GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Jumat, 02 Juni 2017

Mengenang 1 Juni


Oleh: Andi Achdian

Ibu saya suka bercerita, melukis dan menembang. Itu dilakukannya saat menghabiskan waktu luang ketika langit mulai berwarna jingga keemasan. Suatu sore saya duduk di sampingnya. Lalu ia menuturkan sebuah kisah tentang tradisi lama nenek moyangnya. Tugas kita di dunia adalah mengabdi pada negara, agama dan rakyat jelata. Begitulah kira-kira terjemahan kasarnya. Ia menyampaikan dengan pribahasa yang diiringi nada merdu dari tembang kesukaannya.

Saya kira setiap keluarga Indonesia memiliki kisah-kisahnya sendiri tentang kebajikan sosial yang patut dilakukan sebagai anggota masyarakat. Keluarga adalah tempat awal kebajikan sosial itu diajarkan. Kemudian dilanjutkan di sekolah, madrasah, ataupun ketika kumpul-kumpul keluarga. Sebuah buku yang ditulis Hildred Geertz menyampaikan dengan indah kebiasaan kehidupan keluarga Jawa di rumah-rumah mereka. Semua keluarga Indonesia memiliki kebajikan sosial yang mereka ajarkan untuk setiap anak-anaknya dari buaian sampai remaja.

Lalu ada suatu masa ketika saya mulai memasuki dunia perguruan tinggi dan berkenalan dengan produk negara bernama Eka Prasetya Pancakarsa. Selama 100 jam, saya diajarkan tentang butir-butir Pancasila tentang bagaimana caranya tidak bertindak semena-mena terhadap orang lain, saling mencintai sesama manusia, berani membela kebenaran dan keadilan, dan beberapa butir lainnya sebagai turunan sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

"Terus terang, saat itu saya merasakan seratus jam yang membosankan. Para pengajar dengan kikuk menyampaikan tentang bagaimana kita harus “tidak bergaya hidup mewah” atau “menghormati hak-hak orang lain” sementara pada saat yang sama negara yang mengajarkan nilai-nilai luhur itu merampas tanah para petani untuk sekedar tempat bagi para petinggi atau tamu-tamu berkantung tebal bermain bola kecil yang menggelinding di atas rumput hijau seperti karpet."

Saya jadi ingat guru mengaji dengan sinar mata yang lembut dan ibu yang pandai bercerita. Mereka menyampaikan dengan cara yang sulit dilupakan. Saya pun bisa tidur lelap dibuatnya.  Sampai sekarang saya tetap ingat cerita ibu tentang Rama dan Rahwana, atau kisah tentang  Prabu Yudhistira yang berbudi luhur dan baik hati tak terkira. Di universitas, setiap jam dari seratus jam itu hanya membuat saya melamun memikirkan makanan yang enak-enak, dan berkenalan dengan para mahasiswi yang menarik hati.

***

Belum lama berlalu sebuah pertarungan politik yang mirip kisah pertarungan putra-putra Pandudewanata dan Dastarata di padang Kurukshetra. Tidak dapat disangkal, setiap ksatria berlaga, jutaan orang-orang biasa menjadi tumbalnya. Entah sebagai angka di dalam kotak suara, atau yang berteriak parau di lapangan sambil menghujat lawan-lawan lawan politik para pemimpin mereka. Ada suasana yang tidak mengenakkan bagi banyak orang. Belum termasuk kisah-kisah tak bertuan di media sosial yang mengipasi kompor yang siap meledak. Apakah semua akan berujung pada pralaya ?

Namun, sesungguhnya ini adalah pertanyaan berlebihan. Ketika tidak lagi membaca media sosial, dan menjalani kehidupan bersama warga kampung di kaki Gunung Salak, segala keributan itu tidak lebih sekedar satu episode menegangkan dalam kisah pewayangan yang memiliki akhir rasional. Setiap keributan ada batas juga rupanya.

Apalagi bila dibandingkan dengan kisah pertempuran Gettysburg tahun 1863 antara tentara Union dan Konfederasi yang menewaskan ribuan jiwa ketika orang-orang Amerika saling berkelahi apakah mereka akan tetap melanjutkan perbudakan atau menghapusnya. Begitu juga pengalaman Inggris dengan kisah Thomas Cromwell dalam pergolakan dinasti Tudor di Inggris yang berakhir dengan pemenggalan kepalanya. Setiap masyarakat memiliki drama menyakitkan dalam sejarah mereka. Di dalam kitab suci umat Nasrani, Yahudi dan Muslim, ada pula kisah Cain dan Abel, saudara kandung yang saling membunuh untuk berebut apa yang mereka anggap terbaik bagi mereka.

"Orang-orang Indonesia masa kini harus menyelesaikan babak dramanya sendiri. Ibarat bayi yang belajar berjalan atau orang yang baru belajar bahasa baru, seringkali ia terseleo lidah atau berjalan tertatih untuk kemudian bisa berdiri atau berlari. Dalam drama-drama seperti ini, setiap masyarakat cenderung melihat kembali sejarah masa lalunya. Para revolusioner Prancis pun berkaca ulang pada sejarah klasik Eropa dan bergaya seperti senator Romawi dalam setiap pidatonya untuk kemudian menciptakan sendiri masa depan bagi mereka dan anak cucunya"

Kecemasan berbaur histeria masa kini mungkin membuat kita terpaksa menghidupkan mahluk dinosaurus sebagai azimat untuk mengatasi kerunyaman yang mengoyak kehidupan bersama sebagai masyarakat. Ada seruan yang seolah menghidupkan seratus jam yang tidak menghasilkan apa-apa itu sebagai jalan keluar terbaik dari kerunyaman. Namun belum tentu itu langkah yang bijak. Masih banyak pilihan dan beragam langkah yang jauh lebih baik yang tersedia. Sudah tentu hal ini membutuhkan keheningan sejenak dan bersedia mendengar apa yang dibicarakan orang-orang biasa di jalanan, atau membuka kembali beragam kisah sejarah negeri ini.

***

Masalah kita saat ini bukan karena kita telah kehilangan kebajikan sosial atau toleransi dalam kehidupan bersama. Persoalannya adalah tingkah laku antisosial itu telah terlalu lama dibiarkan. Ketika negara tidak menjalankan perannya, masyarakat terpaksa menciptakan hukum mereka sendiri yang terus merusak iklim kehidupan bersama seperti yang pernah dibayangkan para pendiri negara republik ini.

Sukarno, dan siapapun yang turut serta dalam perumusan dasar negara, telah membayangkan persoalan ini. Tanpa perlu membuat penduduknya berpikir seragam seperti yang terjadi dalam kelas seratus jam, mereka menetapkan sebuah landasan bersama bagi negara republik. Sekali lagi, landasan dasar negara untuk kehidupan bersama, bukan menciptakan manusia Indonesia yang harus berperilaku dalam model ini dan itu. Dalam kaitan itulah Sukarno merumuskan Pancasila. Dan dalam latar belakang keragaman itu pula para pendiri negara republik saling berdebat panjang, tetapi dengan akhir yang indah: kemampuan untuk bersepakat untuk kebajikan publik yang utama.

Jadi, dibanding mengulang kisah seratus jam, lebih baik kita bersama melihat sejauh mana produk-produk hukum negara dan perbuatan aparat negara telah berjalan sesuai dengan landasan dasar yang diletakkan para pendiri negara republik ini. Kita bisa mengaudit beragam produk hukum di daerah yang dibuat dalam aroma aji mumpung ketika satu kelompok memegang kekuasaan.  Dalam kaitan ini Pancasila memiliki artinya. Dalam waktu yang sama,  saya tetap bisa menjalani kehidupan sebagai warga biasa, menulis sejarah, mengumpulkan buku-buku tua, dan turut melaksanakan tarawih bersama tetangga sekampung.

Di setiap masyarakat dalam setiap zaman selalu muncul demagog yang membawa imajinasi orang-orang biasa yang hidup dalam kesusahan dalam mantra-mantra mereka. Mungkin saja seruan itu berhasil mengajak banyak orang melupakan sejenak kesulitan hidup dan mencari kambing hitam masalah di tempat lainnya. Bagaimanapun antusiasme massa seperti ini ada batasnya. Ada banyak kisah dalam catatan sejarah yang menunjukkan keyakinan ini.

***

Dari sudut pandang pengalaman hidup yang biasa-biasa saja, saya hendak mengusulkan bahwa ada baiknya kita melihat kembali sistem pengajaran kewargaan (civic) yang berjalan saat ini. Apakah metode pengajaran kita tidak lagi mampu melahirkan daya pikir dan daya cerna yang membentuk benak para pendiri republik yang memikirkan pentingnya membuat sebuah grondslag bagi masyarakat majemuk tempat mereka tinggal? Model pengajaran seperti apa yang bisa melahirkan sosok-sosok besar tersebut?

Saya kira kita semua sudah terlalu lelah untuk menjadi pengekor atau sekedar epigon yang malas berpikir. Ada bahan yang cukup baik dan melimpah seperti ditunjukkan dari siswa sekolah menengah yang menggemparkan publik Indonesia dengan bacaan dan tulisan-tulisannya, atau rekan seusianya di Aceh yang menciptakan enerji listrik dari pohon kedondong yang menerangi kampungnya yang gelap. Kita semua bertanggungjawab bagi masa depan anak-anak itu untuk terus bisa menerangi Indonesia yang akan datang. (*)

---
*Andi Achdian, Dosen dan Sejarawan.
[ Sumber : https://galeribukujakarta.com/ ]

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]