GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Rabu, 11 Januari 2012

Antara Perangkat Lunak dan Keras

Oleh : H. MARJOHAN
(Pemerhati Sosial-Budaya)

PENDIDIKAN KARAKTER

Haluan Senin (26/12), menurunkan tulisan budayawan Darman Moenir (DM) bertajuk: Hentikan Program Pendidikan Berkarakter!.

Tulisan yang dimuat pada kolom Refleksi, terpampang penuh jumawa di halaman pertama itu, agaknya tidak saja dibaca banyak orang (karena menyangkut ke­bu­tuhan publik) lebih dari itu “menuai” (dalam tanda kutip) res­pons/tanggapan dari sea­breg pakar/pemerhati pen­didikan di daerah ini. 

Sebut saja: Nelson Alwi, meng­e­tengah­kan: “Ke­muraman (Pro­duk) Dunia Pendikan Kita” (Haluan, Selasa (27/12); Henmaidi, PhD, me­nyirih­­ceranakan pokok-pokok pi­kiran­nya: Jebakan dalam Penyelenggaran Pen­didikan Kakarakter Haluan, Rabu (4/1) ); dan pada edisi yang sama, Prof Dr H Azmi, MA dan Karsa Scorpi juga me­nyuguh­kan umpan-balik po­sitif­nya. Yang disebut penggal awal berjudul: Pendidikn Karakter Masihkah Perlu? Sedang yang dibilang terakhir menghidangkan pokok ba­hasan: “Pendidikan Berkarakter Harus dengan Karakter Pen­didikan”.

Polemik bernas be­re­rorien­tasi pencerdasan/pencerahan yang dikuak DM tersebut agaknya mengingatkan kita pada sebuah polemik, pada 1968. Al-kisah! Dengan me­makai nama samaran A. Muchlis, Moehammad Natsir berpolemik secara tajam, cerdas dan dewasa dengan Ir. Soekarno. Adalah majalah pembela Islam dan Pedoman Masyarakat yang memuat/menurunkan polemik ber­katuntang  tersebut. Persoalan apa yang dipolemikan? Tidak lain adalah hal-ihwal ke­bangsaan dan kenegaraan serta pertautannya dengan doktrin dan kredo Islam. Yang membuat banyak orang ber­decak kagum, polemik di­hi­dang­kan ke tengah khalayak tetap bertumpu pada Al-qur’an dan Sunnah Rasul yang shahih lagi mutawatir. Baik dalam bingkai tekstual ma­upun konstekstual (lazhiyah wa al-ma’nawiyah).

Dengan argumentasi jujur dan tegas secara lihai kedua tokoh itu bertarung serta mengasah ketajaman pena/intekektual berikut  saling memformulasikan penjelasan posisi dan sikap masing-masing. Tentu saja keduanya, berangkat dan berada pada titik tolak yang berbeda. Dengan begitu, beliau-beliau melakukan adu otak namun tidak perlu mengadu otot seperti yang menjadi fe­no­mena menggalaukan antar segelintir elite bangsa kini! Seolah keduanya berikhtiar gigih membentuk karakter kita generasi sekarang, bahwa yang namanya sebuah po­lemik tidak selamanya mesti mencapai, dan dipaksa-pak­sakan untuk menjuluk titik temu atau kesepahaman final. Soalnya, berpolemik  pada hekekatnya mengetengahkan sebuah kejujuran sikap dalam upaya menjelaskan posisi masing-masing sehingga pihak lain mampu memahami sikap atau pemikiran yang ber­gelayut pada lawan polemik secara terbuka.

Serupa tapi tak sama! Polemik yang semula di­ayunkan DM! Sebagaimana diakuinya secara objektif, kolomnis dan pengarang novel berjudul: Bako itu, merasa “gagal” dalam memaknai karakter/pendidikan ka­rakter walau pelbagai literatur telah dimamahnya. Namun, Hen­maidi menguraipaparkan proses pembentukan karakter ini. Dikatakan, pembentukan karakter dapat dikerucutkan ke dalam lima tahap—yang masing tahap sepertinya berjalin-kelindan. Pertama, diawali dari pengetahuan dan pemahaman atas suatu kara­kter. Kedua, proses me­niru dan menerapkan. Ketiga, pem­biasaan dimana ka­rakter itu mulai dijadikan kebiasaan. Keempat, pem­budayaan di­mana tidaklah cukup se­ge­lin­tir orang saja yang mem­biasakan berkarakter, semen­tara lingkungan tidak (ber­karakter). Kelima, baru men­jadi karakter. Muaranya? Dosen Fakultas Teknik Uni­versitas Andalas itu, me­mat(r)i-ambalau-i proses (wasilah) pembentukan sebuah karakter bagi siapa pun itu, dengan adagium klasik: “ketek taaja-aja, gadang tabao-bao, tuo ta-ubah tido”. Nah! Ketika sudah sampai pada tahap: ta-ubah tido, inilah sifat itu menjadi karakter.

Nyaris sama dan sebangun dengan Henmaidi, Prof Dr H Azmi, MA menghidangkan pendidikan karakter tersebut, ke dalam dua sisi. Yaitu sisi personal dan sisi sosial. Sisi personal menjamah sikap terhadap diri sendiri. Sedang sisi sosial, bersentuhan de­ngan sikap terhadap di luar diri sendiri. Dipiuh dan dipilin lagi oleh mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) ini, menjadi lima sikap (attitude). Sebut saja (1), memupuk sikap saling menghormati dan toleran pada perbedaan (2), memupuk sikap kebersamaan dan persamaan (3), memupuk kebiasaan pe­murah dan mem­bantu orang lain (4), ber­komunikasi secara baik de­ngan orang lain di­barengi  sikap ramah dan hormat (5), memelihara/peduli pada ke­pentingan umum; tidak me­rusak fasilitas umum dan menjaga kelestarian alam. Kedua sisi (sisi personal & sosial) membentuk warga negara yang baik ”dan inilah tujuan utama dari pendidikan nasional”, imbuh Azmi. Se­dangkan Kasra Scorpi me­nyuguhi kita, bahwa karakter merupakan watak yang te­raplikasi dalam bentuk sikap dan prilaku manusia yang sesuai dengan nilai-nilai ke-Tuhanan, sosial dan hukum untuk menghadapi sesuatu. “Makanya kita membutuhkan karakter berupa sikap dan prilaku terhadap kehidupan: beragama, bersosial, ber­budaya, berbangsa dan ber­negara”, tukuk Kasra Scorpi pula.

Terlepas dari cukup be­ragam dan bervariasinya baik aspek isi, sudut pandang dan style peserta polemik dalam menatap hal-ihwal karakter plus pendidikan berkarakter tapi yang terang-benderang semua penanggap buah pikir yang dilontarkan DM seperti disebut tadi, menyelinap beberapa kesepahaman yang bersangkut-paut dengan pro­ses pendidikan karakter: Pertama, pentingnya keteladanan dari semua pihak. Kedua, tidak perlu menambah mata ajar/bidang studi di sekolah/per­guruan tinggi. Ketiga, dana yang dialokasikan untuk mendaya-ungkit aspek pe­rangkat lunak kependidikan apa tidak lebih afdal di­mam­faatkan untuk membangun prangkat keras.

Dan, yang disebut penggal awal misalnya, nyaris tak ada perbedan: semua mereka berobsesi: memosisikan con­toh-teladan (qudwah-hasanah) dari semua pihak dan kom­ponen bangsa terhadap anak didik, dan atau para generasi muda. Konkretisasinya? Se­mua stakeholders ke-pan­didikan (guru/dosen, karyawan, pimpinan dan lainnya) se­jatinya memberikan contoh-teladan. Skop orientasinya? Menjamah semua sisi dan kisi kehidupan. Seorang guru/dosen akan gagal mendisiplin pe­serta didik: misalnya agar murid/mahasiswa harus hadir 15 menit di ruang belajar, sebelum PBM alias proses belajar mengajar dimulai sementara subjek didik sen­diri datang terlambat. Meski misalnya kadang berdalih terjebak arus kemacetan namun anak didik bisa-bisa kehilangan keparcayaan. Bila sudah begitu, materi pen­didikan yang dihidangkan guru/dosen bisa-bisa pula tak hinggap di sekeping kalbu anak didik. Pasalnya, bukan­kah dalam teori pendidikan, mesti terbentang jembatan hati tanpa sekat (mawaddah fi al-qurba) antara subjek didik (al-mu’aalim/al-mudarris) dengan objek didik (al-mad’u).

Begitu pula misalnya da­lam berpakaian. Pihak se­kolah/kampus, hampir dapat dipastikan tak bakal berhasil menyuruh siswa/mashasiwa berpakaian rapi sesuai aturan yang berlaku. Sementara sang guru/dosen sendiri ber­pe­nampilan “slebor”. Dan, yang membuat dahi banyak orang bergerinyit: menyaksikan performance siswa/mahasiswa di zaman modern yang kian merangkak maju kini! Se­gelintir siswa/mahasiswa hobi berpakaian aneh-aneh. Mereka akan lebih ngetrend katanya:  memakai celana blue jeans dan T-shirt dengan sengaja mencabik tentang lututnya. Masih belum tampak ganjil, dikenakkan anting-anting  pada sebelah telinganya. Merasa belum gagah dan tampan, maniak atau dukuah (kalung) pun bergayut di lehernya. Barangkali memang jauh berbeda ketika kita jadi mahasiswa dulu mereka pun sudah puas dan merasa gagah hanya bersandal jepit ke kampus, dan atau ke sekolah. Kenapa hal semacam itu, menggejala yang nota-bene  membuat risau sebagian orang di institusi pendidikan kita? Selain menoleransi “kurenah” dan “kakobeh” mahasiswa semacam itu, konon sebagian subjek didik kita pun cenderung ber­penam­pilan gaul kalau tak bisa dibilang norak/sembrono!

Padahal, untuk meng­komunikasikan (mengin­ter­nalisasikan) “segerobak tundo” norma-norma dan nilai-nilai positif tak terkecuali aturan berpakaian kepada anak didik, sepertinya sudah tak mangkus lagi lewat ko­mu­nikasi verbal. Yang di­dam­bakan siswa/mahasiswa dan masyarakat tidak lain adalah komunikasi non verbal. Dan, secara substansial, kondisi semacam itulah yang disebut keteladanan tadi. Dan, dalam kerangka ini, sinyalemen Prof Dr H Azmi, MA menjadi sangat relevan: “kalau guru kencing berdiri maka murid kencing berlari”!

Melacak lebih mencukam, betapa pentingnya kita mem­bangun/membenahi infra-struktur kependidikan apa­lagi pasca musibah beruntun di pelbagai sudut negeri yang membuat sarana dan pra­sarana pendidikan kita hancur berkeping-keping, singkron dan seirama dengan satu adagium yang dicuatkan Francis Fu­kuyama dalam “The Great Distruption” (1997): “Setiap kegalauan besar semisal penghentian, dan atau ke­ber­lan­jutan pendidikan karakter tadi, mesti dianyam satu rekonstruksi besar. Kiatnya, tumbuhkan team work dan trust berskala besar demi  menjuluk kemenangan lebih besar. Semoga!

[Sumber : Harian haluan, Rabu, 11 Januari 2012 04:08]

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]