GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Rabu, 13 Juli 2016

Renungan Pendidikan

Oleh : Harry Santosa


Tahun 1977, ternyata pernah ada konferensi pertama pendidikan Islam di Mekkah. Yang menarik, kesimpulan dari konferensi ini adalah bahwa masalah terbesar negeri negeri muslim bukan politik, ekonomi dsbnya tetapi adalah "the lost of adab", atau hilangnya adab.
Dalam konferensi itu juga disimpulkan bahwa penyebab terbesar hilangnya adab adalah para orangtua yang berhenti mendidik anak anaknya karena miskonsepsi tentang belajar dan bersekolah, miskonsepsi tentang pendidikan dan persekolahan termasuk miskonsepsi tentang ilmu dan adab.
Bagi kebanyakan orangtua, jika anak sudah bersekolah apalagi di sekolah full content agama, maka merasa tenang dan nyaman karena menganggap anaknya sudah menjalani pendidikan Islami dan dianggap sudah beradab dan berakhlak. Padahal menjalani persekolahan berbeda dengan menjalani pendidikan.
Para orangtua ini lupa bahwa bahwa tugas mendidik dan mengadabkan anaknya adalah di tangan orangtua. Dan mereka lupa bahwa mendidik adab dimulai dari menumbuhkan setiap potensi fitrah anak anak mereka. Dan semua itu dimulai di rumah.
Perlu diketahui bahwa, pendidikan memerlukan relasi dan kedekatan yang kuat, keteladanan dan atmosfir keshalihan yang berkesan, ketelatenan dan keikhlashan yang tulus, emphaty tinggi serta pemuliaan yang konsisten atas keunikan anak, semangat untuk terus memberikan idea menantang dan inspirasi yang hebat, dan itu semua hanya bisa diberikan oleh guru atau pendidik setingkat orangtua kandung.
Bagi orangtua yang menyerahkan sepenuh anaknya pada lembaga, barangkali di benak mereka, perintah wajib mencari ilmu (tholabul ilmu) pada tiap muslim seolah digantikan wajib mencari sekolah (tholabul madrosah). Mereka lebih pandai mencari sekolah daripada mendidik anak.
Apa efeknya? Para orangtua ini, karena tidak merasa wajib mendidik, kemudian segera berhenti belajar dan hanya sibuk bekerja saja untuk "membayar" biaya anaknya bersekolah. Mental instan dan bayar.
Para orangtua merasa kinilah saatnya mereka bekerja dan berkarir saja bukan waktunya belajar apalagi untuk mendidik, itu tugas guru. Jadi kalaupun mereka belajar, itu bukan untuk mendidik anaknya tetapi belajar lebih banyak untuk bisnis dan profesinya.
Akibatnya fitrah peran mendidiknya sebagai orangtua menjadi tumpul, firasat dan intuisinya sebagai makhluk yang diberi hikmah mendidik anak menjadi mandul. Anaknya pun tanpa disadari tumbuh instan, potensi fitrahnya tidak tumbuh menjadi peran dan berbuah akhlak dan adab.
Kitabullah tanpa fitrah yang tumbuh alamiah yang dididik dengan penuh hikmah, hanya akan menjadi ilmu dan hafalan tanpa makna apalagi berbuah peran dan akhlak.
Di sisi lain, sang anak juga seolah hanya boleh belajar formal, tidak boleh belajar lain dan beraktifitas lain selain untuk mendukung apa yang ada di sekolahnya. Anak sulit menumbuhkan potensinya, misalnya suka berdagang, suka "ngomong" dstnya. Jadi pokoknya bersekolah saja dengan ijasah atau rangking.
Para orangtua juga lupa bahwa mendidik dan mengadabkan anak dan keluarganya adalah kewajiban utamanya atau fardu ain, bukan lembaga atau yayasan. Para orangtua juga lupa bahwa sekolah tidak punya cukup waktu mengadabkan siswanya, karena berwacana prestasi akademis dan prestasi hafalan.
Pendidikan berbeda dengan persekolahan. Pendidikan adalah tanggungjawab orangtua, sementara sekolah mendukung saja dari sisi pengetahuan dan keterampilan. Negara cukup hanya kebijakan umum.
Pengetahuan dan keterampilan bukan adab, dan baru akan menjadi adab jika diberi hikmah sehingga mampu menempatkannya dengan tepat dalam kehidupan.
Dan hikmah ini diberikan Allah pada orangtua bukan sekolah. Luqman diabadikan dalam alQuran karena beliau adalah orangtua yang diberi hikmah dan syukur atas fitrah anak anaknya. Baru kemudian Luqman menanamkan pada anaknya untuk beradab pada Allah (tidak syirik), untuk beradab pada orangtua (memperlakukan dengan baik) dstnya.
Ada doa untuk orangtua yang biasa dibaca, "....ya Allah sayangilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil" , sesungguhnya terjemahan yang benar adalah "...ya Allah sayangilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka berdua mendidikku (robbaya) sewaktu kecil".
Jadi apa yang kita harapkan dari doa anak anak kita, jika kita hanya pandai menitip mereka? Apakah perbuatan beradab jika enggan mendidik anak atau mendidik tapi lebih banyak menyerahkan ke lembaga?
Ketahuilah bahwa sesungguhnya mendidik dan mengadabkan anak pada hakekatnya mendidik dan mengadabkan diri sendiri. Raise your child, raise your selves.
Karenanya yang perlu dididik adalah para orangtua. Itulah mengapa Rasulullah SAW tidak mendirikan sekolah, tetapi mentarbiyah para orangtua, termasuk kemampuan mendidik dan mengadabkan keluarganya.
Mari menjadi orangtua yang beradab bukan biadab, belajar sepanjang hayat, berani mendidik anak, berani membuat perubahan, berani kembali ke fitrah peran mendidik anak anaknya sesuai fitrahnya ingga mencapai peran peradaban terbaik yang berbuah adab.
Salam Pendidikan Peradaban 

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]