GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Senin, 02 April 2012

MEMBUAT GURU SEPINTAR GOOGLE






Saya sendiri tidak habis pikir, mengapa negeri yang dihuni lebih dari 220 Juta anak manusia ini, tidak mampu menyisakan 1 ( satu ) persen saja dari jumlah penduduknya untuk menjadi guru-guru profesional?

Meskipun menurut beberapa pakar bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan nasional bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sebenarnya masalah utama dalam problematika pendidikan Indonesia terletak pada ketidaktersediaan tenaga pendidik yang profesional.

Tentu kita tidak dapat membantah bahwa sarana pendidikan seperti gedung, alat-alat praktikum, buku, sistem informasi, dan sarana penunjang lainnya juga merupakan penentu bagi keberhasilan dan kemajuan pendidikan, namun sebenarnya dalam batasan sederhana bisa disiasati jika negara ini memiliki guru-guru profesional.

Hanya saja, jumlah guru ‘professional’ di Indonesia masih sedikit bila dibandingkan dengan kebutuhan sekolah-sekolah yang bertebaran di seluruh pelosok nusantara. Saya sendiri tidak habis pikir, mengapa negeri yang dihuni lebih dari 220 Juta anak manusia ini, tidak mampu menyisakan 1 ( satu ) persen saja dari jumlah penduduknya untuk menjadi guru-guru profesional? Apa karena kualitas kecerdasan manusia Indonesia di bawah rata-rata kecerdasan bangsa lain? Atau mungkin ada yang sakit dalam tubuh negara ini sehingga sulit melahirkan manusia yang bisa dijadikan guru profesional? Sulit untuk menjawabnya, sesulit menyediakan guru profesional tadi.

Ada banyak hal yang harus diperiksa ketika kita hendak men-diagnosa penyakit kelangkaan guru profesional di negeri ini. Persoalannya begitu kompleks, yakni tidak hanya bergema dalam ranah pendidikan semata, tetapi juga pada bidang lain seperti bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, atau bidang lainnya, yang secara langsung atau tidak langsung memberi dampak positif-negatif terhadap bidang pendidikan.

Bidang-bidang tersebut pula yang memberi umpan balik ( feed back ) terhadap bidang pendidikan. Misalnya dalam penyakit sosial seperi tindak pidana korupsi, peran pendidikan sangat besar dalam membentengi anak bangsa untuk tidak berbuat tindakan amoral seperti itu.

Sayangnya, dalam konteks Indonesia, pendidikan yang seyogianya menjadi tembok penahan untuk meminimalisir munculnya masalah-masalah sosial seperti korupsi, malah menjadi bidang yang paling besar dizalimi oleh korupsi. Ibarat software anti-virus, tadinya diharapkan menjadi penjinak bagi virus yang menggerogoti, malah menjadi salah satu korban keganasan virus yang dijinakkannya.

Melahirkan Guru Profesional Secara sederhana, persoalan guru, khususnya guru profesional, dapat dijawab dengan tiga kata kunci utama yaitu (1) sistem, (2) kesejahteraan, dan (3) kewenangan peran. Sistem di sini terdiri dari tiga sub, yaitu sistem pendidikan guru Indonesia (pre-service), sistem seleksi guru, dan juga sistem peningkatan mutu guru (in-service).
Sedangkan kesejahteraan lebih cenderung kepada gaji (saya ngilu menyebut upah) yang selaras dengan profesi guru.

Kewenangan peran dapat diterjemahkan dengan ketersediaan ruang, waktu, kesempatan serta pengakuan bagi profesi guru dalam menentukan jalur mana yang paling baik untuk ditempuh dalam melaksanakan proses pendidikan.Diakui atau tidak, lemahnya sistem pendidikan guru Indonesia mulai dari zaman Kweekschool hingga FKIP/FIP seperti sekarang ini menjadi salah satu penyebab sulitnya memajukan pendidikan negeri ini. Tidak perlu berkisah Kweekschool dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) atau jenis LPTK lainnya, untuk LPTK sekarang saja seperti FKIP, kurikulum dan proses pembelajaran yang berjalan masih jauh dari yang diharapkan.

Mungkin pembaca tidak bisa percaya bagaimana LPTK di Aceh seperti FKIP Unsyiah hingga saat ini masih mengernyitkan dahi kalau dikait-kaitkan dengan label LPTK bermutu. Bagaimana tidak, relevansi antara rancangan kurikulum yang disusun dengan impelementasi isi kurikulum dilapangan saja masih membingungkan. Belum lagi soal evaluasi dan penilaian pendidikan yang hingga sekarang masih begitu longgar, dimana hal ini sangat berpengaruh bagi pengendalian lulusan yang unggul dan berkompeten.

Begitu juga halnya dengan seleksi CPNS untuk formasi guru yang selama ini diterapkan. Ujian tulis seakan-akan menjadi lisensi bagi terjaringnya manusia-manusia baru yang potensial menjadi guru profesional. Seolah-olah tidak ada suatu kesadaran bahwa kualifikasi guru tidak sebatas pada kepemilikan kapasitas keilmuan dibidangnya, namun juga wajib memiliki keterampilan mentransfer ilmu pengetahuan, keahlian mendidik, kepatutan dan kelayakan untuk diteladani, dan lain sebagainya, yang semua itu tidak dapat diwakili lewat ujian tulis semata.

Sedangkan pada tahapan peningkatan kualitas guru, yang sebenarnya perlu dilakukan secara intensif adalah men-diagnosa kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh guru untuk kemudian diberi resep yang sesuai. Caranya adalah dengan memperbanyak riset atau penelitian terpadu yang dapat dipelopori oleh insan-insan yang memiliki kapasitas yang besar di bidang pendidikan. Sayangnya, mengutip kata ekonom Faisal Basri, negeri ini ‘kikir riset’.

Yang selama ini sering dilakukan di daerah-daerah adalah pengikutsertaan guru dalam beragam seminar, pelatihan, penataran dan sejenisnya berkenaan dengan pendidikan, yang kebanyakan minim sekali kontribusinya bagi peningkatan profesionalisme guru.

Bahkan kadang-kadang kegiatannya sering berjalan hura-hura saja sebagai sebuah formalisasi program, yang kemudian disimpulkan dengan pemberian tanda keikutsertaan berupa sertifikat, cinderamata, dan bahkan uang saku.Kita tentunya sepakat bahwa kegiatan semacam itu perlu terus diprogramkan, setidaknya untuk tujuan meningkatkan wawasan para guru. Namun demikian, semestinya peningkatan profesionalisme guru perlu di-titik-berat-kan pada pengembangan penguasaan terhadap materi bidang studi yang ditekuninya. Selebihnya adalah dengan memotivasi sekaligus memfasilitasi guru untuk bisa tampil mandiri dalam menekuni profesinya.

Upaya selanjutnya, mungkin menjadi yang paling penting, adalah berkenaan dengan kesejahteraan guru. Meskipun masih bisa diperdebatkan, namun besar kemungkinan bahwa kurangnya minat manusia cerdas Indonesia terhadap profesi guru adalah lantaran dihadapkan dengan kesejahteraan yang tidak menjamin kehidupan impian seperti halnya yang tersedia pada profesi lain seperti dokter, arsitek, usahawan, dsb.

Gaji guru yang besar sebenarnya tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi saja, tapi termasuk didalamnya adalah kebutuhan untuk menunjang peningkatan profesionalisme-nya. Dengan gaji yang besar mungkin guru tidak perlu lagi disibukkan oleh tugas memerah akal pikiran guna mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mencampuradukkan konsentrasi terhadap materi pelajaran yang semestinya harus maksimal untuk diajarkan kepada anak didiknya.

Terakhir, yang juga tak kalah penting adalah pendelegasian wewenang peran bagi para guru sendiri untuk menjalankan metode apa yang paling baik baginya untuk melaksanakan PBM serta penilaian apa yang akurat terhadap hasil yang diperoleh anak didik selama dibawah asuhannya.

Tentu tidak dapat dinafikan, hal semacam ini tidak sepenuhnya bisa menjamin lantaran potensi penyimpangan pun besar kemungkinan akan terjadi. Tapi, pemberian kepercayaan seperti ini setidaknya menjadi measure atau alat penguji bagi para guru, apakah layak disebut professional, atau mungkin sebaliknya. Entahlah.
    
“Guru-google”

Bagi orang yang akrab dengan teknologi internet, maka Google bukanlah istilah yang asing. Hampir semua orang yang memakai jasa internet dapat dipastikan mengunjungi situs ini. Dengan sebuah kata dan sekali klik, beberapa detik kemudian terpampang ratusan ribu situs yang dapat dijelajahi untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak dari kata kunci yang telah disebutkan tadi. Google mempunyai kemampuan untuk mencari dan mengumpulkan informasi dari berbagai situs yang ada, dan menyajikannya dengan tempo yang supar-cepat. Seorang pencari informasi seolah dihidangkan berbagai masakan dengan aneka rasa untuk sebuah menu yang dipesannya.

Contoh : Kotak Mesin Pencari (Search) Google :

Custom Search

Melihat sejarahnya, Google lahir atas kerja sama Larry Page dengan Sergey Brin pada tahun 1995. Pada masa itu Google masih menjadi embrio yang diberi nama BackRub. Baru pada 7 September 1998 ia berkembang dan resmi dinamai Google. Selanjutnya Google semakin berbenah dengan menambah berbagai fitur yang dapat semakin memanjakan penggunanya.

Hingga saat ini terdapat berbagai fitur Google yang menjadikan kita semakin mudah mendapatkan informasi yang diperlukan. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir ini Google telah meluncurkan program translate-nya dalam bahasa Indonesia. Fitur ini memberikan kemudahan bagi seorang yang tidak mengerti bahasa Inggris (atau bahasa asing lain) memahami teks yang diperolehnya di internet dengan terjemahan yang super cepat. Meskipun terjemahannya tidak begitu sempurna, namun cukup untuk dapat memahami teks yang ada.

Contoh :
  • Mesin Penterjemah Google [Klik Disini]
  • Mesin Penterjemah Website Google Sbb :


Dengan berbagai kemampuan tersebut tidak heran kalau banyak orang mengistilahkan Google dengan “Prof Google” atau “Malaikat Google” atau “mencari wahyu di Google”. Istilah ini sekedar ingin mengatakan betapa di Google kita dapat menemukan berbagai informasi yang kecil sekalipun. Beberapa detik setelah di-klik, google akan menunjukkan ribuan hingga jutaan halaman yang dapat kita akses untuk membuka wawasan tentang masalah yang kita cari. Informasi yang diberikan bukan hanya dari satu sudut pandang, ia mampu menawarkan berbagai sudut pandang hingga pemahaman yang kita dapatkan semakin maju dan beragam.

Banyak di antara guru saat ini, terutama yang berada agak jauh dari perkotaan tidak memiliki akses dan kemampuan memahami berbagai perkembangan ilmu pengetahuan terbaru. Apa yang diajarkan kepada siswanya hanyalah apa yang diperoleh pada masa menimba ilmu di perguruan tinggi. Padahal hidup dan aktivitasnya sudah jauh dari konteks yang dulu sering dibicarakan. Dalam konteks kehidupannya saat ini diperlukan ilmu, metode dan berbagai perkembangan terbaru yang sangat dibutuhkan oleh siswa. Namun keterbatasan pengetahuan dan akses informasi menjadikan mereka tetap dengan prinsip dan ilmu yang lama yang sebenarnya tidak terlalu relevan lagi untuk konteks kehidupan saat ini.

Inilah yang saya sebut dengan “guru-gle” (gle = gunung), yakni guru yang terisolasi di gunung tanpa akses informasi dan komunikasi yang layak. Guru yang begini tidak hanya berada di pedalaman dan daerah terpencil. Di perkotaan banyak juga kita jumpai seorang guru yang tidak mengikuti perkembangan isu-isu terbaru mengenai pendidikan. Bahkan ada guru yang tidak baca koran dan menonton acara-acara bermutu di televisi. Sebagaimana anak-anak mereka juga asyik dengan sinetron sampah yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Sinetron tidak hanya dilihat sebagai hiburan, namun ikut andil dalam cara mereka bergaul dan bertutur. Hingga banyak hubungan anak siswa dengan guru yang terbangun adalah hubungan ala sinetron yang ada di televisi.

Seorang guru yang tidak melakukan up-date terhadap pengetahuannya pasti akan ditinggalkan oleh muridnya yang selama ini amat dekat dengan teknologi ini. Seorang guru bisa saja dibuat malu atas pertanyaan siswa yang sebelumnya telah nge-google di internet hingga ia mendapatkan informasi terbaru dan multi perspektif. Apalagi dalam kondisi saat ini di mana internet bukan lagi menjadi hal yang langka. Banyak lokasi di Aceh yang telah memberikan wi-fi gratis hingga memudahkan siswa melakukan searching untuk mendapatkan informasi terbaru. Dalam kondisi seperti ini seorang guru akan menjadi sangat malu dan kehilangan wibawa di hadapan murid-muridnya jika ia tidak mau mengikuti berbagai perkembangan baru tersebut.

Mengup-date ilmu Guru Ada dua penyebab seorang guru mengalami ketertinggalan informasi. Pertama, disebabkan media informasi yang ada di daerahnya tidak memungkinkan ia memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan kapasitas dirinya. Bagi mereka yang berdomisili di daerah-daerah terpencil, mendapatkan surat kabar, makalah, internet dalam media lain adalah hal yang sulit bahkan memang tidak mungkin. Kedua, mereka yang secara domisili memiliki kemungkinan akses yang mudah dengan sumber informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, namun secara personal merasa tidak punya waktu, tidak sanggup dan tidak memiliki keinginan untuk mengembangkan diri.

Kedua penyebab tersebut di atas sama-sama menjadi sebuah masalah dan perlu penyelesaian. Mereka yang tidak memiliki akses yang baik dengan pengetahuan baru dan perkembangan metode dalam pendidikan, maka yang perlu diperhatikan adalah membuka akses yang lebih mudah kepada mereka hingga mampu mendapatkannya. Untuk langkah awal bisa saja pemerintah daerah menyediakan informasi khusus melalui buletin, majalah atau apapun namanya, dan menyebarkan ke seluruh lembaga pendidikan yang ada di daerahnya. Hal lain adalah melakukan pembukaan akses internet ke sekolah-sekolah dan menyiapkan tenaga pengelola yang profesional. Sebenarnya ini bukanlah langkah sulit, selama ini Pemda telah memiliki kemampuan personalia melalui penerimaan pegawai negeri sipil. Sayangnya, banyak kemampuan dan keahlian yang dimiliki CPNS baru tidak dipakai secara optimal. Bahkan seringkali seorang CPNS ditempatkan di bagian yang bukan bidang keahliannya.

Untuk kasus kedua, diperlukan stimulus yang berkelanjutan dalam upaya mendorong para guru untuk terus meng-update ilmunya. Hal ini bisa dilakukan dengan sayembara dan pelatihan keterampilan merancang buku ajar atau media pengajaran inovatif. Dengan demikian para guru akan terdorong dan memiliki keinginan untuk terus melakukan pembaruan dan perubahan pada kemampuan akademiknya.

Sungguh di sayangkan kalau saat ini masih ada guru yang tidak memiliki pengetahuan dalam teknologi informasi yang berkembang demikian pesat. Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama lagi berbagai inovasi terbaru dalam bidang peningkatan kecerdasan manusia akan terus bermunculan. Guru akan terus tinggal dan mengajarkan pengetahuan lama yang tidak up to date lagi. Lebih jauh ini akan berpengaruh pada lulusan dan tingkap penerimaan mereka di dalam masyarakat. Dan pada akhirnya, lulusan lembaga pendidikan kita tidak mampu menjawab berbagai persoalan sosial yang ada dalam masyarakatnya sendiri. Lalu kita pun bertanya, untuk apa pendidikan?
Wallahu’a’lam.

Artikel Terkait : 
DIDAKTIKA : Guru Lawan Google

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]