Baca artikel terkait :
Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”
Mayoritas masyarakat Indonesia berisiko terkena gangguan Digital Dementia, terutama anak kecil dan Gen Z yang sedang aktif-aktifnya menggunakan ponsel dan internet.
Penggunaan ponsel pintar di Indonesia semakin masif dari hari ke hari. Melansir data statisik dari data.goodstats.id[1], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia cenderung naik dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2015 jumlahnya tidak sampai 60 juta pengguna, di tahun 2023, sewindu kemudian, jumlahnya melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 180 juta pengguna.
Melansir prioridata.com[2], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia saat ini mencapai 187 juta, berada di urutan keempat sebagai negara dengan pengguna ponsel pintar terbanyak di dunia setelah China, India, dan Amerika yang berada di urutan pertama, kedua, dan ketiga. Namun jika dilihat dari persentase penetrasi ponsel pintar, Indonesia memiliki persentase penetrasi yang sama dengan China.
Persentase penetrasi internet juga sejalan dengan pertumbuhan pengguna ponsel pintar di Indonesia. Menurut data yang diambil dari dataportal.com[3], penetrasi internet di Indonesia naik drastis di tahun 2024 dengan persentase 66.5 persen penduduk Indonesia adalah pengguna internet, dari yang sebelumnya hanya 28 persen di tahun 2015. Mirisnya, masih dari laman yang sama, rata-rata penduduk Indonesia dilaporkan memiliki waktu guna (screentime) internet sekitar 7 jam setiap hari, jumlah yang hampir setara dengan sepertiga waktu harian mereka telah habis digunakan untuk menjelajah dunia maya.
Ternyata, kondisi serupa juga terjadi di pelbagai belahan dunia. Thailand, Mesir dan Mexico mencatat rata-rata waktu guna internet serupa dengan Indonesia, disusul oleh Malaysia dan Rusia yang penduduknya sedikit lebih lama aktif di dunia maya dengan rata-rata 8 jam waktu guna dalam sehari. Jika dilihat dari kategori usia, di seluruh dunia, pengguna internet yang paling lama aktif di dunia maya adalah Gen Z yang berusia 16-24 tahun yang rata-rata menghabiskan sekitar 7 jam setiap hari untuk eksis di dunia maya.
Fenomena naiknya jumlah pengguna ponsel pintar dan durasi berselancar di dunia digital menggugah banyak peneliti dan pemerhati kesehatan untuk menginvestigasi dampak penggunaan ponsel pintar dan durasi waktu guna internet pada kesehatan penggunanya.
Melalui berbagai tes seperti uji daya ingat, tes ketajaman fokus, tes kecemasan, dan indeks prestasi, para peneliti menemukan beberapa efek negatif dari penggunaan ponsel pintar dan internet yang ekstensif. Dampak negatif ini meliputi adiksi gawai, kecemasan jika tidak memegang gawai, fear of missing out (FOMO), penurunan indeks prestasi, dan yang terbaru adalah risiko gangguan Digital Dementia.
Digital Dementia
Istilah Digital Dementia pertama kali dikemukakan oleh seorang pakar neuropsikiatris asal Jerman, Manfred Spitzer, yang merujuk pada fenomena menurunnya fungsi kognitif karena terlalu sering bergantung pada teknologi seperti ponsel pintar dan internet. Istilah ini kemudian menyebar cepat melalui berbagai publikasi digital di banyak negara yang digunakan untuk menjelaskan fenomena penurunan kemampuan kognitif seperti menurunnya daya ingat, sulit mengambil keputusan, hingga berkurangnya kemampuan fokus dan bersosialisasi akibat penggunaan gawai yang berlebihan (Manwell et al., 2022). Meski memiliki gejala yang mirip dengan gangguan demensia pada umumnya, gangguan ini lebih berbahaya karena bukan hanya menyerang individu berusia senja, namun juga individu berusia muda sebagai golongan pengguna gawai paling aktif.
Korelasi antara ketergantungan pada ponsel pintar untuk mengerjakan aktifitas manusia dan minimnya pelibatan kemampuan kognitif bawaan manusia adalah pemicu utama dari gangguan ini. Sejak lahir, otak manusia memiliki sifat plasticity atau neuroplasticitas yang berarti ia dapat berubah, berkembang, dan beradaptasi sebagai respons dari pengalaman, pembelajaran, dan ingatan yang dilalui manusia setiap hari. Artinya, perkembangan otak, berikut fungsi kognitifnya, sangat bergantung pada masukan informasi dan keterlibatannya dalam aktifitas sehari-hari.
Saat manusia lebih sering bergantung pada ponsel pintar untuk mengerjakan tugas seperti mengingat, navigasi arah, atau menganalisis informasi, kemampuan kognitifnya tidak mendapat masukan dan pengalaman yang diperlukan untuk berkembang. Defisiensi aktivitas koginitif dalam jangka panjang bahkan dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif.
Penurunan fungsi kognitif bukanlah efek akhir dari ketergantungan manusia terhadap teknologi. Dekadensi kognitif ini justru adalah awal dari ‘efek domino’ yang dapat mengebiri produktifitas manusia. Ironisnya, gangguan ini justru mengancam kaum muda yang seharusnya sedang berada di puncak produktivitas.
Lebih jauh, penggunaan internet melalui ponsel pintar juga menambah daftar pekerjaan manusia yang diambil alih oleh gawainya. Bertambahnya jumlah tugas yang dapat didelegasikan tentu berbanding terbalik dengan jumlah aktifitas yang dibebankan pada otak. Laporan dari pelbagai publikasi ilmiah telah menyatakan bahwa semakin banyak aktivitas manusia yang didelegasikan pada ponsel pintar dan internet, semakin besar juga risiko mereka tekena digital dementia. Kondisi ini kemudian diperparah oleh durasi pemakaian gawai yang ekstensif. Tidak heran, gangguan digital ini lebih mudah menyerang anak muda di usia produktif yang hampir seluruh waktunya digunakan untuk memakai ponsel pintar dan internet, daripada orang berusia senja dengan waktu guna gawai yang sedikit.
Menjaga Diet Digital
Melihat besarnya dampat negatif dari Digital Dementia, sudah saatnya bagi pemerintah secara khusus, dan masyarakat luas pada umumnya untuk lebih memperhatikan ‘porsi’ konsumsi digital yang didapat melalui ponsel dan internet. Masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan aktivitas kognitif seperti membaca atau melakukan games teka-teki yang memerlukan usaha untuk mengingat dan menganalisis. Studi dari Eckroth-Bucher & Siberski (2009) menemukan bahwa memperbanyak aktivitas yang melibatkan fungsi daya ingat dapat secara signifikan memperbaiki daya ingat yang menurun akibat Digital Dementia.
Sejalan dengan memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan kerja kognitif, penerapan salah satu ‘diet’ digital, digital detox, juga terbukti dapat mencegah risiko terkena Digital Dementia. Digital detox merujuk pada upaya secara sengaja untuk beberapa waktu lepas dan tidak aktif memakai ponsel dan internet. Program diet ini memiliki banyak bentuk yang dapat diaplikasikan dan disesuaikan mengikuti kondisi seorang individu. Contohnya, seseorang dapat dengan sengaja menonaktifkan salah satu aplikasi di ponselnya yang dinilai memiliki waktu guna paling lama. Bentuk lainnya adalah menerapkan program sehari tanpa memakai ponsel atau internet, dan menghabiskan waktu untuk berkegiatan jauh dari dunia maya.
Orang tua dan sekolah, sebagai tokoh penting dalam kehidupan anak muda, juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak-anak muda di bawah umur. Orangtua dianjurkan mengawasi dan membatasi penggunaan ponsel pintar untuk anak, terutama saat di usia 0-5 tahun. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara mengajak buah hati beraktivitas di luar ruangan yang jauh dari gawai, menyibukkan mereka dengan eksplorasi lingkungan sekitar, atau mengenalkannnya pada permainan – permainan tradisional yang dapat melatih kemampuan motorik dan kognitif mereka.
Pemerintah juga memiliki peran krusial sebagai fasilitator, inisiator, dan pengawas untuk mencegah meluasnya gangguan Digital Dementia. Jajaran pemerintahan terkait seperti Kementerian komunikasi dan digital (Komdigi) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat bekerja bersama untuk memulai penyuluhan, sosialisasi, dan perancangan program penggunaan gawai di akar rumput, sehingga seluruh lapisan masyarakat Indonesia mendapat informasi yang jelas mengenai gangguan Digital Dementia.
Selayaknya pemerintah Indonesia yang menaruh perhatian penuh pada diet makanan masyarakat Indonesia melalui program makanan bergizi gratis (MBG) yang menargetkan pemuda dan anak – anak sebagai penerima manfaat utama, pemerintah seharusnya juga menaruh perhatian yang sama untuk ‘diet’ penggunaan gawai dan pemakaian internet dengan mulai merencanakan regulasi dan program diet digital yang sehat. Pertumbuhan gizi Masyarakat Indonesia yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas SDM bangsa bisa jadi hanya akan menjadi angan belaka jika fokus perbaikan diet terhenti hanya di perut tanpa sampai ke kepala.
Literasi Digital
Akses internet dan penetrasi ponsel pintar yang terus bertumbuh di Indonesia tidak serta merta hanya membawa dampak positif, ada dampak negatif yang membayangi seiring dengan penggunaan teknologi mutakhir tersebut. Digital Dementia yang mengganggu dan menurunkan kemampuan kognitif menjadi bukti nyata bahwa penggunaan teknologi yang tidak bijak bukan membawa manfaat, justru mendatangkan mudarat yang membahayakan.
Peran literasi digital sangat penting untuk mendeteksi dampak-dampak negatif dari penggunaan teknologi seperti ponsel pintal dan internet agar potensi dari kemajuan di bidang tersebut dapat dioptimalkan sambil tetap menghindari dampak negatifnya. Akhirnya, saat ponsel pintar dan internet menawarkan ketidakbatasan dan kebebasan untuk mengakses informasi, kontrol diri dan dukungan dari lingkungan dan pemerintah menjadi kunci utama untuk tetap menjadi bijak dalam menggunakan teknologi.
Artikel oleh : Iqbal Fathi Izzudin, Peneliti Linguistik Kognitif Lancaster University
Tidak ada komentar:
Posting Komentar