GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Minggu, 26 Februari 2012

Bohong dan Pendidikan Nurani

Oleh : Duski Samad
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang

Saya tidak tahu, saya tidak ingat yang mulia.” Begitu di antara satu bunyi pernyataan tersangka dalam persidangan kasus korupsi yang diucapkannya dengan dingin, datar dan seakan-akan tanpa dosa. Pemeriksaan terhadap pelaku korupsi di Pengadilan Tipikor (tindak pidana korupsi) yang ditayangkan secara langsung lewat media televisi dengan nyata membuka aib, setidak-tidaknya aib moral bohong, berupa kebohongan dan pembohongan para pihak yang sedang berurusan dengan aparat hukum.

Tidak terlalu sulit menilai pertanyaan ataupun pernyataan dari para pihak—saksi, terdakwa, pengacara atau pihak terkait lainnya—yang dengan wajah tenang dan suara dingin menerangkan tentang bagaimana modus operandi yang mereka lakukan, atau bagaimana sesama grup saling melempar kesalahan demi untuk mengamankan diri atau kelompoknya. Berbohong dengan alasan dan dalih yang seolah-olahya benar telah menjadi hal biasa, dan dilakukan bagaikan tidak ada dosa padanya.  

Memang, satu di antara penyakit sosial (patologi social) adalah berbohong. Berbohong pada dasarnya sifat buruk yang dimiliki hampir semua orang. Hanya berbeda dalam skalanya, besar atau kecilnya, motivasi dan tujuannya. Sifat bohong muncul ketika ada sesuatu yang ingin disembunyikan atau di saat seseorang ingin mendapatkan sesuatu di luar kewajaran. Berbohong merupakan sifat tercela yang dibenci setiap agama, norma dan budaya mana saja. Bohong bukan saja merugikan orang lain, tetapi justru merusak reputasi dan harga diri si pembohong itu sendiri. Berbohong menjadi perilaku buruk karena kebohongan dan pembohongan itu dipastikan mendatangkan kemudaratan dan kerusakan bagi orang lain dan sistem kehidupan.
 
Kebaikan interaksi sosial antarindividu dan komunitas ditentukan seberapa jauh sifat dan perilaku bohong dapat dicegah. Kepercayaan (trust) terhadap seseorang atau kelompok dipengaruhi sikap dan perilaku yang ditunjukkannya, apakah ia termasuk orang atau kelompok yang bersih dari perilaku sifat bohong. Sifat dan perilaku bohong menjadikan individu kehilangan kepercayaan. Pepatah lama mengatakan, sekupang pembeli kemenyan, setali pembeli ketaya, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Dalam sejarah peradaban manusia, berbohong menjadi kebiasaan buruk, yang bukan saja ditentang manusia berbudaya, bahkan bagi masyarakat nomaden perilaku berbohong adalah pantangan yang sangat keras dan akan mendapat risiko besar bila dilakukan seseorang atau sekelompok orang.

Bohon dan Nurani

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin edan ini, berbohong oleh banyak orang dianggap hal yang biasa dan lumrah adanya. Beberapa kasus besar yang tengah menimpa aparat negara, dengan kasat mata mempertontonkan bahaya kebohongan. Perilaku korupsi, mengambil hak orang, melenyapkan hak negara dan penyimpangan lainnya, jelas tidak akan pernah terjadi bila orang bersangkutan tidak mau berbohong. Bohonglah yang menjadi pangkal bala dari segala musibah dan kekacauan dalam kehidupan umat manusia.

Dalam satu riwayat diceritakan bahwa pernah menghadap Nabi Muhammad SAW, seorang sahabat yang dengan lugas menyatakan bahwa ia ingin masuk agama Islam. Namun, ia minta izin agar tetap dibolehkan melakukan perbuatan maksiat seperti minuman keras, berjudi, zina dan sebagainya. Nabi lalu mengizinkannya, namun dengan satu catatan nabi menegaskan kepadanya agar kamu jangan bohong. Persyaratan nabi dipenuhi sahabat tadi, lalu apa yang terjadi, setelah beberapa saat berlangsung, ketika ia akan melakukan maksiat, ia ingat pesan nabi agar jangan berbohong. Pesan Nabi Muhammad SAW jangan berbohong kemudian menyelamatkan sahabat itu dari maksiat. Ia malu kalau nanti nabi bertanya kepadanya, tentu ia akan berbohong. Bohong mencegah orang dari perbuatan dosa.   

Ketika kebiasaan bohong menjadi pakaian hidup atau sudah dianggap sebagai hal yang biasa saja, maka itu alamat keburukan akan menimpa orang tersebut. Tentang bagaimana orang bisa dengan mudah berbohong, atau darimana sesungguhnya adanya sifat bohong itu bisa menjadi kebiasaan atau karakter buruk seseorang? Kitab suci Al Quran mengungkap tentang sumber-sumber kebohongan, bahaya bohong, dan bagaimana menyikapi pembohongan atau kebohongan. Maraknya berita bohong pernah terjadi di zaman Rasul. Yaitu berita bohong mengenai istri Rasulullah SAW ’Aisyah RA Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban tahun ke 5 Hijriah. Perperangan ini diikuti kaum munafik, dan turut pula ’Aisyah dengan nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ’Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ’Aisyah masih ada dalam sekedup. Setelah ’Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat di tempat itu seorang sahabat nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, ditemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: ”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasul!” ’Aisyah terbangun.

Lalu, dia dipersilakan Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat atau komentarnya masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya. Maka fitnah atas ’Aisyah RA itu pun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Berita bohong yang menimpa keluarga nabi tersebut oleh  Allah SWT dijadikan peringatan dan dijelaskan untuk menepis kebohongan yang sengaja dibuat dan disebarkan munafiqin Madinah ……(11) Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan, siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (12). Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ”Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (13). Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (14).

Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (15). (ingatlah) Di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah adalah besar. (16). Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: ”Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”(17). Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. (18). Dan, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al- Nuur, 11-18)

Menelaah ayat di atas ada beberapa kata tegas yang dipesan sang pencipta tentang bahaya dan akibat yang tidak disadari pelaku dusta itu. Bahwa berbohong atau dusta itu terjadi karena adanya usbah (adanya faktor internal). Usbah adalah orang dekat atau kelompok kecil yang dekat dengan kita, merekalah yang menjadi penyumbang munculnya sifat bohong oleh orang tertentu.  Bohong boleh jadi bagi pembohong adalah hal yang biasa dan mudah saja, tetapi bagi Allah bohong itu berat dan membawa mudarat, karena kebohongan sekecil apa pun pasti ada mudaratnya. Begitu halnya dengan para pihak yang menjadi mediasi (komentator, pengulas atau penyampai berita bohong) itu sangatlah besar bahayanya. Hanyalah orang bodoh nuraninya yang mau berbohong, karena memang bohong itu dusta besar yang tidak patut bagi orang beragama.

Sejalan dengan kebebasan berbicara, kebebasan menyampaikan pendapat, bebasnya media menyiarkan, menyampaikan berita dan informasi, maka hendaknya masyarakat harus dididik agar cerdas nuraninya untuk membedakan kesimpangsiuran antara yang bohong dengan yang benar. Sejarah mengajari manusia bahwa jujur dan lurus adalah mutiara berharga yang akan menyelamatkan kehidupan. Semoga kerapuhan hukum tidak dijadikan alat untuk menutupi kebohongan para pelanggar hukum. Patut diingatkan moto penegak hukum, meskipun langit akan runtuh, hukum mesti ditegakkan. Penegakan hukum pasti dapat mencegah dan meminimalisir pelanggaran hukum dan moral, demi hati nurani, aparat hukum tidak cukup profesional saja, tetapi juga harus cerdas nuraninya. Semoga bermanfaat adanya.

[Sumber : http://padangekspres.co.id]

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]