GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Kamis, 31 Januari 2013

Sudah Siagakah Padang sebagai Daerah Rawan Tsunami?

Oleh : Indah Khoirunn Nisa
SMA Negeri 1 Padang

“Sebab  kehidupan  tidak  akan  berjalan mundur,  pun  tidak  akan  tenggelam  di masa lampau.” –Khalil Gibran

Bencana  tsunami yang melu­luh­lantakkan  ranah  serambi Mekkah  se­kitar 8  tahun  lalu menyisakan  ketakutan  yang  mendalam  bagi  masyarakat  Kota  Padang    dan  sekitarnya. Bagaimana  tidak,  bencana  yang  telah merenggut  170.000  jiwa  tanpa memandang  gender, usia,  pekerjaan,  serta  kedudukan  sosial masyarakat  di  sana  ternyata  juga  berpeluang  untuk menimpa  Kota  Padang  dan  sekitarnya  mengingat  letak  geografis  Kota  Bengkoang  ini. Menurut  http://id.wikipedia.org, Kota  Padang  terletak  di  pantai  barat  Sumatera  yang berbatasan  langsung  dengan  laut  terbuka  (Samudera Hindia)  dan  zona  tumbukan  aktif  dua lem­peng. Keadaan  tersebut men­ja­dikan  kota  ini  sebagai  salah  satu  kota  yang  paling  rawan tsunami.

Seperti  salah  satu  kutipan  dari  Khalil  Gibran  yang  saya  tulis  di  atas,  kehidupan harusnya  berjalan  maju  dan  menjadi  lebih  baik  dari  masa  lalu.  Baik  masa  lalu  itu  cerah ataupun  kelam,  sudah  sepatutnya  kita  men­jadikan  masa  lalu  sebagai  pelajaran  un­tuk menghadapi masa  yang  akan  datang. Dengan  begitu, masa  depan  takkan menjadi  hal  yang menakutkan karena kita sudah siap dengan bekal pengalaman dan ilmu pengetahuan. Banyaknya korban  jiwa  pada  tsunami  Aceh  2006  lalu  dipicu  oleh  keti­dak­tahuan masyarakat di  sana akan apa  itu tsunami. Hal  ini menyebabkan  tidak  siaganya masyarakat dalam mengahadapi bencana  tersebut. Se­hing­ga yang  terjadi saat  tsunami me­nerjang  tempat tinggal mereka ha­nya­lah kepanikan dan ketakutan yang tidak terarah. 

 

 

Apakah pelajaran  yang  dapat kita  ambil dari kejadian  tersebut? Apakah masyarakat dan  pemerintah  Kota  Padang  telah  menyadarinya?  Adakah  tindakan  persiapan  yang dilakukan masyarakat  dan  pemerintah Kota  Padang  dalam menghadapi  tsunami? Apa  saja tindakan  yang  telah  dila­kukan?  Apakah  masyarakat  Kota  Padang  telah  siap  dan  siaga terhadap  bencana  ini? Apakah  poin  penting  yang  harus  diperhatikan  oleh ma­sya­rakat  serta pemerintah Kota Padang da­lam mewujudkan ranah minang yang kita cintai  ini sebagai kota siaga tsunami?

Pelajaran  yang  dapat  kita  ambil  dari  peristiwa  naas  tsunami Aceh  adalah  kesiagaan masyarakat  terhadap  bencana  khususnya  tsunami  yang  harus  mulai  kita  bangun sedikit  demi  sedikit.  Apabila  kita  amati  lingkungan  sekitar  kita  pasca  tragedi  ter­se­but,mungkin  akan  sangat  jelas  ter­lihat  usaha  pemerintah  dan  ma­sya­rakat  Kota  Padang  dan sekitarnya dalam mempersiapkan diri meng­ha­dapi tsunami. Usaha-usaha tersebut antara lain seperti  simulasi  gempa  dan  tsunami  yang  diadakan  di  beberapa  sekolah  dasar,  sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, pembangunan gedung-gedung  tahan gempa dan ber-shelter, serta sosia­li­sasi-sosialisasi yang diadakan oleh Pem­ko Padang dan beberapa LSM yang ada. Setiap usaha di atas tentunya memiliki  tujuan yaitu  terciptanya kesiagaan di dalam lingkungan ma­syara­kat Kota Padang. 

Sayangnya,  sebagai  masyarakat  kita  masih  merasakan  ketakutan  di  tengah-tengah lingkungan pergaulan kita. Kepanikan dan ketakutan yang tak terarah masih sering terjadi di saat ranah minang  ini diguncang gempa-gempa kecil akibat aktifitas pergerakan  lempeng di sepanjang pantai barat Sumatera. Apabila situasi seperti  ini  tidak dirubah, efek yang  terjadi apabila benar-benar terjadi tsunami akan menjadi sangat fatal. Sesempurna apapun persiapan yang telah dilakukan oleh pemerintah dan LSM di Kota Padang ini apabila masyarakat masih belum mampu mengendalikan  kepa­ni­kan  dan  ketakutan  di  dalam  diri mereka  sendiri  kita masih belum bisa mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Siaga Tsunami. Inilah saatnya bagi kita  untuk  bersama-sama  mulai  me­ngin­tro­speksi  diri  dan  menyiapkan  diri  dari  hal  yang paling kecil.

Kondisi mental masyarakat men­jadi poin penting yang harus kita garis bawahi dalam mewujudkan Kota Pa­dang sebagai Kota Siaga Tsunami. Apa­bila kita mempersiapkan mental ma­sya­rakat menjadi  siap dan  siaga maka bukan menjadi hal yang  sulit  lagi bagi kita untuk menghadapi  ancaman  Tsunami.  Bagaimanakah  caranya?  Lang­kah  pertama  adalah peningkatan ke­sia­gaan Pemerintah Kota Padang dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada dalam menghadapi  bencana  ini. Mereka  sebagai  pemimpin masyarakat  bertanggung  jawab untuk mengimbau  dan mengarahkan masyarakat  secara  luas.  Edukasi mengenai  tsunami kepada masyarakat secara luas sangat perlu untuk dilakukan. Memang hal ini telah diterapkan sebelumnya,  akan  tetapi  pelaksanaan  yang  kurang menjangkau  seluruh  lapisan ma­sya­rakat menyebabkan masih kurangnya pengetahuan mengenai tsunami di tengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat kalangan bawah. Apabila seluruh lapisan masyarakat telah memahami dan mengerti  tentang  seluk  beluk  bencana  tsunami maka  upaya  kita  dalam meminimalisir kerugian harta maupun nyawa saat terjadi tsunami dapat berhasil kita lakukan.

Langkah  kedua  adalah  pening­ka­tan  kesiagaan  masyarakat  Kota  Pa­dang  dalam menghadapi ancaman tsunami. Dengan adanya langkah yang dilakukan oleh pemerintah dan LSM,  masyarakat  juga  harus  mengikutinya.  Kepanikan  serta  ketakutan  massal  akan  jauh lebih mudah diminimalisir apabila antar masyarakat dapat me­n­e­nangkan satu sama lainnya di saat  ter­jadi  bencana.  Sehingga  kerusuhan-ke­rusuhan  yang  sering  terjadi  selama  ini  seperti kemacetan, kebakaran ataupun penjarahan yang  terjadi saat gempa-gempa sebelum  ini  tidak akan  terulangi  lagi  di  masa  yang  akan  datang.  Hal  yang  paling  penting  saat  terjadinya bencana adalah kerja sama antar masyarakat dalam meng­hada­pi­nya. Ini akan jauh membantu diban­di­ngkan  hanya  mengutamakan  kese­la­matan  diri  sendiri  saja.  Oleh  karena  itu  peran masyarakat  tidak boleh kita  le­watkan dalam usaha mewujudkan Ko­ta Padang  sebagai Kota Siaga Tsunami.

Apabila kita  telah me­nyem­pur­na­kan pelaksanaan kedua  langkah yang  saya  sebutkan di  atas, maka  tidak  ada  lagi  rintangan  bagi  ranah minang  ini  untuk  bersiaga menghadapi ancaman bencana tsunami. Dapat kita sim­pul­kan bahwa adanya kooperasi antara Pemerintah, LSM, dan masyarakat Kota Padang merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan Kota  Padang  sebagai Kota  Siaga Tsunami. Apakah  anda  telah mela­ku­kan­nya?  Jika  belum, marilah  kita  berjabat  tangan  membangun  kekuatan  dalam  menghadapi  ancaman  bencana tsunami.  Jika  sudah,  lanjutkan  dan  jangan  pernah  bosan  untuk me­la­kukannya.  Jika  bukan kita, siapa lagi yang mampu melindungi ranah mi­nang ini dan masa depannya?

[Sumber : Padang Ekspres • Rabu, 30/01/2013]

1 komentar:

Bursa Arsitektur mengatakan...

Menurut Indah Khoirunn Nisa (Guru SMA Negeri 1 Padang) "Kesiagaan Padang Sebagai Daerah rawan Tsunami" dalam artikel diatas adalah sbb:

Lang­kah pertama :
Menghimbau dan mengarahkan masyarakat secara luas untuk mensosialisaikan atau melakukan edukasi mengenai tsunami kepada masyarakat luas untuk memahami dan mengerti tentang seluk beluk bencana tsunami dalam upaya kita dalam meminimalisir kerugian harta maupun nyawa saat terjadi tsunami dapat berhasil kita lakukan.

Langkah kedua :
Pening­ka­tan kesiagaan masyarakat Kota Pa­dang menghadapi ancaman tsunami yang harus diikuti oleh masyarakat dan LSM, sehingga kepanikan serta ketakutan massal akan jauh lebih mudah diminimalisir apabila antar masyarakat dapat me­n­e­nangkan satu sama lainnya di saat ter­jadi bencana. Sehingga kerusuhan-ke­rusuhan yang sering terjadi selama ini seperti kemacetan, kebakaran ataupun penjarahan yang terjadi saat gempa-gempa sebelum ini tidak akan terulangi lagi di masa yang akan datang. Hal yang paling penting saat terjadinya bencana adalah kerja sama antar masyarakat dalam meng­hada­pi­nya. Ini akan jauh membantu diban­di­ngkan hanya mengutamakan kese­la­matan diri sendiri saja. Oleh karena itu peran masyarakat tidak boleh kita le­watkan dalam usaha mewujudkan Ko­ta Padang sebagai Kota Siaga Tsunami.
-----------------------

Komentar saya :
Kenapa tidak mungusul dan berfikir serta bertindak aplikatif dan praktis saja, yaitu :

[1] Membangunn "dinding laut atau seawall", agar masyarakat terutama sekali para investor di Kota Padang memiliki rasa aman, selain keselamatan nyawa dan juga harta benda investasi-investasi yang telah mereka tanamkan di kota ini. Untuk membangun dinding laut (seawall) ini sudah barang tentu memakan biaya yang sangat mahal, tapi apabila pemko Padang berniat dan memprogramkan pembangunan dinding laut ini mulai program pembangunan jangka panjang dan jangka pendek. Untuk program jangka pendek adalah mendahulukan daerah-daerah padat dan strategis seperti Bandara BIM, Kampus-kamapus atau sekolah yang teletak di pinggir pantai. dll. terlebih dahulu.
Himbauan ini telah dimulai oleh sebahagian masyarakat di facebook; http://www.facebook.com/groups/forumdindinglaut/ tinggal lagi komitmen serta baigmana pemko Padang (kalau dapat berkolaborasi dengan pemko/pemkab sepanjang pantai barat Sumatera Barat) memprogramkan dan mencari dana. Dinding laut yang direncanakan tsb selain sebagai bangunan yang dapat mencegah hantaman gelombang tsunami juga diatasnya di programkan sebagai jalan tool, jalan kerata api, serta utilitas kota seperti instalasi air minum dan jarinagn listrik serta jaringan telepon. Nah.., disinilah kejelian dan kompetensi pemko diminta untuk mencari investor (dalam atau luar negeri) untuk membangun jalan tool/KA dari Painan sampai ke Pasaman Barat.

[2] Membangun "masjid-shelter tsunami" setiap 300 orang penduduk dibangun 1 unit "masjid-shelter tsunami", dan setiap 1 sekolah dibangun 1 masjid-shelter tsunami baru atau dengan rebuild atau remodelling bangunan masjid atau mushalla. yang sudah ada.
Dalam rangka membantu masyarakat, saya sudah sediakan sebuah pra rencana (ide awal perencanaan) "Masjid-Shelter Tsunami" klik; http://bursa-arsitektur.blogspot.com/2012/06/disain-masjid-type-ps-03ms.html yang dapat dikembangkan perencanaannya seperti merencanakan struktur harus tahan gempa dan merencanakan "pondasi sistim seismic base isolator" seperti pada bangunan "escape building" di kantor gubernur (baca informasinya klik http://arsitektur2day.blogspot.com/2013/01/escape-building-di-gubernuran-sumatera.html

Apapun bentuk sosialisasi tentang pemahaman serta pengetahuan tentang gempa dan tsunami ataupun simulasi atau latihan-latihan penyelamatan diri dilaksanakan disekolah dan ke masyarakat, tidak akan berguna apa-apa disaat gempa dan tsunami itu benar-benar tiba, mau lari kemana jika bangunan "Shelter Tsunami" tidak disediakan...?

Mohon maaf, wassalam
Zulfikri.

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]