GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Selasa, 07 Agustus 2012

UKG Jadi Momok: Ambil Sajalah Sertifikasi Ini, Pak Kadis…


 

 
Oleh : Arif Rizki

"Ambil sajalah sertifikasi ini, Pak Kadis. Susah benar rasanya. Awak mau pensiun, tak berkompetensi pun tak apa-apa” 

Begitulah keluhan salah seorang guru seusai mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) tingkat SLTA, Minggu (5/8) di Padang. Keluh kesah itu hampir mirip dengan yang keluar dari mulut guru-guru lainnya.

Betapa tidak, guru-guru yang sudah tua itu stres tingkat tinggi saat duduk di depan komputer. Jari mereka menggigil, ada seratus soal yang harus dijawab.

Gagap teknologi, takut sertifikasi dicabut dan takut gagal. Itulah yang berkecamuk di pikiran para pelita bangsa itu. Mereka boleh berdiri jumawa di depan siswa di sekolah. Namun di depan layar monitor, mereka seolah kehilangan taji.

“Apa betul maunya pemerintah ini? Guru dibikin susah, seolah tak percaya dengan kemampuan mengajar,” ujar Armi, guru bidang studi ekonomi pada satu SMA Negeri di Padang usai ujian. Guru ini, seperti juga ribuan guru lainnya, dengan penuh tulus telah berdiri di depan kelas mendidik anak-anak bangsa. Berbilang tahun, hari demi hari.

Katanya, UKG itu memang penting. Di sisi lain, guru-guru merasa sekadar diuji-uji saja. Diukur-ukur saja kemampuannya. Padahal sebelumnya tak ada pembinaan. “Saya kasihan sama guru-guru yang sudah tua seperti saya ini. Sebentar lagi pensiun. Untuk apa juga lagi diuji-uji,” ujar Armi.

Pantauan Singgalang di lapangan, banyak guru yang stres dengan program pemerintah pusat ini. Ujian yang diikuti 31.486 guru se-Sumbar ini dianggap rumit. Kerumitan ini diperparah dengan adanya kendala teknis dari pemerintah sendiri. Server terganggu, kapasitas internet tak memadai dan adanya soal yang terlalu sulit. Penyelenggaraan yang tidak mulus ini kerap dikeluhkan.
Selain itu, Lisdawati, guru SMAN 1 Padang mengeluhkan banyak soal yang tidak ditemukan jawabannya. Guru Matematika ini sudah berkali-kali memecahkan soal yang diberikan tapi pilihan jawaban yang tepat tidak ada.

Di Sumbar, gangguan teknis semacam ini masih terjadi. Akibatnya ujian kerap diundur di sejumlah daerah. UKG untuk SMP masih berlangsung hingga kemarin, padahal seyogyanya hanya berlangsung dua hari. UKG untuk SMK dan lima bidang studi diundur hingga Oktober. Semakin dag dig dug pulalah guru-guru itu menunggu gilirannya.

Menurut seorang guru yang hampir pensiun, sebenarnya bukan hal-hal semacam itu yang patut diujikan kepada guru, tapi bagaimana nurani si guru selama ini digunakan di ruang belajar. “Cobalah bapak tukang uji itu jadi guru, kalau iya pula,” kata dia.

Menurut dia, menjadi guru lebih daripada soal-soal. Jauh lebih dahsyat senyum, pandangan mata, usap punggung dan tegur sapa ketimbang soal-soal buatan manusia itu. “Itu yang guru, bukan menjawab soal semacam ini, nilai pedagogiknya dangkal sekali pejabat-pejabat sekarang,” kata dia.

Tak perlu didramatisir

Terkait adanya ketakutan yang timbul dari peserta, menurut Ketua Pelaksana UKG di Sumbar, Jamaris Jamna, tidak ada yang perlu ditakutkan. “Jika ada pernyataan, tidak lulus UKG, gaji sertifikasi tidak akan keluar, hal itu sama sekali bohong. Jika guru yang profesional tidak akan merasa takut dengan ujian ini,” ujarnya.

UKG ini merupakan cara untuk memetakan kondisi guru. Soal-soal yang diberikan dalam ujian ini berfungsi untuk menguji kemampuan pedagogik dan profesionalisme seorang guru. Meskipun hasil analisis belum diketahui, setidaknya para guru bisa melihat kelemahannya masing-masing. Secara tidak langsung guru pun akan langsung membenahi dirinya. Hasil UKG didapatkan sekitar bulan Oktober. Setelah itu baru dilakukan pembinaan terhadap guru. Potensi akademik guru perlu ditingkatkan terus karena kemajuan ilmu pengatahuan semakin cepat. UKG merupakan salah satu cara mengukur diri.

“Dari hasil sementara banyak guru yang rendah hasilnya, berkisar 40-50. Skor yang diharapkan sebenarnya minimal 70. Bisa dihitung dengan jari yang bisa dapat skor tinggi,” ujar Jamaris.

Dia menilai, kegagalan guru di UKG tidak disebabkan oleh gagap teknologi. Secara teknis, katanya, cara mengisi jawaban di komputer itu mudah. Tidak sesulit main facebook. Hanya tinggal memilih jawaban dari A-D saja. “Guru-guru itu kurang persiapan secara materi. Soal-soal yang diujikan adalah materi yang mereka ajarkan juga di sekolah. Ini akibat mereka terlalu stres,” kata Jamaris menjelaskan.

Hasil UKG berguna sebagai entry point bagi guru. Mulai tahun 2013, kenaikan pangkat guru ditentukan berdasarkan kinerja. Jika para guru sudah mengetahui kemampuan awal mereka, tentu akan lebih mudah memperbaiki kualitas diri..(Sumber : http://hariansinggalang.co.id/)

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]