GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Minggu, 29 Januari 2012

MAUT PASTI DATANG


Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M Si
Staf Pengajar STAIN Kediri/STAIM Nglawak Kertosono Nanjuk Jatim.
 
Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah kita tidak menyadari - bahwa hari-hari yang kita lewati justru semakin mendekatkan kita kepada kematian. Sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Sudah menjadi suratan Ilahi - semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kullu nafsin dzaiqatul maut (QS. Al Ankabut [29]: 57). Tak pandang bulu, siapapun akan menemu ajalnya.  Bisa pada waktu kaya. Bisa pada waktu miskin. Bisa pada waktu tua. Bisa juga pada waktu masih muda. Waktu apapun – pantas juga ajal itu datang. Sudah siapkah kita – menghadapi suatu peristiwa yang pasti datang ini. Siap ataupun tidak, ajal pasti akan menjempat kita.
Orang menghadapi kematian itu berbeda-beda. Ada yang susah dan sakit. Ada yang senang dan nikmat. Semua itu bergantung amal perbuatannya. 
Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan bahwa, "Seorang mukmin - saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh  malaikat  sambil menyampaikan  dan  memperlihatkan  kepadanya  apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya  kecuali  bertemu  dengan Tuhan (kematian).
Berbeda halnya  dengan  orang  kafir  yang   juga diperlihatkan kepadanya  apa  yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya  daripada  bertemu  dengan Tuhan (kematian)"
Dalam surat Fushshilat [41] ayat 30 Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu.'"
Turunnya  malaikat  tersebut  menurut  banyak  pakar  tafsir adalah  ketika  seseorang  yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi  kematian.  Ucapan  malaikat, "Janganlah  kamu  merasa  takut"  adalah  untuk  menenangkan mereka menghadapi maut  dan  sesudah  maut.  Sedang  "jangan bersedih"   adalah   untuk  menghilangkan  kesedihan  mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan  seperti  anak, istri, harta, atau hutang.
Sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan: "Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, 'Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar' (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri)" (QS Al-Anfal [8]: 50)
Juga firman Allah di dalam surat Al-An’aam [6] ayat 93: "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, 'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang  tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya" (QS Al-An'am [6]: 93).
Musthafa  Al-Kik  menulis  dalam   bukunya   Baina   Alamain, bahwasanya  kematian  yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan  jantung,  tabrakan,  dan sebagainya. Dapat  juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses  menua  secara  perlahan. 
Yang  mati mendadak  maupun  yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat). Yakni  semacam  hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad. 
Dalam  keadaan  meninggal  mendadak,  sakarat  al-maut  itu hanya terjadi beberapa saat singkat. Yang mengalaminya akan merasa sangat  sakit  karena  kematian  yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti "duri yang berada  dalam kapas,  dan  yang dicabut dengan keras."
Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wan nazi'ati gharqa (demi malaikat-malaikat yang mencabut  nyawa  dengan  keras)  (QS  An-Nazi'at [79]: 1) - sebagai isyarat  kematian  mendadak.  Sedang  lanjutan  ayat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat malaikat yang mencabut ruh  dengan  lemah  lembut) - sebagai   isyarat   kepada kematian  yang  dialami  secara perlahan-lahan.
Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang  dinyatakan oleh  ayat  tadi -  sebagai "dicabut dengan lemah lembut". Sama keadaannya dengan proses yang  dialami  seseorang  pada saat  kantuk sampai  dengan  tidur. Surat Al-Zumar [39]: 42 - mendukung  pandangan  yang mempersamakan  mati  dengan tidur.
          Dalam hadits-pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah Saw untuk  dibaca  pada saat bangun tidur adalah: "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak)."
Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar [39]: 42 sebagai berikut: "Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna. Sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna  dilihat dari beberapa segi."
Kalau  demikian,  meninggal  itu  sendiri  "lezat  dan   nikmat." Bukankah   tidur   itu   demikian?  Tetapi  tentu  saja  ada faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan  kematian  lebih lezat dari tidur. Atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya mimpi-mimpi buruk   yang dialami manusia.
Di  sisi  lain,  manusia  dapat menghibur dirinya  dalam menghadapi   kematian  dengan  jalan  selalu  mengingat  dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak  seorangpun  akan  luput  darinya. Karena, kematian  adalah risiko hidup.
Firman Allah Swt di dalam surat Al-Anbiya’ [21] ayat 34: "Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS. Al-Anbiya' [21]: 34)
Keyakinan  akan  kehadiran  maut  bagi  setiap  jiwa dapat membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti diketahui, "semakin banyak yang terlibat dalam  kegembiraan, semakin   besar   pengaruh   kegembiraan   itu   pada  jiwa. Sebaliknya,  semakinbanyak  yang tertimpa  atau  terlibat musibah, semakin ringan musibah itu dipikul.
         Demikian Al-Quran menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia taat dan durhaka. Dan demikian kitab suci  menginformasikan   tentang  kematian  yang  dapat  mengantar seorang mukmin agar  tidak  merasa  khawatir  menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan. Atau, segera beriman.
 Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi. Kecuali manusia yang dijaga Allah – tidak busuk jasadnya. Karena, ulat, cacing dan lainnya – tidak kuat mendekatinya.
 Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya - juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari - akan memberitakan kematian mereka.
Sangat mungkin, selagi kita membaca artikel ini - kita berharap untuk tidak meninggal setelah menyelesaikan membacanya. Atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin kita merasa bahwa saat ini belum waktunya meninggal karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari datangnya ajal. Dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya.
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab [33]: 16). Kapanpun - kita mesti bersiap-siap menghadapi datangnya ajal. Kita berdoa, semoga husnul khatimah. 

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]