GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Rabu, 08 Februari 2012

Keutamaan Memakai Nama ESEMKA

Oleh: Ibnu Hamad
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud

Kehadiran mobil ESEMKA telah menarik perhatian publik. Apalagi sejumlah selebriti politik ikut terlibat dalam pro dan kontra; memanfaatkannya sebagai kendaraan pencitraan. Alhasil, merek mobil ESEMKA langsung melejit sebelum produknya sendiri berlalu lalang di jalan-jalan beraspal di seluruh Indonesia.

Dalam polemik itu, berbagai aspek mobil ESEMKA diperdebatkan sejak dari karoseri, uji emisi, dukungan kebijakan pemerintah, hingga masalah produksi massalnya; bahkan ada mengomentari khusus mengenai tampilan muka yang katanya seperti mobil merek anu sedangkan tampak belakangnya mirip mobil merek anu.

Tak terkecuali ada yang mengeritik nama ESEMKA itu sendiri. Dalam sebuah tulisan di Koran Sindo, edisi Rabu 18 Januari 2012, seorang pakar merek (brand) Amelia E. Maulana, PhD menulis dengan judul “Urgent: Ganti Nama ESEMKA”. Untuk itu ia mengeluarkan tiga tip. Selengkapnya kita kutipkan lagi di bawah ini.

Tip 1. Menjauh dari nama SMK. Katanya, makna brand itu sarat dengan asosiasi. Jika asosiasinya kebetulan positif, itu menguntungkan. Tetapi sebaliknya, apabila namanya saja sudah mempunyai asosiasi pada hal-hal yang tidak sebenarnya atau mengurangi kepercayaan, maka menggunakan nama tersebut harus dipikirkan sekali lagi.

Seperti yang kita ketahui, SMK (dibaca ESEMKA) adalah sekolah yang sarat dengan praktik untuk siswa.Memberikan label yang diucapkan sama bunyinya dengan SMK akan mengingatkan calon pembeli bahwa produk ini adalah produk praktik. Bahwa kenyataannya produk ini sudah dikerjakan dengan profesional, berapa persen target pembelinya yang mengerti?

Tip 2. Pilih nama yang bisa diterima di dunia internasional. Jika suatu saat produk ini sudah berhasil di pasar lokal, siapa tahu pasarnya akan menjadi lebih luas dari sekedar orang Indonesia yang menjunjung nasionalisme yang tinggi. Brand Manager harus memikirkan kemungkinan brand extension sejak sebelum produk hadir di pasaran.

Menyiapkan diri berarti melakukan studi penerimaan nama brand,apakah namanya cukup “enak” dan “bunyi” di telinga pasar internasional. Apakah dari nama tersebut membentuk persepsi terhadap image internasional yang akan diproyeksikan tersebut.

Tip 3. Cari nama yang gampang diingat dan disukai Seorang teman merespons status FB saya dengan komentar,“Aku kira lagi ngebahas SMK alias sekolah menengah kejuruan (zaman baheula)....”. Sebenarnya persepsi ini tidak salah, karena memang saya sedang membahas tentang produk hasil sekolah SMK. Yang menarik untuk dicermati,SMK dikaitkan dengan sesuatu yang jadul/baheula, padahal SMK sendiri masih tetap ada dan bahkan makin eksis belakangan ini.

Betulkah nama ESEMKA punya konotasi produk sekolahan, sekolahan zaman baheula pula? ini harus dicek lebih jauh oleh pemilik brand,bagaimana untuk lepas dari asosiasi- asosiasi kurang menguntungkan tersebut. Teman yang lain menyangka saya sedang membahas Asemka, tempat jual-beli alat tulis di daerah Kota, Jakarta. Mungkin teman ini baca status saya sambil lalu saja, sehingga nama itu langsung dicek oleh bawah sadarnya secara cepat dan kemudian terjadilah mispersepsi.

Munculnya nama plesetan dari ESEMKA yang beredar di dunia maya juga merupakan sebuah indikasi bahwa tingkat “kepercayaan” masyarakat terhadap produk ini belum terbentuk. Nama ESEMKA dipelesetkan disejajarkan dengan ESPEGE (kependekan dari sales promotion girl).

Lelucon yang mungkin lucu buat sebagian dari kita tetapi tidak untuk pengelola brand ESEMKA,seperti yang ditulis oleh teman pria di BBG : “Setelah mobil ESEMKA sukses menarik minat masyarakat maka di tahun 2012 akan segera diluncurkan tipe terbaru yaitu ESPEGE…dengan keunggulan mudah dikendarai, lebih empuk dan nyaman, tapi agak sedikit boros di dompet.”

Keutamaan Nama ESEMKA

Untuk merespon tip 1 di atas, saya bisa menunjukkan sekurang-kurangnya tujuh keuntungan dari penggunaan nama ESEMKA. Pertama, nama ini orisinil Indonesia mengingat singkatan SMK untuk sekolah menengah kejuruan itu hanya ada di Indonesia. Ini akan menjadi identitas merek (brand identity) yang khas Indonesia.

Kedua, nama ESEMKA menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan memiliki pengaruh yang signifikan bagi kemajuan teknologi nasional. Apalagi produk SMK bukan sebatas mobil, tetapi juga laptop, in focus, kapal laut, hingga pesawat terbang.

Ketiga, nama ESEMKA menjadi jaminan bahwa para lulusan sekolah kejuruan merupakan tenga kerja terampil yang siap bekerja dimana saja dalam bidang apapun.

Keempat, nama ESEMKA telah menaikkan citra SMK. Kini orang tidak dapat lagi memandangnya dengan sebelah mata. Selain menghasilkan tenaga terampil, SMK juga memberi peluang bagi para lulusannya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, seperti rekan-rekannya dari SMA.

Kelima, nama ESEMKA akan mendorong lahirnya iklim yang kompetitif di antara lembaga pendidikan yang relatif sejenis, terutama dengan jenjang yang lebih tinggi, untuk melahirkan produk-produk terbaik mereka. Sekarang saja sudah mulai muncul jargon: anak SMK saja bisa, masa perguruan tinggi tidak bisa?

Keenam, nama ESEMKA menjadi jaminan keberlanjutan produksi mobnas karena ia melekat dengan pelaksanaan pendidikan. Selama sistem pendidikan kita berjalan, yang di dalamnya ada SMK, selama itu pengkajian dan pembuatan mobnas akan berlanjut.

Ketujuh, nama ESEMKA menunjukkan bahwa pengembangan mobnas melalui SMK bukanlah proyek sesaat; melainkan menjadi bagian dari strategi nasional untuk kemajuan bangsa yang melekat dalam sistem pendidikan nasional.

Respon untuk tip 2, pertanyaannya apa sih ukurannya internasional itu? Apakah benar yang “enak” dan “bunyi” di telinga pasar internasional itu berarti haru selalu memakai nama yang kebarat-baratan? Kiranya tidak selalu. Lagi pula, trend branding yang berbasis etnografis dewasa ini kian mendapat tempat di hati konsumen.

Lebih krusial lagi, salah satu aspek penting dari nama/brand adalah aktivitas pengkomunikasiannya. Nama keren perlu, tetapi brand yang biasa-biasanya saja (maaf, bahkan kampungan sekalipun) akan menjadi terbiasa di telinga orang jika dilakukan publisitas secara optimal.

Mengapa demikian? Karena di balik aktivitas pengkomunikasian merek/brand itu ada upaya memperkenalkan, mengajarkan, dan mendorong peniruan dalam pengucapan. Sebab itulah, dalam keseharian sering kita tak menyadari bahwa kita telah menghafal sejumlah merek karena terpapar oleh ragam merek tersebut melalui berbagai jenis media. Dari sejumlah merek yang kita hafal tersebut tidak semuanya kebarat-baratan, tetapi juga Jepang, Korea, China, Taiwan, India, dan negara tiimur lainnya.

Respon untuk tip 3, kiranya sudah jelas bahwa nama ESEMKA gampang diingat. Buktinya, nama ini terus menjadi buah bibir sejak awal kemunculannya. Pro-kontra mengenai mobil ini di antara para pesohor politik dari level walikota, gubernur, menteri hingga presiden, kian menambah besar nama ESEMKA. Di tangan para politisi termasuk kalangan DPR nama ESEMKA mencuat bagaikan hendak menembus langit nusantara. Ditambah pula nama ESEMKA selaku tanda (sign) secara semiotis memiliki petanda (signifier) yang amat banyak yaitu SMK-SMK yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.

Soal disukai atau tidak, menjadi plesetan sekalipun, tampaknya sangat gegabah hanya karena seorang kawan berkomentar yang rada miring di FB, lantas menyebut nama ESEMKA tidak disukai ataupun jadi bahan olok-olokan. Dalam jejaring media sosial, jumlah pengikut adalah hal yang sangat penting. Kalau baru satu dua saja belum bisa dijadikan indikator. Puluhan, ratusan, saja belum dapat dipakai sebagai ukuran. Hanya kalau mengantongi angka ribuan, baru diperhitungkan. Lebih kuat lagi kalau hitungannya adalah puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan dan seterusnya.

Yang Penting 3B

Semua masukan untuk kebaikan sudah barang tentu adalah sangat berharga. Paling tidak itu menunjukkan tanda perhatian. Akan tetapi untuk mobnas yang bernama ESEMKA ini, di tengah-tengah blantika industri mobil Indonesia, ada 3B yang perlu dilakukan: Bicarakan, Beli, dan Budayakan.

Untuk B yang pertama, kita sudah banyak membicarakannya. Hampir semua yang berkenaan dengan mobil ESEMKA kita pernah mendengar dan atau membacanya. Agar namanya tetap bergema di seantero Nusantara bahkan mendunia, pembicaraan tersebut perlu terus dilanjutkan; bukan saja pada oborolan biasa, dalam pemberitaan, pamer cakap di TV, radio, dan seminar, melainkan menjadi bahan penelitian untuk riset skripsi, tesis, dan disertasi ataupun untuk dimuat di jurnal nasional maupun internasional. Bagi yang mampu berbahasa asing, baik juga membicarakannya dalam ragam bahasa: Arab, China, Inggris, Jepang, Jerman, Korea, Prancis, Rusia, Spanyol, dan lain sebagainya.

Untuk B yang kedua, bagi mereka yang mampu secara finansial, jadikanlah mobil ESEMKA di urutan pertama dalam daftar pilihan mobil yang akan dibeli. Dengan membelinya berarti kita mendukung produksi mobil ESEMKA secara massal.

Untuk B yang ketiga, baik bagi yang mampu maupun bagi yang belum mampu, jadikanlah mobil ESEMKA sebagai bagian dari menumbuhkan budaya nasionalisme Indonesia. Sebab, hanya dengan cara inilah pengembangan mobnas Indonesia akan berjalan dengan baik sebagaimana ditempuh oleh bangsa Jepang, Korea, China, ataupun Malaysia. Mereka bangga dengan karya bangsanya sendiri dan menjadikannya sebagai budaya nasional mereka. Mereka bisa, kita juga tentu bisa (*)

Sumber : http://kemdiknas.go.id

Artikel Terkait :

MENGAPA HARUS KE SMA ???

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]