GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Rabu, 10 Juli 2013

Bulan, Kaya Inspirasi

Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M.Si 
Tenaga Pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri Jawa Timur

Tiada bulan -seindah Ramadhan. Tiada bulan -seasik Ramadhan. Tiada bulan -sesehat Ramadhan. Tiada bulan -segairah Ramadhan. Tiada bulan yang menggetarkan, mlebihi Ramadhan. Tiada  bulan yang merindukan, melebihi Ramadhan. Tiada bulan –yang penuh isnprasi, melebihi Ramadhan. Segala keindahan, kebahagiaan, kesalehan dan kreatifitas tumplek bleg di bulan mulia itu. Bahkan, Allah menyatakan sendiri, bulan itu, ada Lailah al Qadr, satu malam yang  lebih baik dari seribu bulan. Khairun min alfi syahr (QS. Al Qadr [97]: 3)

Imam Ahmad Al Maraghi dalam tafsirnya mengatakan, ayat yang berbunyi “lailah al qadr khairun min alfi syahr”, adalah, malam (yang) mulia itu lebih baik dari seribu bulan. Sebab, pada malam itu merupakan awal terbitnya nur hidayah, dan merupakan permulaan syariat baru -yang diturunkan demi kemaslahatan umat manusia. Malam itu, merupakan malam peletakan batu pertama bagi agama baru, yang merupakan pamungkas bagi seluruh agama samawi, serta sesuai di segala tempat dan zaman. 

Malam itu, lebih baik dari seribu bulan yang dialami oleh umat manusia dalam keadaan tertatih-tatih (di) kegelapan kemusyrikan dan kesesatan keberhalaan. Mereka berada dalam kebingungan, tidak tau arah dan tujuan. Tidak ada batasan-batasan (pedoman) yang bisa menjadi pegangan mereka.

Kemungkinan penentuan seribu bulan disini, untuk menunjukkan bilangan yang sangat banyak, sebagaimana menjadi kebiasaan orang-orang Arab dalam pembicaraan mereka. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat berikut ini “yawaddu ahaduhum au yu’ammaru alfa sanah”,masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun….” (QS Al Baqarah [2]: 96). Allah, mempunyai kehendak sendiri untuk menentukan berapa banyak nilai Lailah al Qadr. Itu terserah Allah swt. Apakah lebih baik dari seribu bulan, dua ribu bulan, atau tiga ribu bulan, dst.

Ini, yang menjadikan daya tarik tersendiri bagi kaum Muslimin merindukan Ramadhan. Pahala ibadahnya dilipatgandakan seribu bulan lebih. Apapun penghalangnya, disingkirkan. Memburu bulan penuh berkah dan keindahan itu. Seluruh keluarga dan handai taulan –dibangkitkan, beribadah. Mereka meyambutnya dengan penuh kegembiraan, kebahagiaan, dan kasih sayang.

Bahkan Rasulullah Saw menyambutnya dengan penuh gairah -sejak dua bulan sebelumnya. Di dalamnya, memperbanyak puasa sunnah, ibadah, dan kegiatan makruf lainnya. Beliau memanjatkan doa yang amat populer, Allaahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhaan. Yaa Allah, jadikanlah bulan Rajab dan Sya’ban mendatangkan berkah bagi kami. Dan temukanlah kami dengan bulan Ramadhan. (Hadits dari Anas bin Malik, Al Mu’jam Al Ausath, Juz 4, Shafhah 189))

Subhanallah. Seorang pilihan, sekaligus utusan, bahkan kekasih Allah, begitu besar hasratnya untuk bersua dengan bulan agung itu. Dua bulan sebelumnya, sudah berharap seperti itu. Ini menunjukkan, betapa besarnya arti dan nilai Ramadhan. Pantaskah manusia (biasa) lalu tidak bergetar hatinya -agar bisa bertemu bulan seribu bulan itu. Tentu, tidak. Sebaliknya, melebihi semangat Rasulullah Saw, sesuai kemampuannya.

Tek tuk tek tuuurtek tuk tek tuuur…tek tuk tek tuuur….irama bambu, panci, piring, dan barang bekas lainnya –yang dimainkan anak-anak desa. Dengan gegap-gempita -rame-rame keliling kampoeng dengan penuh gembira, semangat, gelak dan tawa. Mereka mengingatkan khalayak ramai -besuk akan datang tamu agung, bulan Suci Ramadhan. Ayok kita sambut dengan penuh kehangatan. Begitu, makna irama yang gegap gempita tadi. 

Irama itu, menggetarkan batin kaum Muslimin. Mengingatkan berbagai pengalaman –Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Atau, bahkan menggugah pengalaman masa-masa kecil yang telah terpendam. Indah, merindukan, dan ingin kembali lagi ke alam kanak-kanak.  Rindu dengan teman-teman sekampoeng dahulu -di pedesaan, lereng gunung, tepi laut, dls.

Kini, kalau sudah musim Ramadhan, di kota-kota besar menjamur Pasar Ramadhan, Bazar Ramadhan, Pameran Ramadhan, Expo Ramadhan, Kampoeng Ramadhan, dan sebutan lainnya yang menggoda. Disamping ikut memeriahkan tamu agung, pasar itu memberikan pelayanan kepada masyarakat -kebutuhan sehari-hari dengan harga menawan. Arena itu –selalu padat dan berjubel serta hidup sepanjang malam. Menarik memang. Mereka tidak menghiraukan (lagi) awal puasa beda atau bareng. Bahkan, Hari Rayanya-pun nanti (andai) berbeda –tak jadi beban. Mereka mempunyai keyakinan mantap, kapan mau berhari raya. Cuek…..

Tidak kalah penting, ada yang menyediakan alat-alat elektronika, pakaian, sepatu, sandal, kopiah, arloji, mainan, aneka macam makanan dan minuman. Bahkan, ada yang menjual sepeda motor dan mobil, dan lain sebagainya. Pokoknya, terasa bahwa bulan Ramadhan benar-benar dimanjakan, sebagai tamu agung.

Tidak mau kalah. Sebagian masyarakat mengadakan Pentas Seni, Hadrah, Dangdut, Nasyid, Rebbana, Festival Bedhug, Patrol/Rundo, Musabaqah Tilawatil Qur’an, dls. Indah dan mengesankan.

Di sisi lain, dari tahun ke tahun, kegiatan tarawih dan kajian Islam –selalu meningkat –baik kwalitas maupun kwantitasnya. Banyak masjid, mushalla, langgar, rumah serta tempat lain –meluber jama’ah tarawihnya. Model kajian Islamnya –berfariasi, tidak menjenuhkan. Ada yang di waktu tarawih, shubuh, dhuhur, ashar, dan tengah malam –sesuai budaya dan kebiasaan masing-masing. Bahkan, di Pondok-pondok Pesantren, Tebu Ireng Jombang misalya, ada kegiatan balagh  atau kajian kitab-ktab kuning yang populer –sebulan full hingga khatam. Kifayatul Akhyar, Bulughul Maram, Bukhari, Muslim, dan lainnya. Yang mbalagh kyai-kyai sepuh, misalnya almarhum Kyai Bisyri Sansuri, Allahummaghfirlah.

Ada sebuah masjid Aqabah, di komplek perumahan REWWIN Waru Siadoarjo Jawa Timur. Sudah bertahun-tahun mengadakan kegiatan tahajjud pada malam-malam ganjil di akhir Ramadhan, dilanjut dengan makan sahur bersama. Makan  sahur dikemas sedemikian rupa dengan prasmanan. Menunya, selalu berubah tiap malam -sesuai selera para jama’ah. Banyak jama’ah -di rumah susah makan sahur, setelah ikut sahur bersama –punya selera tinggi. Asyik dan mengembirakan. Rasulullah Sw bersabda: “Makan sahurlah kamu. Sahur itu membawa berkah pada siang harinya”. Sekarang, kegiatan semacam ini, sudah menjamur juga di masjid-masjid lain. Subhanallah.

Sebagian masjid lain, jama’ahnya ada yang mengadakan safari Ramadhan di malam-malam ganjil –ziarah ke para wali. Utamanya wali lima di Jawa Timur. Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Malik Ibrahim di Gresik, Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, dan Sunan Drajat, Lamongan. Ada pula yang ke makam Gus Dur di Tebuireng Jombang. Dalam napak tilas para wali itu, mereka mempunyai pengalaman rahani yang berbeda-beda yang mengesankan. 

Menarik lagi, ada yang mengadakan kegiatan peningkatan kwalitas iman dan mental spiritual. Gemblengan mental secara mendalam. Tempatnyapun dipilih di kawasan Malang Selatan, tepi laut, beberapa hari menginap. Suatu kawasan yang sepi  dan berhawa sangat dingin. Kegiatan ini dilakukan oleh anak-anak muda masjid, atau remaja masjid, Remas. 

Instruktur yang dihadirkan, sangat professional di bidangnya. Berpengalaman dalam membentuk mental yang tangguh dan kuat bagi generasi muda masjid di masa mendatang. Mereka disiapkan untuk menggantikan generasi tua pada saatnya -dalam mensyiarkan masjid di era global. Mereka nanti, yang pantas menggairahkan rumah Allah itu. Firman Allah Swt, artinya:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah [9]: 18)

            Ayat ini menerangkan bahwa betapa pentingnya kaum yang beriman -memiliki semangat tinggi untuk memakurkan masjid-masjid Allah, utama di bulan Ramadhan. Mulai shalat Rawatib, Tarawih, dan Tasbih. Shalat malam pada malam-malam ganjil sepuluh hari yang akhir. Tadarrus Al Qur’an, Kajian Islam, Ceramah Tarawih, Shubuh, Dhuhur, dan Ashar. Menjadikan bulan untuk rame-rame mengirim ta’jil berbuka di Masjid. Memperbanyak sedekah dan amal jariah. Menyantuni anak yatim, janda, dan orang-orang jompo. Bazar Ramadhan, dan lain sebagainya. Sehingga suasana Ramadhan menjadi hidup, semarak, dan menggembirakan. 

            Ada yang mengajak keluarganya ikut shalat Tarawih di Masjid Al Haram dengan khusyu’nya. Bertabur tangis, bercucuran air mata. Rindu dan bahagia, menyatu dalam dirinya. Seakan, Tuhan amat dekat. Tiada jarak sejengklpun. Mereka itu, pergi Umrah dengan sanak familinya. Gembira, dan penuh bahagia. Mereka, mensucikan hati, di bulan Suci, di kota Suci.

Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa hatinya gembira menyambut datangnya Ramadhan, diharamkan jasadnya tersentuh api neraka.” Hadits ini, menjadikan inspirasi yang tinggi bagi umat manusia, untuk menjadikan dirinya gembira menyambut Ramadhan dengan style-nya masing-masing. Ada kepuasan tersendiri setelah ikut rame-rame menyabut tamu agung. Mereka yakin, dengan menjadikan dirinya gembira, akan dijauhkan dari api neraka. 

Reaksi manusia akan sinyal Ramadhan, mejadi bukti kepatuhan dan kepeduliannya terhadap panggilan Tuhan (QS. Al Baqrah [2]: 183). Dan, ini tergolong kaum yang menerima seruan orang yang menyeru kepada Tuhannya. Disebutan di dalam Al Qur’an: Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih” (QS. Al Ahqaaf [46]: 31).

Sebaliknya, ancaman Allah akan ditimpakan kepada kaum yang mengabaikan seruan kepada Allah Swt –sebaimana firman-Nya : Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan (dapat) melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata". (QS. Al Ahqaaf [46]: 32.

Ramadhan tahun ini, kita jadikan inspirasi besar dalam mengawali dan melestarikan berbagai aksion keagamaan yang lebih meriah, bersemangat, bergairah, dan berkuwalitas. Semoga.

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]