GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Kamis, 13 Agustus 2015

Merdeka di Negeri Sendiri

Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M.Si
          ( Dosen STAIN Kediri)

Tiga ratus lima puluh tahun bukan waktu pendek. Sungguh sangat panjang. Kalau mau menghitung, bisa enam generasi. Itulah masa perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah kolonial Belanda.

Korban harta-benda dan jiwa-raga, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Sanggat besar –dan sangat banyak. Bila generasi sekarang mau menghitungnya, sungguh tak sanggup mengkalkulasi saking banyaknya.

Proklamator, Bung Karno sering mengingatkan Jasmerah. Jangan (suka) melupakan sejarah.Sungguh suatu pesan yang sangat cerdas (saat itu). Perjuangan bangsa Indonesia yang sangat panjang dan menelan banyak korban itu jangan mudah Bahkan jangan (suka) melupakan dengan (kelakuan) berfoya-foya. Sedikit-sedikit sontak berhura-hura. Bersenang-senang. Gembira luar biasa sehingga seakan lupa daratan. Memperlakukan orang lain yang kalah dalam kompetisi, seperti melawan penjajah (saja). Seakan telah mampu menumpas habis lawan peperagan. Padahal, itu masalah kecil. Sangat kecil bila dibanding dengan perjuangan nenek moyang mengusir penjajah yang banyak korban itu.

Nenek moyang kita (dahulu), saat merebut kemerdekaan direwangi ora turu rino lan wengi.Ngleno turune tentara Londo (Belanda) pamrih biso nyolong bedile neng markase Londo. Ngono kuwi direwangi toh nyowo. Wani mati. Ora sitik sing bener-bener dadi korban. Dipulasara, dienggo bal-balan tentara londo. Disaduk ngalor, disaduk ngidul. Kanggo oper-operan koyo e-bal. Disiksa sampek klenger. Lan dadi tewase. Rekasane kaya ngono iku –ora pamrih apa-apa. Uga ora pamrih jabatan lan kedudukan. Mung murih bangsa lan negarane –Indonesia bisa merdeka.

 
 

       (Sekarang)Indonesia telah merdeka 70 tahun. Apakah benar-benar telah sirna perasaan dijajah. Apakah telah ada perasaan merdeka di negeri sendiri. Bebas memilih sekolah yang disuka. Bebas mendapatkan pekerjaan yang wajar. Bebas berkreasi sesuai tuntutan zaman. Bebas mengembangkan riset sesuai kebutuhan di Era Global. Bebas menciptakan mobil (listrik) yang ramah lingkungan. Bebas mendirikan fabrik untuk memenuhi kebutuhan bangsa. Bebas bersarikat dalam berdagang. Bebas mendirikan mass media yang sehat. Bebas berorganisasi. Bebas mendapatkan rasa keadilan tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Bebas menjalankan ajaran agamanya tanpa tekanan dan ancaman.

Kalau tidak, sama halnya bangsa Indonesia belum bisa merdeka di negerinya sendiri.Masih (tetap) ada penjajahan di negerinya sendiri. Bangsanya sendiri yang mengobok-obok negerinya sendiri. Ingin mendapatkan berbagai kepentingan –tak ubahnya penjajah kolonial Belanda (dulu). Menekan, mengancam, membunuh, merampas, dan membuang bangsa jajahannya –sampai diujung jauh dari pandangan mata.

            Hal ini sesuai dengan peringatan Allah Swt di dalam Al Qur’an Surah An-Naml 34:


قَالَتۡ إِنَّ ٱلۡمُلُوكَ إِذَا دَخَلُواْ قَرۡيَةً أَفۡسَدُوهَا وَجَعَلُوٓاْ أَعِزَّةَ أَهۡلِهَآ أَذِلَّةٗۚ وَكَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ٣٤

Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja, apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. (QS. An-Naml [27]: 34)
           
Begitu itu sifat penjajah. Mereka datang ke negeri orang –mengambil kekayaan yang diinginkan. Kalau terhalang, dia mengancam, menyiksa atau membunuh penghalangnya sampai lumpuh.

Seperti peristiwa yang baru saja terjadi. Seluruh umat Islam dikecewakan dengan tragedi intoleransi di Papua belum lama ini, justeru tepat di hari Raya Idul Ftri. Hari kemenangan Umat Islam.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. M. Hasan Mutawakkil Alallah menulis dalam OPINI Jawa Pos, 20 Juli 2015, pada Jumat itu (17/7) keheningan pagi pecah di tanah Papua. Tepatnya di daerah Karubaga, Kabupaten Tolikara. Peristiwa berawal ketika imam salat Idul Fitri mengumandangkan takbir pertama.

Tiba-tiba sekitar 70 orang menyerang warga yang sedang menunaikan rangkaian salat itu. Dari beberapa penjuru, mereka melempari jamaah yang sedang salat, sambil berteriak meminta warga yang  sedang salat -bubar. Rangkaian salat Idul Fitri berantakan. Informasinya, sebuah musalla dan 70 rumah kios berkonsruksi papan kayu terbakar.Umat Islam, diminta tenang. Kasusnya,  diserahkan kepada aparat yang berwenang.  (JP. 20/7)

Menurut Bagong Suyanto, dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya, sebagai bangsa yang sejak lama memiliki struktur masyarakat yang majemuk, Indonesia sebetulnya sudah makin dewasa dan tidak mudah terprovokasi.

Tetapi, peristiwa yang terjadi diTolikara, Papua, belum lama ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya tuntas dalam persoalan integrasi di tanah air ini. (JP. 20/7)

Lebih parah lagi kalau peristiwa itu dipicu dengan rencana Peraturan Daerah (Perda) Papua tentang larangan Lebaran dan berjilbab di daerah itu (JP. 21/7).

JATI DIRI Jawa Pos, 20 Juli 2015 menulis, dalam kasus pembakaran masjid di Tolikara, sangat wajar apabila umat Islam marah. Marah kepada pelaku pembakaran. Bukan marah kepada pemeluk agama lain. Kemarahan itupun harus disalurkan secara sehat, yakni dengan mendesak aparat keamanan menindak tegas pelakunya.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti membuka kemungkinan adanya  aktor intelektual dibelakang kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, saat pelaksanaan salat Idul Fitri pada Jumat pagi (17/7).Menurut Kapolri, insiden di Tolikara adalah kasus pelanggaran hukum, dan Indonesia adalah Negara hukum. Karena itu, penyerangan ataupun penembakan akan diselesaiakan secara hukum. (JP/20/7).Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) menegaskan, Awasi Pihak yang Bikin Panas. (JP. 20/7)

Selanjutnya OPINI Jawa Pos berharap, Para pemimpin agama harus kembali bergandengan tangan. Saling memaafkan. Forum-forum antar umat beragama juga harus dibangun lagi seperti yang pernah diajarkan Gus Dur dulu. Kalau diantara para pemimpin sudah berangkulan, tentu masyarakat akan meneladaninya.

SBY, Presiden RI ke 6 di media sosial belum lama ini menyatakan sangat prihatin terhadap berbagai kasus yang terjadi di negeri ini. Dia berharap, para pemimpin dan elit politik –agar tetap bisa berfikir jernih demi negara dan bangsanya. SBY memohon kepada Allah Swt, semoga berkenan memberikan pencerahan kepada para pemimpin dan elit politik di Indonesia ini. Sehingga mereka bisa membuat kebijakan dengan seadil-adilnya dan sebaik-baiknya.

         Kalau bangsa sudah (keruh) seperti ini, tidak dipungkiri lagi, Allah akan menurunkan adzab sangat dahsyat kepada siapapun yang menentang aturan-Nya, apalagi bagi seorang pemimpin atau elit yang sengaja bertindak semina-mina (dumeh kuasa). Sebagaimana firman Allah Swt di dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah [2] ayat 90 yang artinya:


بِئۡسَمَاٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡ أَن يَكۡفُرُواْ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بَغۡيًا أَن يُنَزِّلَ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ فَبَآءُو بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ ٩٠

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah karena dengki, bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan”. (QS. Al Baqarah [2]: 90)
           
            Tidak pandang bulu, siapapun yang melanggar aturan Allah, pasti akan ditindak dengan adzab yang sangat pedih. Karena itu, menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan adalah suatu kewajiban bersama, utamanya para pemimpin bangsa. Jangan hanyamementingkan nafsunya sendiri.Lalu, gak peduli kepentingan orang banyak.

    RasulullahSawpernahmengingatkan, kullukumraa’in, wakullukum mas-ulun ‘an ra’iyyatihi, kamusemuaadalahpemimpin, dan kamu semua akan dimintai pertanggung jawabannya. Artinya, kalau tidak beres dalam menjalankan kepemimpinannya, tentu akan dituntut dan dibendu (adzab) oleh Allah Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Adil.

            Di sini pentingnya peranan iman dan ketaqwaan seseorang. Siapa yang tangguh iman takwanya, tentu memiliki sifat-sifat terpuji. Lebih suka memberi dari pada mendapatkan (apalagi merebut). Suka mengendalikan emosi. Tidak mudah marah. Memaafkan kesalahan orang. Bila telah berbuat khilaf, segera ingat Tuhannya. Lalu beristighfar. Dan menghentikan perbuatan tercelanya itu. (QS. Ali Imraan [3]: 134-135).

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]