GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Senin, 15 Juli 2013

DOWNLOAD SITUS MANDEH SITI MANGGOPOH

Oleh : Gusphur  *) 

Mandeh Siti Manggopoh tertulis oleh sejarah sebagai “Singa Betina”  dari Sumatera Barat. Kelahirannya 15 Juni 1881. Wafatnya pada 20 Agustus 1965. Akankah umurnya di dunia hanya 84 tahun. Tidak! Menteri Sosial menerbitkan  surat keputusan tanggal 17 Januari 1964, nomor Pol: 1379/64/P.K. (Lembaran Negara nomor 19/1964). Isinya mencatat Mandeh Siti sebagai Perintis Kemerdekaan bagi Indonesia. Selama NKRI ini ada, selama itu pula surat keputusan tersebut boleh diketahui, dibaca, dan dikenang oleh segenap anak bangsa Indonesia.

Tertulis indah nama beliau di salah satu pusara TMP Kusuma Negara, Lolong, Padang. Guratan tulisan tersebut untuk mengenang tokoh perempuan yang merepotkan kaum kolonialis Belanda ini. Bersama suaminya (Rasyid) pernah membantai 55 serdadu Belanda di markasnya sendiri. Posisinya sebagai ibu bagi anak-anaknya tidak mengurangi kebenciannya pada kelaliman penjajah. Amarahnya membara demi membela bumi Tuhan ini dari ketamakan Belanda yang berniat mengembangan sayap jajahan.

Alasan apa yang mendorongnya ikut berperang. Bukankah wanita lebih pantas ada di garis belakang? Wanita sering dinggap makhluk lemah dan perlu dilindungi. Justru, sang Mandeh Siti membalik anggapan tersebut. Hal luarbiasa ini patut dikaji dan disemangati oleh generasi Mandeh Siti era sekarang ini. Tidak saja oleh generasi kaum perempuan. Kaum lelaki pun pasti malu atas kobaran semangat jihad pejuang wanita ini.

Dulu Mandeh Siti bergelut melawan penjajah. Generasi Mandeh Siti sekarang penting juga bergelut. Apa yang harus digeluti? Pertama kebodohan, selanjutnya kemerosotan akhlak, ketiga keterbelakangan. Zaman Mandeh Siti berhadapan dengan senapan belanda. Generasi Mandeh Siti sekarang berhadapan dengan teknologi dan informasi. Umpama ada situs www.mandehsitimanggopoh.com (ingat! Ini umpama).  Maka, link pada ‘Home’ sudah dibuka sebagaimana di atas. Berikutnya masih banyak link yang perlu di-klik. Untuk apa? Setelah link terbuka? Simak, pedomani, dan selanjunya lanjutkan perjuangan Mandeh Siti. 


Link Kebodohan

Pada link ini ada lagi link penting yang perlu di-klik. “Pendidikan”. Setelah diklik muncul pesan sebagai berikut:

“Pendidikan menjadi isu menarik bagi para bakal calon kepala daerah. Rakyat pemilih 'dibuai' dengan isu  pendidikan gratis. Rakyat mendengarkan para juru kampanye atau tim sukses menyenandungkan lagu pendidikan gratis. Rakyat mendengarkan 'nyanyian merdu' itu dengan mata melek-merem. Saking nikmatnya.

Namun, saat kontestan yang menyanyikan lagu merdu tersebut benar-benar menjadi seorang kepala daerah, lagu itu pun dicampakkannya ke tong-tong sampah. Kemudian slogan yang biasa mereka gunakan itu pun berubah bunyi menjadi 'Pendidikan' itu memang mahal. Masyarakat harus turut serta memikul anggaran pendidikan.

SETIAP datang masa pendaftaran siswa baru, para orang tua dibuat pusing tujuh keliling. Maklum, meski sudah digembar-gemborkan pendidikan gratis, nyatanya biaya sekolah masih selangit. Tak hanya sekolah swasta, tapi sekolah negeri pun masih menarik biaya relatif tinggi.

Di beberapa sekolah biaya SPP, BP3, atau uang buku memang sudah dihapus. Tapi, seiring dengan penghapusan itu, muncul penarikan biaya dengan hanya berganti nama. Misalnya, biaya SPI atau sumbangan pengembangan institusi, uang pelatihan komputer, uang ekstrakurikuler, dan sebagainya.  Ironisnya, besarnya pungutan yang "berganti baju" tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Duh, mahalnya biaya pendidikan sekarang.”

Link Kemerosotan Akhlak

Link berikut ini juga penting untuk di-klik. Link Kemerosotan Akhlak menulis sebagai berikut:

“Hasil penelitian yang dilakukan sejak 2010 oleh BNNP Sumbar tercatat 63.873 jiwa yang telah melakukan penyalahgunaan/ pecandu narkoba. Langkah terbaik untuk setiap permasalahan sosial adalah upaya preventif. Akan tetapi kalau penyakit masyarakat sudah menjalar kemana-mana tidak perlu saling menyalahkan. Langkah gerakan bersama untuk memberantasnya harus sesegera mungkin. Gelora untuk membentengi setiap keluarga dari pengaruh narkoba perlu disosialisasikan dan dilaksanakan. Setiap unsur masyarakat harus bisa menanamkan mindset anti narkoba dan segala jenis obat terlarang lainnya.

Data Polresta Padang, hampir tiap bulan ada pelajar diringkus karena melanggar hukum. Kenakalan remaja itu mulai dari tawuran, tindak pencurian hi­ngga narkoba. Untuk mengurai masalah ini tidak perlu mencari kambing hitam. Yang jelas, semua pihak harus peduli pada karakter anak bangsa ini.

Pembentukan karakter siswa ini harus dilakukan de­ngan pendekatan agama. Pem­bimbingan harus dila­kukan mulai dari keluarga. Pe­nga­wasan juga harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu ke­luar­ga dan masyarakat. Ini bisa menjadi pencegahan dini.

Selanjutnya, tidak ada tem­pat menyalurkan ekspresi, se­hingga menyalurkannya lewat genk yang sering berbuat seke­hendak hati. “Setelah masuk genk, mereka akan menyatukan suara untuk berbuat hal yang ingin dilihat dan diperhatikan orang, seperti tawuran atau balapan liar,” ujarnya.

Satu hal lagi penting lagi adalah kurangnya tem­pat menyalurkan ekspresi. Para remaja yang itu akhirnya menyalurkannya lewat genk yang sering berbuat seke­hendak hati. Setelah masuk genk, mereka akan menyatukan suara untuk berbuat hal yang ingin dilihat dan diperhatikan orang, seperti tawuran atau balapan liar.

Adapula yang ini. Ka­sus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di kota besar. Di kota-kota kecil hingga keca­matan, kasus pemerkosaan pun terjadi. Seorang siswa diperkosa dua teman­nya, dan seorang guru melakukan pelecehan seksual pada siswanya.

Siapapun kecewa terhadap segala kejadian kemerosotan akhlak di atas. Bagi masyarakat Minang, ini harus dijadikan pukulan telak sebagai dampak kurangnya kontrol dari ninik mamak terhadap kemenakan dan orang tua kepada anak.

Adalah keterlambatan bukan untuk dibiarkan. Akan tetapi akar masalah yang sudah ketemu pada faktor ‘pengaruh lingkungan’ yang selalu menomorsatukan materi dan kenikmatan. Para tetua harus bisa mengembalikan arah ini ke jalan lurus. Agama. Dari kesalahan ‘menyembah’ materi, diluruskan kembali untuk ‘menyembah’ Tuhan Yang Maha Esa.

Link Keterbelakangan

Pada link ‘Keterbelakangan’ ternyata ada link lagi di dalamnya. Link ‘Kemiskinan dan Pengangguran’. Setelah di-klik terbuka uraian berikut ini:

“Persentase angka kemiskinan dan pengangguran di Provinsi Sumatera Barat, saat ini mencapai 8 persen. Sementara di tingkat Kabupaten prosentase masih diatas 8 persen, seperti di Kepulauan Mentawai yang mencapai 18,8 persen.

Budaya masyarakat Minangkabau yang enggan menjadi buruh merupakan ‘kekuatan’ budaya. Strategi yang tepat dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan yakni dengan memberdayakan masyarakat, diantaranya dengan memberikan bantuan modal, pelatihan, serta motivasi kepada usaha mikro masyarakat.”

Satu lagi ada link yang terketik “Budaya Belajar”. Di dalamnya ada lagi link yang menarik, yakni “Budaya Baca”. Ada ulasan di dalamnya: 

“Adalah kewajiban belajar sepanjang hayat di kandung badan. Kewajiban belajar tidak boleh diartikan hanya dan selama masih di sekolah saja. Belajar adalah kewajiban yang tidak boleh dihentikan oleh kondisi apapun. Meskipun kita sudah berkeluarga dan beranak pinak, kewajiban belajar tidak boleh berhenti. Dengan belajar inilah kita menjawab pertanyaan Tuhan dalam kitab suci. Berkali-kali Allah bertanya, ‘apakah kau tidak berfikir? Apkah kau tidak berakal?’

Adapun konsep belajar ini didasari dengan membaca. Selama ‘membaca’ masih dianggap urusan pengisi waktu luang saja, maka budaya menonton pasti lebih menonjol. Padahal, ‘IQRA’ adalah perintah pertama yang diturunkan Allah dalam kitab suci Al-Qur’ an. Itulah sebabnya budaya baca ini tetap harus ditumbuhkembangkan di manapun dan kapanpun. Jadikan MEMBACA BUKU sebagai kebutuhan pokok. Setelah sembako, ada kebutuhan pokok kesepuluh, yakni pulsa handphone. Setelah itu kita perjuangkan MEMBACA BUKU sebagai kebutuhan pokok kesebelas.

Untuk itu pula perpustakaan harus ada dimana-mana dan bisa kemana-mana. Perpustakaan sering disebut orang sebagai jantung sekolah. Tetapi, masih banyak sekolah yang masih memposisikan perpustakaan sebagai gudang buku saja. Perpustakaan juga penting ada di setiap rumah ibadah, kantor, mall, terminal, dan tempat berkumpul  lainnya. Tujuannya agar kita bisa terus mengisi akal budi kita dengan informasi dan pengetahuan. Dengan bekal keyakinan (baca: Iman) yang kuat pada kekuasaan Tuhan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pasti derajat kita akan makin naik. Itu harus diyakini, karena Allah sendiri yang berjanji pada kitab suci-Nya.

*) Pemerhati sosial di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kab. Jember. Penulis dapat dihubungi via email : fatchur45@gmail.com atau kontak/sms : 087712986857

 

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]