GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Selasa, 02 Oktober 2012

Guru Perlu Motivasi dan Supervisor Edukatif

Oleh : ZULKARNAINI DIRAN
 

 

 

Di suatu sekolah, guru-guru bekerja ceria. Mereka berjalan ke depan kelas penuh percaya diri. Ia beranjak dari tempat duduk ke kantornya, menuju ruang kelas, lima menit sebelum lonceng masuk berbunyi. Ketika keluar dari kelas, terlihat di wajahnya kepuasan yang mengandung sejuta makna. Hampir semua guru melakukan itu, kegai­rahan, semangat, dan op­timistis penuh pengabdian, bersarang di dada dan dalam nurani guru-gurunya.

Di sekolah lain, wajah guru-gurunya selalu diselimuti awan mendung. Guru tegang, resah, dan gelisah. Nyaris penuh ketakutan. Pada saat tertentu, sudah lima sampai sepuluh menit lonceng ber­bunyi, mereka masih dibuai oleh berbagai kegiatan di kantor.

Rasa berat meng­angkat pinggulnya berangkat dari kursi, ia berjalan ke ruang kelas dengan rasa gelisah. Rasa susah, rasa pesimis, bahkan nyaris rasa malas bergelantungan di sanu­ba­rinya. Bagaikan rasa tak suka dan tak senang dengan profesi, ia tetap memaksakan diri menuju ruangan yang dipenuhi siswa itu.

Apa yang terjadi dengan kedua ilustrasi itu? Guru-guru dengan penetapan gaji yang sama dengan standar peng­hasilan yang sama, dengan surat keputusan pengangkatan yang  sama, tetapi berbeda dalam tindak dan tingkah laku melaksanakan tugas. Apa yang terjadi, ada apa gerangan?

Agaknya ilustrasi tersebut bukan mengada-ada. Kedua peristiwa tersebut dapat disimak, dapat diamati, dan dapat direkam, jika kita mau memusatkan perhatian ter­hadap perilaku guru di se­kolah. Akan lebih menarik dan lebih akurat hasilnya, jika dilakukan penelitian ilmiah tentang perilaku guru itu. Sekurang-kurangnya, dengan penelitian, beberapa fenomena psikologis tentang perilaku guru di sekolah akan dapat diungkapkan. Jika pula, pe­neilitian itu dimaksudkan untuk pengambilan kebijakan dalam pembinaan pendidik ini, tentulah hasilnya akan sangat bermanfaat.

Ilustrasi kontras itu agak­nya dilatarbelakangi oleh banyak hal. Salah satu di antaranya adalah motivasi. Jika mereka digaji dengan standar serta peraturan gaji yang sama, berarti gaji bu­kanlah satu-satunya motivasi. Jika tingkat kehidupan eko­nominya sama, tetapi perilaku mengajar dan tindak per­buatannya di sekolah ber­beda, berarti kehidupan ekonomi rumah tangga bukanlah satu-satunya daya dorong untuk melakukan tugas dengan baik.

Jika naik pengkat dan golongan juga sekali empat tahun, atau mungkin dua tahun dengan “angka kredit”, sama-sama berlaku pada guru dalam ilustrasi itu, berarti pula pangkat dan golongan bukanlah satu-satu­nya motivasi. Dan apa yang diperlukan oleh guru? Me­ngapa yang lain bergairah dan yang lain tidak?

Suasana suatu sekolah, agaknya berpengaruh tehadap pelaksanaan tugas guru. Ba­nyak faktor yang mem­pe­ngaruhi susana itu. Suasana adalah kombinasi  dari kea­daan  individu dan suasana hati tiap personal. Suasana yang diciptakan oleh gabungan suasana tiap individu itu berpengaruh terhadap suasana sehari-hari di lingkungan kerja. Jika dikaitkan dengan komunikasi,  agaknya komu­nikasi vertikal dan komu­nikasi horizontal dalam ling­kungan kerja memang sangat berpengaruh.

Komunikasi vertikal an­tara guru dengan unsur pim­pinan sekolah sangat ber­pengaruh dalam menciptakan suasana. Kekakuan akan timbul bila komunikasi ter­sebut timbul dalam keadaan kaku. Kepala Sekolah yang amat otoriter, amat me­nunjukan kekuasaannya, akan berbeda suasana yang ditim­bulkannya dengan kepala sekolah familiar, kepala seko­lah yang bersahabat, dan kepala sekolah yang de­mok­ratis. Ada memang, kepala sekolah yang selalu me­ngob­ral perintah dan instruksi terus menerus. Ini harus begitu, itu harus begini. Pe­rintah datang dari atas, guru tidak pernah dilibatkan untuk menbambil kebijakan, guru tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, guru hanya sebagai pelaksana yang harus dan harus melak­sa­nakan semua perintah kepala sekolah. Hal ini barangkali akan membuat suasana lain  di sekolah tertentu.

Sementara itu, cukup banyak kepala sekolah yang suka bermusyawarah. Mes­kipun sang kepala sekolah dapat memtuskan sendiri, karena memang dia adalah pengambil keputusan, namun beberapa orang guru, atau seluruh guru ia libatkan da­lam pengambilan keputusan itu. Faktor kebersamaan dalam melaksanakan tugas menjadi standar pengambilan keputusan. Hal ini melahirkan suasana yang jauh berbeda dengan karakteristik pimpinan pada tipe pertama tadi.

Jika memang suasana dapat dijadikan salah satu bentuk motivasi kegairahan guru dalam melaksnakan tugasnya, mengapa kepala sekolah tidak memanfaatkan itu untuk pelaksanaan tugas­nya? Agaknya hal ini perlu menjadi renungan bagi sekolah dalam tipe kedua pada ilus­trasi di atas.

Kepastian dalam karir, juga berpengaruh kepada suasan guru dalam melak­sanakan tugas. Kepastian karir itu juga bergantung kepada sistem penilaian dan operasional penilaian kepala sekolah. Di daerah ini ternyata cukup banyak guru yang po­tensial, guru yang me­lak­snakan tugas dengan baik dan benar. Akan tetapi, guru-guru yang seperti itu sering luput dari perhatian kepala sekolah. Oleh karena, guru-guru yang menjalankan tugas dengan baik dan benar, biasanya enggan “menjilat”, enggan melaksanakan “akting yang berlebihan”, apalagi untuk “angkek talua” kepada atasan.

Sepanjang kurun dan wak­tu ia melaksanakan tugas dengan baik. Sepanjang hari ia berfikir dalam tugasnya, anak-anak suka kepadanya, pelajaran yang dianggap sulit selama ini, mudah sampai ditangannya. Akan tetapi karena sering luput dari per­hatian kepala sekolah, mereka akhirnya menjadi frustasi, kegairahan ber­kurang, dan dirinya merasa tak perlu berbuat lebih dari yang lain. Arti kesungguh-sungguhannya tidak mendapat tempat di hati kepala sekolah. Tidak ada jalan lain, hanya bertugas apa adanya, bak orang upahan yang menerima gaji dengan pekerjaan rutin setiap hari.

Kepastian karir bagi seo­rang guru memang amat diperlukan. Oleh karena di dalam hidup mungkin hanya dua hal yang sangat dibu­tuhkan oleh seorang pegawai negeri. Pertama mendapatkan gaji dari pekerjaan, kedua pengembangan karir dan prestasinya. Jika timpang salah satu, berarti mo­ti­vasinya pudar, motivasinya hilang secara bertahap. Aki­batnya adalah seperti yang terjadi pada ilustrasi kedua itu. Lesu, kurang gairah, dan tidak bersemangat untuk lebih baik. Toh, baik dan buruk sama saja di mata atasan.

Pada sisi lain, tidak se­dikit pula  guru yang me­mahami bidang tugasnya. Terutama mereka yang tidak mampu mengikuti per­kem­bangan terbaru, perkembangan di dunia pendidikan, baik yang berhubungan dengan metode dan teknik, maupun yang berhubungan dengan disiplin ilmunya. Kegairahannya ber­kurang karena merasa selalu tertinggal, merasa tidak mam­pu mengaktualisasikan diri mereka dihadapan anak didik, dihadapan rekan-rekan lain. Di samping kenyataan itu, kepala sekolah sebagai pim­pinan sibuk kerjanya, asyik dengan dirinya. Hal yang seperti ini tidak jarang mem­buat kehancuran guru dalam melaksanakan tugas­nya.

Dalam kondisi sekarang, mungkin yang akan datang, guru mebutuhkan motivasi dan pembinaan yang intensif. Motivasi yang dibutuhkan , bukannya penghasilan yang berkaitan dengan ekonomi, tetapi penghargaan atas hail kerjanya. Bukan hanya gaji yang dibuthkan guru, tetapi perhatian atas pekerjaan yang ia lakukan. Sedangkan pembinaan terus menerus sepanjang waktu merupakan bentuk motivasi lain dalam pelaksanaan tugas guru.

Pembinaan itu dapat dila­kukan dalam bentuk pem­berian informasi baru, infor­masi yang aktual tentang perkembangan pendidikan dan perkembangan pe­ngetahuan. Hal yang seperti ini, pertama-tama hanya kepala seko­lahlah yang melakukannya. Kepala sekolah yang di­ha­rapkan melakukannya. Mi­salnya, informasi dari jajaran atas, dari Kantor Dinas Pen­didikan, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tidak hanya dibiarkan meng­endap dalam arsip kantor kepala sekolah, tetapi in­formasi yang berhubungan dengan perkembangan itu seyogyianya dikomunikasikan oleh kepala sekolah kepada guru-gurunya.

Pembinaan lain adalah pembinaan profesional. Pem­binaan dalam bidang profesi keguruan, profesi ke­pen­di­dikan. Guru membutuhkan, itu terus menerus. Peranan su­pervisi agaknya amat penting. Penataran tingkat sekolah dari kepala sekolah untuk guru atau dari guru untuk guru, agaknya merupakan bentuk operasional dari pem­binaan itu. Tetapi adakah kepala sekolah yang mengarifi hal-hal seperti itu? Ini per­tanyaan yang memerlukan jawaban melalui penelitian.

Dalam situasi yang seperti sekarang, mungkin akan da­tang, guru memerlukan su­pervisor yang benar-benar menguasai bidangnya. Duru memerlukan kepala sekolah yang berwawasan luas, me­merlukan pengawas sekolah yang berpengetahuan luas dalam bidangnya. Akan tetapi apakah supervisor yang di­angkat dengan jabatan fung­sional itu memiliki kom­petensi demikian. Ini pun agaknya memerlukan pe­nelitian untuk menjawabnya. Agaknya. [Sumber : http://www.harianhaluan.com/]
-->

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]