GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Rabu, 13 Juni 2012

MEMBANGUN REALITAS TAKDIR

Oleh :ARIF

Paradigma Sukses

Kajian Samuel P Hungtinton, yang meramalkan bahwa suatu saat akan terjadi benturan peradaban antara timur dan barat. Nampaknya mulai terbukti. Dominasi barat atas negara-negara di belahan timur mengisyaratkan hal ini.  Bukan hanya pada ranah politik dan kekuasaan (power) saja. Benturan tanpa disadari telah memasuki wilayah kesadaran manusianya. Kesadaran barat secara meyakinkan mulai mengisolasi kesadaran timur. Bangsa timur yang terkenal dengan nilai spiritualnya lama kelamaan semakin sulit untuk mengeliminasi pengaruh peradaban barat. Terjadilah benturan kesadaran timur dan barat. Kesadaran materialisme dengan kesadaran spiritualisme. Bauran kesadaran timur dan barat ini telah melahirkan generasi baru yang gamang, sebab mereka lahir dikancah peperangan informasi, era digital yang sangat bebas, siapapun mampu  mengakses informasi yang diperlukannya.

Lihatlah, dunia timur terus di bombardir dengan barang dan jasa yang melenakan mata. Gemerlap kehidupan kota dan segala dinamikanya, benar-benar mempesona hati. Orang yang sukses akan di sanjung dan di puja. Dunia intertaimen telah menjadi agama baru yang semakin sulit di bendung penyebarannya. Hingga nilai-nilai spiritual secara perlahan meredup, jiwa manusia tak mampu mengenali lagi mana hakekatnya yang lebih real materi ataukah jiwa manusia (soul) itu sendiri. Kesadaran kolektif masyarakat timur secara perlahan mulai kehilangan jati dirinya. Nilai-nilai kearifan lokal mulai tercerabut dari akarnya. Kaum muda mulai menjauh dari kajian-kajian spiritual yang memiliki muatan hikmah. Karena dianggap membosankan dan ketinggalan jaman. Mereka menganalogikan kemajauan bangsa barat sebagai tolak ukur atas kesuksesan seseorang. Keadaan ini sungguh, menjadi pertarungan tersendiri dalam jiwa setiap anggota masyarakat, yang telah sadar dan menyiapkan dirinya menjadi benteng terakhir peradaban timur yang pernah kaya akan nilai spiritual.

 

 
Bagaimana menjelaskannya ?. Paradigma sukses dan parameter kesuksesan yang di usung barat perlahan mampu meng-injeksi kesadaran masyarakat timur. Persepsi masyarakat timur atas kesuksesan hidup secara perlahan mulai  bergeser. Orang dipandang sukses jika berhasil memiliki kekayaan dan atau memiliki jabatan yang eksklusif dalam suatu perusahaan atau pemerintahan. Paradigma sukses selanjutnya selalu di kaitkan dengan keberhasilan seseorang atas kepemilikan dan banyaknya penguasaan atas harta dan tahta. Seberapa tinggi jabatan dalam suatu perusahaan, seberapa banyak jumlah mobil dan rumah, berapa deposito yang dia miliki, dan lain sebagainya. Kesadaran diri terus di dorong kepada materialisme. Pemenuhan kebutuhan manusia atas materi di pandang akan mampu mengangkat derajat manusia. Muncullah persaingan hebat yang kemudian melahirkan cara pandang sekulerisme. Suatu masyarakat yang sangat individualistik.  

Persepsi tersebut pada gilirannya telah mampu mengubah paradigma manusia dalam memandang takdirnya. Jika manusia tidak memiliki harta dan tahta mereka menganggap bahwa itu sebagai sebuah takdir buruk sangat jeleklah nasibnya, dalam anggapannya Tuhan tengah menganiaya dirinya,  begitu juga sebaliknya. Takdir kemudian mengalami penyempitan makna. Konsepsi takdir spertinya ter bonsai disitu. Takdir hanya dimaknai sebatas  kaya dan miskin saja, menimbulkan turbulensi dalam kesadaran kolektif bangsa. Manusia pada gilirannya, kemudian menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Persepsi ini telah menjadi ‘drive’ menjadi daya dorong yang sangat luar biasa sehingga manusia melakukan pengejaran atas materi agar dapat di pandang sebagai orang sukses. Sehingga melahirkan generasi yang frustasi, seperti dewasa ini. Memasuki jaman era digital, menembus millennium abad 21. Generasi yang senantiasa menanyakan takdir mereka. 

Padahal pemahaman ini harusnya layak di uji mengingat faktanya tidaklah demikian. Banyak orang yang kaya namun mengangap bahwa dirinya tidak sukses terkait dengan tiadanya kebahagiaan hati. Maka persepsi tentang takdir dalam kesadaran masyarakat kita seharusnya perlu dipertanyakan lagi. Paham materialisme yang menganggap bahwa jiwa dapat terpuaskan melalui kepemilikan dan pemenuhan manusia atas barang dan jasa, serta eksistensi diri dapat dipenuhi jika memiliki kekuasaan. Rasanya perlu di kaji lagi.  Faktanya banyak manusia yang telah sukses malah mengalami kekeringan hati. Maka menjadi pertanyaan takdir seperti apakah yang diinginkan manusia itu ?. Tolak ukurnya apakah bahwa takdir dianggap sebagai takdir baik dan takdir buruk ?.

Kajian ini mencoba mengulas dari pelbagai sisi, bagaimana persepsi takdir seharusnya di bingkai, bagaimana mengemas pemahaman takdir agar manusia nyaman memaknai takdirnya masing-masing. Sesungguhnya apakah yang harus di rubah, apakah  takdir itu sendiri artinya bahwa realitasnya  kita rubah yaitu merubah ketetapan Tuhan atas diri kita, ataukah kita mengkondisikan diri kita untuk mampu menerima ketentuan dan ketetapan Tuhan, pastinya dalam wilayah kepuasan jiwa yang tak berkurang sedikitpun atas makna kesuksesan itu sendiri, Manakah yang kita pilih ?.

Kita tahu bahwa kepuasan lebih kepada bagaimana kita memaknainya. Kembalinya adalah persepsi seseorang akan kepuasaan itu sendiri. Setiap manusia akan mampu memahami hakekat rahsa puas itu dengan sendirinya. Inilah uniknya. Namun kepuasaan memiliki standart pemenuhan yang tidak sama. Meski skala rahsa puas itu sendiri adalah sama bagi setiap manusia. Skala rahsa puas 3 misalnya, ya seperti itu rahsanya, setiap orang akan berkata sama. Namun perbedaannya adalah upaya setiap manusia untuk mendapatkan rahsa itu, masing-masing akan berbeda, tergantung atas persepsi dan skala ekspektasi mereka masing-masing. Misalnya, untuk mencapai skala rahsa puas 3 saja (dalam skala kepuasan 1-10), ada manusia yang cukup dengan  mendapatkan uang 10 ribu, namun ada orang yang baru cukup, jika mendapatkan uang 1 juta rupiah. Begitulah bekerjanya kepuasaan manusia. Jadi penyebab yang menimbulkan rahsa puas itu sendiri tidak sama bagi setiap manusia. Demikian juga daya dorong ‘drive’ setiap orang untuk memenuhi kepuasaan dirinya tidak sama. Motif seseorang untuk mencapai kepuasan juga menjadi berbeda.

Kepuasaan adalah rahsa yang unik bagi setiap manusia, bekerja seperti candu sehingga akan membuat kecanduan bagi penikmatnya. Makanya  setiap manusia kemudian berusaha untuk mendapat rahsa puas ini dengan pelbagai cara. Dan kesuksesan adalah identik dengan kepuasaan. Kepuasaan adalah realitas dari hati.  Maka menjadi pertanyaan manakah yang akan kita  rubah realitas di luar kita ataukah realitas di dalam hati kita ?.

Pertanyaan berikutnya, mampukah kita merubah realitas yang ada di sekeliling kita ?. Apa benar bahwa diri kita yang merubah ?. Seluruh instrument ketubuhan kita telah di buat ‘built up’, inherens dengan tubuh kita. Kita hanya berusaha lari kesana lari kesini, kemudian ‘blaaam ..!’ semua terjadi dengan sendirinya. Maka kita lihat meski kita telah melakukan dengan cara yang sama, namun nasib setiap orang tetaplah berbeda. Inilah ironinya. Kalau begitu, manakah yang akan kita rubah ?. Apakah masih mau merubah realitas di sekeliling kita ataukah merubah realitas yang berada dalam jiwa kita. Apakah dengan cara meningkatkan skala eskpektasi kita ataukah menurunkan skala ekspektasi kita selaras dengan jiwa dan raga kita. Manakah yang lebih real sesuatu yang berada di luar kita (kesuksesan) atau sesuatu yang berada di jiwa kita (kepuasaan).

Maka menjadi pertanyaan mendasar, apakah kita akan merubah realitas di luar diri kita yang kemudian kita maknai sebagai kesuksesan agar hati kita puas ?. Ataukah sebaliknya saja. Memposisikan (merubah) realitas hati, untuk bersiap menerima (memaknai) takdir apapun yang menghampiri kita, dengan kearifan. Karenanya selanjutnya, tidak ada lagi konsep takdir baik dan buruk diantara kesadaran nya. Sehingga setiap saat hati akan tetap dalam keadaan (posisi) suasana kepuasan yang sama, meski apapun (keadaan) realitas di luar kita.Hati siap dalam penerimaan. Siap melakukan perubahan, dalam rangka melakukan penerimaan sebagaimana yang dimaksudkan. Menjadikan dasar penerimaan sebagai momentum perubahan dalam jiwanya.

“Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah tidak ada rasa takut atas (diri) mereka dan tidaklah mereka bersedih hati.” (QS. Yunus; 62)

Maka kajian ini diharapkan akan mampu memberikan alternatif pemikiran, yang akan menjadi pondasi lahirnya paradigma baru tentang takdir, yang pada gilirannya akan mampu mereposisikan kembali konsepsi takdir. Membingkai konsepsi takdir dalam orbit yang semestinya, dalam bingkai yang selaras dengan ketetapan Tuhan, sehingga jiwa akan puas, tenang dan ridho dalam menjalani takdirnya masing-masing, menjalani kehidupannya di dunia ini. Menjadi kekuatan iman, dan diharapkan  paradigma ini nantinya mampu melakukan ‘bargaining position’ ketika berbenturan dengan kesadaran kolektif bangsa barat. Sehingga setiap diri akhirnya akan mampu membangun  takdirnya sendiri dalam orbitnya masing-masing, yang senantiasa harmoni dengan alam semesta.

Persepsi yang dibangun  

Pengalaman empiris dalam peradaban manusia mengajarkan banyak hal. Ketakutan akan terjadi dan terulangnya sesuatu yang tidak menyenangkan dalam kehidupannya, menjadikan manusia terus berfikir, terus berusaha, melakukan sesuatu, manusia membuat sesuatu, memperbaiki sesuatu, menciptakan apa saja. Sehingga kemudian terciptalah barang dan jasa dalam peradaban manusia. 

Ketakutan manusia akan pencuri, telah menciptakan system keamanan rumah, mulai dari hanya sekedar kunci biasa, hingga sampai jaman sekarang ini telah tercipta system keamanan super canggih, lengkap dengan alarm, CCTV, bahkan sudah terkoneksi ke system keamanan di kepolisian.Padahal jika kita kaji, kasus pencurian di dalam rumah mungkin hanya terjadi 1 kasus di banding 1000. Ketakutan manusia akan seseorang yang dapat masuk ke rumahnya telah menciptakan system keamanan rumah yang sekarang ini telah dijual bebas. Kemanapun manusia pergi senantiasa dia masih bisa melihat kondisi rumahnya, dengan bantuan satelit dan handphone dalam sakunya. Dari satu ketakutan ini saja ternyata telah menciptakan jutaan lapangan kerja.

Disisi lain, menjadi menarik jika kita kaji, ternyata ketakutan manusia dalam segala hal ternyata telah memicu perkembangan perdaban manusia. Ketakutan manusia akan kemiskinan menyebabkan dia rela bekerja tak kenal waktu. Ketakutan manusia akan keamanan dirinya, dan keamanan nasionalnya, telah menciptakan perlombaan senjata dan system keamanan nasional mereka. Kesadaran kolektif manusia tentang hal ini ini kemudian di turunkan dari generasi ke generasi. Melalui ilmu pengetahuan, melalui pengajaran, melalui pemberitaan, melalui tindakan dan langkah nyata. Sehingga kemudian terbentuklah suatu peradaban suatu bangsa dengan kesadaran kolektifnya masing-masing.

Semua terjadi seiring dan sejalan dengan meningkatnya jumlah populasi manusia. Manusia di dorong oleh kesadaran kolektifnya. Apa yang dilakukan setiap diri adalah mencerminkan perilaku kesadaran masyarakat dimana dia dilahirkan. Maka dapat dikatakan manusia tidak dapat bebas dan bahkan tidak akan mampu melepaskan diri dari ikatan kesadaran kolektifnya. Kesadaran dirinya telah terkurung dalam kesadaran kolektif masyarakatnya. Seiring dengan meningkatnya populasi manusia, maka terjadi pergeseran dalam kesadaran, mengisyaratkan rivalitas dalam berusaha dan bekerja. Membuat setiap manusia harus senantiasa meningkatkan kemampuan dirinya agar mampu bersaing dengan manusia lainnya. Realitas yang di dapat dalam kehidupan dewasa  ini, telah mengajarkan bahwa manusia harus senantiasa bekerja dan bekerja agar dirinya tidak mengalami nasib yang buruk. Kesadaran kolektif telah men justifikasi wilayah ini, menimbulkan ketakutan tersendiri bagi setiap diri manusia.

Manusia harus terus bersaing dengan lainnya. Kesadaran dirinya telah di kuasai persepsi masyarakatnya, yaitu persepsi penguasaan materi versus persepsi kemiskinan, menimbulkan bauran persepsi tersendiri bagi setiap individu dalam memaknai. Persepsi tentang makna sukses misalnya, disusupkan dalam kesadaran setiap individu dalam populasi itu. Melalui pengajaran, melalui adat istiadat, melalui interaksi komunikasi, dan lain sebagainya. Begitulah keadaannya. Menumbuhkan kesadaran diri bagi setiap individu. Kesadaran ini selanjutnya secara bersama-sama, mengkristal, melahirkan kesadaran turunan berupa paham. Menjadi keyakinan setiap bangsa yang akan diturunkan kepada generasi berikutnya. Kesadaran kolekif yang telah mengkristal salah satunya adalah paham sekulerisme dari bangsa barat. Demikian juga yang terjadi di bangsa timur, telah muncul paham yang bersifat religious, kental dengan nilai-nilai spiritual. Maka ketika kedua paham ini berbenturan. Sekulerisme versus spiritualisme. Pada tataran jiwa benturan ini menimbulkan kegalauan luar biasa. Maka dari awal ketika terjadi benturan inilah, bangsa timur kemudian melahirkan generasi yang gamang, mau spiritual ataukah sekuler, maju kena mundur kena. Menjadi bangsa dimana generasi mudanya telah tercerabut dari akarnya, di libas realitas ala sekulerisme.

Membangun realitas

Tanpa disadari setiap diri manusia telah dipaksa untuk mengikuti kesadaran kolektif yang terbentuk oleh persepsi kolektif, dimana dia dilahirkan. Meski kadang bila kita mampu berfikir jernih persepsi ini sering berbeda antara satu dan lainnya. Persepsi sesungguhnya tidaklah real namun dikarenakan kesadaran sudah menganggap bahwa itu realitas jadilah setiap diri meng-amini saja.

Misalnya persepsi manusia tentang hantu. Kesadaran kolektif manusia tentang hantu sangat beragam dan bervariasi sekali. Meski tidak dapat di buktikan secara ilmiah, hantu ternyata telah mempengaruhi kesadaran suatu bangsa. Ketakutan akan sesuatu yang tidak nampak, ketakutan akan sesuatu kekuatan di luar dirinya yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwanya, membuat manusia tidak mampu berfikir secara logis lagi. Kesadaran dirinya telah diliputi kesadaran kolektif masyarakatnya. Sehingga sudah menjadi tidak penting lagi bagi dirinya apakah hantu tersebut ada atau tidak. Kesadaran dirinya telah menerima hal tersebut sebagai realitas dalam kehidupannya. Maka sewaktu-waktu dapat saja dia di cekam ketakutan yang amat sangat ketika sendirian. Uniknya, di antara belahan bumi yang satu dan lainnya perwujudan hantu tersebut tidak sama. Hantu pocong di Australia ternyata tidak ada. Kemunculan hantu pocong ternyata malahan menimbulkan tawa disana. Banyak anak-anak disana ketika melihat kemunculan hantu pocong di televisi malahan disangka sebagai badut.

Perwujudan sesuatu yang disebut hantu pocong ternyata telah di persepsi lain disana. Hantu pocong tidak menimbulkan rasa takut. Hantu pocong ternyata malahan menimbulkan rasa geli bagi penonton disana. Di Indonesia, hantu ini mampu membuat orang lari terkencing-kencing saking takutnya. Adakah yang aneh ?. Hantu pocong ternyata telah menimbulkan dua rahsa yang berbeda rahsa takut dan rahsa geli. Menjadi pemikiran tersendiri kenapa hantu pocong tidak menimbulkan efek yang sama diantara mereka ?.

Menjadi pertanyaan lanjutan kita, jika begitu kejadiannya manakah yang lebih real; apakah hantu itu sendiri ataukah persepsi manusianya ?. Ketika persepsi manusia berbeda maka hantu pocong yang di Indonesia dianggap sebagai realitas bagi kesadaran masyarakatnya, nyatanya di Australia tidak dianggap sebagai realitas. Disana dianggap sebagai guyonan saja. 

Maka dapat kita simpulkan dari contoh tersebut bahwa, apakah sesuatu itu dianggap hantu atau bukan, ternyata sangat tergantung oleh persepsi manusia itu sendiri. Tergantung kepada file yang ada dalam kesadaran manusia tersebut. Hantu atau bukan tergantung kepada siapa pengamatnya. Inilah konsepsi pertama kita.

Dari kesimpulan tersebut dapat kita runut, kebelakang ternyata yang menentukan bahwa sesuatu itu hantu atau bukan adalah kita sendiri. Kemudian dapat kita pertegas lagi, yang menentukan apakah sesuatu itu akan menimbulkan ketakutan atau tidak adalah juga kita sendiri. Kitalah yang membuat pilihan apakah hantu pocong tersebut akan membuat ketakutan kepada kita ataukah tidak. Kepada diri kita ternyata diberikan pilihan bebas mau takut kepada hantu pocong atau tidak ?. Semua pilihan rahsa ada pada diri kita sendiri. Karena disebabkan diri kitalah yang memilih persepsinya.  Inilah konsepsi kedua dalam kajian ini.

Kesadaran kita nyatanya diberikan pilihan mau memilih persepsi yang manakah diamtara kedua persepsi untuk hantu pocong tersebut. Apakah persepsi masyarakat Australia ataukah masyarakat Indonesia. Mau takut silahkan mau ketawa juga boleh. Rahsa yang kita rasakan ternyata bekerja berdasarkan persepsi yang kita maui. Yaitu persepsi yang secara sadar telah kita pelihara dan pertahankan keadaannya dalam kesadaran kita.

Sekali lagi, ketakutan kita akan hantu pocong ternyata adalah ketakutan yang disebabkan persepsi kesadaran kolektif masyarakat kita saja. Kemudian kesadaran diri  bekerja berdasarkan informasi yang kita terima dari kesadaran kolektif ini. Kesadaran kita tidaklah bebas. Kesadaran kita senantiasa diliputi oleh kesadaran kolektif. Sejatinya diri kita boleh saja, dan bebas saja untuk memilih, tergantung kepada kita. Mau memilih persepsi yang mana saja, kembalinya kepada kita. Maka kenapa kita tidak mencoba memasukan persepsi yang lain dalam kesadaran kita ?. Namun untuk mengerti hal ini, sungguh di butuhkan pemahaman kesadaran yang lebih tinggi. Keadaan setiap diri sering kali terhijab oleh kesadaran kolektif sehingga tidak mampu keluar dari wilayah ini. Inilah dilematikanya.

Berdasarkan logika inilah saya mencoba menyusun ulang konsepsi takdir yang selama ini sudah menjadi kegamangan tersendiri bagi kita dalam menyikapinya. Membangkitkan kesadaran diri agar berani membuka hijab atas kesadaran kolektif yang sudah sekian lama meng-cover. Kemudian selanjutnya kita akan mampu membangun realitas seusai dengan keadaan yang sesungguhnya, bukan berdasarkan persepsi lagi. Hingga karenanya kita akan mampu Mereposisikan Kembali Konsepsi Takdir, dalam kesadaran kita, sehingga lebih membumi.

Konsepsi takdir dalam dilema

Konsepsi takdir selama ini mengalami ambivalensi yang serius, ketika nyatanya konsepsi tersebut tidak mampu menjelaskan realitas yang terjadi pada diri manusia. Pertarungan konsep Jabariyah melawan konsep Qodariyah, atau konsep Free Will melawan konsep Determinisme, yang sudah berlangsung ber abad-abad lalu tidak juga menemui jalan keluar hingga abad kini. Masing-masing kubu sering hanya menelan  mentah-mentah konsep tersebut begitu saja, meskipun manusia sendiri akan kesulitan dalam memaknainya. Karena realitasnya adalah tidak ada konsep Jabariyah murni atau Qodariyah murni yang berlaku atas diri manusia.

Konsepsi lain yang berusaha menengahi, dan berada di tengah-tengah, yaitu paham manusia berusaha Tuhan yang menentukan, (paham yang dianut Ahli Sunnah Wal Jamaah), dalam penerapannya, (ketika) kita amati ke dalam diri kita masing-masing, sering menimbulkan sikap inkonsistensi dalam jiwa kita sendiri. Menimbulkan ambivalensi lainnya bagi pengusungnya, terutama di jaman kapitalisme ini. Ketika manusia telah berusaha dengan sungguh-sungguh, dan ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Manusia tak jarang menyalahkan Tuhan. Manusia senantiasa meminta imbalan kepada Tuhan atas hasil kerjanya berdasarkan keinginan masing-masing, begitulah pengharapan manusia. Betapa kecewa manusia ketika usahanya tidak dihargai Tuhan.

Manusia telah merasa bekerja keras maka sudah sewajarnya jika Tuhan kemudian memberikan apa saja keinginannya. Itulah pemikiran manusia. Ketika keinginan manusia tidak dipenuhi oleh Tuhan, maka manusia kemudian menyalahkan apa saja, bahkan tak jarang menyesali diri dan menyalahkan nasib atau takdir yang menimpanya. Tak jarang jika kemudian ada manusia yang mempertanyakan eksistensi Tuhan.

Menjadi pertanyaan, mengapakah bisa begitu ?. Apakah konsep-konsep tersebut yang kurang pas, ataukah kita yang kesulitan dalam memaknainya. Sehingga ketika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari konsep tersebut tak mampu menjelaskan apa-apa kepada kita. Atau, apakah kita yang kurang tepat dalam memposisikan konsep takdir tersebut ?. Bilakah kita mereposisi konsepsi pemahaman takdir yang sudah terlanjur mengakar di kesadaran kolektif kita ?. 

Kegamangan manusia akan takdirnya, membuat manusia selalu berikhtiar mencari tahu hakekatnya. Ketika harapan tidak sesuai dengan keinginan manusia maka manusia kemudian berupaya untuk mempertanyakan apakah hal tersebut sudah menjadi takdir Tuhan ataukah bukan ?.  Manusia kemudian berbondong-bondong ingin merubah takdirnya. Merubah keadaan dirinya sesuai dengan keinginannya masing-masing. Sesuai dengan angannya masing-masing. Upaya manusia untuk merubah keadaan dirinya (baca; takdir) bermacam-macam; ada yang menempuh jalur supranatural, mendatangi dukun, mendatangi kyai, mendatangi tempat-tempat angker, mendatangi paranormal, ada yang berdoa dengan khusuk memohon kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Banyak sekali rupa dan caranya. Namun bagaimanakah kesudahannya ?. Rasanya perlu ada penelitian yang mengkaji perihal ini.

Terlepas dari kondisi itu, selayakanya menjadi pertanyaan kita bersama :

Mengapakah kemudian manusia ber keinginan mengubah Takdir nya ?
Mengapakah kemudian manusia berkeinginan merubah ketetapan Tuhan nya ?.
Apakah ketetapan Tuhan telah dianggap salah ?.
Betulkan ketetapan Tuhan bisa diubah-ubah ?. 
Kalau suatu ketetapan bisa di ubah bukannya itu inkonsistensi ?.
Bukannya ketetapan Tuhan adalah ketetapan yang pasti berlaku dari dahulu hingga kini,
lantas ketetapan mana yang ingin kita ubah ?.
Lha kalau tidak bisa diubah, lantas bagaimana cara kita merubah takdir ?.
Benarkah doa-doa akan mampu merubah takdir kita ?.
Pertanyaannya, takdir mana yang akan kita rubah ?.
Sungguhkah takdir dapat berubah atas upaya kita,
sungguhkah upaya kita ?.

Pertanyaan-pertanyan tersebut layak kita uji dalam hati kita masing-masing. Benarkah kita akan merubah ketetapan Tuhan atas diri kita ?. Bagaimana caranya ?. Jangan-jangan kita hanyalah terjebak dalam pertanyaan retorika saja. Salah satu konsepsi yang menyatakan perihal ada takdir yang bisa di rubah memang menimbulkan secercah harapan tersendiri. Namun jika kita kaji konsepsi ini dengan logika yang jernih, bukankah kita sepertinya meragukan akan system keadilan Tuhan, sebab sepertinya kita dengan menyengaja ikut campur tangan dalam upaya merubah ketetapan-Nya atas diri kita. Sungguh, secara tidak langsung~ seakan-akan kita telah  mempertanyakan system keadilan Tuhan atas diri kita.  Kita tidak yakin dan tidak percaya bahwa Tuhan memiliki system keadilan yang sangat luar biasa untuk setiap hamba-hamba-Nya. Dan Dia tidak akan merugikan manusia walau sekecil zarah. Kenapa kita senantiasa meragukan ini ?. Bukankah selayaknya kita percaya dan yakin atas hal ini ?. Lantas kenapakah kita ingin merubah ketetapan-Nya atas diri kita ?. Yakinkah jika sesuatu yang kita inginkan tersebut adalah takdir terbaik kita ?. Manakah yang lebih tahu kita ataukah Allah ?. Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi takdir kita ?. Menerima, merubah ataukah menolak?.

Sungguh manusia senantiasa dalam kegamangannya sendiri. Karenanya mau tidak mau manusia harus membangun realitasnya masing-masing,?. Memilih dan memilah, memberikan penekanan kepada hakekat realitas. Sesungguhnya manakah yang lebih real kesuksesan ataukah kepuasan jiwa. Selanjutnya fokus kepada realitas itu sendiri. Manakah yang realitas sesungguhnya diantara konsensi dalam konsepsi takdir yang dipilihnya ?. Manusia harus mengenalinya. Maka selanjutnya manusia akan mampu membangun realitas atas takdirnya masing-masing.

Merekontruksi ulang konsep

"Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah tidak ada rasa takut atas (diri) mereka dan tidaklah mereka bersedih hati.” (QS. Yunus; 62)

“Yaitu, orang-orang yang beriman dan senantiasa ber takwa “ (QS. Yunus ; 63)

Demikianlah, kajian ini di gulirkan mengiringi larinya jiwa manusia yang senantiasa ingin terus berlari dan berlari, hingga terasanya  hilang pedih dan perih ketika memaknai dan  meniti ‘galau’  takdir mereka masing-masing. [Sumber : Millist Dzikrullah - http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/]


Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]