala melarang keras hal itu. Dan anak tersebut telah tergolong pelaku dosa besar. Di mana adzabnya akan ia rasakan di dunia ini juga.

Meski begitu, tak dapat dipungkiri bahwa orangtua pun bisa saja durhaka pada anak. Seperti halnya tidak memperhatikan anak, tidak memberi nama yang baik pada anak, dan hal lain yang semisal dengan itu. Hal tersebut juga bisa mengundang murka Allah Ta’ala. Lantas, langkah apa yang harus dilakukan orangtua agar tidak tergolong sebagai orangtua yang durhaka?
Pertama, Pentingnya Pendidikan Agama
Sudah menjadi rahasia umum, pendidikan agama menjadi sarana penting guna membentuk insan yang mulia dan berakhlak baik. Walaupun begitu, masih sangat banyak orangtua yang mengabaikan permasalahan ini. Dalam pemilihan tempat pendidikan, banyak orangtua yang lebih memilih menyekolahkan anakanya di sekolah bergengsi, berbau kebarat-baratan, yang di dalamnya cenderung mengesampingkan pendidikan agama. Agaknya, alasan pekerjaan di masa mendatang masih menjadi alasan klasik bagi orangtua dengan tipe seperti ini.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan tindakan terburuk terhadap anaknya itu. Kerusakan anak-anak itu kebanyakan bersumber dari orang tua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah din ini kepada mereka. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah agama tersebut saat masih kecil. Sehingga saat sudah besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bagi orangtua mereka,” (Tuhfatul Maudud, I: 229).
Kedua, Perhatikan Lingkungan

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]