GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Kamis, 07 Februari 2013

Guru dan Perubahan

 

 

Oleh RHENALD KASALI, 
Guru Besar FE UI

Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI.

Guru berpikir jauh ke d epan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya. Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka.

Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah di- isi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar. Terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas), ”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.

Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking. Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.

Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya. Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan. Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google.

Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif). Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan fisika

Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA. Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?

Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.

Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membu- at generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat ”from this, and then this …, this…, this…, and proof”. Waktu saya tanya, para penguji berkata, ”Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.”

Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak- anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya. Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.

Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang [Sumber : Kompas.com, Kamis, 7 Februari 2013]

Artikel Terkait :

5 komentar:

Jalius HR mengatakan...

RHENALD KASALI,Mungkin baru saja kembali dari Amerika, atau Eropa. Sudah biasa bagi mereka yang baru saja kembali dari amerika sepertinya pahlawan kesiangan saja. Setiap dasa warsa selalu ada tokoh yang berkoment dengan nada yang sama dengan itu.

Apa yang dia tulis pesanya hanya sederhana, yakni zaman selalu berubah. Untuk itu perlu penyesuaian diri. Bagi sekolah perlu disiapkan kurikulum baru.

Setiap generasi selalu berkomentar seperti itu, ingat masyarakat tidak bisa dikotakan seperti itu, Kita masih ingat saja Alvin Toffler tempo hari. Ceritanya mengglobal dan generalisasi. Apa realitanya seperti itu ? ternyata tidak, karena semuanya berjalan bersamaan dan berdampingan.

Guru berpikir jauh ke d epan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya.

Saya heran apa mungkin Guru bisa mengajarkan Ilmu masa depan...Siapapun gurunya sudah di pastikan yang di ajarkannya adalah Ilmu yang telah ada pada dia. Ilmu yang telah ada itu sudah pasti diperolehnya pada masa lalu.

Persoalnnya adalah bagaimana kita bisa mendesain " pesan " untuk kahalayak ramai yang bersifat Ilmiah ?
Karena persoalan pendidikan sebaiknya jangan dikemas dengan penyataan-pernyataan populer. Pernyataan populer hanya membuat orang tercengan sesaat. Ingat Di Indonesia masyarakatnya yang sangat heterogen, mulai dari yang masih primitif (sangat sederhana) sampai kepada yang serba modrn. Makanya perubahan kurikulum harus menyesuaikan diri dengan itu. Tidak bisa lansung saja mencapai generasi Internet. Artinya semua tingkat perkembngan di masyrakat Indonesia harus terlayani. Jangan kurikulum untuk jakarta disebarkan keseluruh penjuru tanah air.

Setiap Guru harus sadar akan hal itu.

Bursa Arsitektur mengatakan...

Tambahan pencerahan untuk bapak dan ibu guru dari Bpk Prof Rhenald Kasali, (copy-paste dari group "Guru Online on Facebook) sbb :

Trmksh. Sdr-sdr guru yg baik, David Waitley, dalam studinya tentang Psychology of Winning mengatakan:

"If you want to, you'll find a way. If you dont want to, you'll find excuses."

Kita sbg guru hrs siap menyongsong perubahan, membuka jalan bagi anak-anak kita. Manusia pemenang selalu menemukan solusi-solusi kreatif, sambil mengatakan " Ini memang sulit, tetapi bisa!". Sebaliknya para losers dalam literatur pschology of change ditemui sebagai "Orang yang senang menemukan kesalahan dari sebuah jalan keluar." Dan mereka selalu mengatakan, "ini bagus, tapi sulit dan tidak bisa." dan dengan cara orang kalah yg demikian, bangsa ini akan sulit untuk maju.

Bapak dan ibu yg pandai-pandai mari kita introspeksi, bahwa yang kita perjuangkan adalah masa depan anak-anak kita. Bukan argumentasi ini dan itu, tapi apa solusi kreatifnya bila kita sdh tahu masalahnya. Janganlah kita menjadi terbiasa menolak ini, menolak itu, tapi kita sesungguhnya tak mau melakukan apa-apa. Kita hanya bergunjing si A salah, Si B Bego dst. Ingat itu watak bangsa kita yg senang melakukan discouragement, senang memberi nilai jelek pada murid. Senang menyaalahkan pihak lain.

Pemerintah kita itu banyak masalahnya, buruk kelakuan biokrasinya, belum lagi eksekusinya. Kita sdh tahu banyak tidak sinkron dll. Tp, jgn dilempari batu, mari kita beri uluran tangan. Nasib pendidikan itu juga ditangan kita semua. Kl anda kecewa, sy sdh lama lebih kecewa. Tetapi sy mrmilih menolong anak-anak keluar dari perangkap yg dibuat oang-orang yg kalah, dari birokrasi yg buruk dll.

Untuk memahami masalah kita ke depan, agar baca juga analisis yg sy ulas di halaman utama koran Sindo:

http://www.seputar-indonesia.com/analystofthemonth/menuai-masalah-di-hari-esok

trmksh, slmt istirahat, smg Tuhan yg maha baik sll bersama bpk dan ibu. Wassalam, TKS

Bursa Arsitektur mengatakan...

(copy-paste dari group "Guru Online on Facebook"

Mengapa orang-orang Erasia lebih unggul...???

Mengapa orang Papua dan penduduk asli Australia masih menggunakan peralatan batu yg telah ditinggalkan ribuan tahun sebelumnya di Erasia dan sebagian besar Afrika? Padahal kandungan besi terkaya ada di Australia dan Papua memiliki tembaga terbanyak di dunia. Mengapa bukan mereka yg menjajah Eropa dan justru sebaliknya? Mengapa tak ada teknologi yg mereka temukan atau adopsi dari masyarakat tetangganya?

Apakah karena di dua daerah tersebut tidak pernah lahir orang-orang jenius macam Johannes Guttenberg, James Watt, Thomas Edison, Wright Bersaudara, dll? Apa mungkin para penemu itu kebetulan terlahir di wilayah yang sama, dan bukan di Papua atau pedalaman Australia?

Memang diperlukan orang-orang jenius berpikiran maju yg selalu berpikir utk membuat inovasi-inovasi baru agar sebuah masyarakat dapat berkembang. Tapi adanya para jenius saja tidak cukup. Pandangan alternatif menyatakan bahwa yg penting bukanlah masalah kemampuan inovasi individual, melainkan penerimaan seluruh masyarakat terhadap inovasi.

Sejumlah masyarakat nampaknya sangat kolot dan jumud cara berpikirnya. Mereka anti perubahan dan suka berpuas diri sehingga tidak memungkinkan tumbuhnya perubahan atau inovasi dan semata berpegang pada tradisi. Itu juga kesan banyak orang Barat yg mencoba membantu bangsa-bangsa Dunia Ketiga dan akhirnya malah ciut hatinya. Sebagai individu mungkin banyak yg sangat cerdas dalam sebuah lingkungan masyarakat tapi mereka tidak berdaya menghadapi skeptisme dan penolakan utk berubah dari masyarakatnya. Akhirnya ide-ide brilian dan inovasi yg ditawarkan lenyap begitu saja dan mereka tetap bertahan dalam keprimitivan mereka.

Bagaimana kita bisa menjelaskan mengapa orang-orang Aborigin di Australia gagal mengadopsi busur dan anak panah yg mereka lihat digunakan oleh para penghuni kepulauan di Selat Torres yg berniaga dengan mereka?

'Necessity is the mother of invention', kebutuhan adalah induk dari segala penemuan, katanya. Amerika menciptakan bom atom karena butuh memenangkan PD II. Jadi harus ada sesuatu yg memotivasi para jenius yg ditopang oleh kelompok masyarakatnya. Semua penemuan baru sebetulnya mengikuti penemuan sebelumnya dengan cara memperbaiki cara kerjanya atau memodifikasi cara kerja penemuan sebelumnya. Samuel Morse menemukan ciptaannya terinspirasi oleh ciptaan Joseph Henry, William Cooke, dan Charles Wheatstone, dan begitu juga penemuan-penemuan lain.

Tak ada mahluk ET yg turun dari planet lain yg membawa teknologi canggih dan tinggal di pedalaman hutan atau gunung dan kemudian mampu secara tiba-tiba mengubah sebuah masyarakat primitif menjadi masyarakat berteknologi tinggi. Perubahan tersebut terjadi secara bertahap oleh adanya orang-orang cerdas tertentu yg melakukan inovasi atas penemuan sebelumnya dan kemudian didukung oleh masyarakatnya. [Satria Dharma ]

Lihat tayangan film-nya, klik :
http://youtu.be/bgnmT-Y_rGQ

Jalius HR mengatakan...

Terima kasih Pak Zul ( Bursa Arsitektur).
Ulasan komentarnya sangat bagus. Saya sangat respek dengan apa yang disampaikan itu. Kita sama-sama mengikuti perubahan. Allah telah menciptakan berbagai kondisi setiap zaman. Jangan kan itu hari kemarin suasananya tidak sama dengan hari ini. Kita tidak bisa membantah bahwa perubahan itu memang secara " imperative " .Perubahan harus dihadapi. Tidak perlu ada istilah kolot atau jumud dalam perjalanan masa.
Persoalan yang sangat penting saya sampaikan dengan tulisan atau komentar saya bukan sekedar membantah, tapi mengajak kita untuk berfikir lebih baik dari yang ada sekarang.

Ingat di masyarakat kita sekarang sedang terjadi semacam keletihan mental. Apa sebabnya ? ya karena ulah para pemikir yang mengelola negara ini sangat banyak yang tidak tepat sasaran ( inefesiensi).

Masih ingat kah kita akan kecerobohan pengelolaan RSBI ? yang menuai banyak protes dari masyarakat ?
Sekarang saya (semua PNS di UNP)diminta lagi oleh atasan untuk mengisi data-data pribadi PNS. Bayangkan Mulai dari nama, jenis kelamin tanggal dan tempat lahir, NIP dan lain sebagaina tiap tahun diminta. Inilah satu contoh kebodaohan pengelola administrasi negara yang belum beres. Tempo hari di Media ini juga telah diposting berita tentang DAPODIK. Sekali lagi itu adalah kebodohan di bidang manajemen. data pokok seperti itu sudah ada diawal seseorang menjadi PNS kenapa harus diminta puluhan kali ?Tanya kepada semua guru apakah persoalan sertifikasi sudah bagus pengelolaannya ? Ingatkah kita kisah Mobil ESEMKA ? Kenapa tidak bisa jalan di negeri sendiri ?
Persoalan itu tidak perlu kita perpanjang, Yang penting bagi kita adalah sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mengikuti perkembangan zaman atau kemajuan teknologi, sebaiknya dibenahi prasarana (infrastruktus). Misalnya undang-undang perlu dibenahi agar setiap kemajuan atau inovasi yang diperole nyaman dipakai oleh anak negeri.Kita bangga dengan produks dalam negeri. Jangan kita maju tapi yang beruntung bangsa lain.

Itulah persoalan yang mendasar yang perlu bagus, efektif dan efisien. Kita jangan selalu serta merta mengikuti berbagai perubahan yang ide-idenya sering di cangkokan dari negara maju sana. Kebanyakan ujung-ujungnya proyek mercusuar.

Sampai hari ini Masyarakat kita selalu letih karena persoalan ADM pelayanan publik tidak efisien. Jangan kita hanya mengikuti angan-angan belaka jika faktor pendukung dari angan itu tidak memadai. Kita tidak boleh lupa hukum agama kita, mana yang wajib dan mana yang sunat. Kalau yang wajib tertinggal karena mengejar yan sunat itulah logika yang perlu di benahi.

Kata orang tua kita yang bijak " Biar lambat asal selamat ". Kita tidak perlu perpacu mengejar sebuah modernitas, jika faktor psikologis masyarakat tidak nyaman. Akan sia-sia membangun rumah permanen jika pondasinya tidak kokoh..... Kan gitu Pak Zul ?

Bursa Arsitektur mengatakan...

Benar sekali Pak Jalius.., betapapun hebatnya struktur yang ada diatasnya tidak akan ada artinya jika pondasi tidak kuat, dan betapapun kuatnya pondasi juga tidak akan menjamin keselamatan bangunan jika pondasi yang kuat itu tidak tereltak (sampai pada kedalaman) tanah keras, yaitu dengan kata lain daya dukung tanah harus sanggup menahan beban bangunan yang ada diatasnya yang diteruskan oleh pondasi ketanah keras.

Wassalam.

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]