GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Sabtu, 03 Mei 2014

Bertaruh Nyawa Menggapai Cita



POTRET ANAK-ANAK DI KAMPUNG LANGGAI
 
Apakah pernah mendengar siswa yang mengeluh tentang cuaca panas, hujan, becek dan tidak ada ojek sehingga menjadikannya alasan untuk tidak pergi sekolah? Untuk satu ini belajarlah dari anak-anak di Kampung Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Jangankan becek, nyawa pun ia pertaruhkan demi dapat duduk di bangku sekolah untuk mendengarkan sang guru memberikan pelajaran.

Anak-anak yang lahir di negara yang merdeka sejak 68 tahun lalu itu, bukannya bertaruh nyawa melawan penjahat, atau monster fedofil yang saat ini sedang populer. Tapi berjuang melintasi seutas tali baja yang menggantung di atas sungai.

 

 

Di ujung April yang cerah. Pagi itu langit tampak biru. Sesekali nyanyian burung bersahutan di pohon-pohon besar di kaki bukit, seakan nyanyian itu bersahutan dengan riuh suara anal-anak sekolah di Kampung Langgai yang sedang bermain pada jam istirahat.

Di halaman sekolah, di bawah tiang bendera merah putih sekelompok anak riang bermain, berpakaian khas SD yakni celana merah dan baju putih, mereka berlarian menggunakan sandal jepit yang menempel di kaki mungilnya. Beberapa orang anak lainnnya terlihat bermain di bawah gapura SD sambil berbincang.

Layaknya gapura sebagai petanda bahwa di sana merupa­kan gedung sekolah resmi. Gapura tesebut seperti menjadi kebanggaan bagi murid-murid tersebut bahwa mereka belajar di sekolah yang dimiliki oleh pemerintah.

Beratap seng yang sedikit reot, dengan model gonjong layaknya rumah gadang. Gapura itu tertulis Dinas Pendidikan Kab Pessel. Cabang Diknas Aec Suter. SD Neg no 32 Langgai.

Raut wajah anak penerus bangsa itu terlihat polos, dan sederhana. Tak terlihat Hand­phone yang dipegangnya, tak ada mainan canggih, atau pita rambut bagi perempuan layaknya artis, dan tak ada sepatu bermerek yang sering muncul di iklan tanyangan tv. Mayoritas mereka hanya menggunakan sandal jepit ke sekolah.

Matahari sudah tepat berada di atas kepala, waktunya anak-anak pulang menuju rumah masing-masing. Sejumlah anak tampak berpegangan tangan dan saling merangkul sambil bercerita layaknya anak-anak.
Di antara mereka yang pulang adalah Abdurahman (8), kelas III beserta dua adiknya, Saiun (7), kelas II dan Shintia (6), kelas I. Mereka lalu berjalan melewati pematang sawah, dan diikuti oleh anak-anak lainnya.
Tak lama berajalan  mereka berhenti di tepian sungai, suara pecahan arus air sungai yang terbelah oleh bebatuan besar khas sungai di puncak bukit menam­bah kesan alam pegunungan. Abbul mulai melepas sendalnya ia pun memasukannya  ke dalam tas hitamnya, dan diikuti oleh adiknya.

Dengan cekatan Abdul, mulai memanjat pohon besar setinggi dua meter itu.

“Capek lah, ati-ati kayunyo licin,” ujar Abdul memberitahu adiknya dan temannya yang lain. Dengan hati-hati mereka mulai memanjat pohon itu, satu persatu tangan kecilnya mulai meraih seutas kawat baja sebesar genggaman orang dewasa. Dan kakinya mulai menapak di kawat baja yang membentang dari pohon pinggir sungai ke pohon di seberang sungai.

Perlahan mereka melangkah beringan, goyangan mulai terasa ketika mereka berada di tengah-tengah kawat baja sepanjang 10 meter itu. Terpaan angin, serta goyangan dari langkah mereka membuat wajahnya yang tadi polos tampak berubah cemas. Tangannya semakin erat meng­geng­gam, matanya tajam  meli­hat arus sungai yang menganga dan batu besar yang siap melu­mat siapa pun yang jatuh kedalamnya.

Abdul sebagai kakak terus melangkah sambil melihat kedua adiknya. Tangan kiri dan kaki kiri dilepas lalu beranjak meng­genggam kawat mengantikan langkah kaki dan tangan kanan­nya. Meski setiap hari ia lalui bersama adik dan tema-tamannya. Perasaan cemas dan tanggung jawab selalu di pikarannya.

Sesampai di ujung kawat ia bersama adik dan temanya yang lain, menuruni pohon dengan bantuan jenjang terbuat dari pohon kelapa yang sudah diberi pijakan. Hal itu sedikit memper­mudah anak-anak untuk turun.
“Awak samo adiak jo kawan lainnyo lah tiok hari lewat di siko. Kalau lewat bawah harus baranang lo dulu. Aia nyo gadang, baju jo buku wak bisa basah,” ungkap Abdul yang pernah juara dari kelas 1 hingga 2 itu.
Ia juga menjelaskan, adiknya dulu pernah jatuh saat pertama melewati kawat baja, tapi berhasil diselamatakan oleh warga yang kebetulan sedang mancing. Kejadian itu membuatnya sedikit trauma, karena sebagai kakak ia mempunyai tanggung jawab menjaga adik tercintanya.

“Waktu tu inyo pernah jatuah dek licin. wak ndak sempat manolong, untuang ado urang sedang mamanciang yang manya­lamaikan,” jelas anak yang bercita-cita jadi tentara itu.

Abdul sendiri juga pernah jatuh saat melewati kawat baja menuju sekolahnya. Karena ia bisa berenang Abdul pun berhasil selamat, namun ia tetap menuju sekolah untuk belajar dengan seragam yang basah kuyup.
Tidak hanya bahaya jatuh dari kawat yang selalu mengan­cam jiwa anak-anak Langgai itu. Kadang mereka harus menahan sakit karena tertusuk kawat kecil yang berkarat dari kawat baja yang mulai lapuk itu.
“Kadang tangan wak ko badarah kanai antak dek kawek yang manyumbua dari tali baja tu, tibo di sekolah kadang guru maagiah ubek merah,” paparnya.

Kawat tali baja sengaja dipasang karena tidak adanya jembatan yang menghubungkan 10 kepala keluarga (kk) di seberang sungai. Tali tersebut juga menjadi penghubung bagi petani untuk membawa hasil tanamnya ke pasar Surantih.

Salah seorang guru SD 32, Harapan Bunda (24) mengatakan, trasnportas seutas tali itu memang menjadi akses utama bagi masyarakat. Dengan adanya tali kawat baja itu dapat mem­batu anak-anak kampung untuk dapat mencicipi ilmu pendidikan.

Ia menambahkan, meski dapat membantu namun ada kendala jika saat hujan deras siswa banyak yang tidak dapat hadir ke sekolah, karena tali tersebut menjadi licin dan seragamnya pun tetap basah diguyur hujan.
“Kami di sini  tinggal di kampung yang jauh di tengah hutan, karena selain akses jalan yang berbatu. jika hujan deras tidak hanya murid yang hadir, guru pun tidak bisa hadir karena sering terjebak longsor, sedangkan untuk komunikasi ke luar kampung tidak bisa, karena sinyal telekomunikasi pun disini tidak ada,” ujar Harapan Bunda

Ia berharap, kepada pemerin­tah agar mendengar jeritan dan melihat kondisi masyarakat di Langgai. Karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa dan negara, ditangan mereka Indonesia berjalan kedepannya.

Hal yang senada juga disam­paikan oleh tokoh Masayarakat Surantih, Syafril T Sutan Mudo. Ia menyampaikan bahwa Langgai sangat membutuhkan perhatian terutama akses anak sekolah  yang ingin menuntut ilmu.

“Indonesia katanya sudah merdeka tapi untuk membangun jembatan untuk warga dan anak sekolah pun belum dibangun. Apa harus menunggu ada korban dulu baru bisa dibangun,” geram Syafril.

Abdul beserta adik dan temannya hanya sebagian kecil anak anak indonesai yang tersisih di negerinya sendiri. Dan indone­sia sejak di pimpin presiden Soekarno, Syafruddin Prawi­ranegara, Soeharto, Bj Habibie, Abdul Rahmanwahid, Megawati, dan sekarang Soesilo Bambang Yudhoyono. Masih terdapat potret buramnya pendidikan seolah masih berada zaman penjajahan.

Anak-anak tersebut tetap terlihat bahagia meski tidak dapat bermain dengan facebook, twitteran, game online, berka­raoke, bahkan mereka telihat alami, dan jauh dari dampak negatif teknologi. Tapi apakah mereka yang melihat kondisi tersebut senang, ketika anak-anak itu terjatuh dari jembatan hanya karena ingin menuntut ilmu dan meraih cita-citanya yang ingin menjadi pemimpin di Pesisir Selatan.

[Sumber : http://www.harianhaluan.com]

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]