GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Selasa, 18 Agustus 2015

Kebenaran Melenyapkan Kebatilan

Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M. Si *)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangkit bersama-sama Muhajirin dan Anshar hingga masuk Masjid al Haram. Beliau menghampiri Hajar Aswad, menciumnya, berthawaf di sekeliling Ka’bah, sambil memegang busur. Sementara di sekitar Ka’bah pada waktu itu ada tiga ratus enam puluh berhala. Beliau cukup menunjuk dengan busurnya ke arah berhala-berhala itu sambil mengucapkan ayat.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
  Dan Katakanlah: "Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al Israa’ [17]: 81)

Seketika itu pula berhala-berhala tersebut roboh di hadapan beliau. Bahkan beliau memendekkan thawaf. Setelah sempurna, beliau memanggil Utsman bin Thalhah dan memerintahkannya untuk mengambil kunci Ka’bah. Setelah terbuka, beliau masuk ke dalam Ka’bah, yang di dalamnya beliau melihat berbagai gambar, seperti gambar Ibrahim dan Ismail yang sedang membagi anak panah untuk undian. Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali pun beliau (Ibrahim)  tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.” Beliau juga melihat beberapa gambar yang lain, lalu memerintahkan agar semua dienyahkan.

 

 

Beliau menutup pintu Ka’bah, yang didalamnya juga ada Usamah dan Bilal. Beliau menghadap ke arah dinding Ka’bah yang bersebrangan dengan pintu Ka’bah. Beliau berdiri berjarak tiga hasta dari dinding, disamping kiri beliau ada dua tiang dan disamping kanan beliau ada satu tiang dan di belakang beliau ada tiga tiang. Sementara saat itu didalam Ka’bah ada enam tiang. Beliau shalat di tempat itu. Seusai shalat beliau berkeliling di dalam Ka’bah, bertakbir di setiap sudutnya dan mengesakan Allah. Kemudian beliau membuka pintu Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun memenuhi Masjid, menunggu apa yang hendak beliau lakukan.
Dengan memegangi dua pinggiran pintu Ka’bah, sementara orang-orang Quraisy berkerumun di bawahnya, beliau bersabda, “Tiada llah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, yang membenarkan janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, yang mengalahkan musuh semata. Ketahuilah, setiap kekuasaan, harta benda atau darah ada dibawah kedua kakiku ini, kecuali kekuasaan mengurusi Ka’bah dan memberi minum untuk orang-orang yang haji. Ketahuilah, pembunuhan yang salah, sama dengan pembunuhan karena disengaja dengan menggunakan cambuk atau pentungan. Dalam hal ini berlaku tebusan yang berat, yaitu seratus onta, empat puluh ekor diantaranya berupa anak yang masih di dalam perut induknya.
Wahai semua orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah mengenyahkan kesombongan Jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.” (Rasululullah Saw membaca ayat):

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّـهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat [49]: 13)

Kemudian beliau bersabda, “Wahai sekalian orang Quraisy, apa yang bisa kuperbuat terhadap kalian menurut pendapat kalian ?” Mereka menjawab, “Kukatakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian’. Pergilah, karena kalian orang-orang yang bebas.”
Saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk di dalam Masjid, Ali bin Abu Thalib menghampiri beliau sambil memegang kunci Ka’bah dan berkata, “Wahai Rasulullah, serahkanlah kewenangan menjaga Ka’bah kepada kami bersama-sama kewenangan memberi minum kepada orang-orang yang haji. Shalawat Allah semoga dilimpahkan kepada engkau.”
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa yang berkata seperti itu adalah Al-Abbas.
Beliau bertanya, “Mana Utsman bin Thalhah?”
Setelah Utsman bin Thalhah dipanggil dan menghadap, beliau bersabda, “Inilah kuncimu wahai Utsman. Hari ini adalah untuk berbuat kebajikan dan pemenuhan janji.”
Dalam riwayat Ibnu Sa’d di dalam Ath-Thabaqat, disebutkan bahwa beliau bersabda saat menyerahkan kunci kepada Utsman bin Thalhah, “Ambillah kunci ini sebagai pusaka yang abadi. Tidak ada yang merampasnya dari kalian kecuali orang yang zhalim. Wahai Utsman, sesungguhnya Allah menyerahkan keamanan Rumah-Nya kepada kalian. Ambillah dari apa yang diberikan kalian dari Rumah ini dengan cara ma’ruf.”
Begtulah Rasulullah Saw berusaha keras memantabkan eksistensi Ka’bah, yang keberadaanya akan dirasa oleh manusia disepanjang zaman. Tak kan ada putus-putusnya. (diolah dari Sirah Nabawiyyah, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al Mubarrakfury dan sumber lain). 


Bilal Menyerukan Adzan di atas Ka’bah

Saat shalat pun tiba. Maka rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah dan menyerukan adzan disana. Sementara saat itu Abu Sufyan bin Harb, Attab bin Usaid dan Al-Harits bin Hisyam sedang duduk di serambi Ka’bah. Attab berkata, “Allah telah memuliakan Usaid (ayahnya), tanpa mendengar seruan ini. Jika mendengarnya, tentu membuatnya marah.”
Al-Harits menyahut, “Demi Allah, andaikan saja aku tahu bahwa itu adalah benar, tentu aku akan mengikutinya.”
Abu Sufyan menyahut, “Demi Allah, aku tidak akan berkomentar apa-apa. Andaikan aku berbicara, kerikil-kerikil ini tentu akan berbicara atas nama diriku.”
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam langsung menemui mereka dan bersabda, “Aku sudah tahu apa yang kalian ucapkan,” Lalu beliau memberitahukan apa saja yang telah mereka ucapkan itu.
Akhirnya Al-Harits dan Attab berkata, “Kami bersaksi bahwa memang engkau adalah Rasul Allah. Demi Allah, tak seorang pun yang mendengar apa yang kami ucapkan,d an tidak pula kami memberitahukannya kepada seseorang.”

Shalat Kemenangan atau Shalat Syukur

Pada hari itu pula Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumah Ummu Hani’ binti Abu Thalib, lalu mandi dan shalat delapan rakaat di rumahnya. Saat itu adalah waktu dhuha. Banyak orang yang menduga bahwa itu adalah shalat dhuha. Padahal itu adalah shalat kemenangan.
Saat itu Ummu Hani’ memberi perlindungan kepada dua orang musyrik dari keluarga besarnya. Setelah mengetahui dua orang musyrik itu, Ali bin Abu Thalib, saudaranya hendak membunuh mereka berdua. Ummu Hani’ cepat-cepat menutup pintu rumahnya untuk melindungi mereka berdua. Lalu Ummu Hani’ menceritakan perlindungan yang dia berikan kepada dua orang musyrik itu dan kehendak Ali untuk membunuh mereka. Beliau bersabda, “Kami melindungi siapapun yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’.
            Begitu hebatnya Rasulullah Saw dalm upaya menciptakan kedamaian dan ketentraman di kalangan umat manusia denban tidak pandang bulu. Hala ini mencirminkan bagaimana para elit di negeri kita sanggup meneladani dan mencontoh perilaku pemimpin umat sedunia itu dalam menciptakan Indonesia aman dan sejahtera. 

------
*) Penulis: Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri.

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]