GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Selasa, 10 Januari 2012

Logika Keimanan Malaikat dan Iblis

Oleh: Edi Saputra
Dosen MKU Agama  UNP

Umat islam mungkin saat ini telah merasa menjadi orang yang beriman saat mereka telah memiliki pengetahuan tentang Islam, bahkan telah berbuat baik dengan berbagai ibadah. Tetapi pernahkah bertanya apakah iman itu benar-benar telah merasuk ke hati sanubarinya?  Misalnya saat seseorang disuruh shalat saaat azan telah berkumandang. Orang tersebut akan menjawab, ’waktunya kan masih panjang.’ Orang tersebut tidak bersegera melaksanakan shalat meskipun tidak ada halangan baginya untuk shalat di awal waktu. Apakah mereka beriman?

Pernah terjadi pada zaman Rasulullah, yaitu ketika orang-orang Arab Badui datang menghadap Rasulullah Saw.  Mereka bertanya, “Ya Rasulullah SAW, kami ingin masuk Islam, apa yang harus kami lakukan ?” Rasulullah SAW menjawab, jika kamu ingin masuk Islam maka akuilah bahwa Allah itu Tuhan mu dan aku adalah utusan-Nya serta beribadahlah kepada-Nya. Maka orang-orang Arab Badui itu pun bersaksi Ash-haduan la ilaha illallah, wa ash-haduanna Muhammaddurasulullah. Maka sejak saat itu, mereka pun masuk Islam.

Di lain waktu mereka kembali datang menemui Rasulullah Saw dan mangaku sebagai orang yang beriman. Namun Rasulullah SAW  tidak menjawab, tetapi Allah sendiri yang menjawab. Dalam firman-Nya Surat Al Hujuraat ayat 14-15. ”Orang-orang Arab Badui itu berkata kami telah beriman katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.
Kata ’beriman’ dan ’masuk Islam’ mempunyai pengertian yang berbeda. Jika iman disamakan dengan masuk Islam, maka kita bisa secara tidak langsung mengatakan bahwa Iblis juga beriman. Keimanan  bukan hanya berarti mempercayai bahwa tuhan itu ada. Iman  adalah tidak adanya keraguan, konsekuensinya mau berjihad dengan harta dan jiwa.

Iblis adalah makhluk tuhan yang terkutuk, meskipun ia mengakui dan meyakini bahwa Allah itu tuhan-Nya. Ketika Allah SWT menyuruh malaikat dan iblis untuk sujud  pada Adam AS, maka malaikat melaksanakannya. Berbeda dengan iblis. Iblis menolak untuk sujud kepada Adam dengan berbagai alasan untuk mencari pembenarannya. Lalu Allah mengusir iblis dari surga karena kesombongannya. Berbeda halnya dengan malaikat. Logika  keimanan malaikat saat itu adalah keimanan yang tanpa keraguan. Malaikat  tunduk terhadap apa yang diperintahkan tanpa ada celah-celah untuk mencari alasan. Pada saat malaikat disuruh sujud, mereka tidak berifikir siapa itu Adam, tetapi yang dipikirkan adalah siapa yang menyuruhnya untuk sujud, yaitu Rabbnya.

Maka iblis dikatakan tidak beriman pada Allah SWT. Dari paparan diatas, jelaslah kiranya bahwa iman tidak sama dengan pengakuan masuk Islam. Lalu bagaimana dengan manusia saat ini yang menjadi pengikut-pengikut iblis tersebut? Mereka yang mempunyai logika seperti logika iblis dalam menjalankan perintah Allah SWT.  Jika ada perintah yang tidak cocok dengan pikirannnya maka itu tidak dikerjakan, tetapi mencari alasan untuk pembenaran bahkan tidak segan-segan beradu argumen dengan sesamanya.  

Mereka yang mengkritisi aturan-aturan Allah SWT  karena mereka memang tidak berniat melakukannya. Mereka ini juga dikenal sebagai orang-orang orientalis. Makanya mereka mencari alasan agar tidak melaksanakan perintah tersebut. Alasan-alasan itu bisa berupa logika-logika. Seperti misalnya masalah berjilbab tadi. Logikanya memang telah menutupi aurat, tetapi tidak sempurna. Malaikat juga pernah mengkritisi Allah SWT, yaitu saat mereka bertanya kepada Allah kenapa Allah menciptakan manusia di muka bumi, jika nanti mereka hanya membuat pertumpahan darah. Lalu jawab Allah,’ Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ Dari sana diketahui, kritisan malaikat adalah kritik agar meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bukan kritik tidak mau beribadah pada Allah SWT.

Ada beberapa alasan kenapa orang-orang ini selalu mencari pembenaran dengan logikanya. Pertama, karena tidak adanya ruh iman dalam diri orang tersebut. Ruh iman berarti mau menaati dan mau melaksanakan. Ruh iman akan semakin berkurang jika tidak mengerjakan perintah Allah. Sedangkan jika seseorang sering melaksanakan perintah Allah, maka ruh imannya akan semakin kuat. Maka semakin sering seseorang mencari pembenaran atas ketidakpatuhannya, maka semakin lemah ruh imannya. Akibatnya, semakin sering lagi ia akan berlogika orientalis.

Alasan kedua adalah karena kesombongan dalam dirinya. Karena kesombongannya, ia tidak takut pada Allah SWT. Seperti halnya iblis tadi yang menolak perintah Allah. Meskipun ia sebenarnya tahu Allah akan mengazabnya, tapi ia tetap melawan. Ini berarti ia tidak takut pada azab Allah yang sangat pedih. Sangat disayangkan jika manusia juga bersikap sombong seperti layaknya iblis.

Memang Allah memberikan hak otonom pada akal manusia untuk berifikir. Dalam Al Quran banyak dijumpai kata yang bemakna ’tidakkah kamu pikirkan.’ Tetapi bukan berarti manusia punya kewenangan untuk bertindak semaunya dengan akal ini. Karena akal manusia banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor dari luar. Berbicara masalah kebenaran, logika seseorang belum menjamin kebenaran sejati. Sebab manusia diciptakan tidak sempurna. Mereka mempunyai kekurangan, begitu pula dalam cara ia memandang dan memaknai suatu perkara.

Iblis memaknai keimanan dengan berlogika yang salah. Terlebih dahulu iblis menolak perintah Allah, lalu bermain dengan logika-logika untuk membenarkan perbuatannya. Sedangkan  malaikat beriman dengan logika keimanan yang benar. Yaitu logika yang memandang pada siapa yang menyuruhnya, yaitu Allah.  Perintah beribadah dari Allah adalah kewajiban mutlak yang tidak harus dikritisi. Sebab daya kritis manusia bisa membuat manusia terjebak pada logika iblis. Memaknai logika keimanan iblis dan malaikat ini bisa membuat kita menambah ruh keimanan, agar terhindar dari paham orientalis yang berlogika iblis.[Sumber : Koran Kampus Ganto]

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]