GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Rabu, 07 Maret 2012

INTENET DAN MAHASISWA MALAS

TUGAS DAN BACAAN


Tanya saja Paman Go­ogle.” Begitulah sapaan akrab maha­siswa saat mencari se­suatu yang baru. Google sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa. Setiap referensi untuk setiap mata ku­liah lebih banyak dicari di situs www.­google.com.

Billy Yunarto, mahasiswa yang kuliah di Politeknik Negeri Padang ini mengatakan, Google menyediakan berbagai media dan content. Setiap referensi yang dibutuhkan mahasiswa yang akrab di­panggil Billy ini dicari melalui mesin pencari Google. Tidak hanya referensi tugas kuliah, ia juga kerap mencari bahan-bahan menarik untuk di­dow­nload melalui situs ini.

Alumni MAN 2 Padang itu menyebutkan, bahwa mencari referensi dengan Google jauh lebih nyaman ketimbang buku. Selain itu, ada juga Wikipedia yang menyediakan fasilitas dan informasi penting lainnya. Namun, beberapa pendidikan tinggi di dunia, tak mem­benarkan sebuah karya ilmiah memakai referensi Wikipedia ini. Ketersedian ini sangat membantu bagi mahasiswa dalam proses kuliahnya. “Tidak semua mahasiswa bisa mempunyai buku. Di samping harga buku yang mahal, buku yang harus dicari pun lebih dari satu. Jika meminjam dari pustaka, akan diberikan masa tenggat pemin­jaman. Tanya Paman Google lebih murah, “ kata Billy beragumentasi.

Menurutnya, ia tak takut dengan kesalahan informasi yang mungkin didapatnya. “Mutunya terjamin. Tergantung pengguna melihatnya. Selain itu juga dapat mendownload buku buku online gratis,” ia beralasan.

Tidak jauh berbeda dengan Budi Fernandes. Menurut mahasiswa STMIK Indonesia Padang ini, Google telah menyediakan fasilitas yang sangat bagus. Situs yang satu ini bisa membantu mahasiswa mencari puluhan bahkan ratu­san referensi  dalam waktu yang sedikit. Ini lebih efektif dari­pada membongkar rak perpus­takaan dan membolak-balik buku. Pendapatnya ini juga diamini Tedy, mahasiswa UPI YPTK Padang.

Dicinta Mayoritas Maha­siswa Dari survei kecil-kecilan yang dilakukan terhadap ma­hasiswa IAIN Imam Bon­jol, Padang, terungkap bahwa mayoritas mereka lebih banyak mencari referensi di internet. Memang, masih ada mahasiswa yang rela mengobrak-abrik perpustakaan kampus untuk mencari referensi, tapi jum­lahnya tak banyak. Itupun, mereka masih mencari tam­bahan informasi dari inter­net, sebab bahan referensi yang disediakan perpustakaan tidak komplit.

Ini diakui sendiri oleh Eni, mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol. “Teori dari buku referensi yang saya temukan di perpustakaan akan saya coba bandingkan dengan teori pemikir lain yang saya temukan di internet. Memang sih, jadinya saya search bahan juga di Google. Ini terpaksa dilakukan, karena bahan di pustaka tidak cukup, sementara tugas kuliah begitu banyak. Saya tak mungkin mencari bahan ke perpustakaan di kampus-kampus lain.”

Apa yang disampaikan Eni ini mungkin ada benarnya. Sudah bukan rahasia lagi beban kuliah mahasiswa begitu banyak. Tak cukup hanya menjalani 24 SKS kuliah seminggu, harus ditambah lagi dengan tugas-tugas kuliah yang harus diker­jakan dengan referensi yang banyak. Beratnya beban ini membuat mahasiswa cen­de­rung memilih jalan pintas. Mereka pun memilih mencari informasi di internet. Tak peduli apakah informasi yang mereka dapatkan itu ditulis oleh orang yang sama sekali bukan pakar, isinya dangkal atau bahkan tidak benar.

Kecendrungan mahasiswa mencari referensi melalui internet ini ditanggapi oleh Muhammad Natsir, Dosen Sejarah Jurnalistik IAIN Imam Bonjol. Menurutnya mencari bahan lewat internet itu boleh saja.“Itu kan sifatnya teknis saja,” ujarnya.

Boleh saja mencari referensi melalui internet tersebut, asal dikritisi dan dianalisa. Yang tidak bisa dibenarkan adalah, jika artikel itu lalu dicopy paste dan diakui sebagai milik sendiri. Para mahasiswa malas umumnya hunting makalah atau artikel di internet, lalu mengganti nama di artikel tersebut dengan namanya sen­diri.

“Semestinya, sebelum men­cari bahan, si mahasiswa sudah memiliki kerangka tulisan sendiri, hingga yang ia cari hanyalah referensi pendukung untuk tulisan tersebut.Kata kunci yang digunakan dalam mencari juga me­nun­jukkan kemampuan (ana­lisa) itu,” ujar dosen yang akrab disapa Bang Acil ini sembari men­con­tohkan, ma­ hasiswa yang hen­dak mem­buat tulisan ten­tang se­jarah pers di masa kolonial mung­kin akan menget­ikan kata ‘pers’ dan ‘politik etis.’

“Yang terpenting itu m­e­ngana­lisa dan mengkritisi referensi yang ditemukan,” ujar Bang Acil, “bukan me­neri­manya begitu saja, sebab hal yang demikian tidak membuat akal berkembang,” tuturnya mengakhiri. (Sumber : Harian Haluan, Minggu, 13 November 2011)

Informasi Lainnya :









Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]