GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Selasa, 18 September 2012

Mahfud MD: Pendidikan Indonesia Hanya Pintarkan Orang


YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr Mahfud MD menilai, pendidikan di Indonesia saat ini tidak mencerdaskan masyarakat, tetapi hanya mendidik individu agar memiliki ketajaman otak atau kemampuan berpikir. Sementara pendidikan watak dan karakter sangat diabaikan sehingga terjadi kemerosotan moral dan etika di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

"Kebijakan pendidikan saat ini justru bukan mencerdaskan masyarakat, melainkan hanya membuat orang jadi pandai," tuturnya, Senin (17/9/2012), saat memberikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru program pascasarjana Universitas Gadjah Mada di Graha Sabha Pramana (GSP).


 

Mahfud mengatakan bahwa cerdas dan pandai adalah dua hal yang berbeda. Kepandaian hanya menekankan pada kemampuan otak dalam berpikir menganalisis suatu hal secara rasional. Sedangkan kecerdasan merupakan pertemuan antara ketajaman berpikir, watak, dan hati nurani.

"Saat ini yang terjadi adalah pendidikan hanya memandaikan individu sehingga banyak bermunculan limbah-limbah pendidikan yang produknya hanya membebani negara," terangnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, lanjut Mahfud, pendidikan di Indonesia seperti hanya ditujukan untuk memberikan ijazah dan gelar akademis semata. Sebab, keduanya masih menjadi ukuran untuk mendapatkan status formal di pemerintahan. Maka, tidak mengherankan apabila banyak pihak yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh ijazah dan gelar akademis.

"Banyak terjadi pelanggaran etika karena yang diinginkan hanya ijazah, bukan kecerdasan," jelas Mahfud.

Lebih lanjut, Mahfud menyampaikan, setiap perguruan tinggi harus membangun norma akademis, memperkuat tradisi akademis, serta kegiatan penunjang yang dapat memperkuat profesionalitas dan etika. Ketiga hal tersebut merupakan faktor yang harus ada untuk memperkuat etika keilmuan dalam proses pengembangan pendidikan beretika.

"Dalam pengembangannya pun harus dilakukan sama kuat karena sumber dari berbagai permasalahan yang ada adalah karena penyelenggaraan pendidikan kita yang keluar dari nilai-nilai etika yang sudah digariskan undang-undang. Jadi yang ada pendidikan sekarang ini hanya menjadi semacam proses jual beli," katanya.

Sementara sebelumnya, Rektor UGM Prof Dr Pratikno, MSoc, Sc dalam sambutannya mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya sebatas pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga berkaitan dengan integritas moral, etika, dan karakter kebangsaan.

Menurutnya, permasalahan pendidikan di Indonesia bukan terletak pada kurang pintarnya individu, melainkan kurang pintar sebagai bangsa. Pendidikan seharusnya tidak hanya bersifat mencerdaskan individu, tetapi juga mencerdaskan bangsa.

"Untuk itu, UGM juga berkomitmen tidak hanya mencerdaskan individu, tetapi juga menjadikan bangsa yang cerdas agar menjadi bangsa yang bermartabat, berdaulat, dan dihargai di dunia internasional," paparnya.

1 komentar:

Jalius.HR mengatakan...

------------------
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَاتُهُ
----------------------------------

Betul juga apa yang disampaikan oleh Bapak Mahfud. Karena ada beberapa hal yang meyebabkannya:
Pertama anak dididk untuk selalu mampu bersaing.
Kedua anak didik selalu ddidik dan diajarkan untuk mampu mandiri. Pada hal dalam keseharian anak wajib bermasyarakat dengan budaya timurnya.

Akibat hal yang demikian lahirlah kecerdasan individual, sehingga pengembangan jiwa sosial ( kerjasama) jadi lumpuh.

Inilah yang menjadi keluhan Bapk Mahfud.

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]