Loading...
 

Ayo belajar dengan TV-e !,

 

GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2026

Fenomena Guru Ngonten FB Pro: Antara Kreativitas, Monetisasi, dan Tanggung Jawab Moral Pendidik

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia memasuki babak baru yang ditandai oleh semakin eratnya relasi antara profesi guru dan media sosial. Salah satu fenomena yang kini marak diperbincangkan adalah munculnya guru-guru yang aktif membuat konten di Facebook melalui fitur monetisasi yang sering disebut FB Pro. 

Bagi sebagian pihak, ini adalah wujud adaptasi kreatif terhadap perkembangan zaman. Namun bagi yang lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang batas profesionalisme, etika digital, dan tanggung jawab moral seorang pendidik di ruang publik. 

Dari sisi positif, guru yang terjun ke dunia konten sejatinya sedang mempraktikkan literasi digital secara langsung. Mereka belajar memahami algoritma, audiens, strategi komunikasi visual, hingga teknik penyampaian pesan yang efektif. Banyak guru memanfaatkan FB Pro untuk berbagi materi pembelajaran, tips belajar, motivasi siswa, refleksi pendidikan, bahkan cerita inspiratif dari ruang kelas. Konten-konten semacam ini berpotensi menjangkau masyarakat luas, melampaui batas sekolah dan wilayah. Dalam konteks ini, guru tampil sebagai agen perubahan yang membawa nilai-nilai edukatif ke ruang digital. 

Aspek ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Realitas kesejahteraan guru—terutama guru honorer—masih menjadi isu yang belum sepenuhnya tuntas. Monetisasi konten menawarkan peluang penghasilan tambahan yang relatif fleksibel. Dengan bermodalkan ponsel, koneksi internet, dan kreativitas, seorang guru bisa memperoleh pemasukan dari iklan atau interaksi audiens. 

Bagi sebagian pendidik, FB Pro menjadi ruang alternatif untuk menopang ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan profesi utama. Dari sudut pandang ini, aktivitas ngonten bukan sekadar tren, melainkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi. 

Namun, di balik peluang tersebut, tersimpan berbagai tantangan serius. Tidak semua konten yang dibuat guru selalu bernuansa edukatif. Demi mengejar viralitas, tayangan, dan engagement, sebagian tergoda mengikuti arus konten sensasional, dramatisasi berlebihan, atau bahkan kontroversial. 

Di sinilah persoalan etika mulai mengemuka. Guru, secara sosial dan kultural, dipandang sebagai figur teladan. Apa pun yang mereka tampilkan di ruang publik digital berpotensi memengaruhi cara berpikir siswa dan masyarakat. Ketika konten yang dibuat terlalu personal, berlebihan, atau tidak sejalan dengan nilai pendidikan, citra profesi guru ikut dipertaruhkan. 

Lebih jauh lagi, muncul persoalan yang kini semakin sering disorot: tidak sedikit guru yang mengambil gambar milik kreator lain, menyalin atau “mencomot” teks narasi, visual, bahkan konsep konten secara utuh tanpa izin maupun atribusi yang layak. Praktik ini jelas merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap etika hak cipta. Ironisnya, pelaku tindakan ini adalah mereka yang sehari-hari mengajarkan kejujuran, integritas, dan penghargaan terhadap karya orang lain kepada peserta didik. 

Fenomena ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Di dunia digital, kemudahan mengunduh dan menyalin sering kali menciptakan ilusi bahwa semua konten bebas digunakan. Padahal setiap karya—baik foto, video, tulisan, maupun desain—memiliki pencipta yang menginvestasikan waktu, tenaga, ide, dan emosi. Mengambil karya orang lain tanpa izin atau kredit bukan hanya melanggar etika, dan peraturan META, tetapi juga melemahkan ekosistem kreatif. Lebih dari itu, jika dilakukan oleh guru, dampaknya menjadi berlapis: selain merugikan kreator asli, tindakan tersebut memberi contoh buruk bagi siswa tentang bagaimana menghargai hasil cipta. 

Persoalan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah kecenderungan sebagian guru untuk ikut membagikan atau mereplikasi konten yang sedang ramai tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, padahal konten tersebut mengandung hoaks, disinformasi, atau klaim yang tidak berdasar fakta. Dalam ekosistem media sosial yang digerakkan oleh algoritma, konten provokatif memang lebih cepat menyebar. 

Namun ketika seorang guru turut menyebarkannya, dampaknya menjadi jauh lebih serius. Guru memiliki otoritas moral di mata masyarakat. Apa yang dibagikan guru sering dianggap “pasti benar”, sehingga hoaks yang mereka unggah berpotensi dipercaya dan diteruskan oleh banyak orang. 

Di sinilah letak urgensi literasi informasi bagi pendidik. Guru seharusnya menjadi benteng pertama dalam melawan misinformasi, bukan justru ikut memperkuat arusnya. Membagikan konten tanpa cek fakta, tanpa sumber jelas, atau hanya karena ingin ikut tren adalah praktik yang seharusnya dihindari. Lebih berbahaya lagi jika konten hoaks tersebut menyentuh isu sensitif seperti pendidikan, kebijakan publik, kesehatan, atau moral generasi muda. Alih-alih mencerdaskan, tindakan ini justru memperkeruh ruang publik dan menurunkan kualitas diskursus sosial. 

Guru seharusnya berada di garda terdepan dalam menanamkan nilai kejujuran intelektual. Dalam dunia akademik, plagiarisme dan manipulasi informasi adalah pelanggaran serius. Maka tidak selayaknya praktik serupa dinormalisasi di media sosial hanya karena mengejar monetisasi atau popularitas. 

Jika seorang guru membutuhkan bahan visual atau narasi, ada banyak jalan yang lebih bermartabat: membuat sendiri, berkolaborasi dengan kreator lain, menggunakan sumber berlisensi bebas dengan atribusi yang tepat, meminta izin secara langsung, serta memastikan setiap informasi yang dibagikan telah diverifikasi dari sumber tepercaya. Langkah-langkah ini sederhana, tetapi mencerminkan karakter pendidik sejati. 

Dari sudut pandang pedagogis, fenomena guru ngonten juga menghadirkan dilema waktu dan fokus. Idealnya, energi utama guru tetap tercurah pada perencanaan pembelajaran, pendampingan siswa, serta pengembangan kompetensi profesional. Jika aktivitas membuat konten menyita perhatian berlebihan—misalnya lebih sibuk mengejar viewers daripada menyiapkan materi—kualitas pembelajaran berpotensi menurun. Sebaliknya, jika dikelola dengan bijak, media sosial justru dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual: guru bisa mengajak siswa berdiskusi tentang literasi media, etika digital, hak cipta, hingga cara mengenali hoaks. 

Ada pula dimensi sosial yang menarik. Guru ngonten kerap membangun jejaring virtual lintas daerah. Mereka saling berbagi pengalaman mengajar, metode kreatif, dan tantangan di lapangan. Media sosial berubah menjadi “ruang guru kedua” tempat ide bertemu tanpa sekat formal. Namun ruang ini juga rentan terhadap konflik opini, persaingan tidak sehat, serta polarisasi—terutama ketika popularitas dan penghasilan mulai menjadi tujuan utama. 

Tak kalah penting adalah aspek regulasi dan tanggung jawab institusional. Platform seperti Facebook berada di bawah naungan Meta Platforms yang memiliki kebijakan komunitas tersendiri. Namun di tingkat lokal, belum semua institusi pendidikan memiliki panduan jelas mengenai aktivitas guru di media sosial. Akibatnya, batas antara ruang privat dan representasi profesi sering kali kabur. Diperlukan kebijakan internal yang proporsional—bukan untuk membungkam kreativitas, melainkan untuk menjaga marwah pendidik sekaligus melindungi hak personal guru sebagai warga digital. 

Pada titik ini, pesan penting perlu ditegaskan: guru boleh kreatif, guru boleh mencari tambahan penghasilan, guru boleh hadir di ruang digital. Tetapi guru tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar profesinya. Mengambil karya orang lain tanpa izin, menyalin narasi kreator lain, ikut menyebarkan hoaks, atau mengejar viral dengan mengabaikan etika adalah praktik yang seharusnya dihentikan. Justru di era serba digital ini, peran guru sebagai teladan semakin krusial. 

Pada akhirnya, fenomena guru ngonten FB Pro adalah cermin perubahan zaman. Ia memperlihatkan bagaimana profesi tradisional bernegosiasi dengan ekonomi kreator dan budaya viral. Alih-alih menolaknya mentah-mentah, pendekatan yang lebih bijak adalah membangun kesadaran kolektif: guru perlu dibekali literasi hak cipta, literasi informasi, etika digital, manajemen waktu, serta pemahaman dampak konten terhadap peserta didik. 

Jika dikelola secara seimbang, guru ngonten bukan ancaman bagi dunia pendidikan. Sebaliknya, ia dapat menjadi jembatan antara ruang kelas dan masyarakat luas—tempat ilmu, nilai, dan inspirasi bertemu dalam format yang relevan dengan generasi hari ini. Namun jembatan itu hanya akan kokoh jika dibangun di atas fondasi integritas, kejujuran, verifikasi fakta, dan penghargaan terhadap karya sesama. Tanpa itu semua, popularitas digital hanyalah capaian semu yang perlahan menggerus makna sejati profesi guru. 

Sumber : https://www.facebook.com/share/173f7Mo5EU/

Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”

Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”  


Mayoritas masyarakat Indonesia berisiko terkena gangguan Digital Dementia, terutama anak kecil dan Gen Z yang sedang aktif-aktifnya menggunakan ponsel dan internet. 

Penggunaan ponsel pintar di Indonesia semakin masif dari hari ke hari. Melansir data statisik dari data.goodstats.id[1], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia cenderung naik dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2015 jumlahnya tidak sampai 60 juta pengguna, di tahun 2023, sewindu kemudian, jumlahnya melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 180 juta pengguna. 

Melansir prioridata.com[2], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia saat ini mencapai 187 juta, berada di urutan keempat sebagai negara dengan pengguna ponsel pintar terbanyak di dunia setelah China, India, dan Amerika yang berada di urutan pertama, kedua, dan ketiga. Namun jika dilihat dari persentase penetrasi ponsel pintar, Indonesia memiliki persentase penetrasi yang sama dengan China. 

Persentase penetrasi internet juga sejalan dengan pertumbuhan pengguna ponsel pintar di Indonesia. Menurut data yang diambil dari dataportal.com[3], penetrasi internet di Indonesia naik drastis di tahun 2024 dengan persentase 66.5 persen penduduk Indonesia adalah pengguna internet, dari yang sebelumnya hanya 28 persen di tahun 2015. Mirisnya, masih dari laman yang sama, rata-rata penduduk Indonesia dilaporkan memiliki waktu guna (screentime) internet sekitar 7 jam setiap hari, jumlah yang hampir setara dengan sepertiga waktu harian mereka telah habis digunakan untuk menjelajah dunia maya. 

Ternyata, kondisi serupa juga terjadi di pelbagai belahan dunia. Thailand, Mesir dan Mexico mencatat rata-rata waktu guna internet serupa dengan Indonesia, disusul oleh Malaysia dan Rusia yang penduduknya sedikit lebih lama aktif di dunia maya dengan rata-rata 8 jam waktu guna dalam sehari. Jika dilihat dari kategori usia, di seluruh dunia, pengguna internet yang paling lama aktif di dunia maya adalah Gen Z yang berusia 16-24 tahun yang rata-rata menghabiskan sekitar 7 jam setiap hari untuk eksis di dunia maya. 

Fenomena naiknya jumlah pengguna ponsel pintar dan durasi berselancar di dunia digital menggugah banyak peneliti dan pemerhati kesehatan untuk menginvestigasi dampak penggunaan ponsel pintar dan durasi waktu guna internet pada kesehatan penggunanya. 

Melalui berbagai tes seperti uji daya ingat, tes ketajaman fokus, tes kecemasan, dan indeks prestasi, para peneliti menemukan beberapa efek negatif dari penggunaan ponsel pintar dan internet yang ekstensif. Dampak negatif ini meliputi adiksi gawai, kecemasan jika tidak memegang gawai, fear of missing out (FOMO), penurunan indeks prestasi, dan yang terbaru adalah risiko gangguan Digital Dementia. 

Digital Dementia 

Istilah Digital Dementia pertama kali dikemukakan oleh seorang pakar neuropsikiatris asal Jerman, Manfred Spitzer, yang merujuk pada fenomena menurunnya fungsi kognitif karena terlalu sering bergantung pada teknologi seperti ponsel pintar dan internet. Istilah ini kemudian menyebar cepat melalui berbagai publikasi digital di banyak negara yang digunakan untuk menjelaskan fenomena penurunan kemampuan kognitif seperti menurunnya daya ingat, sulit mengambil keputusan, hingga berkurangnya kemampuan fokus dan bersosialisasi akibat penggunaan gawai yang berlebihan (Manwell et al., 2022). Meski memiliki gejala yang mirip dengan gangguan demensia pada umumnya, gangguan ini lebih berbahaya karena bukan hanya menyerang individu berusia senja, namun juga individu berusia muda sebagai golongan pengguna gawai paling aktif. 

Korelasi antara ketergantungan pada ponsel pintar untuk mengerjakan aktifitas manusia dan minimnya pelibatan kemampuan kognitif bawaan manusia adalah pemicu utama dari gangguan ini. Sejak lahir, otak manusia memiliki sifat plasticity atau neuroplasticitas yang berarti ia dapat berubah, berkembang, dan beradaptasi sebagai respons dari pengalaman, pembelajaran, dan ingatan yang dilalui manusia setiap hari. Artinya, perkembangan otak, berikut fungsi kognitifnya, sangat bergantung pada masukan informasi dan keterlibatannya dalam aktifitas sehari-hari. 

Saat manusia lebih sering bergantung pada ponsel pintar untuk mengerjakan tugas seperti mengingat, navigasi arah, atau menganalisis informasi, kemampuan kognitifnya tidak mendapat masukan dan pengalaman yang diperlukan untuk berkembang. Defisiensi aktivitas koginitif dalam jangka panjang bahkan dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. 

Penurunan fungsi kognitif  bukanlah efek akhir dari ketergantungan manusia terhadap teknologi. Dekadensi kognitif ini justru adalah awal dari ‘efek domino’ yang dapat mengebiri produktifitas manusia. Ironisnya, gangguan ini justru mengancam kaum muda yang seharusnya sedang berada di puncak produktivitas. 

Lebih jauh, penggunaan internet melalui ponsel pintar juga menambah daftar pekerjaan manusia yang diambil alih oleh gawainya. Bertambahnya jumlah tugas yang dapat didelegasikan tentu berbanding terbalik dengan jumlah aktifitas yang dibebankan pada otak. Laporan dari pelbagai publikasi ilmiah telah menyatakan bahwa semakin banyak aktivitas manusia yang didelegasikan pada ponsel pintar dan internet, semakin besar juga risiko mereka tekena digital dementia. Kondisi ini kemudian diperparah oleh durasi pemakaian gawai yang ekstensif. Tidak heran, gangguan digital ini lebih mudah menyerang anak muda di usia produktif yang hampir seluruh waktunya digunakan untuk memakai ponsel pintar dan internet, daripada orang berusia senja dengan waktu guna gawai yang sedikit. 

Menjaga Diet Digital 

Melihat besarnya dampat negatif dari Digital Dementia, sudah saatnya bagi pemerintah secara khusus, dan masyarakat luas pada umumnya untuk lebih memperhatikan ‘porsi’ konsumsi digital yang didapat melalui ponsel dan internet. Masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan aktivitas kognitif seperti membaca atau melakukan games teka-teki yang memerlukan usaha untuk mengingat dan menganalisis. Studi dari Eckroth-Bucher & Siberski (2009) menemukan bahwa memperbanyak aktivitas yang melibatkan fungsi daya ingat dapat secara signifikan memperbaiki daya ingat yang menurun akibat Digital Dementia. 

Sejalan dengan memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan kerja kognitif, penerapan salah satu ‘diet’ digital, digital detox, juga terbukti dapat mencegah risiko terkena Digital Dementia. Digital detox merujuk pada upaya secara sengaja untuk beberapa waktu lepas dan tidak aktif memakai ponsel dan internet. Program diet ini memiliki banyak bentuk yang dapat diaplikasikan dan disesuaikan mengikuti kondisi seorang individu. Contohnya, seseorang dapat dengan sengaja menonaktifkan salah satu aplikasi di ponselnya yang dinilai memiliki waktu guna paling lama. Bentuk lainnya adalah menerapkan program sehari tanpa memakai ponsel atau internet, dan menghabiskan waktu untuk berkegiatan jauh dari dunia maya. 

Orang tua dan sekolah, sebagai tokoh penting dalam kehidupan anak muda, juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak-anak muda di bawah umur. Orangtua dianjurkan mengawasi dan membatasi penggunaan ponsel pintar untuk anak, terutama saat di usia 0-5 tahun. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara mengajak buah hati beraktivitas di luar ruangan yang jauh dari gawai, menyibukkan mereka dengan eksplorasi lingkungan sekitar, atau mengenalkannnya pada permainan – permainan tradisional yang dapat melatih kemampuan motorik dan kognitif mereka. 

Pemerintah juga memiliki peran krusial sebagai fasilitator, inisiator, dan pengawas untuk mencegah meluasnya gangguan Digital Dementia. Jajaran pemerintahan terkait seperti Kementerian komunikasi dan digital (Komdigi) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat bekerja bersama untuk memulai penyuluhan, sosialisasi, dan perancangan program penggunaan gawai di akar rumput, sehingga seluruh lapisan masyarakat Indonesia mendapat informasi yang jelas mengenai gangguan Digital Dementia. 

Selayaknya pemerintah Indonesia yang menaruh perhatian penuh pada diet makanan masyarakat Indonesia melalui program makanan bergizi gratis (MBG) yang menargetkan pemuda dan anak – anak sebagai penerima manfaat utama, pemerintah seharusnya juga menaruh perhatian yang sama untuk ‘diet’ penggunaan gawai dan pemakaian internet dengan mulai merencanakan regulasi dan program diet digital yang sehat. Pertumbuhan gizi Masyarakat Indonesia yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas SDM bangsa bisa jadi hanya akan menjadi angan belaka jika fokus perbaikan diet terhenti hanya di perut tanpa sampai ke kepala. 

Literasi Digital 

Akses internet dan penetrasi ponsel pintar yang terus bertumbuh di Indonesia tidak serta merta hanya membawa dampak positif, ada dampak negatif yang membayangi seiring dengan penggunaan teknologi mutakhir tersebut. Digital Dementia yang mengganggu dan menurunkan kemampuan kognitif menjadi bukti nyata bahwa penggunaan teknologi yang tidak bijak bukan membawa manfaat, justru mendatangkan mudarat yang membahayakan. 

Peran literasi digital sangat penting untuk mendeteksi dampak-dampak negatif dari penggunaan teknologi seperti ponsel pintal dan internet agar potensi dari kemajuan di bidang tersebut dapat dioptimalkan sambil tetap menghindari dampak negatifnya. Akhirnya, saat ponsel pintar dan internet menawarkan ketidakbatasan dan kebebasan untuk mengakses informasi, kontrol diri dan dukungan dari lingkungan dan pemerintah menjadi kunci utama untuk tetap menjadi bijak dalam menggunakan teknologi. 

Artikel oleh : Iqbal Fathi Izzudin, Peneliti Linguistik Kognitif Lancaster University 

Minggu, 12 Oktober 2025

Pendidikan Kaum Tertindas, Ikhtiar Memecah Masalah Sosial dan Politik

Buku "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dan pendekatan pedagogi kritis. Tahun publikasinya pada tahun 1970, buku ini masih relevan dan memiliki pengaruh yang besar hingga saat ini. 

Argumen utama yang diusung oleh Freire adalah bahwa sistem pendidikan konvensional sering kali menjadi alat yang mempertahankan ketidakadilan dengan memperlakukan siswa sebagai penerima pasif pengetahuan, bukan sebagai peserta aktif dalam proses belajar. 

Freire memperkenalkan konsep "pedagogi dialogis," yang menekankan pendekatan kolaboratif dalam pendidikan di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog untuk bersama-sama menciptakan pengetahuan dan mengevaluasi secara kritis masalah-masalah sosial dan politik. 

"Ia memperjuangkan pembebasan peserta didik melalui conscientization, suatu proses untuk meningkatkan kesadaran kritis tentang ketidakadilan sosial dan memberdayakan individu untuk mengambil tindakan". 

Buku ini telah memiliki dampak yang signifikan dalam teori dan praktik pendidikan, terutama dalam bidang literasi dan pendidikan keadilan sosial. Ide-ide Freire telah diterapkan di seluruh dunia untuk mempromosikan pengalaman pendidikan yang lebih adil dan partisipatif. 

Meskipun buku ini mendapat banyak pujian karena potensinya untuk membawa perubahan yang fundamental, namun juga mendapat kritik. Beberapa berpendapat bahwa implementasinya mungkin sulit dalam konteks pendidikan tradisional, dan ada juga pandangan bahwa pendekatannya mungkin tidak selalu berlaku secara universal. 

Secara singkat, "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire adalah karya revolusioner yang menantang paradigma pendidikan konvensional dan menawarkan visi pendidikan sebagai alat untuk perubahan sosial. Buku ini tetap menjadi bacaan penting bagi pendidik, aktivis, dan siapa pun yang tertarik pada persilangan antara pendidikan dan keadilan sosial. 

Sebelum kita menjelajahi lebih dalam isi buku ini, mari kita kenali penulisnya, Paulo Freire, serta konteks sejarah dan sosial di mana karyanya muncul. 

Siapa Paulo Freire? 

Paulo Freire (1921-1997) adalah seorang pendidik dan filsuf Brasil yang diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam bidang pendidikan abad ke-20. Ia lahir dan dibesarkan di Recife, Brasil, dalam keluarga yang kurang mampu. Pengalaman masa kecilnya yang penuh dengan kemiskinan dan ketidakadilan sosial telah membentuk pandangan dan komitmennya terhadap pendidikan yang adil dan pembebasan manusia. 

Freire memulai karirnya sebagai seorang guru di sekolah menengah dan kemudian menjadi direktur pendidikan di Departemen Pendidikan Kota Natal. Pada tahun 1960-an, dia mengembangkan pendekatan pendidikan yang dikenal sebagai "Pendidikan Pembebasan" atau "Pendidikan Kesadaran," yang kemudian menjadi dasar bagi bukunya "Pendidikan Kaum Tertindas." 

Karya ini muncul di tengah perubahan sosial dan politik yang signifikan di Brasil. Pada tahun 1964, pemerintahan militer merebut kekuasaan di Brasil, yang mengakibatkan penindasan politik dan sosial yang meluas. Freire sendiri ditangkap dan diasingkan selama beberapa tahun karena pandangan kritisnya terhadap rezim militer. 

"Pengalaman ini menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah senjata yang kuat dalam perjuangan melawan penindasan" 

"Pendidikan Kaum Tertindas" adalah hasil dari pemikiran dan pengalaman mendalam Freire. Buku ini mengeksplorasi konsep utama seperti kesadaran kritis, dialog, dan kesetaraan dalam pendidikan. Untuk lebih memahami isi buku ini, mari kita bahas beberapa konsep utamanya. 

Konsep Pendidikan Kaum Tertindas 

Salah satu konsep utama dalam buku ini adalah "Kesadaran Kritis" atau "Conscientization." Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya tentang transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi juga tentang mengembangkan kesadaran kritis siswa tentang dunia di sekitarnya. Ini melibatkan pengembangan pemahaman mendalam tentang masalah sosial dan politik serta kemampuan untuk menilai dunia secara kritis. 

Kesadaran kritis adalah langkah pertama menuju pembebasan, karena individu yang menyadari ketidakadilan sosial lebih cenderung untuk mengambil tindakan. 

Untuk mencapai kesadaran kritis, Freire mendorong pendekatan dialogis dalam pembelajaran. Dia berpendapat bahwa pendidikan seharusnya menjadi proses kolaboratif di mana guru dan siswa terlibat dalam dialog yang saling menghargai. Ini berarti siswa tidak hanya menerima pengetahuan dari atas, tetapi juga memiliki peran aktif dalam proses pembelajaran. Dialog memungkinkan pertukaran ide dan pemikiran yang dalam, menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis. 

Selain itu, Freire menekankan pentingnya konteks sosial dalam pendidikan. Dia menyatakan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial di mana siswa hidup. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya mencerminkan dan mengakui pengalaman siswa dalam konteks mereka. 

Ini berarti bahwa pendidikan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan harus membantu mereka mengatasi tantangan dan ketidakadilan yang mereka hadapi. 

Kesetaraan juga merupakan elemen kunci dalam pemikiran Freire. Dia menggambarkan pendidikan yang adil sebagai pendidikan di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Ini adalah tantangan terhadap hierarki tradisional di kelas, di mana guru sering memiliki otoritas mutlak. Freire mendukung terbentuknya hubungan horizontal antara guru dan siswa, di mana keduanya dapat belajar bersama-sama. 

Dalam praktiknya, konsep-konsep ini dapat diilustrasikan melalui metode-metode dan teknik-teknik yang digunakan oleh Freire dalam pendekatannya terhadap pendidikan pembebasan. Salah satu teknik yang terkenal adalah "pemecahan kode" atau "decoding," di mana siswa diajak untuk menganalisis kata-kata dan konsep-konsep yang sering digunakan dalam masyarakat mereka. Ini membantu mereka memahami bagaimana bahasa dan budaya mereka dapat digunakan untuk mempertahankan ketidakadilan atau, sebaliknya, untuk memahami dan mengatasi ketidakadilan. 

Freire juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Ia mendukung gagasan bahwa pembelajaran harus terus berlanjut sepanjang kehidupan, dan bahwa pendidikan harus selalu relevan dengan perubahan sosial dan perkembangan individu. Ini juga mengaitkan konsep-konsepnya dengan pendidikan dewasa dan literasi, di mana pembelajaran dapat menjadi alat untuk memberdayakan orang dewasa yang mungkin telah ditinggalkan oleh sistem pendidikan formal. 

Saat membaca "Pendidikan Kaum Tertindas", kita juga harus menyadari bahwa buku ini ditulis dalam konteks sosial dan politik Brasil pada tahun 1970-an. Freire adalah seorang aktivis politik yang berjuang melawan ketidakadilan sosial dan politik di negaranya. Oleh karena itu, pandangan tentang pendidikan yang ia usung sangat dipengaruhi oleh pengalaman ini. Meskipun banyak konsepnya dapat diterapkan secara universal, ada elemen dalam bukunya yang sangat terkait dengan konteks Brasil pada saat itu. 

Sabtu, 31 Agustus 2019

Wanita, Tetaplah Engkau Berada Di Dalam Rumah !

“JADI saya pikir pada saat itu setiap wanita akan bereaksi dengan berbagai cara yang berbeda. Beberapa wanita pada saat itu tidak akan memasak, sedangkan yang lainnya akan terlibat dialog dengan suami mereka. Di Seluruh negeri beberapa wanita akan keluar untuk berunjuk rasa. Mereka akan menekan anggota Kongres Senator agar meluluskan undang-undang yang mempengaruhi peran wanita.“

Kalimat di atas diucapkan Betty Friedan untuk menyambut demo besar-besaran wanita pada tanggal 26 Agustus 1970 di Amerika Serikat. Friedan adalah seorang tokoh feminis liberal yang ikut mendirikan dan kemudian diangkat sebagai presiden pertama National Organization for Woman pada tahun 1966. Ia menjadi pemimpin aksi untuk mendobrak UU di Amerika yang melarang aborsi dan pengembangan sifat-sifat maskulin oleh wanita.
Betty Friedan sendiri terlahir dengan nama Betty Naomi Goldstein pada tanggal 4 Februari tahun 1921. Pada giliranya Friedan berkembang menjadi seorang aktivis feminis Yahudi Amerika kenamaan pada durasi medio 1960-an. Puncak momentumnya terjadi setelah ia berhasil mengarang “The Feminine Mystique“ (baca/download bukunya, klik disini) Buku yang menjadi rujukan kaum feminis ini menggambarkan peranan wanita dalam masyarakat industri. Di situ, Friedan mengkritik habis peran ibu rumah tangga penuh waktu yang baginya sangat mengekang dan jauh dari penghargaan terhadap hak wanita.
Buku Freidan pun terjual laris. The Feminine Mystique berubah menjadi “kitab suci” bagi kaum wanita dan ia digadang-gadang sebagai pencetus feminisme gelombang kedua setelah ombaknya pernah menyapu dunia abad 18.
Teori yang sangat ternama sekali darinya adalah apa yang disebut oleh Freidan dengan istilah Androgini. Androgini sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu ανήρ (anér, yang berarti laki-laki) dan γυνή (guné, yang berarti perempuan) yang dapat merujuk kepada salah satu dari dua konsep terkait tentang gender.
Namun sejatinya, kata Androgini muncul pertama kali sebagai sebuah kata majemuk dalam Yudaisme Rabinik sebagai alternatif untuk menghindari kata hemaprodit yang bermasalah dalam tradisi Yahudi.
Akan tetapi, sekalipun telah menapaki karir yang sangat memuncak dalam dunia feminisme, gagasan Freidan pun juga menjadi sasaran kritik. Menariknya orang yang mengkritik Friedan adalah seorang feminis lainnya bernama Zillah Eisenstein. Eisenstein sendiri adalah Profesor Politik dan aktivis feminis dari Ithaca New York. Ia menulis kritikan tajam terhadap gagasan konsep wanita bekerja milik Friedan. Dalam bukunya, Radical future of Liberal Feminism, Eisenstsein mengkritik,
“Tidak pernah jelas apakah pengaturan ini seharusnya meringan beban ganda perempuan (keluarga dan pekerjaan) atau secara signifikan menstruktur ulang siapa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Bagaimana tanggung jawab ini dilaksanakan?”
Perdebatan antara Eisenstein dan Freidan yang sama-sama aktivis feminis hampir tidak pernah ditemukan dalam dunia Islam. Karena Islam bukanlah sebuah produk dari akal manusia, tidak juga lekang dimakan waktu, lebih-lebih relatif dalam standar manusia. NamunIslam adalah agama genuine yang langsung turun dari Allah SWT.

Sabtu, 29 Juni 2019

Apabila menyontek sudah seperti hal yang biasa..,



Kondisi Indonesia saat ini menurut saya sangat buruk, dimana Indonesia mengalami berbagai masalah, baik dikalangan masyarakat maupun dikalangan pejabat. Dikalangan masyarakat baik remaja maupun orang dewasa banyak terjadi penyimpangan misalnya banyaknya pelajar yang tawuran, mencuri bahkan menyalahgunakan narkoba. Dikalangan para pejabat penyimpangan pun banyak terjadi, banyaknya para pejabat yang korupsi, manfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri. Masalah-masalah tersebut menghambat kemajuan bagi Indonesia sendiri.

Penyebab dari semua masalah diatas salah satunya adalah mulai pudarnya kejujuran yang dimiliki bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini kejujuran sudah mulai ditinggalkan, baik kejujuran kepada diri sendiri ataupun kejujuran terhadap orang lain. Untuk mengatasi permasalahan-permasalah yang sekarang ini banyak terjadi di Indonesia salah satunya yaitu dengan menanamkan kejujuran pada bangsa Indonesia. Pentingnya suatu kejujuranadalah karena sikap tidak jujur, sangat buruk dampaknya pada bangsa ini jika ketidak jujuran sudah dianggap sebagai hal yang sudah biasa. Dapat dilihat dari realita yang terjadi di negeri ini, khususnya di dunia pendidikan, dimana menyontek sudah seperti hal yang biasa. Semua orang sepakat menganggap bahwa menyontek itu adalah suatu hal yang buruk, tetapi semua orang tidak dapat mengelak dari situasi-situasi yang membawanya untuk melakukan menyontek.

Jumat, 14 Juni 2019

VUCA dalam Dunia Pendidikan

Oleh: Freddy Nababan *)
DUNIA sedang mengalami turbulensi. Efek­nya adalah banyak hal yang berubah de­ngan cepat, tidak pasti, kom­pleks dan bisa jadi membingungkan. Dan hari-hari ini kita kerap melihat ber­munculannya ben­da-benda yang tidak per­nah kita ba­yangkan akan hadir sebe­lumnya.
Contohnya, beberapa waktu lalu, kita me­nyaksikan bahwa Sophia-robot ber­basis kecerdasan buatan yang bisa ber­tin­dak sebagai asisten manusia besutan David Hanson-menerima status kewarga­ne­garaan untuk entitas nonmanusia per­tama di dunia dari Putra Mahkota Kera­jaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. Kemudian, kita menyaksikan Alexa, juga produk kecerdasan buatan persembahan Amazon yang mampu bertindak sebagai asisten pribadi dengan berbagai keunggulannya. Ada juga Rina (Microsoft), dan Siri (Ios Apple).


Intinya, semua entitas tersebut adalah pencapaian terkini manusia yang mampu mem­berikan nilai lebih dan kemu­dahan hidup bagi penggunanya. Inilah peruba­han-perubahan yang tampak kasatmata dan sangat signifikan memengaruhi cara hidup dan pola pikir manusia secara keseluruhan.
Sampai di sini, bisa disimpulkan bah­wa tidak bisa tidak, dunia akan terus me­­ngalami perubahan. Perubahan itu pasti dan abadi. Segala kesusahan ber­ubah menjadi kemudahan. Apa yang du­lun­ya tak mungkin, menjadi mungkin se­bagai­mana dikatakan oleh filsuf Yu­nani, Heraclitus (535 BC-475 BC) dengan kata-kata bijaknya the only thing that is constant is change.
Jika kita amati, ada berbagai macam ek­ses dari perubahan-perubahan ini, salah sa­tunya dikenal sebagai disrupsi atau ke­kacauan. Disebut “gangguan/keka­cau­an” karena hal ini-baik langsung maupun tidak langsung, masif maupun mikro-me­nyebabkan peralihan-peralihan yang tidak kentara, juga ketidaknyamanan bagi se­bagian orang, terutama yang berada dalam status quo atau zona nyaman (comfort zone).
Orang-orang menjadi tidak nyaman ka­rena bisnis ataupun karir pekerjaan mereka terganggu, bahkan “terancam” oleh para pendatang baru pengusung dis­rupsi, yaitu kaum mile­nial. Bagi kaum mi­lenial “berubah-ubah” dan “ketidak­ber­aturan” adalah lifestyle mereka.
Karena punya pola pikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya, dalam berbisnis ataupun berkarir mereka juga banyak menawarkan konsep-konsep baru yang tidak ter­pikirkan sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya bisnis rintisan (start up business) berbasis di­gital akhir-akhir ini, seperti Uber, Gojek, Grab dan lain sebagainya. Para pemain lama terganggu oleh karena inovasi dan berbagai kemudahan yang ditawarkan para pemain baru (milenial) pelaku bisnis rintisan tersebut. Inilah dunia VUCA.

VUCA Penawar VUCA

VUCA (volatility, uncertainty, com­ple­x­ity dan ambiguity)-sebagaimana di­sitir oleh Victor Yasadhana-adalah istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh US Army War College untuk meng­gam­bar­kan keadaan dunia yang semakin rentan, tak pasti, rumit dan membingungkan se­bagai dampak multi­lateralisme dunia pasca-Perang Dingin.
Jika pada awalnya fenomena ini ber­gelayut pada ranah bisnis dan teknologi-in­formasi, maka kini hal yang serupa bisa kita saksikan dalam domain pendidi­kan. Sebagaimana sudah banyak diulas oleh para ahli di bidangnya, tatanan dunia pen­didikan global sekarang ini mengha­dapi apa yang disebut jurang teknologi dan informasi antara digital im­migrants (guru lama pembelajar teknologi) dan dig­ital natives (siswa penikmat dan peng­guna teknologi), di mana kebanya­kan guru yang ada sekarang masih ter­bilang gagap menghadapi para siswa pe­nutur teknologi.
Para guru lama ini kerap susah untuk me­ngubah paradigma belajar dan me­ngajar, sulit menyesuaikan diri dengan tren-tren terbaru pengajaran berikut me­dia-media pembelajaran berbasis digital yang berkembang cepat, merasa ter­ancam dengan teknologi, dan merasa bim­bang/bingung untuk ber­ubah. Alasan paling klise adalah: sudah tua dan mau pen­siun. Dan barangkali sudah merasa nyaman dengan suasana yang ada.
Namun sejatinya, para guru harus mau dan mampu mengubah mindsettersebut sebab perubahan itu adalah abadi. Guru harus mau terbuka dengan perubahan zaman sebab guru adalah pembelajar sejati seumur hidup. Guru adalah role model dan agent of change kehidupan.
Perubahan dan kesulitan yang mung­kin ditimbulkannya tak mesti ditakuti se­bab sesungguhnya di balik kesulitan pasti ada jalan. Di balik perubahan pasti ada kemudahan. Selalu ada semacam “serum” penetralisir. Dalam bukunya, Lea­ders Make the Future: Ten New Lea­dership Skills for an Uncertain World, Bob Johansen yang juga peneliti pada Ins­titute for the Future menawarkan so­lusi untuk mengatasi dunia VUCA ini, juga dengan VUCA (vision, understan­ding, clarity dan agility).
Sejatinya resep VUCA ini bisa di­aplikasikan dalam dunia pendidikan se­bagai berikut. Volatility (perubahan cepat tak terduga) bisa diakomodir dengan me­nerapkan visi (vision) yang jelas. Apa yang hendak dicapai di masa depan di­tetapkan hari ini. Guru harus me­netapkan apa yang menjadi program bulanan, se­mester, dan tahunan. Guru harus memas­tikan semua materi sudah on the track, kon­tekstual dan sinkron dengan tren terbaru.
Uncertainty (sulit terprediksi) dinis­bih­kan dengan pe­mahaman (under­stan­ding) yang baik akan apa yang menjadi pe­nyebabnya. Hal ini umumnya berkai­tan dengan karakter siswa. Untuk itu, guru harus menjadi fasilitator yang lebih ba­nyak mendengar, membaca dan meli­hat perspektif yang berbeda dari para mu­­rid­nya. Guru harus mengenali gaya be­lajar mereka karena mengenali murid secara utuh adalah keharusan.
Selanjutnya, complexity (keruwetan dan kerumitan) yang dialami dari para sis­wa dalam pembelajaran diatasi dengan ke­mauan para pendidik untuk lebih ba­nyak merespon, tidak reaktif, dan meng­kla­rifikasi setiap permasalahan yang ada agar tercipta kejelasan (clarity) dalam mengambil keputusan.
Dan terakhir ambiguity (kebingungan/kebimbangan) dalam pembelajaran dapat diselesaikan dengan agility (kelin­cahan/keluwesan) para guru melihat solusi-solusi yang ada. Kelincahan (baca: ke­ari­fan) para guru dalam memberikan jalan ke­luar yang terbaik dari kebimba­ngan sis­wa berkorelasi dengan kemata­ngan se­orang pendidik dan “jam terbang­nya” yang hanya bisa didapat dari ke­mau­an para guru untuk terus belajar, baik in­dividual maupun kolaboratif dengan sia­pa saja dan di mana saja.
Esensinya adalah para pendidik harus adaftif dengan segala macam dinamisasi pendidikan, termasuk denga per­kemba­ngan-perkembangan terbaru dalam dunia teknologi (digitalisasi pendidikan). Guru harus selalu on, tidak boleh off.
Volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity boleh jadi hanyalah salah satu fe­nomena yang kebetulan mendera dunia se­karang ini. Akan ada fenomena-fe­nomena lain ke depannya. Untuk itu, tu­gas kita semua adalah, tidak hanya pen­didik, bersiap-siap sebab perubahan itu pasti dan abadi adanya.***
Penulis adalah alumnus CULS (Ceko), mahasiswa FKIP Pascasarjana Nommensen, Medan dan pegiat literasi di Toba Writers Forum (TWF) Medan.
[Sumber : http://harian.analisadaily.com]

Minggu, 09 Juni 2019

Orang Cerdas Belum Tentu Bersikap Bijak

Ada alasan mengapa orang cerdas bisa melakukan hal-hal bodoh.


Sekelompok anak laki-laki dan perempuan berkostum hitam putih tengah mengobrol di angkringan, membicarakan proses Computer Assisted Test atau tes CAT yang baru saja mereka rampungkan beberapa menit yang lalu. “Tes seleksi kompetensi dasar atau SKD menggunakan sistem CAT. Pada tahap SKD, kita akan diminta menyelesaikan tiga kelompok soal yaitu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP),” cerita Kiki, salah satu pendaftar CPNS. Proses CPNS, seperti juga proses seleksi di perusahaan-perusahaan swasta, melibatkan beberapa ragam tes untuk menguji calon pekerjanya. Satu hal yang pasti tidak terlewat adalah tes-tes yang terkait dengan tingkat kecerdasan seseorang, atau yang disebut sebagai Tes Inteligensia Umum (TIU) dalam seleksi CPNS, atau juga akrab dengan sebutan tes IQ dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tes-tes sejenis sebenarnya pernah kita lakukan semenjak kita di bangku sekolah. Bahkan, pada beberapa media sosial, misalnya Facebook, ada pengembang aplikasi yang dapat digunakan untuk menguji tingkat kecerdasan. Banyak pengguna yang menjajal ragam aplikasi penguji kecerdasan dan tentu saja mengunggahnya di laman media sosial masing-masing, juga jamaknya penggunaan tes itu untuk menguji calon pegawai, memperlihatkan kuatnya pandangan bahwa kecerdasan adalah (salah satu) hal paling berharga bagi manusia. Sementara itu, belum lama ini, dunia pendidikan kita diriuhkan oleh berita mahasiswa doktoral yang melakukan kebohongan terkait kiprah akademiknya. Sebagai penerima beasiswa di salah satu kampus bagus di Belanda, Dwi Hartanto pasti tak kurang cerdas. Namun, mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan? (baca klik disini) Di luar urusan kasus itu, kita juga sering mendapati "orang-orang berpengaruh" di sekitar kita tak selalu orang ber-IQ tinggi. 

Rabu, 03 April 2019

Mampukah Pendidikan Kita Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0?


"Revolusi Industri 4.0" - Studium Generale KU-4078 oleh : Rektor ITB : Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, Rabu, 27 Maret 2019


Oleh: Diyan Nur Rakhmah

Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution (2016) mengemukakan tentang Revolusi Industri Generasi Keempat (Revolusi Industri 4.0) yang ditandai dengan kelahiran artificial intelegent pada ragam bentukan produk yang dapat bekerja layaknya fungsi otak manusia yang dioptimalisasikan.

Otomasi dan pengambilalihan bidang kerja yang dimekanisasi melalui perangkat digital menjadi keniscayaan dan mengarahkan pada praktik-praktik bidang kerja yang berpusat pada eliminasi 'berkedok' efisiensi tenaga kerja manusia sebagai muaranya.

Ragam 'kecerdasan buatan' tersebut di antaranya adalah super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, dan lain sebagainya. Konsep Revolusi Industri 4.0 ini menemukan pola dan mekanisme kerja baru ketika disruptif teknologi hadir begitu cepat yang secara bertahap mendominasi sendi kehidupan dan keseharian manusia.

Tuntutan Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 merupakan perubahan strategis dan drastis tentang pola produksi yang mengolaborasikan tiga dimensi utama di dalamnya, yakni manusia, teknologi/mesin, dan big data.

Dalam banyak literatur, kunci dari era industri generasi keempat ini bukan lagi berkisar pada ukuran atau besaran perusahaan atau organisasi, tetapi kelincahan dan sifat adaptif yang dimiliki untuk dapat bertahan dalam iklim kompetitif dan dinamis menghadapi perubahan yang bergerak melesat.

Soft skills dan transversal skills menjadi modal penting bagi generasi yang hidup dan menjadi pelaku perubahan di era revolusi industri tersebut.

Jumat, 02 Juni 2017

Mengenang 1 Juni


Oleh: Andi Achdian

Ibu saya suka bercerita, melukis dan menembang. Itu dilakukannya saat menghabiskan waktu luang ketika langit mulai berwarna jingga keemasan. Suatu sore saya duduk di sampingnya. Lalu ia menuturkan sebuah kisah tentang tradisi lama nenek moyangnya. Tugas kita di dunia adalah mengabdi pada negara, agama dan rakyat jelata. Begitulah kira-kira terjemahan kasarnya. Ia menyampaikan dengan pribahasa yang diiringi nada merdu dari tembang kesukaannya.

Saya kira setiap keluarga Indonesia memiliki kisah-kisahnya sendiri tentang kebajikan sosial yang patut dilakukan sebagai anggota masyarakat. Keluarga adalah tempat awal kebajikan sosial itu diajarkan. Kemudian dilanjutkan di sekolah, madrasah, ataupun ketika kumpul-kumpul keluarga. Sebuah buku yang ditulis Hildred Geertz menyampaikan dengan indah kebiasaan kehidupan keluarga Jawa di rumah-rumah mereka. Semua keluarga Indonesia memiliki kebajikan sosial yang mereka ajarkan untuk setiap anak-anaknya dari buaian sampai remaja.

Minggu, 14 Agustus 2016

Agar Tidak Menjadi Orangtua Durhaka

KATA durhaka memang selalu disandingkan kepada anak. Ya, biasanya anaklah yang durhaka dengan menentang dan tidak menghormati orangtuanya. Padahal, Allah Ta’ala melarang keras hal itu. Dan anak tersebut telah tergolong pelaku dosa besar. Di mana adzabnya akan ia rasakan di dunia ini juga.


Meski begitu, tak dapat dipungkiri bahwa orangtua pun bisa saja durhaka pada anak. Seperti halnya tidak memperhatikan anak, tidak memberi nama yang baik pada anak, dan hal lain yang semisal dengan itu. Hal tersebut juga bisa mengundang murka Allah Ta’ala. Lantas, langkah apa yang harus dilakukan orangtua agar tidak tergolong sebagai orangtua yang durhaka?
Pertama, Pentingnya Pendidikan Agama
Sudah menjadi rahasia umum, pendidikan agama menjadi sarana penting guna membentuk insan yang mulia dan berakhlak baik. Walaupun begitu, masih sangat banyak orangtua yang mengabaikan permasalahan ini. Dalam pemilihan tempat pendidikan, banyak orangtua yang lebih memilih menyekolahkan anakanya di sekolah bergengsi, berbau kebarat-baratan, yang di dalamnya cenderung mengesampingkan pendidikan agama. Agaknya, alasan pekerjaan di masa mendatang masih menjadi alasan klasik bagi orangtua dengan tipe seperti ini.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan tindakan terburuk terhadap anaknya itu. Kerusakan anak-anak itu kebanyakan bersumber dari orang tua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah din ini kepada mereka. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah agama tersebut saat masih kecil. Sehingga saat sudah besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bagi orangtua mereka,” (Tuhfatul Maudud, I: 229).
Kedua, Perhatikan Lingkungan

Senin, 01 Agustus 2016

Jalan Guru

Oleh : Iwan Pranoto
(GURU BESAR ITB SERTA ATASE PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DI KBRI NEW DELHI, INDIA)
Bagi negara dengan mutu pengajaran di sekolah masih rendah, tak menguntungkan menceraikan perguruan tinggi dari pendidikan dasar dan menengah. Di zaman ini, perjalanan karier seorang guru -- dari sebelum mengajar sampai saat mengajar—senantiasa berhubungan dengan perguruan tinggi.
Tersebutlah seorang profesor kimia yang tak senang saat mengetahui bagaimana cara anak kandungnya diajar kimia di sekolah. Maka, kemudian sang profesor minta bertemu dengan guru kimia anaknya tersebut untuk menegur dan hendak ”mengajari” bagaimana seharusnya mengajarkan kimia. Saat bertemu, sang profesor kaget karena ternyata guru kimia itu bekas mahasiswanya sendiri. Kejadian ini dikutip di laporan ”Educating Teachers of Science, Mathematics, and Technology” keluaran National Research Council, 2001.
Kisah ini, pertama, mengingatkan para dosen dan perguruan tinggi bahwa mahasiswanya ada yang akan menapaki jalan guru. Perlu disadari, tak semua mahasiswa di perguruan tinggi akan menjadi peneliti, rekayasawan, arkeolog, apoteker, pengacara, sejarawan, manajer, atau politisi. Sebagian insan menetapkan hati untuk menelusuri jalan guru saat ia studi di perguruan tinggi. Maka, semua perguruan tinggi, tanpa kecuali, bertanggung jawab dan berperan dalam merawat jalan guru. Terlebih karena saat ini institut keguruan dan ilmu pendidikan (IKIP) juga sudah tak ada lagi.
Kedua, pengajar perguruan tinggi berperan dan amat berdaya dalam menginspirasi mahasiswa untuk menjadi guru. Momen kegiatan akademik sarat perdebatan pemikiran mendalam serta argumen mencerahkan, semacam yang digambarkan di film Dead Poets Society, mengilustrasikan keindahan dan kenikmatan mengajar. Pengalaman intelektual macam ini kerap mengukir sukma mahasiswa dengan hasrat diri menapaki jalan guru.
Walau demikian, harus diakui bahwa banyak yang memilih jalan guru berdasar motivasi lebih rasional, seperti ekonomi. Akan tetapi, ada pula insan menapaki jalan guru karena alasan yang dianggap emosional dan romantis seperti di atas.

Selasa, 12 Juli 2016

Untukmu yang Mengharamkan Kata “Jangan”, Adakah Engkau Telah Melupakan Kitabmu?

“Al-Qur’an itu kuno,  Bu, konservatif, out of dated!. Kita telah lama hidup dalam nuansa humanis, tetapi Al-Qur’an masih menggunakan pemaksaan atas aturan tertentu yang diinginkan Tuhan dengan rupa perintah dan larangan di saat riset membuktikan kalau pemberian motivasi dan pilihan itu lebih baik. Al-Qur’an masih memakai ratusan kata ‘jangan’ di saat para psikolog dan pakar parenting telah lama meninggalkannya. Apakah Tuhan tidak paham kalau penggunaan negasi yang kasar itu dapat memicu agresifitas anak-anak, perasaan divonis, dan tertutupnya jalur dialog?“ Katanya sambil duduk di atas sofa dan kakinya diangkat ke atas meja.

Pernahkan Bapak dan Ibu sekalian membayangkan kalau pernyataan dan sikap itu terjadi pada anak kita, suatu saat nanti?

Itu mungkin saja terjadi jika kita terus menerus mendidiknya dengan pola didikan Barat yang tidak memberi batasan tegas soal aturan dan hukum. Mungkin saja anak kita menjadi demikian hanya gara-gara sejak dini ia tidak pernah dilarang atau mengenal negasi ‘jangan’.

Saat ini, sejak bergesernya teori psikoanalisa (Freud dan kawan-kawan) kemudian disusul behaviorisme (Pavlov dan kawan-kawan), isu humanism dalam mendidik anak terus disuarakan. Mereka membuang kata “Jangan” dalam proses mendidik anak-anak kita dengan alasan itu melukai rasa kemanusiaan, menjatuhkan harga diri anak pada posisi bersalah, dan menutup pintu dialog. Ini tidak menjadi masalah karena norma apapun menghargai nilai humanisme.

Selasa, 07 Juni 2016

Psikolog: Jangan Berikan Uang pada Anak setelah Ujian

Uang merupakan nilai tukar dan jika diberikan sebagai bentuk hadiah, bisa mengubah pandangan anak terhadap uang tersebut. Akibatnya, anak bisa menggampangkan ketika ia hendak mendapatkan uang.
Sukses menghadapi ujian, seperti Ujian Nasional (UN) dengan nilai memuaskan pastinya membuat orang tua bangga. Namun, ketika berniat memberi anak hadiah sebagai bentuk apresiasi, tak disarankan berbentuk uang.
“Memberi anak hadiah uang sebagai bentuk apresiasi prestasinya, itu big no,” tegas psikolog anak dan remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, MPsi, Senin (16/5/2016).

Jumat, 01 April 2016

Sekolah “Hidup Susah”

---oOo---

Oleh : Handrawan Nadesul,
(Dokter, Penulis Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan)

Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.

Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang susah.Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa butuh “imunisasi”.

Menerima kenyataan

Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.

Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya keringat (perspirasi). Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena memiliki “virus” n-Ach (need-for-Achievement) yang tinggi.

“Virus” n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.

Senin, 07 Maret 2016

Apa Arti kata "Idola" ?

Anda semua mungkin mengaku punya idola. Tapi apakah arti sebenarnya dari kata idola?
Apa pengertian dari kata "Idola" menurut anda?

Anda pasti sering mendengar kata IDOL, tapi mungkin tidak terlalu tahu arti yang sebenarnya dari kata tersebut. Anda juga mungkin berpikir kata idol artinya IDOLA dalam bahasa Melayu karena kedengarannya hampir sama.

Let every man be respected as an individual and no man idolized – (Albert Einstein). Siapakah seorang idola? Seperti apakah dia? Apa makna sosok Idola? Idola Berasal dari kata Idol -kosakata bahasa Inggris yang memiliki berbagai arti.

Kamus Merriam-Webster’s, menguraikan ‘Idol’ dalam beberapa makna :
  1. Representative or symbol of an object of worship (perwujudan atau simbol dari sebuah objek peribadatan).
  2. False God (Tuhan Palsu) :(a) Likeness of something (Sesuatu yang menyerupai) (b) Pretender (Orang yang suka berpura-pura) (c.) Impostor (Penipu yang lihai)
  3. A form or appereance visible but without substance (bentuk atau penampilan yang terlihat namun tak bermateri)
  4. An Enchanted phantom (momok, hantu, setan yang memesonakan)
  5. An Object of Extreme devotion (Obyek yang sangat digemari)
  6. Ideal (Idaman)
  7. A false conception (konsep yang salah)
  8. Fallacy (buah pikiran yang keliru)
Karena berasal dari bahasa Inggris, maka sebaiknya kita mengikuti saja apa kata orang Inggris dengan mengikuti sembilan makna seperti yang diuraikan diatas, kita dapat mengatakan bahwa sosok idola adalah :

Sabtu, 27 Februari 2016

MASYARAKAT NAN SAKATO, PANDANGAN HIDUP ORANG MINANG

Masyarakat Minang adalah masyarakat yang arif dan kaya akan nilai-nilai kebudayan dan filosofi. Orang Minang mengenal pepatah-pepatah yang erat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minang merupakan masyarakat yang lekat dengan syariat islam. Oleh karena itu semua bentuk kebudayaannya sesuai dengan kitab suci Al-Qur’an. Walaupun begitu, dalam beberapa aspek tertentu masih relatif berbeda dengan ajaran Islam.

Kehidupan masyarakat Minang juga sangat lekat dengan alam, dikenal sebagai masyarakat yang hidup secara komunal dan mengedepankan kekeluargaan serta nilai-nilai kerukunan. Keluhuran tradisi masyarakat Minang ini tentu saja dilatarbelakangi oleh keluhuran falsafah hidup yang diwariskan oleh nenek moyang orang Minang. Falsafah orang Minang disebut dengan Falsafah Samo atau sama yang bermakna persamaan, kesamaan dan kebersamaan antar individu, antar kaum dan antar desa.

Masyarakat Minang juga dikenal sebagai masyrakat yang egaliter yang berarti bersifat sama; sederajat. Berdasarakan hal itulah nenek moyang masyarakat Minang mewariskan tujuan-tujuan hidup yang ingin diwujudkan oleh anak cucunya. Tujuan itu demi membentuk masyarakat yang aman, damai, sejahtera dan berkah. Tujuan tersebut hanya dapat diwujudkan dengan membentuk tatanan masyarakat yang ideal sesuai adat Minang, yaitu Masyarakat nan Sakato sebagai pandangan hidup orang Minang.

Jumat, 05 Februari 2016

Mengoreksi Output dan Konsep Pendidikan Indonesia

 
 
Beberapa hari yang lalu dilansir dari BBC.com (11/01/2016) menteri Agama RI, Lukman Hakim mengatakan akan memperbaiki konten materi pelajaran agama di sekolah. Menurutnya, materi pelajaran Agama khususnya terkait dengan sejarah Rasulullah SAW lebih menekankan pada sisi peperangan. Di mana Rasulullah lebih dikenal oleh anak-anak sebagai panglima perang. Beliau menekankan bahwasannya sisi yang saat ini diperlukan ialah lebih menekanankan kepada akhlakul karimah dan toleransi umat beragama yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga perlunya adanya perbaikan konten materi sejarah pada buku pelajaran PAI.

Tujuannya harus jelas

Memang tidak ada yang salah jika memang mata pelajaran PAI lantas ditambahkan muatan akhlakul karimah. Mengingat akhlakul karimah merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk kepribadian siswa. Hanya saja, jika alasan perbaikan dari materi PAI ini dikarenakan banyaknya materi peperangan dalam mata pelajaran Islam. Ini menunjukan seolah peperangan merupakan hal yang tidak baik dan berdampak negatif bagi anak. Padahal dalam kisah-kisah peperangan Islam terdapat muatan yang sangat dalam dan mencakup akhlakul karimah juga. Seperti ketaatan, pengorbanan, kebijkasanaan, kepemimpinan dan juga kesabaran. Bukan sekadar peperangan fisik melawan musuh.

Sabtu, 12 September 2015

Peradaban Islam: Iqra bi Ism Rabbik

Oleh : Nasaruddin Umar

Prof LWH Hull dalam buku monumentalnya History and Philosophy of science mengungkapkan siklus pergumulan antara agama, filsafat, dan ilmu, yang kemudian melahirkan corak peradabannya masing-masing, terjadi setiap enam abad.

Ia memulai mengkaji enam abad Sebelum Masehi (SM) sampai abad pertama Masehi ditandai dengan lahir dan berkembangnya pemikiran tokoh-tokoh filsafat Yunani yang amat tersohor seperti Tales (ahli filsafat, astronomi, dan geometrika), Pytagoras (geometrika dan aritmatika), dan Aristoteles (ahli filsafat, ilmu empiris, yang juga dikenal sebagai pendiri Mazhab Alexandria, yang lebih menekankan pendekatan induktif).

Juga pemikir Plato (ahli filsafat, ilmu-ilmu rasional, yang lebih dikenal dengan pendiri Mazhab Atena, yang lebih menekankan pendekatan deduktif). Periode ini para filosof menenggelamkan peran dan popularitas pemimpin politik dan pemimpin agama.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Siswa Kita Perlu Memiliki Cita-Cita Yang Lebih Spesifik

Oleh : Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
 
            Menjadi guru merupakan profesi yang menarik, karena seorang guru akan membantu perkembangan seorang siswa dari kurang cerdas menjadi cerdas, dari kondisi biasa-biasa saja menjadi pribadi yang luar biasa, atau dari seorang kualitasnya masih zero (kosong) hingga menjadi hero, seorang pahlawan, paling kurang seorang pahlawan dalam keluarganya. Untuk menggenjot mutu pendidikan, tiap lembaga pendidikan atau setiap negara memiliki strateginya masing-masing.
            Karena penduduk negara ini sangat banyak, sangat plural (majemuk) dan kualitas SDM juga berbeda maka pemerintah mendirikan beberapa sekolah pelayanan keunggulan. Sekolah yang biasa tetap menjadi perhatian, namun sekolah berlabel unggul dengan program khusus, didirikan untuk melayani siswa yang membutuhkan akselerasi (percepatan) dalam mengakses ilmu pengetahuan. Maka terbentuklah sekolah berlabel keunggulan seperti “SMA unggul, SMA Plus, Sekolah Percontohan, SMK Model, MAN Model, Sekolah Pembangunan, dll”.

Kamis, 20 Agustus 2015

Menyingkirkan Diskriminasi

 
 
Oleh : DIDIE SW

Kurikulumnya amat ketat dengan introduksi berbagai bahasa asing, tak kalah hebat dari pendidikan Eropa, dengan tingkat kegagalan yang tinggi bahkan untuk orang Belanda sendiri. Toh dengan mutu setinggi itu, putra In- donesia seperti Agoes Salim mampu tampil sebagai lulusan terbaik dari seluruh HBS yang ada; memberi bukti bahwa jika mendapat wahana pembelajaran yang baik, manusia Indonesia bisa berprestasi.

Kenanglah juga kualitas dan kuantitas penelitiannya. Eijkman, peraih Nobel Kedokteran (1929), melakukan penelitiannya di Indonesia, malah pernah menjadi direktur Stovia dan memimpin Laboratorium Anatomi Patologis dan Bakteriologi (berdiri 1886) di negeri ini. Hingga akhir 1930-an setidaknya telah berdiri 26 institut penelitian bereputasi tinggi. Ketika terjadi depresi ekonomi dunia pada 1930-an, banyak ilmuwan terbaik Eropa dan Amerika Serikat hijrah ke Indonesia dan menemukan apa yang mereka sebut sebagai the scientific paradise. Tidaklah mengherankan jika jurnal ilmu pengetahuan yang terbit di Indonesia waktu itu sangat terkenal di seantero dunia, terutama yang berkaitan dengan penelitian tanaman tropis. Bahkan, ketika Jepang masuk, sebuah perpustakaan di New York sengaja didirikan untuk terus mengoleksi karya-karya ilmiah dari Indonesia.

Ingat pula sejenak inisiatif pemerintah mendorong minat tulis dan baca. Pendirian Balai Pusta- ka (BP) dengan proyek penerje- mahannya pada 1917 memberi contoh hal itu. Apa pun agenda tersembunyi di balik pendiriannya, keberadaan BP berperan penting dalam penyediaan bahan bacaan yang murah bagi khalayak umum di Hindia. Selain itu, BP juga berfungsi sebagai medan permagangan bagi para pengarang bumiputra membuka jalan bagi keterpautan literati Hindia ke dalam semangat universal Respublica litteraria,Republik susastra dunia.
Tantangan rezim pendidikan dalam RI merdeka adalah bagaimana menyingkirkan diskriminasi dan memperluas kesempatan belajar, seraya tetap mempertahankan mutu pendidikan. Dalam kenyataannya keduanya tak selalu berjalan seiring. Tekan- an pada kuantitas sering kali mengorbankan kualitas.

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]