GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Selasa, 24 April 2012

Menggugat Peringatan Hari Kartini

Oleh : Amedz
(Mahasiswa PTIQ Jakarta yang aktif di dunia aktivis)

Berlebihan rasanya bila sekilas membaca judul tulisan ini, namun itulah fakta yang semestinya ada apabila kita ingin dikatakan sebagai bangsa yang menjunjung nilai-nilai perjuangan. Seperti diketahui, tiap bulan April, kelahiran R.A. Kartini (21 April) diperingati secara nasional, sementara banyak pahlawan wanita yang tidak kalah sumbangsih perjuangannya dalam melawan penjajah dilupakan bahkan tidak dikenal oleh generasi bangsa sekarang ini.

Sejauh mana peran Kartini dalam mengusir penjajah? Sebandingkah dengan perjuangan Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah yang terjun langsung ikut berperang melawan penjajahan di Aceh?

Coba telusuri sosok Martha Christina Tiahahu yang gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku, untuk mengusir pendudukan pasukan (Belanda). Apabila dibandingkan dengan perjuangan Kartini yang hanya sebatas perjuangan lewat tulisan, tentu tidak sebanding dengan perjuangan Martha Christina Tiahahu yang terjun di medan pertempuran. Kodratnya sebagai perempuan tidak menyurutkan semangat juang dalam melawan tentara Kolonial meskipun dilengkapi persenjataan canggih. Namun apa yang kita ketahui saat ini tentang Martha Christina Tiahahu, sangat mungkin generasi sekarang tidak banyak yang mengenal kepahlawanannya.

 

Ada lagi perempuan perkasa dari timur, Herlina Efendi yang dianugerahi pending Cendrawasih Emas dari pemerintah RI atas jasanya untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda. Semestinya nama Herlina familiar dengan generasi kita apalagi mereka yang duduk di bangku pendidikan, kurikulum sejarah idealnya membahas biografi Herlina Efendi secara detail tanpa manipulasi data. Kenyataannya banyak yang tidak kenal dengan seorang Srikandi dari Papua ini. Sementara jasa beliau telah ikut mengantarkan Irian menjadi jaya seperti sekarang.

Tinta sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia juga telah menuliskan nama Emmy Saelan sebagai pejuang kemerdekaan RI di Sulawesi Selatan. Bersama-sama R.W. Mongisidi, Emmy Saelan dapat melumpuhkan kekuatan kolonial Belanda yang mempunyai persenjataan lebih baik dengan taktik-taktik cemerlangnya. Bahkan Emmy Saelan berani bunuh diri dengan cara meledakkan granat ditangannya sehingga menewaskan beberapa serdadu Belanda yang ingin menangkapnya.

Seharusnya hari kematian Emmy Saelan ini diperingati secara nasional agar generasi bangsa ini faham arti bunuh diri yang dibenarkan agama. Bukan mati konyol karena bunuh diri dengan alasan putus cinta, banyak utang, pengangguran, hidup miskin dan alasan-alasan lainnya yang tidak substantial.

Uraian tersebut seharusnya mendorong kita semua untuk berpikir cerdas dan bijaksana, sudah tepatkah pemerintah menetapkan 21 April sebagai hari Kartini? Lalu bagaimana dengan pejuang-pejuang perempuan yang telah gugur di medan tempur? Kapan kita dapat mengenang mereka layaknya R.A. Kartini? Bukankah mereka jauh lebih besar pengorbanannya dibanding seorang R.A. Kartini? Silakan cari jawabannya dengan berdasar pada fakta sejarah, dan bukan dogma dari dongeng rekaan Kolonial.

Tersohornya R.A. Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia sangat mungkin terjadi akibat propaganda Orientalis-Belanda yang licik. Hal ini dilihat dari upaya H.H. van Kol, C.Th. van Deventer, Snouck Hurgronje, Estella Zeehandelaar, Ny. Abendanon dan lainnya yang merupakan aktifis Orientalis-Belanda dalam mengekspos curhat Kartini melalui media dan buku-buku untuk menebar pertentangan dan perpecahan (Devide at Impera). Atau juga sebagai ajang akulturasi nilai-nilai budaya Belanda untuk menjamah struktur nilai dan budaya Indonesia agar dapat tunduk bersimpati kepada kolonial Belanda.

Apologetik yang cukup sukses dari bangsa Belanda sehingga sampai sekarang meski hampir seabad Indonesia merdeka, kuku-kuku Kolonialisme masih menancap di tanah air kita ini. Kartini sebagai kader kolonial (karena banyak berhubungan dengan tokoh Belanda saat itu) memiliki kegemaran curhat yang sampai detik ini menjadi budaya generasi bangsa kita.
Sehingga wajar jika Kartini menjadi pahlawan emansipasi karena kegemarannya yang suka curhat. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh Malahayati, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Laswi, Jo Paramitha, Siti Aisyah We Tenriolle, Nyai Walidah Ahmad Dahlan, Ny. Sunarjo Mangunpuspito dan pahlawan wanita lainnya ketika memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan siapapun, hanya menyayangkan jika popularitas Kartini sebagai pencetus gerakan emansipasi wanita di nusantara me-nafi-kan silsilah perjuangan perempuan lainnya yang jauh lebih prestius sebelum masanya. Karena itu, sangat disesalkan jika flatform perjuangan perempuan Indonesia terbatas pada starting-point seorang sosok Kartini yang gemar curhat melalui suratnya. Sementara Indonesia mempunyai segudang figur pahlawan perempuan yang kuat, piawai, elegan, dan berbagai elemen superioritas lainnya.

Tidak dapat dipungkiri jika bangsa Indonesia saat ini merupakan Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia dan sekaligus menjadi musuh utama Yahudi, doktrin kesetaraan gender yang dibungkus emansipasi wanita gencar dilakukan demi kehancuran umat dan bangsa ini.

Feminisme dan Kesetaraan Gender

Peringatan hari Kartini juga sering digunakan kaum feminisme sebagai momentum kebebasan wanita dari aturan hidup Sang Pencipta. Salah satu upaya nyatanya adalah isu-isu RUU KKG (peraturan kesetaraan gender) yang diusung kaum feminisme demi mewujudkan kesamaan untuk memperoleh akses, partisipasi, kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam semua bidang kehidupan.

Kesetaraan gender inilah senjata ampuh dalam menjajah Indonesia di era modern sekarang, karena bila RUU KKG ini disahkan maka akan hilang institusi Negara kita. Hilangnya institusi melumpuhkan fungsi-fungsi struktural dalam suatu lembaga pemerintahan, sehingga kehancuran bangsa tidak dapat terhindarkan. Salah ungkapan hadits “jika baik wanitanya maka jayalah Negara tersebut Sebaliknya jika buruk wanitanya maka hancurlah Negara tersebut.” Relakah kita jika Indonesia ini hancur atau dijajah lagi?

Strategi Belanda dalam melumpuhkan generasi bangsa kita sudah memasuki berbagai lini kehidupan. Selain paham gendernya yang terus merebak kini, sejak dahulu Belanda juga melakukan ‘pembaratan’ pejabat elite pribumi melalui dunia pendidikan. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam memiliki idealisme yang tinggi, sehingga aktifis Orientalis-Belanda memanfaatkan keragaman adat dan asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat untuk melemahkan idealisme tersebut. Hasilnya, fakta sejarah bangsa kita banyak yang berisi rekayasa dengan tokoh-tokoh pribumi yang telah menjadi boneka Orientalis-Belanda.

Itulah strategi dan taktik nyata penjajah untuk menaklukkan bangsa kita. Bahkan jika kita cermati, strategi mereka kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader orientalis dari kalangan “saudara kita” sudah berjubel dan bergentayangan di mana-mana. Hegemoni bangsa kita yang silau dengan peradaban Barat, langsung atau tidak langsung menyeret kita ke bawah orbit peradaban yang sekuler.

Sangat ironis, jika ada yang tidak sadar bahwa label kepahlawanan semu mampu merusak pola pikir generasi bangsa, dan pada saat yang sama kita tetap mengelu-elukan pahlawan-pahlawan tersebut atas perjuangan yang tiada noktahnya jua. Lihat remaja putri atau kaum perempuan saat ini, kehidupan yang bebas telah menyeret sebagian besar mereka dalam kubangan seks bebas, aborsi, mabuk-mabukan, diskotik, mengumbar aurat, serta kehidupan hedon lainnya. Bagi wanita karir yang kebetulan sukses dengan gampangnya bergonta-ganti suami atau berselingkuh karena merasa telah berjasa menghidupi diri dan keluarganya. Apakah ini yang dinamakan produk emansipasi perempuan? Pantaskah bangsa Indonesia yang memiliki norma budaya luhur mengadopsinya?

Distorsi sejarah bangsa Indonesia sudah membentur tembok krusial dan saatnya direformasi jika tidak ingin kita terus berada dalam dongeng klasik karya Orientalis-Belanda. Generasi saat ini menanti dan merindukan pencerahan nasional demi membuka wawasan berpikirnya membangun bangsa berperadaban. Dan kurikulum pendidikan nasional memikul tanggung jawab besar dalam proses aufklarung tersebut, karena bangku pendidikan adalah tempat mendoktrin pemikiran yang efektif.

Sekali lagi tulisan ini tidak ingin melukai perasaan siapapun, penghargaan tetap kita berikan kepada Kartini baik yang terdahulu maupun Kartini-kartini masa kini atas jasanya pada umat. Yang terpenting tidak ada lagi diskriminasi hari atau apapun yang hanya mengkhususkan pada seseorang, walau sebesar apapun pengorbanannya. layakkah kartini diperingati?

[Sumber : http://www.kompasiana.com] 

Artikel Terkait :


Artikel - berita dan informasi lainnya, klik :

1 komentar:

jalius.hr mengatakan...

-------------
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهُ
--------------------------------

Tulisan Amedz sangat bagus, bagus untuk dijadikan nalisis sejarah.
Kita memang perlu bersikap kritis untuk mendapatkan fakta yang sesungguhnya.
Komentar saya ini ikut memberikan tambahan pemikiran untuk memahami sosok Kartini.
Tema yang diusung bila kita bicara tentang kartini adalah "Habis Gelap Timbulah Terang".
Tema itu tidak lebih dari pengembangan konsep "Pencerahan" yang sedang digalakan di daratan Eropa. Yang mana dalam fakta sejaran, bahwa Masyarakat Eropa merasa gelap setelah berkaca ke Timur Tengah. Mereka sangat tertarik dengan konsep "penyadaran" yang sumber rujukannya adalah wahyu. Tetapi mereka memakai istilah "pencerahan", karena tidak mau memakai wahyu sebagai panduannya. Konsep pencerahan mereka gagas berdasarkan kompromis rasional. Tidak bersandar kepada nilai agama manapun.
Di Indonesia konsep ini juga dikembangkan oleh pemerintahan Belanda. Karena kepintaranya sebagai penjajah dijadikanlah Kartini sebagai pelopornya.Sosok Kartini ditempatkan dalam bingkai Politik Balas Budi yang terkenal itu.
Yang penting kita sadari adalah, bahwa di daerah nusantara di dalam masyarakatnya sudah mengakar dan mejadi budaya nilai-nilai Islam. Karena mental Islam dianggap sebagai musuh utama bagi Belanda dalam menjalankan kepentingann politikya, maka kondisi itulah yang diberi makna "Gelap".
Dengan memberikan pendidikan ala Eropa kepada sejumlah putri-putri Nusantara ini, dan memang setelah tampak gejala tumbuhnya kebebasan meraka(terbebas dari Norma Islam)maka dimunculkanlah istilah "habis Gelap timbulah terang" disimbolkan melalui tangan kartini.
Sekarang kita tidak dapat menutup mata, bahwa kebebasan pengikut Kartini memang sudah kebablasan.Karena memang mendapatkan dukungan yang luar biasa dari umat Islam terutama dari mereka yang tidak menyadarinya.

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]