GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Senin, 16 Januari 2012

Mengajar Ada Seninya

Oleh : Feri Fren

Ketika seorang guru memberikan pelajaran kepada siswa, banyak kendala yang ditemui, seperti keterbatasan materi yang akan disampaikan, kurangnya waktu, kurangnya media dan alat serta tidak seriusnya siswa dalam mengikuti pelajaran.

Akibatnya,  banyak siswa yang belum tuntas. Nilai yang diperolehnya dibawah batas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan.

Berbicara KKM, penetapannya berdasarkan kompleksitas (kesulitan dan kerumitan materi), daya dukung dan intake siswa yang akan diajar. Kesemuanya ditentukan guru di awal tahun pelajaran saat lokakarya. Jelaslah disini, KKM harus dihitung dulu oleh guru sebelum belajar-mengajar dimulai.

Berulang kali guru menyampaikan materi kepada siswa, namun siswa masih belum memahami materi yang disampaikan guru. Guru pun melakukan program remedial bagi siswa agar mereka memperoleh ketuntasan dalam belajar.

Masih belum tuntas, guru memanggil orangtua dan berdiskusi mencarikan solusi terbaik bagi anak, supaya belajar lebih giat. Kegiatan yang dilakukan mungkin berupa belajar tambahan, private atau belajar kelompok dengan temannya di rumah.

Dari tindakan ini jelaslah bagi kita, kalau ada siswa yang gagal dalam belajar, yang selalu dipersalahkan siswa. Apakah guru dan orangtua tidak salah? Apakah guru dalam mengajar berada dalam suasana perang atau seperti susana di atas kuburan, menyeramkan.

Akibatnya, anak mengalami stres dalam belajar. Jangan harapkan akan terjadi transfer of knowledge kepada siswa jika kondisinya demikian.

Mari kita merenung sejenak, berapa jamkah waktu yang dipergunakan anak belajar dalam satu hari di sekolah dan rumah. Apakah terpikirkan, adanya waktu anak bermain melepaskan kelelahan otaknya?
Di sekolah anak belajar lebih kurang 6 jam, belum lagi sekolah yang memakai sistim full day. Siswa belajar selama 8 jam sehari. Tiba di rumah, habis magrib masih memerlukan waktu selama 2 jam lagi membuat pekerjaan rumah.

Data UNESCO menyebutkan, jumlah jam belajar anak-anak Indonesia mencapai 1.680 jam per tahun untuk SMP/SMA. Apabila dibandingkan Jepang, Perancis, Inggris dan Australia, Indonesia berada di atasnya. Unesco menetapkan jumlah jam belajar maksimal hanya 800 jam per tahun (www.journalnet.com)

Hal ini menimbulkan stres bagi anak, karena waktu bermain sudah tidak ada lagi. Ibarat ayam petelur, kalau jika stres, tidak akan bertelur.

Bentuk stres  siswa di sekolah antara lain:  tugas banyak diberikan guru dari berbagai mata pelajaran, memberi khabar petakut dengan mengatakan mata pelajarannya sulit atau ujian akan dilaksanakan sebentar lagi dan sebagainya.

Di lain pihak, orangtua di rumah menambah stres anak berupa disiplin tinggi dan ancaman.
Anak tidak boleh bermain dan menonton televisi karena harus membuat pekerjaan rumah, apalagi waktu ujian sudah dekat.

Ditambah lagi, orang tua membandingkan anak dengan temannya yang juara. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, anak memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Engku Muhammad Safei mengatakan, jangan harapkan buah mangga dari pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis.

Artinya, setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda. Agar anak bisa belajar dengan baik, mulailah mengajar dari sisi kelebihan yang dimilikinya. Jangan dimulai dari sisi kekurangannya, karena akan membuat anak semakin malas belajar.

Selama ini yang sering disalahkan adalah siswa. Apakah betul siswa yang tidak bisa menerima pelajaran atau cara guru menyampaikannya yang tidak pas, atau suasana dalam menyampaikan tidak menyenangkan, sehingga pesan tidak terkirim.

Siswa yang tidak suka belajar Bahasa Inggris, tetapi suka bermain sepakbola. Apa nyang harus dilakukan? Guru yang mengetahui kelebihan yang dimiliki siswa itu, akan memulainya dengan menanyakan siapakah pemain sepakbola yang kamu senangi? Mungkin sang anak akan menjawab Ronaldo.

Selanjutnya, guru mengajak anak untuk mencari data-data Ronaldo di internet, tentu anak akan bersemangat. Ketika anak melihat layar komputer, tentu keluar data tentang Ronaldo dalam bahasa Inggris semua.
Karena anak merasa senang dengan Ronaldo, maka ia akan berusaha mengenalinya lebih jauh. Anak akan membuka kamus untuk menterjemahkan, kapan perlu anak di suruh mengirim email ke alamat emailnya Ronaldo untuk berkenalan.

Dalam mata pelajaran lain juga bisa kita lihat, umpamanya seorang anak tidak suka belajar matematika, tetapi dia suka melempar pada pelajaran olahraga. Guru yang tahu sisi kelebihan siswa ini, akan memulainya dengan membuat angka matematika lalu disuruh siswa melemparnya dengan tepat, lalu dihitung berapa jaraknya.
Apabila siswa sudah merasa senang, sesulit apapun pelajaran pasti dia berusaha mempelajarinya. Pembelajaran lebih bermakna  bagi siswa, jika siswa merasakan langsung mamfaat dari apa yang dipelajarinya.

Berusahalah memulai pembelajaran dari sisi kelebihan yang dimiliki siswa, agar siswa merasa senang belajar. Kitapun sebagai guru merasa enjoy dalam mengajar. Mengajar itu ada seninya. (*)

[Sumber : Harian Singgalang, 09 January 201]

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]