Loading...
 

Ayo belajar dengan TV-e !,

 

GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Tampilkan postingan dengan label Media Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2026

Fenomena Guru Ngonten FB Pro: Antara Kreativitas, Monetisasi, dan Tanggung Jawab Moral Pendidik

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia memasuki babak baru yang ditandai oleh semakin eratnya relasi antara profesi guru dan media sosial. Salah satu fenomena yang kini marak diperbincangkan adalah munculnya guru-guru yang aktif membuat konten di Facebook melalui fitur monetisasi yang sering disebut FB Pro. 

Bagi sebagian pihak, ini adalah wujud adaptasi kreatif terhadap perkembangan zaman. Namun bagi yang lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang batas profesionalisme, etika digital, dan tanggung jawab moral seorang pendidik di ruang publik. 

Dari sisi positif, guru yang terjun ke dunia konten sejatinya sedang mempraktikkan literasi digital secara langsung. Mereka belajar memahami algoritma, audiens, strategi komunikasi visual, hingga teknik penyampaian pesan yang efektif. Banyak guru memanfaatkan FB Pro untuk berbagi materi pembelajaran, tips belajar, motivasi siswa, refleksi pendidikan, bahkan cerita inspiratif dari ruang kelas. Konten-konten semacam ini berpotensi menjangkau masyarakat luas, melampaui batas sekolah dan wilayah. Dalam konteks ini, guru tampil sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai edukatif ke ruang digital. 

Aspek ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Realitas kesejahteraan guru—terutama guru honorer—masih menjadi isu yang belum sepenuhnya tuntas. Monetisasi konten menawarkan peluang penghasilan tambahan yang relatif fleksibel. Dengan bermodalkan ponsel, koneksi internet, dan kreativitas, seorang guru bisa memperoleh pemasukan dari iklan atau interaksi audiens. 

Bagi sebagian pendidik, FB Pro menjadi ruang alternatif untuk menopang ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan profesi utama. Dari sudut pandang ini, aktivitas ngonten bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi. 

Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan berbagai tantangan serius. Tidak semua konten yang dibuat guru selalu bernuansa edukatif. Demi mengejar viralitas, tayangan, dan engagement, sebagian tergoda mengikuti arus konten sensasional, dramatisasi berlebihan, atau bahkan kontroversial. 

Di sinilah persoalan etika mulai mengemuka. Guru, secara sosial dan kultural, dipandang sebagai figur teladan. Apa pun yang mereka tampilkan di ruang publik digital berpotensi memengaruhi cara berpikir siswa dan masyarakat. Ketika konten yang dibuat terlalu personal, berlebihan, atau tidak sejalan dengan nilai pendidikan, citra profesi guru ikut dipertaruhkan. 

Lebih jauh lagi, muncul persoalan yang kini semakin sering disorot: tidak sedikit guru yang mengambil gambar milik kreator lain, menyalin atau “mencomot” teks narasi, visual, bahkan konsep konten secara utuh tanpa izin maupun atribusi yang layak. Praktik ini jelas merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap etika hak cipta. Ironisnya, pelaku tindakan ini adalah mereka yang sehari-hari mengajarkan kejujuran, integritas, dan penghargaan terhadap karya orang lain kepada peserta didik. 

Fenomena ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Di dunia digital, kemudahan mengunduh dan menyalin sering kali menciptakan ilusi bahwa semua konten bebas digunakan. Padahal setiap karya—baik foto, video, tulisan, maupun desain—memiliki pencipta yang menginvestasikan waktu, tenaga, ide, dan emosi. Mengambil karya orang lain tanpa izin atau kredit bukan hanya melanggar etika, dan peraturan META, tetapi juga melemahkan ekosistem kreatif. Lebih dari itu, jika dilakukan oleh guru, dampaknya menjadi berlapis: selain merugikan kreator asli, tindakan tersebut memberi contoh buruk bagi siswa tentang bagaimana menghargai hasil cipta. 

Persoalan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah kecenderungan sebagian guru untuk ikut membagikan atau mereplikasi konten yang sedang ramai tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, padahal konten tersebut mengandung hoaks, disinformasi, atau klaim yang tidak berdasar fakta. Dalam ekosistem media sosial yang digerakkan oleh algoritma, konten provokatif memang lebih cepat menyebar. 

Namun ketika seorang guru turut menyebarkannya, dampaknya menjadi jauh lebih serius. Guru memiliki otoritas moral di mata masyarakat. Apa yang dibagikan guru sering dianggap “pasti benar”, sehingga hoaks yang mereka unggah berpotensi dipercaya dan diteruskan oleh banyak orang. 

Di sinilah letak urgensi literasi informasi bagi pendidik. Guru seharusnya menjadi benteng pertama dalam melawan misinformasi, bukan justru ikut memperkuat arusnya. Membagikan konten tanpa cek fakta, tanpa sumber jelas, atau hanya karena ingin ikut tren adalah praktik yang seharusnya dihindari. Lebih berbahaya lagi jika konten hoaks tersebut menyentuh isu sensitif seperti pendidikan, kebijakan publik, kesehatan, atau moral generasi muda. Alih-alih mencerdaskan, tindakan ini justru memperkeruh ruang publik dan menurunkan kualitas diskursus sosial. 

Guru seharusnya berada di garda terdepan dalam menanamkan nilai kejujuran intelektual. Dalam dunia akademik, plagiarisme dan manipulasi informasi adalah pelanggaran serius. Maka tidak selayaknya praktik serupa dinormalisasi di media sosial hanya karena mengejar monetisasi atau popularitas. 

Jika seorang guru membutuhkan bahan visual atau narasi, ada banyak jalan yang lebih bermartabat: membuat sendiri, berkolaborasi dengan kreator lain, menggunakan sumber berlisensi bebas dengan atribusi yang tepat, meminta izin secara langsung, serta memastikan setiap informasi yang dibagikan telah diverifikasi dari sumber tepercaya. Langkah-langkah ini sederhana, tetapi mencerminkan karakter pendidik sejati. 

Dari sudut pandang pedagogis, fenomena guru ngonten juga menghadirkan dilema waktu dan fokus. Idealnya, energi utama guru tetap tercurah pada perencanaan pembelajaran, pendampingan siswa, serta pengembangan kompetensi profesional. Jika aktivitas membuat konten menyita perhatian berlebihan—misalnya lebih sibuk mengejar viewers daripada menyiapkan materi—kualitas pembelajaran berpotensi menurun. Sebaliknya, jika dikelola dengan bijak, media sosial justru dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual: guru bisa mengajak siswa berdiskusi tentang literasi media, etika digital, hak cipta, hingga cara mengenali hoaks. 

Ada pula dimensi sosial yang menarik. Guru ngonten kerap membangun jejaring virtual lintas daerah. Mereka saling berbagi pengalaman mengajar, metode kreatif, dan tantangan di lapangan. Media sosial berubah menjadi “ruang guru kedua” tempat ide bertemu tanpa sekat formal. Namun ruang ini juga rentan terhadap konflik opini, persaingan tidak sehat, serta polarisasi—terutama ketika popularitas dan penghasilan mulai menjadi tujuan utama. 

Tak kalah penting adalah aspek regulasi dan tanggung jawab institusional. Platform seperti Facebook berada di bawah naungan Meta Platforms yang memiliki kebijakan komunitas tersendiri. Namun di tingkat lokal, belum semua institusi pendidikan memiliki panduan jelas mengenai aktivitas guru di media sosial. Akibatnya, batas antara ruang privat dan representasi profesi sering kali kabur. Diperlukan kebijakan internal yang proporsional—bukan untuk membungkam kreativitas, melainkan untuk menjaga marwah pendidik sekaligus melindungi hak personal guru sebagai warga digital. 

Pada titik ini, pesan penting perlu ditegaskan: guru boleh kreatif, guru boleh mencari tambahan penghasilan, guru boleh hadir di ruang digital. Tetapi guru tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar profesinya. Mengambil karya orang lain tanpa izin, menyalin narasi kreator lain, ikut menyebarkan hoaks, atau mengejar viral dengan mengabaikan etika adalah praktik yang seharusnya dihentikan. Justru di era serba digital ini, peran guru sebagai teladan semakin krusial. 

Pada akhirnya, fenomena guru ngonten FB Pro adalah cermin perubahan zaman. Ia memperlihatkan bagaimana profesi tradisional bernegosiasi dengan ekonomi kreator dan budaya viral. Alih-alih menolaknya mentah-mentah, pendekatan yang lebih bijak adalah membangun kesadaran kolektif: guru perlu dibekali literasi hak cipta, literasi informasi, etika digital, manajemen waktu, serta pemahaman dampak konten terhadap peserta didik. 

Jika dikelola secara seimbang, guru ngonten bukan ancaman bagi dunia pendidikan. Sebaliknya, ia dapat menjadi jembatan antara ruang kelas dan masyarakat luas—tempat ilmu, nilai, dan inspirasi bertemu dalam format yang relevan dengan generasi hari ini. Namun jembatan itu hanya akan kokoh jika dibangun di atas fondasi integritas, kejujuran, verifikasi fakta, dan penghargaan terhadap karya sesama. Tanpa itu semua, popularitas digital hanyalah capaian semu yang perlahan menggerus makna sejati profesi guru. 

Sumber : https://www.facebook.com/share/173f7Mo5EU/

Minggu, 12 Oktober 2025

Pendidikan Kaum Tertindas, Ikhtiar Memecah Masalah Sosial dan Politik

Buku "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dan pendekatan pedagogi kritis. Tahun publikasinya pada tahun 1970, buku ini masih relevan dan memiliki pengaruh yang besar hingga saat ini. 

Argumen utama yang diusung oleh Freire adalah bahwa sistem pendidikan konvensional sering kali menjadi alat yang mempertahankan ketidakadilan dengan memperlakukan siswa sebagai penerima pasif pengetahuan, bukan sebagai peserta aktif dalam proses belajar. 

Freire memperkenalkan konsep "pedagogi dialogis," yang menekankan pendekatan kolaboratif dalam pendidikan di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog untuk bersama-sama menciptakan pengetahuan dan mengevaluasi secara kritis masalah-masalah sosial dan politik. 

"Ia memperjuangkan pembebasan peserta didik melalui conscientization, suatu proses untuk meningkatkan kesadaran kritis tentang ketidakadilan sosial dan memberdayakan individu untuk mengambil tindakan". 

Buku ini telah memiliki dampak yang signifikan dalam teori dan praktik pendidikan, terutama dalam bidang literasi dan pendidikan keadilan sosial. Ide-ide Freire telah diterapkan di seluruh dunia untuk mempromosikan pengalaman pendidikan yang lebih adil dan partisipatif. 

Meskipun buku ini mendapat banyak pujian karena potensinya untuk membawa perubahan yang fundamental, namun juga mendapat kritik. Beberapa berpendapat bahwa implementasinya mungkin sulit dalam konteks pendidikan tradisional, dan ada juga pandangan bahwa pendekatannya mungkin tidak selalu berlaku secara universal. 

Secara singkat, "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya revolusioner yang menantang paradigma pendidikan konvensional dan menawarkan visi pendidikan sebagai alat untuk perubahan sosial. Buku ini tetap menjadi bacaan penting bagi pendidik, aktivis, dan siapa pun yang tertarik pada persilangan antara pendidikan dan keadilan sosial. 

Sebelum kita menjelajahi lebih dalam isi buku ini, mari kita kenali penulisnya, Paulo Freire, serta konteks sejarah dan sosial di mana karyanya muncul. 

Siapa Paulo Freire? 

Paulo Freire (1921-1997) adalah seorang pendidik dan filsuf Brasil yang diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam bidang pendidikan abad ke-20. Ia lahir dan dibesarkan di Recife, Brasil, dalam keluarga yang kurang mampu. Pengalaman masa kecilnya yang penuh dengan kemiskinan dan ketidakadilan sosial telah membentuk pandangan dan komitmennya terhadap pendidikan yang adil dan pembebasan manusia. 

Freire memulai karirnya sebagai seorang guru di sekolah menengah dan kemudian menjadi direktur pendidikan di Departemen Pendidikan Kota Natal. Pada tahun 1960-an, dia mengembangkan pendekatan pendidikan yang dikenal sebagai "Pendidikan Pembebasan" atau "Pendidikan Kesadaran," yang kemudian menjadi dasar bagi bukunya "Pendidikan Kaum Tertindas." 

Karya ini muncul di tengah perubahan sosial dan politik yang signifikan di Brasil. Pada tahun 1964, pemerintahan militer merebut kekuasaan di Brasil, yang mengakibatkan penindasan politik dan sosial yang meluas. Freire sendiri ditangkap dan diasingkan selama beberapa tahun karena pandangan kritisnya terhadap rezim militer. 

"Pengalaman ini menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah senjata yang kuat dalam perjuangan melawan penindasan" 

"Pendidikan Kaum Tertindas" adalah hasil dari pemikiran dan pengalaman mendalam Freire. Buku ini mengeksplorasi konsep utama seperti kesadaran kritis, dialog, dan kesetaraan dalam pendidikan. Untuk lebih memahami isi buku ini, mari kita bahas beberapa konsep utamanya. 

Konsep Pendidikan Kaum Tertindas 

Salah satu konsep utama dalam buku ini adalah "Kesadaran Kritis" atau "Conscientization." Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya tentang transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi juga tentang mengembangkan kesadaran kritis siswa tentang dunia di sekitarnya. Ini melibatkan pengembangan pemahaman mendalam tentang masalah sosial dan politik serta kemampuan untuk menilai dunia secara kritis. 

Kesadaran kritis adalah langkah pertama menuju pembebasan, karena individu yang menyadari ketidakadilan sosial lebih cenderung untuk mengambil tindakan. 

Untuk mencapai kesadaran kritis, Freire mendorong pendekatan dialogis dalam pembelajaran. Dia berpendapat bahwa pendidikan seharusnya menjadi proses kolaboratif di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog yang saling menghargai. Ini berarti siswa tidak hanya menerima pengetahuan dari atas, tetapi juga memiliki peran aktif dalam proses pembelajaran. Dialog memungkinkan pertukaran ide dan pemikiran yang dalam, menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis. 

Selain itu, Freire menekankan pentingnya konteks sosial dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial di mana siswa hidup. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya mencerminkan dan mengakui pengalaman siswa dalam konteks mereka. 

Ini berarti bahwa pendidikan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan harus membantu mereka mengatasi tantangan dan ketidakadilan yang mereka hadapi. 

Kesetaraan juga merupakan elemen kunci dalam pemikiran Freire. Dia menggambarkan pendidikan yang adil sebagai pendidikan di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Ini adalah tantangan terhadap hierarki tradisional di kelas, di mana guru sering memiliki otoritas mutlak. Freire mendukung terbentuknya hubungan horizontal antara guru dan siswa, di mana keduanya dapat belajar bersama-sama. 

Dalam praktiknya, konsep-konsep ini dapat diilustrasikan melalui metode-metode dan teknik-teknik yang digunakan oleh Freire dalam pendekatannya terhadap pendidikan pembebasan. Salah satu teknik yang terkenal adalah "pemecahan kode" atau "decoding," di mana siswa diajak untuk menganalisis kata-kata dan konsep-konsep yang sering digunakan dalam masyarakat mereka. Ini membantu mereka memahami bagaimana bahasa dan budaya mereka dapat digunakan untuk mempertahankan ketidakadilan atau, sebaliknya, untuk memahami dan mengatasi ketidakadilan. 

Freire juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Ia mendukung gagasan bahwa pembelajaran harus terus berlanjut sepanjang kehidupan, dan bahwa pendidikan harus selalu relevan dengan perubahan sosial dan perkembangan individu. Ini juga mengaitkan konsep-konsepnya dengan pendidikan dewasa dan literasi, di mana pembelajaran dapat menjadi alat untuk memberdayakan orang dewasa yang mungkin telah ditinggalkan oleh sistem pendidikan formal. 

Saat membaca "Pendidikan Kaum Tertindas", kita juga harus menyadari bahwa buku ini ditulis dalam konteks sosial dan politik Brasil pada tahun 1970-an. Freire adalah seorang aktivis politik yang berjuang melawan ketidakadilan sosial dan politik di negaranya. Oleh karena itu, pandangan tentang pendidikan yang ia usung sangat dipengaruhi oleh pengalaman ini. Meskipun banyak konsepnya dapat diterapkan secara universal, ada elemen dalam bukunya yang sangat terkait dengan konteks Brasil pada saat itu. 

Sabtu, 29 November 2014

Surau TV - Inspirasi Keluarga Islami


Kamis, 29 November 2012

Peringkat sistem pendidikan Indonesia terendah di dunia



Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia, menurut tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson.

Tempat pertama dan kedua diraih oleh Finlandia dan Korea Selatan.
 
Ranking itu memadukan hasil tes internasional dan data seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010.Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Sedangkan Inggris menempati posisi keenam. Sir Michael Barber, penasihat pendidikan utama Pearson, mengatakan negara-negara yang berhasil memberikan status tinggi pada guru dan memiliki "budaya" pendidikan.

Perbandingan internasional dalam dunia pendidikan telah menjadi semakin penting dan tabel liga terbaru ini berdasarkan pada serangkaian hasil tes global yang dikombinasikan dengan ukuran sistem pendidikan seperti jumlah orang yang dapat mengenyam pendidikan tingkat universitas.

Selasa, 09 Oktober 2012

Kemampuan Mengajar Guru di AS Dinilai dari Hasil Ujian Murid



Salah satu tolok ukur untuk menilai kemampuan mengajar seorang guru di Amerika adalah berdasarkan hasil ujian dari para muridnya.

Saat ini, Washington DC memiliki lebih dari 4.000 guru yang mengajar di sekolah negeri.  Tidak sebatas hanya mengajar, guru-guru tersebut diharapkan bisa menaikkan kemampuan akademis murid-murid mereka.

Bagaimana kemampuan mengajar para guru di Washington DC dinilai?  Penilaian guru itu dilakukan berdasarkan sebuah sistim yang dinamakan IMPACT.  Sistim itu menilai kemampuan mengajar guru berdasarkan  pencapaian murid dalam mengerjakan ujian yang sudah distandarisasi.

Minggu, 13 Mei 2012

Pendidikan Berbasis ICT Mudahkan Siswa Belajar


Jakarta [http://www.kemdiknas.go.id] -- Memanfaatkan situs sekolah merupakan cara tepat untuk mengakomodasi pembelajaran yang efektif bagi siswa. Dengan sistem yang bisa dibuka kapan saja dan dimana saja, memudahkan siswa belajar mandiri. Sistem seperti inilah yang sedang dikembangkan oleh SMK di Jakarta Selatan. Demikian diungkapkan Kepala Seksi SMK, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan, Waluyo, di Gerai Informasi dan Media Kemdikbud, Kamis (10/05). “Baik materi yang disusun oleh guru, maupun materi yang telah dilaunching oleh Kemdikbud bisa diisi di situs tersebut,” katanya.

Senin, 26 Maret 2012

Radio : Suara Edukasi

Live Streaming AM 1251 kHz

 
suara_edukasi
Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi

   

Anda ingin pasang live streamin Radio Edukasi pada web/blog Anda..?.
Silahkan copy pastekan kode HTML berikut :

<div class="art-block">
 <div class="art-block-body">
 <div class="art-blockcontent">
 <div class="art-blockcontent-body">
 <p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
 &nbsp;</p>
 <p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
 &nbsp;<object height="39" width="170">  
 <embed src="http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/mod_miniradio.swf" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" flashvars="skin=http://radioedukasi.com/modules/mod_miniradio/Stijl.swf&amp;title=Live Stream&amp;type=sound&amp;file=http://radioedukasi.com:8000/;stream.mp3&amp;autostart=1&amp;duration=999999" height="43" width="150"> 
</object></p>
 <p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
 <img src="http://radioedukasi.com/templates/vj_anelco/images/towerstream.gif" alt="suara_edukasi" height="118" width="131" /></p>
 <p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
 <b>RADIO EDUKASI </b></p>
 <p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
 <span style="font-weight: 400"><strong style="font-weight: 400">
 <font size="3">Live Streaming AM 1251 kHz</font></strong></span></p>
 </div>
 </div>
 </div>
</div>
<p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
<span style="color:#FF0000;">Silahkan unduh produk audio radio Suara edukasi </span></p>
<p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0" align="center">
<span style="color:#FF0000;"><a target="_blank" href="http://radioedukasi.com/">[KLIK
DISINI]</a></span></p>


Jumat, 02 Maret 2012

Kota Makkah di Peta Google


View Larger Map


Kamis, 16 Februari 2012

Ustadz (Guru) Menjawab

Ketikkan (keyword) pertanyaan anda pada kotak di bawah ini, kemudian klik tobol "Cari" Ustadz (Guru) akan menjawab/memberi keterangan dengan merujuk atau mengarahkan anda ke website tertentu.


Keterangan :
Klik tombol panah mundur (<-) pada internet browser anda untuk kembali ke pertanyaan atau kotak sebelumnya. atau klik :
------------------- >> Kembali ke Kotak Pertanyaan <<------------------

Selasa, 31 Januari 2012

NASA TV




NASA TV’s PUBLIC, MEDIA CHANNELS TRANSITIONING TO HD
Beginning Feb. 17, 2012, NASA Television’s Public (101) and Media (103) channels will transmit their respective content in high definition. NASA Television’s Public Channel, the "NASA TV" most often carried by cable and satellite service providers, provides digital coverage of NASA missions and events, plus documentaries, archival and other special programming. NASA TV’s Media Channel provides mission coverage, news conferences and relevant video and audio materials to local, national and international news-gathering organizations. NASA TV’s Education Channel (102) will continue in standard definition, while the current NASA TV HD Channel (105) will cease service. 

Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan (SIAP) Online



SIAP Online hadir memadukan beragam sistem dan aplikasi online yang dibutuhkan oleh sekolah, guru, siswa, dan orangtua/wali siswa dengan instan tidak merepotkan. SIAP Online mampu mengelola data dan informasi pendidikan dengan lebih cepat, mudah, akurat, terpadu dan berkesinambungan dari mulai tingkat sekolah, dinas pendidikan kota, kabupaten, propinsi hingga pusat (depdiknas). Semua kemampuan yang tersedia sangatlah terjangkau, berbiaya investasi rendah dengan nilai manfaat sangat tinggi.

Nah..., baca informasi lebih detil di halaman SIAP Online, [KLIK DISINI]

Kamis, 19 Januari 2012

Radio German - Indonesian Program






Sabtu, 07 Januari 2012

TV - Edukasi Channel 1 - Khusus Siswa





e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]