AI dan Masa Depan Pendidikan: Apakah Kita Kembali ke Banking Education Versi Digital?
Pernahkah Anda merasa bahwa ruang kelas kini terasa seperti ruang obrolan dengan mesin? Siswa mengajukan pertanyaan, dan "guru" yang menjawab bukan lagi manusia, melainkan algoritma bernama ChatGPT atau Gemini. Hebat memang, karena kecerdasan buatan (AI) bisa menjawab dengan cepat, rapi, dan (kadang) lebih cerdas dari manusia. Tapi, di balik kemudahan itu, terselip pertanyaan yang menggelitik: apakah pendidikan kita benar-benar menjadi lebih cerdas, atau justru lebih patuh pada mesin?
Pertanyaan itu mengingatkan kita pada sosok Paulo Freire, seorang pendidik radikal asal Brasil yang menulis buku legendaris Pedagogy of the Oppressed (1970). Freire mengkritik sistem yang ia sebut banking education, pendidikan yang memperlakukan siswa seperti celengan pengetahuan. Guru menyetor informasi, siswa menyimpannya tanpa bertanya. Tidak ada dialog, tidak ada kesadaran, tidak ada kebebasan berpikir. Kini, setelah setengah abad berlalu, bentuk banking education itu seolah hidup kembali, tapi dalam versi digital.
Kelas Digital: Cepat, Pintar, tapi Tanpa Makna
Bayangkan suasana kelas masa kini. Seorang siswa ditugaskan menulis esai misalnya tentang perubahan iklim. Dalam beberapa detik, ChatGPT sudah menyiapkan naskah lengkap. Siswa tersenyum puas, guru memberi nilai, dan semua tampak efisien. Tapi di balik efisiensi itu, ada yang hilang: proses berpikir.
Freire pasti akan geleng-geleng kepala melihat ini. Ia percaya bahwa belajar bukanlah soal mengisi kepala dengan informasi, tapi menyadarkan manusia tentang realitas hidupnya. Pendidikan, bagi Freire, adalah proses memanusiakan manusia (humanization), bukan memformat pikiran agar sesuai dengan sistem.
AI memang memudahkan, tapi ketika digunakan tanpa refleksi, ia berpotensi menciptakan generasi yang tahu banyak hal, namun tidak paham apa-apa. Kita berisiko mencetak "intelek instan" yang pandai menjawab, tapi gagap ketika diminta berpikir kritis.
Banking Education Versi 2.0
Dalam banking education tradisional, guru menjadi sumber kebenaran tunggal. Dalam versi digitalnya, peran itu kini diambil alih oleh mesin algoritmik. Jika dulu murid pasif terhadap otoritas guru, kini mereka pasif terhadap otoritas data. Perbedaannya hanya pada siapa yang berkuasa, manusia atau mesin. Tapi hakikatnya sama: peserta didik tetap objek, bukan subjek pembelajaran. Kita menciptakan sistem belajar di mana siswa hanya menerima "deposit" informasi digital tanpa mempertanyakan sumber, bias, atau konteksnya.
Fenomena ini bisa disebut digital banking education, di mana AI menjadi "bank sentral pengetahuan," dan manusia menjadi nasabah pasif yang hanya menarik saldo informasi. Ironinya, semakin banyak teknologi kita pakai, semakin sedikit ruang bagi kesadaran kritis. Kita sibuk mengagumi kecerdasan mesin, tapi lupa bertanya: Apakah mesin ini membuat kita lebih bijak atau hanya lebih tergantung?
Ketika Guru Kehilangan Peran Dialogis
Bagi Freire, guru sejati adalah rekan dialog yang membantu murid membaca dunia, bukan sekadar membaca buku teks. Dalam pendidikan pembebasan, guru tidak "mengajar," tapi mengajak berpikir bersama. Namun dalam praktik digital sekarang, guru sering justru ikut terjebak. Banyak yang mengandalkan AI untuk membuat RPP, soal ujian, atau ringkasan materi. Akibatnya, relasi pendidikan menjadi semakin mekanistik: guru jadi operator konten, bukan fasilitator kesadaran.
Padahal, Freire menegaskan bahwa pendidikan harus menumbuhkan kesadaran kritis, critical consciousness, kesadaran bahwa realitas sosial bisa dipertanyakan, ditafsir ulang, dan diubah.
AI tidak bisa melakukan itu. Ia bisa menjawab pertanyaan, tapi tidak bisa mempertanyakan pertanyaan itu sendiri. Kalau guru menyerahkan proses berpikir kepada mesin, maka hilanglah nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Guru tetap dibutuhkan, bukan karena ia tahu segalanya, tapi karena ia mampu memandu dialog kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma.
AI, Informasi, dan Ilusi Kebebasan
Kita sering berpikir bahwa teknologi memberikan kebebasan, akses tanpa batas, informasi instan, dunia di ujung jari. Tapi kebebasan tanpa kesadaran hanyalah ilusi. Freire mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa refleksi bisa menjadi alat penindasan baru. Dalam konteks AI, penindasan itu halus: manusia tunduk pada "logika mesin" tanpa sadar sedang dikendalikan olehnya.
Misalnya, ketika sistem rekomendasi belajar hanya menampilkan topik yang "disukai" siswa, itu bisa membuat siswa terperangkap dalam gelembung kenyamanan digital, tidak pernah menantang diri untuk berpikir di luar zona aman. Atau ketika nilai ujian ditentukan oleh sistem otomatis, tanpa mempertimbangkan proses dan konteks belajar. Itu bukan lagi pendidikan, tapi pemrosesan data manusia. Teknologi bisa memperluas akses, tapi juga bisa mempersempit imajinasi. Dan di situlah pendidikan pembebasan harus kembali berbicara.
Mendidik di Era AI: Dari Konsumsi ke Kesadaran
Freire tidak menolak kemajuan, ia menolak ketidakadilan dan pasifitas. Maka, di era AI ini, tugas kita bukan menjauhi teknologi, tapi memanusiakannya. Guru perlu mengubah peran dari penyampai informasi menjadi arsitek kesadaran. AI seharusnya diperlakukan bukan sebagai pengganti guru, tapi rekan dialog yang menantang pemikiran manusia.
Misalnya menggunakan AI untuk memicu debat kelas, apakah pendapat AI ini masuk akal bagi realitas sosial kita?, mengajak siswa menelusuri bias data, mengapa AI lebih banyak menampilkan perspektif Barat?, atau menjadikan hasil AI sebagai bahan analisis, bukan kebenaran mutlak. Dengan begitu, AI tidak lagi menjadi alat banking education digital, melainkan medium untuk berpikir kritis.
Belajar dari Freire: Etika, Teknologi, dan Tanggung Jawab Sosial
Freire selalu menekankan bahwa pendidikan bukan hanya proses intelektual, tetapi juga proses moral dan politis. Ia tidak sekadar bicara tentang bagaimana manusia berpikir, tetapi juga untuk siapa dan dalam konteks apa manusia berpikir. Ketika kita membawa AI ke ruang pendidikan, pertanyaan yang sama harus diajukan: untuk siapa teknologi ini bekerja? Apakah ia benar-benar membantu murid memahami dunia, atau justru memperkuat ketimpangan digital yang sudah ada?
Coba bayangkan: di kota besar, sekolah-sekolah sudah mulai menggunakan AI untuk personalisasi belajar, sementara di pelosok, akses internet saja masih terbatas. Di sinilah ketimpangan baru muncul, kolonialisme digital, di mana sebagian anak hidup dalam kemewahan data, dan sebagian lain tetap dalam kegelapan informasi. Freire mengingatkan bahwa teknologi tanpa kesadaran sosial akan berujung pada dehumanisasi. Karena itu, pendidikan yang memerdekakan harus mengajarkan etika digital, bukan sekadar keterampilan digital. Siswa tidak cukup diajari cara menggunakan AI, tetapi juga mengapa dan dampaknya bagi orang lain.
Guru perlu membuka ruang dialog etis di kelas: tentang keadilan data, privasi, bias algoritma, dan dampak sosial AI. Dengan begitu, siswa belajar melihat teknologi bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai ruang perjuangan moral, di mana manusia ditantang untuk tetap adil, peduli, dan sadar. Pendidikan tanpa etika hanya akan menghasilkan pengguna yang cerdas tapi tidak bijak. Sementara pendidikan yang beretika akan melahirkan generasi yang tidak hanya tahu cara berpikir, tetapi juga tahu apa yang pantas dipikirkan.
Menuju Pendidikan yang Memerdekakan di Era Digital
Indonesia sedang gencar dengan jargon Merdeka Belajar. Tapi kebebasan sejati bukan hanya soal kurikulum fleksibel atau metode inovatif. Kebebasan sejati adalah ketika peserta didik berani bertanya, mempertanyakan, dan menyadari bahwa dunia bisa diubah melalui pengetahuan. Freire menulis, "Pendidikan sejati adalah tindakan cinta, tindakan berani terhadap dunia."
Dalam konteks AI, tindakan cinta itu berarti menggunakan teknologi untuk memperdalam kemanusiaan, bukan menyingkirkannya. Pendidikan masa depan tidak boleh terjebak pada dua ekstrem: Romantisme teknologi yang menganggap AI adalah penyelamat semua masalah, dan Fobia teknologi yang menolak semua bentuk modernisasi. Yang kita butuhkan adalah pedagogi digital yang kritis dan humanistik, di mana manusia dan mesin berdialog, bukan saling menggantikan.
Epilog: Jangan Serahkan Kesadaranmu ke Mesin
AI bisa menulis lebih cepat dari manusia, tapi ia tidak bisa merasakan arti sebuah kalimat. Ia bisa meniru gaya berpikir, tapi tidak bisa memilih untuk peduli. Itulah mengapa gagasan Freire tetap hidup dan relevan. Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, kita justru perlu kembali pada hal paling mendasar: kesadaran manusia.
Mungkin, tantangan terbesar pendidikan masa depan bukan pada bagaimana kita menggunakan AI, tetapi bagaimana kita tidak kehilangan kemanusiaan di tengahnya. Jadi, sebelum kita memuji kecerdasan buatan, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah aku masih berpikir atau sekadar menyalin apa yang mesin pikirkan untukku? Sekolah masa depan mungkin akan penuh dengan layar dan algoritma, tapi semoga hati dan pikirannya tetap diisi oleh manusia.
https://www.kompasiana.com/andangunswa/
Sabtu, 22 Agustus 2026
AI dan Masa Depan Pendidikan: Apakah Kita Kembali ke Banking Education Versi Digital?
Jumat, 13 Februari 2026
Fenomena Guru Ngonten FB Pro: Antara Kreativitas, Monetisasi, dan Tanggung Jawab Moral Pendidik
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia memasuki babak baru yang ditandai oleh semakin eratnya relasi antara profesi guru dan media sosial. Salah satu fenomena yang kini marak diperbincangkan adalah munculnya guru-guru yang aktif membuat konten di Facebook melalui fitur monetisasi yang sering disebut FB Pro.
Bagi sebagian pihak, ini adalah wujud adaptasi kreatif terhadap perkembangan zaman. Namun bagi yang lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang batas profesionalisme, etika digital, dan tanggung jawab moral seorang pendidik di ruang publik.
Dari sisi positif, guru yang terjun ke dunia konten sejatinya sedang mempraktikkan literasi digital secara langsung. Mereka belajar memahami algoritma, audiens, strategi komunikasi visual, hingga teknik penyampaian pesan yang efektif. Banyak guru memanfaatkan FB Pro untuk berbagi materi pembelajaran, tips belajar, motivasi siswa, refleksi pendidikan, bahkan cerita inspiratif dari ruang kelas. Konten-konten semacam ini berpotensi menjangkau masyarakat luas, melampaui batas sekolah dan wilayah. Dalam konteks ini, guru tampil sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai edukatif ke ruang digital.
Aspek ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Realitas kesejahteraan guru—terutama guru honorer—masih menjadi isu yang belum sepenuhnya tuntas. Monetisasi konten menawarkan peluang penghasilan tambahan yang relatif fleksibel. Dengan bermodalkan ponsel, koneksi internet, dan kreativitas, seorang guru bisa memperoleh pemasukan dari iklan atau interaksi audiens.
Bagi sebagian pendidik, FB Pro menjadi ruang alternatif untuk menopang ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan profesi utama. Dari sudut pandang ini, aktivitas ngonten bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan berbagai tantangan serius. Tidak semua konten yang dibuat guru selalu bernuansa edukatif. Demi mengejar viralitas, tayangan, dan engagement, sebagian tergoda mengikuti arus konten sensasional, dramatisasi berlebihan, atau bahkan kontroversial.
Di sinilah persoalan etika mulai mengemuka. Guru, secara sosial dan kultural, dipandang sebagai figur teladan. Apa pun yang mereka tampilkan di ruang publik digital berpotensi memengaruhi cara berpikir siswa dan masyarakat. Ketika konten yang dibuat terlalu personal, berlebihan, atau tidak sejalan dengan nilai pendidikan, citra profesi guru ikut dipertaruhkan.
Lebih jauh lagi, muncul persoalan yang kini semakin sering disorot: tidak sedikit guru yang mengambil gambar milik kreator lain, menyalin atau “mencomot” teks narasi, visual, bahkan konsep konten secara utuh tanpa izin maupun atribusi yang layak. Praktik ini jelas merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap etika hak cipta. Ironisnya, pelaku tindakan ini adalah mereka yang sehari-hari mengajarkan kejujuran, integritas, dan penghargaan terhadap karya orang lain kepada peserta didik.
Fenomena ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Di dunia digital, kemudahan mengunduh dan menyalin sering kali menciptakan ilusi bahwa semua konten bebas digunakan. Padahal setiap karya—baik foto, video, tulisan, maupun desain—memiliki pencipta yang menginvestasikan waktu, tenaga, ide, dan emosi. Mengambil karya orang lain tanpa izin atau kredit bukan hanya melanggar etika, dan peraturan META, tetapi juga melemahkan ekosistem kreatif. Lebih dari itu, jika dilakukan oleh guru, dampaknya menjadi berlapis: selain merugikan kreator asli, tindakan tersebut memberi contoh buruk bagi siswa tentang bagaimana menghargai hasil cipta.
Persoalan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah kecenderungan sebagian guru untuk ikut membagikan atau mereplikasi konten yang sedang ramai tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, padahal konten tersebut mengandung hoaks, disinformasi, atau klaim yang tidak berdasar fakta. Dalam ekosistem media sosial yang digerakkan oleh algoritma, konten provokatif memang lebih cepat menyebar.
Namun ketika seorang guru turut menyebarkannya, dampaknya menjadi jauh lebih serius. Guru memiliki otoritas moral di mata masyarakat. Apa yang dibagikan guru sering dianggap “pasti benar”, sehingga hoaks yang mereka unggah berpotensi dipercaya dan diteruskan oleh banyak orang.
Di sinilah letak urgensi literasi informasi bagi pendidik. Guru seharusnya menjadi benteng pertama dalam melawan misinformasi, bukan justru ikut memperkuat arusnya. Membagikan konten tanpa cek fakta, tanpa sumber jelas, atau hanya karena ingin ikut tren adalah praktik yang seharusnya dihindari. Lebih berbahaya lagi jika konten hoaks tersebut menyentuh isu sensitif seperti pendidikan, kebijakan publik, kesehatan, atau moral generasi muda. Alih-alih mencerdaskan, tindakan ini justru memperkeruh ruang publik dan menurunkan kualitas diskursus sosial.
Guru seharusnya berada di garda terdepan dalam menanamkan nilai kejujuran intelektual. Dalam dunia akademik, plagiarisme dan manipulasi informasi adalah pelanggaran serius. Maka tidak selayaknya praktik serupa dinormalisasi di media sosial hanya karena mengejar monetisasi atau popularitas.
Jika seorang guru membutuhkan bahan visual atau narasi, ada banyak jalan yang lebih bermartabat: membuat sendiri, berkolaborasi dengan kreator lain, menggunakan sumber berlisensi bebas dengan atribusi yang tepat, meminta izin secara langsung, serta memastikan setiap informasi yang dibagikan telah diverifikasi dari sumber tepercaya. Langkah-langkah ini sederhana, tetapi mencerminkan karakter pendidik sejati.
Dari sudut pandang pedagogis, fenomena guru ngonten juga menghadirkan dilema waktu dan fokus. Idealnya, energi utama guru tetap tercurah pada perencanaan pembelajaran, pendampingan siswa, serta pengembangan kompetensi profesional. Jika aktivitas membuat konten menyita perhatian berlebihan—misalnya lebih sibuk mengejar viewers daripada menyiapkan materi—kualitas pembelajaran berpotensi menurun. Sebaliknya, jika dikelola dengan bijak, media sosial justru dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual: guru bisa mengajak siswa berdiskusi tentang literasi media, etika digital, hak cipta, hingga cara mengenali hoaks.
Ada pula dimensi sosial yang menarik. Guru ngonten kerap membangun jejaring virtual lintas daerah. Mereka saling berbagi pengalaman mengajar, metode kreatif, dan tantangan di lapangan. Media sosial berubah menjadi “ruang guru kedua” tempat ide bertemu tanpa sekat formal. Namun ruang ini juga rentan terhadap konflik opini, persaingan tidak sehat, serta polarisasi—terutama ketika popularitas dan penghasilan mulai menjadi tujuan utama.
Tak kalah penting adalah aspek regulasi dan tanggung jawab institusional. Platform seperti Facebook berada di bawah naungan Meta Platforms yang memiliki kebijakan komunitas tersendiri. Namun di tingkat lokal, belum semua institusi pendidikan memiliki panduan jelas mengenai aktivitas guru di media sosial. Akibatnya, batas antara ruang privat dan representasi profesi sering kali kabur. Diperlukan kebijakan internal yang proporsional—bukan untuk membungkam kreativitas, melainkan untuk menjaga marwah pendidik sekaligus melindungi hak personal guru sebagai warga digital.
Pada titik ini, pesan penting perlu ditegaskan: guru boleh kreatif, guru boleh mencari tambahan penghasilan, guru boleh hadir di ruang digital. Tetapi guru tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar profesinya. Mengambil karya orang lain tanpa izin, menyalin narasi kreator lain, ikut menyebarkan hoaks, atau mengejar viral dengan mengabaikan etika adalah praktik yang seharusnya dihentikan. Justru di era serba digital ini, peran guru sebagai teladan semakin krusial.
Pada akhirnya, fenomena guru ngonten FB Pro adalah cermin perubahan zaman. Ia memperlihatkan bagaimana profesi tradisional bernegosiasi dengan ekonomi kreator dan budaya viral. Alih-alih menolaknya mentah-mentah, pendekatan yang lebih bijak adalah membangun kesadaran kolektif: guru perlu dibekali literasi hak cipta, literasi informasi, etika digital, manajemen waktu, serta pemahaman dampak konten terhadap peserta didik.
Jika dikelola secara seimbang, guru ngonten bukan ancaman bagi dunia pendidikan. Sebaliknya, ia dapat menjadi jembatan antara ruang kelas dan masyarakat luas—tempat ilmu, nilai, dan inspirasi bertemu dalam format yang relevan dengan generasi hari ini. Namun jembatan itu hanya akan kokoh jika dibangun di atas fondasi integritas, kejujuran, verifikasi fakta, dan penghargaan terhadap karya sesama. Tanpa itu semua, popularitas digital hanyalah capaian semu yang perlahan menggerus makna sejati profesi guru.
Kamis, 12 Desember 2019
Ini Ronde Pertama dari Mendikbud Nadiem Makarim
Empat perubahan itu dipaparkan Nadiem di hadapan Dinas Pendidikan seluruh Indonesia. Dia menyebutnya sebagai 'Pokok Kebijakan Merdeka Belajar'. Empat hal yang diubah Nadiem yaitu terkait Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.
Nadiem mengakui bahwa perubahan yang digagasnya ini bukannya tanpa tantangan. Perubahan pasti tidak nyaman tapi itu diperlukan untuk melakukan lompatan.
Simak video berikut :
"Ini adalah ronde pertama 'Merdeka Belajar'. Tidak ada perubahan yang nyaman-nyaman saja. Semua perubahan itu pasti ada tantangnnya. Semua perubahan pasti ada ketidaknyamanannya," kata Nadiem di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019)
"Tetapi seperti yang kita tahu sudah waktunya Indonesia melompat ke depan bukan hanya melangkah," sambungnya.
Selasa, 12 Juli 2016
UNESCO Mendeklarasikan "Islam" Agama yang paling damai Sedunia
Badan PBB yang menangani Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan/UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Islam adalah agama paling damai di dunia (Islam is the most peaceful religion of the world).
Pernyataan Unesco itu disampaikan pada hari Senin (04/07/2016). Sebelum mengeluarkan pernyataannya ini UNESCO telah bermitra dengan Peace Foundation International, enam bulan lalu, untuk mempelajari semua agama di dunia dan mencari tahu dimana diantara semua agama tersebut yang paling mengajarkan perdamaian.
“Setelah enam bulan analisis dan studi ketat, kami telah menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang paling damai,” ungkap Robert McGee, kepala studi banding Peace Foundation International dalam konferensi pers yang juga dihadiri oleh para pejabat UNESCO.
Ketika ditanya tentang serangan teror yang dilakukan atas nama Islam, termasuk yang baru-baru ini di Dhaka dan Baghdad, pejabat UNESCO membantah bahwa itu ada hubungannya dengan Islam.
“Teror tidak memiliki agama,” katanya, “Islam berarti damai.”
Untuk mendokumentasikan pengakuan resmi ini, UNESCO telah mengeluarkan sertifikat "CERTIFICATE OF PEACE" yang akan diberikan kepada badan-badan Islam yang tertarik, yang dapat memilih untuk memasang sertifikat tersebut di berbagai tempat seperti Madrasah-madrasah, pusat-pusat studi Islam, masjid, toko halal, rumah pemotongan hewan, dan lain-lain.
[ Sumber : http://www.juntakareporter.com/world/unesco-declares-islam-as-the-most-peaceful-religion-of-the-world/ ]
Kamis, 30 Juli 2015
Kisah Plonco Sejak Zaman Londo
![]() |
| Perploncoan mahasiswa baru di Universitas Indonesia Jakarta pada April 1945. Foto: IPPHOS |
Kamis, 09 Juli 2015
Profesor dari MIT Beri Kuliah Umum di Kemendikbud
Profesor penulis buku Theory U: Leading from the Future as It Emerges ini juga mengatakan, untuk mengubah lingkungan membutuhkan sebuah pendekatan dan adanya intervensi. Keberhasilan intervensi itu tergantung pada kondisi interior dari intervenor atau pihak yang melakukan intervensi itu. “Open mind, open heart, and open will,” katanya. Scharmer mencontohkan, open mind (pikiran yang terbuka) berarti mengubah sikap dari mengabaikan menjadi mau mendengarkan, open heart (hati yang terbuka) dengan mengubah sifat serakah menjadi seseorang yang penuh cinta, dan open will (kemauan yang terbuka) dengan mengubah rasa takut menjadi keberanian.
Rabu, 10 Juni 2015
Bisakah Anda Menjawab Soal Ujian Pelajar China?
|
|
|
|
Jutaan pelajar sekolah menengah atas (SMA) China engikuti ujian akhir nasional atau gaokao, Senin, 8 Juni 2015, dengan isi pertanyaan pastinya sangat berbeda, dengan soal ujian di Indonesia.
Dilansir dari laman Shanghaiist, Selasa, 9 Juni 2015, pertanyaan dalam gaokao meliputi pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang bukan hanya menguji pengetahuan, tapi juga kreativitas dan kebijaksanaan.
Berikut adalah beberapa pertanyaan. Bukan hanya agar Anda dapat ikut menjawab, tapi sekaligus mendapatkan gambaran, seperti apa perbedaan sistem pendidikan di negara lain.
Topik pertama, seorang ayah berbicara di telepon saat mengemudi di jalan tol. Putrinya mengingatkan berulangkali untuk berhenti, tapi ayahnya tidak mau mendengarkan. Putrinya lalu menelepon polisi dan melaporkan ayahnya.
Saat polisi tiba, ayahnya ditangkap. Ini memicu perdebatan di publik. Tugas bagi para pelajar adalah, menulis surat berisi 800 kata pada ayah, putrinya, dan polisi.
Topik kedua, Lee seorang peneliti bioteknologi yang memimpin perusahaannya memasuki pasar global. Wang adalah ahli pengelasan biasa, yang dengan ketekunan telah menjadi pengrajin terkenal di dunia.
Lainnya adalah seorang fotografer, yang menampilkan koleksi foto-fotonya di blog dan dikagumi banyak orang di internet. Pertanyaannya adalah, siapa yang paling Anda kagumi?
Topik ketiga, tulis sebuah esai berdasarkan tiga kalimat yang diberikan. 1. Bumi tidak memiliki jalan untuk dilewati, tapi ketika banyak orang melalui satu rute, sebuah jalan kemudian dibuat.
2. Tidak ada hal seperti jalan yang tidak berani dilewati, hanya orang-orang yang tidak berani melaluinya.
Topik keempat, seorang guru bertanya pada para siswa untuk melihat sayap kupu-kupu di mikroskop. Mereka mengira sayap kupu-kupu berwarna, tapi ternyata sama sekali tidak berwarna.
Tugas bagi pelajar adalah, membuat esai berdasarkan cerita itu. Gaokao berlangsung hingga tiga hari. Hasilnya akan menentukan nasib sekitar sembilan juta pelajar di China.
Jumat, 12 Desember 2014
M Nuh : KTSP 2006 tidak sesuai UU Sisdiknas
Surabaya (ANTARA News) - Penggagas Kurikulum 2013 dan mantan Mendikbud Mohammad Nuh menegaskan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 itu tidak sesuai UU 20/2003 tentang Sisdiknas, karena itu pihaknya merumuskan Kurikulum 2013.
"Itu pun, KTSP 2006 tidak langsung kami ganti, karena kami ingin menjaga kesinambungan, lalu kami lakukan evaluasi hingga 2012 sebagai bahan untuk membenahi kurikulum yang baru nanti," katanya dalam dialog dengan pers di Surabaya, Kamis.
Sabtu, 30 Agustus 2014
Hebat... Pelajar Indonesia Paling Diincar Perusahaan Jepang!
Demikian dipaparkan Masako Posselius, Manager Career Office Ritsumeikan APU, di kantornya di Kampus APU, Kamis (19/6/2014). Masako, yang juga menjabat Global Career Development Facilitator (Japan), bahkan menegaskan bahwa lulusan Indonesia banyak dicari karena dianggap sangat kreatif, selain punya passion dan kemampuan bahasa lebih baik dibandingkan pelajar asal Asia Tenggara lainnya.
"Terutama untuk bahasa Jepang. Anak-anak Indonesia banyak dicari untuk mengisi banyak posisi manajer eksekutif. Mereka dinilai kreatif sehingga kerap dipercaya mampu membawa visi dan misi perusahaan," ujar Masako.
Sabtu, 03 Mei 2014
Bertaruh Nyawa Menggapai Cita
POTRET ANAK-ANAK DI KAMPUNG LANGGAI
Apakah pernah mendengar siswa yang mengeluh tentang cuaca panas, hujan, becek dan tidak ada ojek sehingga menjadikannya alasan untuk tidak pergi sekolah? Untuk satu ini belajarlah dari anak-anak di Kampung Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Jangankan becek, nyawa pun ia pertaruhkan demi dapat duduk di bangku sekolah untuk mendengarkan sang guru memberikan pelajaran.
Anak-anak yang lahir di negara yang merdeka sejak 68 tahun lalu itu, bukannya bertaruh nyawa melawan penjahat, atau monster fedofil yang saat ini sedang populer. Tapi berjuang melintasi seutas tali baja yang menggantung di atas sungai.
Jumat, 07 Maret 2014
Mengenal Proses Pembuatan Soal-Soal UN
JAKARTA - Mungkin banyak pelajar atau bahkan masyarakat luas bertanya-tanya bagaimana proses pembuatan soal-soal Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ternyata, terdapat sejumlah proses yang harus dilewati hingga akhirnya menghasilkan soal-soal tersebut. Hal ini disampaikan Kabalitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Khairil Anwar. Dia menyatakan, setiap tahun kualitas dan kredibilitas UN untuk tiap jenjang pendidikan berusaha mereka tingkatkan.
Senin, 20 Januari 2014
Pendaftaran secara Daring Narasumber dan Instruktur Nasional Dibuka
Adapun rincian kebutuhan instruktur nasional meliputi, SD 14.707 orang, SMP 10.107 orang, SMA 5.352 orang, dan SMK 2.940 orang. Pendaftaran dapat dilakukan melalui dinas pendidikan, LPMP setempat, dan secara daring.
“Pendaftar yang sudah masuk datanya ke kita sebanyak 27 ribu orang,” demikian diungkapkan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan, Penjaminan Mutu Pendidikan, Syawal Gultom, Jumat (17/01/2014) di Gedung D Kemdikbud, Jakarta.
Implementasi kurikulum 2013 akan dilakukan di semua sekolah pada tahun pelajaran 2014/2015. Meskipun dilakukan di semua sekolah, implementasi belum dilaksanakan di semua jenjang. Untuk kelas 3, kelas 6 sekolah dasar, dan kelas 9 SMP, serta kelas 12 SMA, baru akan melaksanakan Kurikulum 2013 tahun 2015 mendatang.
Nah, silahkan daftar [ KLIK DISINI ]
Rabu, 16 Oktober 2013
UN Pasca Konvensi
Selasa, 01 Oktober 2013
Tahun Depan UN Tetap Digelar
Jakarta-Konvensi Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan selama dua hari mulai Kamis (26/9) hingga Jumat (27/9) menghasilkan rumusan bahwa UN tahun depan tetap diselenggarakan. Adapun butir-butir hasil rumusan tersebut akan diakomodir ke dalam prosedur operasional standar (POS) UN.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan, Musliar Kasim menyampaikan, jika negara ini ingin maju harus ada ujian yang mengukur standar nasional itu sendiri. Menurut dia, perlu ada ujian yang mengukur kompetensi peserta didik di akhir masa belajar di satuan pendidikan. "Akhirnya kita sepakat untuk tetap tahun depan melaksanakan Ujian Nasional dengan komposisi (UN:Nilai Sekolah) 60:40," katanya pada penutupan Konvensi UN di Kemdikbud, Jakarta, Jumat.
Musliar mengatakan, komposisi untuk menentukan nilai akhir ini masih sama dengan penyelenggaraan UN pada tahun ini. Pada tahun-tahun ke depan, kata dia, baik nilai ujian sekolah maupun nilai UN keduanya menentukan kelulusan peserta didik masing-masing dengan komposisi 100 persen."Saya kira ini langkah luar biasa yang bisa kita sepakati tadi malam dan tadi di pleno," katanya.
Terkait penggandaan soal, lanjut Musliar, telah disepakati akan diserahkan ke daerah. Namun, kata dia, masih akan dibahas apakah berbasis region atau provinsi."Kalau itu dicetak di masing-masing daerah belum tentu juga ada percetakan yang mampu mencetak soal di daerah itu. Efektivitas pencetakan itu akan kita pikirkan bersama-sama," ujarnya.
Sementara, untuk butir-butir rumusan tentang pengawasan dan pengamanan akan dimasukkan ke dalam POS. Sebelum POS itu disahkan akan dimintakan masukan terlebih dahulu kepada dinas pendidikan provinsi. "Misal soal pemindaian dan pengiriman rapor kalau dimasukkan ke dalam rumusan kan terlalu detil. Mungkin itu akan kita akomodasi ketika kita membuat POS," kata Musliar
[Sumber : http://microsite.detik.com/display/kemendikbud2/]
Senin, 15 Juli 2013
DOWNLOAD SITUS MANDEH SITI MANGGOPOH
Mandeh Siti Manggopoh tertulis oleh sejarah sebagai “Singa Betina” dari Sumatera Barat. Kelahirannya 15 Juni 1881. Wafatnya pada 20 Agustus 1965. Akankah umurnya di dunia hanya 84 tahun. Tidak! Menteri Sosial menerbitkan surat keputusan tanggal 17 Januari 1964, nomor Pol: 1379/64/P.K. (Lembaran Negara nomor 19/1964). Isinya mencatat Mandeh Siti sebagai Perintis Kemerdekaan bagi Indonesia. Selama NKRI ini ada, selama itu pula surat keputusan tersebut boleh diketahui, dibaca, dan dikenang oleh segenap anak bangsa Indonesia.
Tertulis indah nama beliau di salah satu pusara TMP Kusuma Negara, Lolong, Padang. Guratan tulisan tersebut untuk mengenang tokoh perempuan yang merepotkan kaum kolonialis Belanda ini. Bersama suaminya (Rasyid) pernah membantai 55 serdadu Belanda di markasnya sendiri. Posisinya sebagai ibu bagi anak-anaknya tidak mengurangi kebenciannya pada kelaliman penjajah. Amarahnya membara demi membela bumi Tuhan ini dari ketamakan Belanda yang berniat mengembangan sayap jajahan.
Alasan apa yang mendorongnya ikut berperang. Bukankah wanita lebih pantas ada di garis belakang? Wanita sering dinggap makhluk lemah dan perlu dilindungi. Justru, sang Mandeh Siti membalik anggapan tersebut. Hal luarbiasa ini patut dikaji dan disemangati oleh generasi Mandeh Siti era sekarang ini. Tidak saja oleh generasi kaum perempuan. Kaum lelaki pun pasti malu atas kobaran semangat jihad pejuang wanita ini.
Dulu Mandeh Siti bergelut melawan penjajah. Generasi Mandeh Siti sekarang penting juga bergelut. Apa yang harus digeluti? Pertama kebodohan, selanjutnya kemerosotan akhlak, ketiga keterbelakangan. Zaman Mandeh Siti berhadapan dengan senapan belanda. Generasi Mandeh Siti sekarang berhadapan dengan teknologi dan informasi. Umpama ada situs www.mandehsitimanggopoh.com (ingat! Ini umpama). Maka, link pada ‘Home’ sudah dibuka sebagaimana di atas. Berikutnya masih banyak link yang perlu di-klik. Untuk apa? Setelah link terbuka? Simak, pedomani, dan selanjunya lanjutkan perjuangan Mandeh Siti.
Sabtu, 15 Juni 2013
PNS Wajib Pakai Alamat Email Pemerintah Mulai 1 Januari 2014
|
|
Dalam Surat Edaran Nomor 06 Tahun 2013 tertanggal 27 Mei 2013 disebutkan, seluruh instansi pemerintah telah menggunakan alamat email resmi pemerintah sebagai alat komunikasi dinas pada 1 Januari 2014.
Adapun domain yang digunakan yaitu @pnsmail.go.Id atau yang dimiliki masing-masing pemerintah dengan alamat (nama instansi masing-masing).go.Id.
Azwar menjelaskan, saat ini seluruh instansi pemerintah telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pendukung dalam pelaksanaan tugas dan fungsi.
Namun demikian, masih banyak ditemukan pegawai dan pejabat negara yang menggunakan email non-pemerintah sebagai alat komunikasi dalam kegiatan kedinasan, termasuk yang dimiliki oleh pihak asing.
"Ini berisiko dan tidak aman dalam konteks kerahasiaan data dan informasi negara," tulis Azwar dalam surat edaran itu seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Jumat (14/6/2013).
Senin, 29 April 2013
Tips Mendapat Beasiswa Pascasarjana
Berikut Tips Mendapat Beasiswa :
Kamis, 28 Februari 2013
Guru Bagi-bagi Kuota 24 Jam Mengajar lewat Arisan
|
|
"Jika tidak seperti itu, kewajiban 24 jam mengajar dalam sepekan tak akan merata karena guru bersertifikasi sudah mencapai 1.232 orang," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bukittinggi Ellia Makmur, Rabu (27/2/2013).
Sebelum sistem arisan dibentuk, sekitar 70 dari 1.232 guru bersertifikasi tidak kebagian jatah mengajar yang memadai sehingga sulit untuk memenuhi kewajiban 24 jam mengajar dalam sepekan. Pasalnya, jadwal mengajar sudah penuh.
"Karena tidak mampu memenuhi kewajiban mengajar 24 jam dalam sepekan, akhirnya tunjangan sertifikasi bagi 70 guru tidak dapat dibayarkan," kata dia.
Rabu, 13 Februari 2013
Naskah Soal dan Lembar Jawaban UN Gunakan Barcode
Senin, 28 Januari 2013
Sumbar Siap Laksanakan Kurikukum 2013
|
|
|
|
e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :
PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]


