GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Sabtu, 05 Januari 2013

Orang Tua dan Pendidikan Karakter

Oleh : DONNY SYOFYAN
(Dosen FIB Universitas Andalas)

 

 

Salah satu wacana yang terus menge­muka dalam dunia pendidikan kita de­wasa ini adalah per­soalan penting tidak­nya pendidikan karakter di lembaga pendidikan kita, tak terkecuali di perguruan tinggi. Zulprianto, rekan penulis di FIB Unand, menilai bahwa  menyerahkan tanggung jawab pendidikan karakter ke seko­lah juga kurang tepat. Sekolah harus dipahami sebagai se­buah pranata artifisial dan purposif yang memiliki keter­batasan, semisal jam sekolah dan rasio guru dengan murid.

Karenanya, mengondisikan anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktu mereka sehari-hari di pranata-pranata pendidikan juga kurang bijak. Karena hal itu relatif sama dengan membiarkan mereka hidup secara ‘artifisial’ dan kurang membumi (down to earth). 

Ini selalu menarik untuk ditelaah karena pendidikan tak akan terlepas dari bimbi­ngan awal orang tua. Kerja sama antara orang tua dan guru dalam pendidikan gene­rasi muda memang lebih gampang diucapkan daripada dijalankan. Keluhan yang kerap muncul adalah bahwa orang tua kerap tidak menge­tahui secara baik prinsip ini atau memang enggan meme­nuhi peran mereka tersebut. Mengirim anak-anak ke seko­lah bagi kebanyakan orang tua menjadikan mereka berangga­pan bahwa di saat itu pendi­dikan menjadi tanggung jawab sekolah dan guru.

Pandangan orang tua se­per­ti kentara sekali di sekolah-sekolah dengan biaya yang mahal. Di sini banyak mereka beranggapan bahwa, “Saya sudah membayar mahal Anda. Sekarang lakukan pekerjaan Anda dengan benar dan ber­henti mengeluh kepada orang tua.”

Kebanyakan guru merasa ‘sakit hati’ dengan sikap orang tua murid seperti ini. Mereka merasa bahwa keberadaan guru sekadar instrumen bela­ka dalam mekanisme pendidi­kan. Guru, bagaimanapun juga harus dibayar atau digaji, dan tidak boleh hanya dipandang sebagai instrumen dalam proses pendidikan. Guru bersama-sama orang tua harus berperan sebagai wali anak-anak. Mereka harus dilihat sebagai mitra dari orang tua, dan bukan instru­men dari sekolah dan orang tua.

Sayangnya banyak orang tua yang tidak menganggap serius tugas dan peran mere­ka. Tindakan orang tua untuk mengirim anak-anak ke TK pada usia yang sangat dini menjadi bukti kecenderungan demikian. Seolah-olah para orang tua ini ingin menying­kirkan peran mereka sebagai pendidik sedini mungkin.
Orangtua seperti itu melu­pa­kan bahwa peran penga­suhan bukan sekadar melahirkan anak, seperti ditunjukkan oleh kata-kata Latin parentem (orang yang melahirkan) dan parere (yang melahirkan).
Peranan serius orang tua sebetulnya terletak pada upaya membimbing anak-anak dalam pertumbuhan menuju masa dewasa, memandu me­re­ka ke tahap di mana anak-anak mampu membuat kepu­tu­san moral tentang diri sendiri dan bertanggung jawab dengan keputusan tersebut.

Banyak bukti menunjuk­kan bahwa kiprah orang tua dalam mendidik anak-anak menentukan kualitas generasi muda yang dihasilkannya. Hal ini amat terlihat dalam pertumbuhan afektif anak-anak. Setiap kali orang tua dan guru bekerja sama dalam menanamkan nilai-nilai pada anak-anak, maka kematangan anak-anak dalam ihwal este­tika, sosial, dan etika dengan mudah akan tercapai tanpa kendala yang berarti. Sebalik­nya ketika kerja sama tersebut kurang atau hilang, kedewa­saan anak dalam memahami dan menghormati norma-norma sosial, etika, dan estetika jauh ketinggalan dan hanya tercapai setelah anak-anak mengalami kesusahan dan penderitaan, atau boleh jadi tidak pernah dicapai sama sekali.

Para pengamat mengata­kan bahwa di kota besar dan masyarakat perkotaan hubu­ngan antara orang tua dan guru hanyalah salah satu instrumentalisme pendidikan. Tetapi dalam masyarakat pedesaan, hubungan orang tua dan guru adalah persoalan kemitraan, tidak peduli sebe­rapapun kecilnya relasi terse­but. Masalahnya di sini adalah bagaimana membuat orang tua menyadari peran mereka dalam mendidik anak mereka dan bagaimana mem­buat mereka bersedia untuk memenuhi peran ini. Tetapi karena dalam banyak rumah tangga ayah dan ibu harus bekerja, lalu apa yang bisa dilakukan? Orang tua dalam setiap keluarga harus menye­suaikan dan mencari jawaban mereka sendiri.

Ada sebuah prinsip umum. Dalam keterbatasan waktu yang ada, orangtua harus menunjukkan kasih sayang mereka yang mendalam dan minat yang tulus pada kese­jah­teraan dan masa depan anak-anak mereka. Ini harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan anak-anak pada berbagai tahap perkembangan. Menunjukkan minat dan kasih sayang kepada anak berusia lima tahun adalah satu hal, tetapi memainkan pola pendi­dikan untuk anak-anak remaja berusia 18 atau 20 merupakan masalah yang sangat berbeda. Ini berarti bahwa orang tua seharusnya tidak boleh sepe­nuh­nya menghabiskan waktu mereka ke dalam urusan pribadi semata. Ambisi karir seyogianya bukanlah alasan untuk mengabaikan visi pem­bentukan anak-anak sebagai pemilik masa depan. Ini men­jadi penting bagi orangtua. Ketika kita menjadi seorang ayah dan ibu, kita harus selalu ingat bahwa kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri. Pada akhirnya, kita juga hidup untuk anak-anak kita, ter­utama selama tahap awal pertumbuhan mereka.

Ada dua masalah di sini. Pertama, apakah semua orang tua memiliki ambisi dan visi yang terang berkaitan dengan masa depan anak-anak mere­ka? Kedua, apakah ambisi dan visi tersebut dibangun oleh anak-anak atau justru me­wakili ambisi orang tua saja? Kurangnya visi dan ambisi bagi masa depan anak-anak merupakan sebentuk keego­isan orang tua. Penetapan ambisi orang tua secara kental pada anak-anak disebut eks­tensi ego (ego-extension), yang juga setali tiga uang dengan egoisme. Orang tua yang egois seharusnya tidak menyalah­kan guru jika anak-anak mereka gagal memenuhi hara­pan mereka. Mereka hanya perlu menyalahkan diri mere­ka sendiri. Hanya ketika orang tua dan guru menjalan­kan peran masing-masing dalam pendidikan maka ge­nerasi muda akan menjadi bagian penting pada zaman mereka. Wallahualam.

[Sumber : http://www.harianhaluan.com]
-->

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]