GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Minggu, 23 September 2012

Orang Tua Sebagai Guru

Oleh : Marjohan M.Pd
(Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Nasional)
Guru SMAN 3 Batusangkar

Negara kita sudah cukup lama merdeka dibandingkan dengan dua negara tetangaa yaitu Malaysia dan Singapura, namun kemajuan SDM (Sumber Daya Manusia) mereka jauh lebih tinggi sementara rata-rata SDM orang-orang kita masih biasa-biasa saja. Dengan kata lain bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang memiliki tingkat SDM yang masih rendah. Negara Korea Selatan yang merdeka pada tahun yang sama dengan negara kita, kini kemajuannya sudah menyamai kemajuan negara Jepang dan negara-negara Barat lainnya.

Kemajuan SDM pada negara-negara tersebut ditentukan oleh peran penting dari institusi pendidikan. Dengan kata lain bahwa sekolah memegang peran penting dalam memajukan bangsa mereka. Dibalik itu peran yang juga lebih penting adalah peran orang tua dalam mendidik anak di rumah. Bukankah anak-anak yang hebat berasal dari rumah (orang tua) yang sangat peduli dengan pendidikan keluarga.

Di dunia ini sangat banyak negara-negara yang memiliki orang tua yang hebat dalam mendidik anak dan juga ada orang tua yang hebat dalam mendidik anak di negara kita. Ya anak-anak bisa  menjadi maju karena orang tua mereka sangat memahami konsep parenting- yaitu peran orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan membesarkan mereka (anak-anak). Secara umum bahwa di dunia ini kita dapat memilih  empat negara yang memiliki orang tua yang superior dalam mendidik anak. Negara atau bangsa tersebut adalah  Perancis, Cina, Amerika dan Jepang. Orang tua di negara-negara tersebut adalah orang tua yang ideal dan patut untuk kita kenal satu per satu.

1).Orang Tua Perancis

Saya merasa beruntung bisa berkenalan dengan tiga orang Perancis, Louis Deharveng, Anne Bedos dan Francoisse Brouquisse. Mereka telah menjadi teman saya sejak tahun 1993 sampai sekarang (2012). Mereka sering mengunjungi (berlibur) ke tempat saya secara teratur di Batusangkar. Tentu saja saya punya kesempatan untuk saling bertukar fikiran dengan mereka. Itu membuat saya mengenal negara Perancis dan budaya negara mereka lebih mendalam. Saya jadi tahu mengapa Perancis menjadi salah satu negara terhebat di Eropa dan juga di dunia. Itu semua karena masyarakat Perancis dibesarkan dan didik oleh orang tua yang sasngat hebat dalam mendidik keluarga mereka.

Apakah orang Perancis bersikap lebih baik ? Saya pernah berbincang-bincang dengan orang Perancis. Saya dan juga tetangga saya berkesimpulan bahwa ‘Orang Perancis bersikap lebih baik”. Teman-teman saya orang Perancis tersebut bukan orang timur namun mereka berbicara sangat sopan dan juga makan dan minum tanpa mubazir. Cara mereka makan sangat sesuai dengan ajaran Islam (makan habis-habis), pada hal mereka bukan pemeluk Islam.

Salah seorang famili keluarga kami menikah dengan wanita Perancis dimana saya bisa mengamati bagaimana mereka mendidik dan membesarkan anak mereka. Saya melihat bahwa keluarga Prancis  tidak repot/ bising pada waktu makan kita. Mereka tampak seperti  sedang berlibur- ya terlihat rileks saja. Anak balita mereka bisa duduk tenang di kursi, menunggu makanan. Tidak ada jeritan atau juga tidak merengek. Saya juga mencari karakter keluarga Perancis dan benar bahwa itu adalah karakter rata-rata.

Saya sering melihat anak kecil yang mudah marah  pada waktu makan dan anak-anak Perancis jarang bersikap demikian.  Bila anak mereka rewel maka orang tua mereka tidak bersikap angresif dalam menenangkan anak mereka, kecuali mereka selalu bersikap tenang atau rileks saja. Pelajaran dari keluarga Perancis, bahwa  orang tua Perancis  memperkenalkan pelajaran cara “bersopan santun” dalam hidup kepada anak-anak  mereka sebagai berikut:
  • Anak-anak harus mengatakan halo, selamat tinggal, terima kasih dan minta pamit.
    Ungkapan ini membantu mereka dalam bergaul dan sekaligus membuat pribadi mereka disenangi.
  • Ketika anak-anak menunjukan karakter nakal, maka orang tua memberi mereka peringatan dengan cara "Membelalakan mata"- sebagai isyarat teguran, tanpa harus mengomel atau membentak.
    Orang tua Perancis  mengingatkan pada anak bahwa “siapa yang bos/pimpinan”.
    Orang tua Prancis mengatakan, "Ini saya yang memutuskan", maksudnya agar anak mampu bertanggungjawab dan mengambil keputusan.
  • Jangan takut untuk mengatakan "tidak." Dan anak-anak harus belajar bagaimana mengatasi frustrasi.
Mengapa  anak-anak Prancis tidak terbiasa melempar makanan? Dan mengapa orang tua mereka tidak suka berteriak atau menghardik ? itu sudah menjadi karakter positif mereka. Orang tua Prancis juga  tidak sempurna, namun mereka memiliki kebiasaan  yang bagus dan benar-benar mereka laksanakan. Mereka  bersemangat kalau berbicara dengan anak-anak, tidak asal-asalan dalam menjawab pertanyaan anak. Mereka memperkenalkan alam pada anak- mengajak mereka ke luar rumah dan juga  membacakan banyak buku- untuk memperkenalkan bacaan pada anak. Mereka juga membawa  anak untuk belajar tenis, kursus melukisan dan ke museum ilmu pengetahuan interaktif.

Orang tua Perancis selalu melibatkan diri dalam keluarga. Mereka menganggap bahwa orang tua yang baik perlu menyediakan waktu buat anak. "Bagi saya, malam hari adalah waktu buat bersama keluarga/ anak. Orang tua Perancis sering memberi anak stimulus (rangsangan untuk berbuat positif) dan selalu ingin anak mereka menerapkan disiplin.

Bagaimana mereka mendidik anak ? Ya melalui disiplin. Namun kata disiplin tidak berhubungan dengan hukuman- sebagai pengertian yang sempit. Kalau ada kesalahan langsung membentak anak- bukan demikian.

Orang tua Perancis tidak buru-buru  menjemput anak yang menangis namun mendorong mereka untuk menenangkan diri sendiri.  Ketika anak-anak mencoba untuk mengganggu pembicaraan, ibu berkata, "Tunggu  sebentar ya sayang, ibu tengah berbicara.." Kata sang ibu dengan sopan dan sangat tegas pada anak.

Ibu atau ayah Perancis juga mengajar anak-anak mereka bagaimana : belajar bermain sendiri. "Yang paling penting adalah bahwa ia belajar untuk menjadi bahagia dengan dirinya sendiri, "Orang tua Perancis mempercayakan anak-anak untuk cukup banyak kebebasan dan otonomi/ kemandirian.  Menyediakan makanan buat diri sendiri, menyediakan pakaian buat diri sendiri- jadi dari usia kecil tidak diajar bermanja atau serba dibantu. Ya bagaimana kelak anak bisa sukses dalam hidup kalau mereka sepanjang hidup terbiasa banyak dibantu.
 

 

 

2).Orang Tua Cina

Dimana-mana di dunia orang Cina terkenal sebagai orang yang berhasil. Dapat dikatakan bahwa majunya negara Singapura adalah juga karena pengaruh orang-orang keturunan Cina. Ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh sebagian orang-orang keturunan Cina. Dari media masa kita dapat ketahui bahwa orang-orang Canada dan Amerika Serikat keturunan Cina juga termasuk orang-orang yang berpengaruh di sana.

Kita bertanya-tanya bagaimana orang tua Cina dalam  membesarkan anak-anak mereka hingga  sukses. Kita bertanya-tanya   apa yang dilakukan orang tua hingga menghasilkan anak yang jago dalam  matematika, musik, ICT dan perlombaan sains. Amy Chua (2011) seorang penulis tentang parenting mengungkapkan beberapa hal yang tidak pernah diizinkan oleh orang tua Cina pada anak-anak mereka:

- Menginap atau bermalam di rumah seseorang.
- Hura-hura atau buang-buang waktu
- Mengeluh
- Menonton TV atau bermain game komputer
- Memperoleh skor nilai yang rendah
- Tidak menjadi siswa/ mahasiswa yang terjelek

Ibu Cina mengatakan bahwa mereka percaya anak-anak mereka bisa menjadi siswa "yang terbaik", bahwa "prestasi akademik mencerminkan orangtua yang sukses," dan bahwa jika anak-anak tidak berprestasi di sekolah berarti ada "masalah" dan itu berarti orang tua sang anak  "tidak melakukan pekerjaan mendidik dengan baik. "

Orangtua Cina menuntut nilai sempurna karena mereka percaya bahwa anak mereka bisa mendapatkannya. Jika anak mereka tidak mendapatkan maka ibu Cina menganggap itu karena si anak tidak bekerja/ belajar cukup keras. Maka solusi atas kondisi tersebut “anak perlu dikritik atau dipermalukan”. Bukan hanya sekedar mempermalukan anak namun orang tua berlepas tangan dalam hal mendidik.

Orang tua Cina percaya bahwa anak-anak mereka berutang kepada mereka semuanya karena mereka telah berkorban dan berbuat banyak bagi anak-anak mereka. Dan memang benar bahwa ibu Cina  menyediakan waktu yang sangat melelahkan agar anak bisa mengikuti les privat, pelatihan, menginterogasi dan memata-matai anak-anak mereka. Maka pemahamannya adalah bahwa anak-anak Cina harus menghabiskan hidup mereka dan mentaati mereka dan membuat mereka bangga.

Orang tua Cina percaya bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan karena itu  mereka mengesampingkan semua keinginan anak-anak yang belum logika. Itu sebabnya putri Cina belum dapat memiliki pacar saat di bangku SMA  dan mengapa anak-anak Cina tidak bisa pergi hura-hura.

3). Orang Tua Amerika

Suatu hari saya berkenalan dengan Dr. Jerry Drawhorn. Dari Jerry saya mengetahui beberapa kebiasaan dan budaya orang amerika. Sebagai seorang arkeolog ia pernah berbicara tentang kecerdasan. Ada banyak orang Amerika yang begitu pintar dan kepintaran mereka adalah sebagai kontribusi dari orang tua mereka. Saya kemudian mencari tahu bahwa dari beberapa kelompok etnik yang ada di Amerika maka etnik Yahudi termasuk unggul dalam mendidik keluarga mereka.

Etnik Yahudi Amerika telah lama dikagumi oleh banyak orang di Amerika karena kemampuan mereka dalam menghasilkan anak-anak yang berkembang secara akademis. Mereka punya budaya “guilty” atau merasa bersalah kalau tidak berhasil dalam hidup dan ini punya dampak dalam menciptakan keberhasilan mereka.

Rasa bersalah (guilty) adalah bentuk emosi yang memberi rasa rumit dalam fikiran. Orang tua Yahudi merasa bersalah kalau keluarga mereka gagal atau kurang berhasil dalam berbuat. Rasa bersalah ini merupakan dorongan yang kuat dalam melindungi dan menyempurnakan mutu kehidupan diri dan kehidupan keluarga. Agar hasil kegiatan mereka bisa sempurna maka mereka tidak mau berbuat asal-asalan, mereka berbuat lebih profesional. Rasa bersalah telah mendorong semua orang Yahudi untuk berbuat secara serius dalam berbagai bidang kehidupan sehingga mereka menjadi bangsa yang berkualitas.

Orang tua Yahudi juga menularkan rasa bersalah pada anak mereka, sehingga dalam belajar bila mereka tidak memperoleh hasil yang belum maksimal maka akan timbul rasa guilty atau rasa bersalah. Selanjutnya rasa bersalah menjadi pendorong untuk berbuat lebih berkualitas. Jadi bagaimana anak-anak Yahudi memperoleh skor akademik yang tinggi dan juga untuk mendapatkan perhatian dari perguruan tinggi terbaik? Tentu saja adanya dorongan yang kuat vdari dalam hati, bila tidak bisa maka mereka akan mengalami rasa bersalah (guilty) yang mendalam
-->

2 komentar:

Jalius.HR mengatakan...

---------------
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهُ
------------------------------------
Terima kasih kerabat kerja E Newsletter Disdik Sumbar dan Pak Marjohan atas kiriman artikel di atas ke e mail saya.

Saya sudah lama juga tidak membaca tulisan Pak Marjohan di media ini.
Biasa sya sangat suka mengeritik tulisan Beliau ini..... Kali ini masih saja dengan tema yang sama.

Saya sampai saat ini masih sangat berat menerima sistem pendidikan dari negara yang beliau sebutkan di atas. Bagi saya mengadopsi teknologi mereka tidak apa... tapi sistem pendidikannya dalam rangka membentuk agar anak mau dan selalu berakhlak mulia belum bisa di terima.
Akan lebih baik Pak marjohan mengekspos bgai mana caranya dan metodologinya orang tua Pak Marjohan dlam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi anak yang taat beramal shaleh (beriman dan bertaqwa).
Apakah kita tidak sadar bahwa di negra-negara yang disebutkan diatas, pendidikannya sangat berhasil mendidik menjadi orang kafir tulen ?
Jangan lupa bagi kita khususnya di daerah Minang kabau yang terkenal sebagai masyarakat Islam:
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.(Toha 131-132)
Sarn saya... galilah Ilmu pendidikan dari anggota masyarakat kita sendri yang telah terbukti sukses mendidik anak-anaknya. Kalau kita terlalu banyak bercermin ke negara maju... bukti sudak banyak pula dilihat bawa hasilnya tidak cocok dengan apa yang dimaksud dengan akhlaq mulia.

Wassalam
Jalius. HR

Amroji - An English Teacher mengatakan...

Betul, Pak. Sekarang ini mendidik anak juga sekalian orang tuanya. Ya...3 bulan sekali lah, orang tua/wali murid diundang ke sekolah untuk diajak membicarakan perkembangan anaknya. Ya...dalam bentuk seminar, workshop atau kegiatan yang lain. Jangan hanya meminta minta sumbangan uang dari orang tua/wali murid melulu. Bravo, Pak Marjohan!

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]