GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Sabtu, 03 Mei 2014

Betapa Pentingnya Pendidikan

 

 

TANGGAL 2 Mei seharusnya merupakan hari yang penting bagi bangsa Indonesia. Itulah Hari Pendidikan Nasional yang seharusnya dipakai untuk membangun kesadaran kita bersama akan pentingnya pendidikan.

Tidak ada bangsa yang mampu mencapai kemajuan tanpa meletakkan pendidikan sebagai dasar utama pembangunannya. Pendidikan harus menjadi perhatian paling utama, karena tidak mungkin kita mencapai kemajuan apabila tidak mempersiapkan manusianya terlebih dahulu.

Para pendiri bangsa ini sangat mengerti pentingnya pendidikan dari bangsa ini. Untuk itulah pendidikan ditempatkan di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak hanya ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan umum, tetapi juga mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sayang kita kemudian melupakan pendidikan manusianya. Kita lebih terfokus kepada pertumbuhan ekonomi. Ukuran keberhasilan pembangunan lebih dilihat dari besarnya pendapatan per kapita yang diraih, bukan seberapa berkualitasnya pendidikan yang sudah dilakukan kepada bangsa ini.

Bahkan pada era reformasi, keberhasilan pendidikan lebih diukur dari pengalokasian 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kita tidak pernah mau melihat pendidikan seperti apa yang kita sudah lakukan dan manusia Indonesia seperti apa yang dilakukan,

Pendidikan cenderung direduksi sebagai urusan belajar mengajar di bangku sekolah saja. Padahal seharusnya proses pendidikan itu tidak pernah boleh berhenti. Kita harus terus menerapkan pendidikan yang berkelanjutan.

Semua negara menjalankan pendidikan yang berkelanjutan karena tantangan besar yang harus dihadapi selalu berubah. Semua orang dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena dunia berubah dengan cepat. Pendidikan yang dilakukan pun tidak dilepaskan dari karakter yang ingin dibangun bangsa itu.

Kita cenderung lupa akan pembentukan karakter bangsa ini. Tiba-tiba kita menjadi bangsa yang konsumtif, tetapi lupa untuk membangun sikap bekerja keras, disiplin, dan produktif.  Akibatnya, orang cenderung menempuh jalan pintas untuk bisa menikmati gaya hidup yang wah.

Korupsi sudah menjadi budaya dari bangsa kita. Orang tidak malu untuk memperkaya diri sendiri, meski dilakukan dengan cara yang tidak benar. Keluarga pun tidak berupaya untuk mencegah kepala keluarga melakukan tindakan tercela.

Kita lihat korupsi yang dilakukan Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Rudi Rubiandini. Ia pada awalnya bersikukuh tidak melakukan korupsi, meski tertangkap tangan menerima 300.000 dollar AS dari Kernell Oil Ltd. Namun ketika hakim menetapkan dirinya bersalah dan menjatuhkan hukuman penjara 7 tahun, Rudi menerima keputusan tersebut.

Mengapa ia bersedia dipenjara, meski mengaku uang yang diterimanya itu untuk menyetor kepada pejabat yang lain? Karena ia memang ikut menikmati hasil korupsi dan takut kalau ia mengajukan banding akan dihukum lebih berat oleh Pengadilan Tinggi ataupun Mahkamah Agung.

Rudi hanyalah salah satu contoh kasus. Tetapi begitulah karakter para pemimpin Indonesia sekarang ini. Bagi mereka tidak peduli masalah proses, yang penting bisa menikmati kehidupan yang mewah. Padahal jutaan rakyat yang dipimpinnya masih hidup dalam kemiskinan.

Kita harus meluruskan cara berpikir yang sudah salah kaprah ini. Caranya tidak bisa lain melalui pendidikan. Kita harus mendidik seluruh warga bangsa ini untuk tidak destruktif. Kita justru harus berlomba-lomba memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.

Investasi harus kita lakukan kepada generasi muda, karena merekalah yang kelak memimpin negara. Mereka bukan hanya perlu dididik untuk bersikap jujur dan tidak boleh kalah dari bangsa lain, tetapi harus diberi contoh yang baik dari para pemimpin bangsa ini.

Kita membutuhkan para pendidik yang berkualitas agar adik didik yang dihasilkan merupakan anak-anak yang unggul. Para pendidik itu harus tersebar secara merata di seluruh Indonesia agar seluruh anak bangsa ini mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa maju.

Sarana dan prasarana pendidikan harus disediakan secara memadai, proses belajar dan mengajar bisa berjalan maksimal. Tidaklah mungkin kita akan bisa melakukan pendidikan dengan baik apabila bangku sekolah saja sudah miring dan bangunan sekolah pun hampir rubuh.

Semua itu hanya bisa dilakukan apabila hadir seorang pemimpin yang peduli dan punya hati untuk mencerdaskan bangsa ini. Hanya pemimpin seperti itulah yang mampu menggunakan 20 persen APBN sepenuhnya untuk meningkatkan kualitas bangsa ini, bukan dipakai sekadar memperkaya para pejabatnya.

[Sumber : http://news.metrotvnews.com]
 

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]