GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Loading...
 

Kamis, 12 Januari 2012

Kajian : Pluralisme Fakta atau Gagasan



Mungkin kajian ini agak berat karena melibatkan banyak sisi kesadaran manusia. Banyak perumpamaan yang meski diajukan agar kita dapat melihat dari sisi yang lebih luas

Apa itu Pluralisme Agama?

MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengartikan pluralisme agama sebagai sebuah paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanyalah yang benar sedangkan yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk surga dan akan hidup berdampingan di dalam sorga kelak.

Dalam Wikipedia, The Free Encyclopedia (1 Februari 2008) pada entry Religious Pluralism dituliskan Pluralisme agama secara mudah adalah istilah bagi hubungan-hubungan damai antara beragama agama atau pluralisme agama menggambarkan pandangan bahwa agama seseorang bukanlah satu-satunya dan secara eksklusif menjadi sumber kebenaran dan karenanya pluralisme agama meyakini bahwa kebenaran itu tersebar di agama-agama yang lain.

Banyak sudah kajian di lontarkan, perihal bahasan ini. Banyak yang pro dan banyak pula yang kontra. Jelas pihak yang paling tertohok adalah kaum teologis. Doktrin kebenaran yang mereka yakini menjadi bias, di hadapkan dengan kebenaran versi kelompok lainnya. Sulit bagi setiap kelompok untuk mempertahankan kebenaran atas keyakinan mereka, bagaimana tidak keyakinan mereka di benturkan dengan logika-logika dan cara berfikir model silogisme. Proses berfikir yang menggunakan premis mayor dan premis minor dalam pengambilan konklusinya. Maka banyak yang kemudian terjebak dalam alur gagasan pluralisme. 

Pluralisme akhirnya semisal dengan hantu. Sesuatu yang tiba-tiba saja ada namun tidak dapat di buktikan keberadaannya, jangankan di realitas masyarakat kita, bahkan di tataran kesadaran manusia sendiri juga tidak pernah dapat kita temukan adanya pemahaman itu.

 

 


Lho kenapa bisa begitu..?. Sudah begitu banyak kajian, sudah begitu banyak di ulas di forum-forum international, bahkan MUI sendiri sudah membuatkan fatwanya. Bukankah pluralisme adalah suatu realitas dan suatu fakta !.  Eit..tenang dulu !.

Menurut MUI bahwa Pluralisme adalah suatu paham. Jadi artinya adalah suatu gagasan manusia saja atas suatu fenomena yang terjadi di masyarakat. Ketika pengamat mengamati suatu persoalan maka seakan-akan ada pluralisme di dalam suatu kelompok masyarakat. Karena di dalam kelompok masyarakat tersebut ada kelompok agama. Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan juga  lainnya. Namun perhatikan jika keluar dari sisi pengamat, misalnya kita sendiri yang merasakan, apakah kita setuju kalau dalam diri kita ada pluralisme. Apakah diri kita mengakui kebenaran agama-agama lainnya selain Islam.  Kemudian kita anut semua agama yang ada (karena benar semua), apakah begitu ?. Tentunya tidak bukan ?. Pasti kita tetap hanya memilih satu agama saja yang kita anggap benar dan kita yakini. Mana ada satu orang dengan sadar memeluk 3 agama sekaligus. Bukankah jika begitu sama halnya dengan kita mengakui kebenaran agama lain. Jika kita mengakui kebenaran agama lain, maka sama halnya dengan kita memeluk agama tersebut. Karena sejatinya agama adalah suatu konsep keyakinan atas suatu kebenaran.

Konsep tersebut sesungguhnya hanyalah memisahkan antara objek dan subjek nya saja. Apakah pluralisme adalah suatu subjek atau suatu objek. Persoalannya adalah dengan semakin kuatnya benturan antar kelompok beragama, gagasan pluralisme seakan-akan menjadi suatu realitas bagi kita. Menjadi sebuah fakta yang harus juga kita akui keberadaannya, menjadi subjek tidak menjadi objek lagi. Pluralisme akhirnya di diusung untuk menjadi kebenaran itu sendiri. Inilah perang informasi dalam kesadaran manusia. 

Maka menjadi pertanyaan mendasar. Apakah Pluralisme itu hanyalah sebuah gagasan ataukah memang sebuah kebenaran. Apakah pluralisme menjadi sebuah fakta yang ada sebagai suatu realitas bagi kesadaran  masyarakat..?. Marilah kita runut kejadiannya.

Pluralisme ?. Pada tataran manakah kita akan memulai kajian ini.

Baiklah kita mulai saja dari sebuah pertanyaan.
Kapankah kita sadari kalau Bumi itu bulat ?. Kenapa kita bisa tahu, dan kenapa kita yakini kalau Bumi itu bulat. Bahwasanya Kita bisa  tahu dan yakin begitu saja bukan..?. Informasi tersebut masuk tanpa bisa kita tolak. Masuk begitu saja dalam kesadaran kita.Kesadaran kita tidak perlu bersusah payah mencari tahu. karena kemanapun kita bertanya orang sama-sama sudah tahu bahwa Bumi itu bulat. Berita bahwa Bumi itu bulat sudah masuk menjadi Kesadaran Kolektif manusia.

Pernahkah anda membuktikan bahwa Bumi itu bulat..?. Hmm..
Pernahkah kita berfikir bahwa itu hanyalah sebuah gagasan..?.
Berapa orangkah yang sudah membuktikan bahwa Bumi Itu bulat..?.


Mari pertanyaan kita luaskan, bagaimana dengan keberadaan atom dan susunan elektronnya.
Kita kemudian ajukan pertanyaan yang sama.

Pernahkah anda membuktikan jikalau atom dan susunan elektronnya benar-benar ada..?.
Berapa orangkah yang sudah membuktikannya..?.


Kemudian berita lainnya, mari kita kaji. Berita  Bumi sebagi pusat tata surya. Berita ini di yakini dan di amini seluruh manusia di Bumi ini. Bandingkan abad sebelumnya, Matahari sebagai pusat tata surya. Berita manakah yang benar menurut kita..?. Bisakah kita menentukan..?.
Itulah cara bekerjanya sebuah informasi. Sebuah berita yang akan mempengaruhi peradaban manusia nantinya.  

Bagaimanakah kemudian kita memperlakukan berita-berita dari para nabi..?.

Kita stop dahulu !.

Kita lihat bagaimana bekerjanya informasi tersebut pada kesadaran manusia. Orang yang pernah melihat dan membuktikan Bumi bulat mungkin hanya beberapa gelintir manusia saja. Namun kenapa kita semua, seluruh manusia di dunia ini kemudian percaya berita itu..?.


Informasi dari beberapa orang itu di isyukan. Sebab dikarenakan  isyu itu kuat begitu kuat. Berita itu  Akhirnya mempengaruhi Kesadaran Kolektif suatu bangsa. Berita yang berasal dari Kesadaran diri yang kuat, ternyata mampu mempengaruhi kesadaran kolektif mayarakat, bahkan hingga ke generasi berikutnya. 


Kesadaran Kolektif atas hal itu, kemudian di turunkan ke generasi berikutnya. Sambung menyambung. Sehingga generasi berikutnya tidak memiliki alasan lagi untuk tidak percaya. sampailah ke kita, makanya kalau di jaman ini masih ada yang mempertanyakan berita tersebut, pasti akan di sangka orang gila.  

Berita ini sudah merasuki kesadaran kolektif manusia, sudah menjadi keyakinan nenek moyang kita. Maka kita tinggal mengamini saja. Kesadaran kita tidak mau bersusah payah melakukan re chek akan kebenarannya. Inilah sifat manusia.
Kenapa kita begitu saja percaya berita-berita itu..?.
Karena sudah banyak orang yang percaya.
Karena sudah menjadi kesadaran Kolektif manusia.
Apakah diri kita meyakini bahwa berita ini adalah berita yang benar.
Apakah ini suatu suatu Kebenaran. 

Itulah persoalannya. Manusia sangat malas untuk membuktikannya sendiri. Mereka selalu mengamini saja berita berita orang lain. Jika begini kejadiannya, berita yang sampai ke tangan kita meskinya sudah tidak valid lagi bukan..?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita kepada suatu pemahaman bagaimana bekerjanya suatu KESADARAN manusia. Bagaimana kemudian kecerdasan manusia di turunkan di sebarkan antar bangsa.

Cobalah kembali kepada kita. Kenapa kita percaya begitu saja dengan berita bahwa Bumi itu bulat ?. Pernahkah kita membuktikannya..?. Kalau belum, kenapa kita percaya..?. Kenapa bisa begitu..?.  Membingungkan !. Bekerjanya sistem Kesadaran Manusia memang begitu.

Baik kita stop dulu..!.

Kita masuk kepada wilayah Agama. Kenapa kita yakin bahwa agama Islam adalah benar.
Agama adalah suatu khabar, suatu berita sama saja dengan berita-berita lainnya. Apakah berita tentang agama akan sama nasibnya dengan berita bahwa Bumi itu bulat dan lainnya..?.
Akankah kita terima kebenaran begitu saja..?. 

Inilah problematikanya. Banyak manusia kemudian menerima berita tersebut begitu saja, begitu membutanya mereka. Tanpa menggunakan akal dan logikanya semena-mena menyatakan kebenarannya.

Islam jelas-jelas menentang itu !. Islam menantang kepada umat manusia untuk membuktikan kebenaran ajarannya.

Islam bahkan lebih dari itu, setiap pemeluknya di wajibkan untuk berfikir, dan membongkar kesadaran kolektif nenek moyang mereka. Jangan percaya begitu saja kepada Islam sebelum kita membuktikannya. Kita di wajibkan membongkar kesadaran kolektif nenek moyang kita baik nenek moyang kita dahulu beragama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Yahudi, atau kepercayaan-kepercayaan lainnya. Kita harus kritis. Ingat Islam ada 73 golongan Kristen ada 72 golongan Yahudi ada 71 golongan, semua agama bergolong-golongan. Manakah yang akan kita pilih. Kebenaran yang manakah ?. kalau begini keadaanya.

Maka sebagai konsekuensinya, kita sendiri harus kritis mencari diantara golongan-golongan itu yang manakah yang benar. Benar dalam kebenaran Tuhan. Maka kita harus mencari garis lurus berita-berita yang benar diantara mereka-mereka itu. Mencari benang merah. Adakah sisi kebenaran dalam Hindu, ? adakah sisi kebenaran dalam Budha ?, ada sisi kebenaran dalam Kristen ?, ada sisi kebenaran dalam Yahudi ?, ada sisi kebenaran dalam kearifan lokal (kebatinan). Adakah sisi kebenaran dalam Islam. 


Kebenaran akan selalu bertahan. Kebenaran akan selalu menjadi kebenaran.  Membentuk suatu garis lurus, garis cerita yang benar. dari mulai ajaran nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Islam melakukan klaim adalah penyempurna atas ajaran-ajaran (baca: agama) sebelumnya. Maka dapat dipahami cara pandang Islam, bahwa diantara paham suatu kelompok ada berita yang di bawa para nabi. Berita yang diturunkan dari satu kelompok kepada kelompok lainnya lintas generasi. Pasti ada benang merahnya. Menjadi satu garis lurus inilah yang di sebut Islam. Satu berita yang benar dari dahulu hingga kini itulah yang di sebut Islam. Islam dalam artian hakekatnya. 

Kita tidak dapat menolak jika ada sisi kebenaran yang di bawa oleh agama-agama yang ada di muka bumi ini. Itulah yang menyebabkan ajaran dari setiap agama di yakini umatnya, sehingga ajaran  mereka tetap bertahan dalam Kesadaran Kolektif manusia. Masalah yang krusial adalah bahwa setiap kelompok telah menerima berita hanya secara parsial, menerima suatu berita yang tidak utuh lagi. Mereka menerima  sebuah berita yang tidak lengkap yang sampai kepada mereka, inilah menjadikan kebenaran yang tidak utuh lagi. Kebenaran yang tidak utuh yang kemudian di klaim menjadi kebenaran sempurna. Kebenaran yang cacat akibat terputusnya berita-berita dari para nabi kepada mereka, sayangnya kebenaran yang cacat ini akhirnya menjadi doktrin agama. Menjadi pemahaman Iman yang sempit.

Kebenaran tersebut ada karena beritanya memang di bawa oleh nabi yang sama. Namun cerita menjadi berbeda ketika berita tersebut di turunkan dari satu kaum ke kaum lainnya. Banyak persepsi manusia di setiap generasi yang kemudian melingkupi. Banyak kepentingan manusia di kemudian hari yang kemudian mengangkangi berita tersebut. Berita tersebut kemudian di kemas di sesuaikan dengan kepentingan pribadi, politik dan golongannya. Inilah kejadian yang menimpa atas berita-berita yang di sampaikan para nabi.

Umat Islam kemudian di tantang untuk memikirkan ini. Memikirkan jalan mana yang lurus. Mencari hakekat agama mana yang benar. Mencari kebenaran dalam Islam. Dalam banyak ayat umat Islam di suruh memikirkan dan berjalan di permukaan bumi, mempelajari peradaban-peradaban bangsa-bangsa terdahulu. Memikirkan langit dan bumi, perputaran angin, hujan dan sebagainya. Eksplorasi ini penting agar manusia menggunakan akal dan fikirannya secara objektif menilai semua ajaran yang ada. Ingat Islam tetap mengakui keberadaan dan kebenaran kitab-kitab terdahulu. (Iman kepada kitab-kitab Allah).

Maka jika kita ikuti garis lurus itu, kita ikuti alur cerita dari para nabi, sudah pasti agama hanya akan ada satu. Satu agama yang berlaku universal. Berlaku baik kepada manusia maupun kepada alam sekitarnya. Berlaku di makro mapun mikro kosmos. Berlaku melingkupi alam semesta beserta isinya. Tidak ada pluralisme. . 

Coba perhatikanlah, konfigurasi atas tata surya, coba perhatikan konfigusrasi elektron, coba perhatikan konfigurasi atom dalam senyawa. Coba perhatikan system ketubuhan kita, dari sel, hingga organ-organnya. Semua teratur rapi, semua tunduk kepada suatu system, semua berserah kepada suatu system. Siklus kehidupan lahir dan mati. Semua tunduk kepada suatu system. Semua itu ber "ISLAM" 

Maka manusia hanya mengenal satu kata BERSERAH kepada system, kepada sunatulloh, kepada Dzat yang menciptakan keadaan semua itu. Maka manusia hanya mengenal satu kata yaitu  ISLAM. Begitu juga Allah Tuhan semesta alam juga hanya MERIDHOI agama Islam. Terserah kepada manusia mau sukarela atau terpaksa. Inilah realitas, inilah fakta, inilah kebenaran. Maka dhien yang benar adalah Islam.  

Kita tidak pernah tahu jiwa-jiwa manakah yang ber Islam..?. Apakah orang yang mengaku Islam memiliki Jiwa Islam..?. Malahan mungkin saja orang yang dalam kesehariannya mereka adalah beragama Hindu, Budha, Kristen atau lainnya, justru Jiwanya malahan telah ber Islam (berserah). Siapa tahu. Kita tidak pernah tahu itu. Maka bisa saja dia Hindu namun hakekatnya adalah tetap Islam, sebab jiwanya berserah kepada dzat yang satu. (Ada satu aliran dalam Hindu yang memiliki keyakinan mirip dengan Islam). 

Maka jika ada agama yang mengajarkan Islami, itu adalah ajaran agama yang benar. Jika suatu agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk hanya berserah kepada Dzat yang menciptakan, yang mengadakan alam semesta sebagaimana keadaannya ini. Itu pasti adalah agama yang benar. Karena agama tersebut selaras dengan realitas dan fakta-fakta yang ada.
Maka perhatikanlah agama yang manakah itu. 

Adakah sebagian golongan Hindu mengajarkan ini.
Adakah sebagian golongan Budha mengajarkan ini.
Adakah sebagian golongan Kristen mengajarkan ini.
Adakah sebagian golongan Yahudi mengajarkan ini.
Adakah sebagian golongan kebatinan mengajarkan ini.
Adakah Islam juga mengajarkan hal yang sama.

Mari kita tarik garis lurus. Shirotol mustakim. Jalan yang lurus. Jalan yang membentang dari mulai nabi Adam hingga nabi Muhammad SAW.  Itulah, maka Islam mewajibkan bagi umatnya untuk mengakui para nabi dan kitab terdahulu. Agar manusia mampu menarik garis lurus kebenaran ajaran dalam setiap peradabannya.  

Perhatikanlah semuanya, methode manakah dari semua agama tersebut yang mampu menghantarkan   pemeluknya kepada suasana berserah itu. Suasana ber “Islam" itu. Maka itu pasti agama yang benar.  

Baik kita stop lagi..!. 

Apakah pluralisme adalah suatu realitas, adakah suatu fakta..?. Nanti dulu..!
Realitas bagi kita adalah fakta, sebagaimana alam semesta ini. Islam adalah realitas. Sebagaimana sudah di jelaskan di muka.

Maka pendapat saya, Pluralisme hanyalah sebuah gagasan manusia saja. Kenapa ?. Sebagaimana sebuah berita. Berita tentang pluralisme seperti ini tergantung kepada kita menyikapi. Mau dianggap ada juga boleh, mau dianggap tidak ada juga tidak apa-apa. Toh kesadaran itu milik kita sendiri, suka-suka kita saja, mau mengakui pluralisme atau tidak. Kalau kita menolak, terus mau apa..?. Realitas adalah segala sesuatu yang tidak dapat di tolak oleh akal dan logika kita, karena di akui kebenarannya. Jika sesuatu kebenaran masih bisa di pertanyakan, masih bisa di tolak maka itu bukanlah kebenaran, itu bukanlah suatu realitas. Ketika kita di pukul adalah sakit. Maka sakit itu adalah suatu kebenaran. Sakit itu suatu realitas bagi semua orang. Namun bagaimana ceritanya dengan pluralisme. Seyogyanya kita tidak di bingungkan dengan banyaknya istilah yang dapat menjebak kita dalam suatu pemikiran yang lainnya. 

Maka saya katakan sekali lagi, pluralisme hanyalah sebuah gagasan. Hanya sebuah ide, bukan realitas itu sendiri. Karena nyatanya pluralisme itu tidak dapat di buktikan..?. Kita hanya melihat kemasan luar, seakan-akan ada perbedaan. Nyatanya setiap manusia dalam satu keyakinannya masing-masing. Jarang sekali manusia yang mendua, yaitu yakin kepada Tuhan yang satu dan yakin juga kepada Tuhan yang banyak. Jarang sekali manusia beragama Islam, Hindu, Budha sekaligus. Bila manusia seperti ini, maka itu pluralisme sesungguhnya. Karena kesadaran manusia itu telah mengakui semua agama, sehingga dengan enaknya dia memeluk semua agama-agama itu. Ini baru yang dinamakan realitas atas pluralisme. 

Mari kita buktikan. Jika kita bertanya kepada masing-masing agama, maka semua agama akan menyatakan kebenaran agama mereka masing-masing. Itulah, maka bagi pemeluk agama tidaklah mengenal pluralisme. Sebab mereka hanya meyakini kebenaran versi agama mereka. Pluralisme bukanlah fakta. Tidak ada dalam kesadaran manusia yang sekaligus mengakui banyak agama. Mereka pasti akan memilih hanya satu agama untuk dirinya. Maka bagi dirinya tidak ada pluralisme. 

Maka karenanya, sesungguhnya pluralisme itu tidak pernah ada. Pluralisme hanya bermain dalam tataran para pemikir (ilmuwan) saja, yang senang bermain di angan-angan. Melihat sesuatu dari luar. Itulah yang dinamakan gagasan. Kenyataannya dalam kesadaran manusia tidak pernah meyakini kebenaran agama lainnya. Dalam kesadaran manusia tidak ada namanya pluralisme. Cobalah lakukan survai untuk membuktikan hal ini.

Kita stop lagi..!

Kita menginjak kepada pembahasan para pemeluknya. Sebagai person. Sebagai individu.
Dalam tulisan saya sudah cukup banyak mengulas perihal surga dan neraka. Surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah.  Perihal ada sebagian umat Islam melakukan klaim bahwa surga adalah hanya untuk umat Islam saja. Itu sah saja dan memang seperti itu kejadiannya. Namun sekali lagi Islam dalam makna apa..?. Jika yang dimaksud adalah Islam realitas dan fakta, seperti ulasan saya di muka. Maka saya katakan klaim  itu benar.  

Karena dasar apa..?
Secara realitas tubuh manusia akan kembali kepada tempat semula. Seluruh elemen dan dzat akan kembali kepada bentuk asalnya. Atom tanah kembali ke tanah. Sementara entitas lainnya akan kembali juga kepada asalnya. Jiwa manusia akan kembali kepada asal dimensinya. Itulah sunatulloh, itulah bekerjanya system.

Ketika di dunia jiwa manusia tidak berserah kepada system, tidak ber Islam. Maka secara logika kita sudah tahu bahwa jiwa tersebut sudah keluar dari system sejak ada di dunia ini, maka jika sampai di akherat pun jiwa itu  tidak akan kembali kepada asal kejadiannya. JIwa itu sudah keluar dari system dengan sendirinya. Maka dengan sendirinya jiwa itu sudah tidak berada dalam dimensinya sejak awal, sejak masih di dunia ini, sehingga mereka kemudian di akherat kesulitan untuk kembali kepada asal nya lagi, asal dimensinya. Jika jiwa (manusia) keluar dari system, tempatnya adalah neraka. Itulah hukumnya. Tidak ada satu dzat pun yang berani keluar dari system kecuali jiwa manusia.

Masalahnya lagi adalah kita tidak pernah tahu bahwa di sebagian umat Hindu mungkin juga ada yang ber Islam, di sebagian umat Budha juga ada yang ber Islam, begitu juga dengan umat Kristen dan lainnya. Sebab sifat ke universalan Islam itu sendiri. Jika mereka ber Islam, apakah atas mereka tetap neraka ?. Kebalikannya dengan orang Islam, yang mengaku dirinya Islam. Meskipun  mereka semua mengaku Islam, namun jika mereka tidak mampu ber serah diri, meraka hakekatnya tidak ber Islam. Apakah atas mereka ini berlaku surga..?. Tuhan yang mengatur semua kejadian ini. 

Apakah kita bisa menentukan jika sebelum kematiannya orang Budha tetap dalam Budhanya. Tidak ada yang bisa memastikan itu. Kita melihat hanya dari sisi saat sekarang yang kita lihat. Jarang kita melihat bagaimana akhir kejadiannya bagi mereka-mereka itu. Inilah keadilan takdir Allah. Meski mereka di lahirkan beragama selain Islam. Namun pada kematiannya belum dapat dipastikan bahwa dia tetap dalam agamanya. Jika Allah berkehendak maka dia akan mengakui Islam. Dia kan berserah kepada Tuhan yang satu. 

Jadi Islam seperti apakah yang di maksudkan. Islam dalam realitas ataukah Islam dalam gagasan angan-angan tiap kelompok saja. Inilah realitas dan fakta yang ada. Maka selain dari Islam yang benar. Maka pemahaman lainnya adalah hanya GAGASAN manusia saja. Sebab di dunia ini sudah banyak agama-agama yang berupa gagasan-gagasan saja. Islam dalam 73 golongan, Kristen dalam 72 golongan, Yahudi dalam 71 golongan, Budha, Hindu dan lainnya dalam banyak golongan. Dari semua itu yang realitas hanya ada 1 golongan, selebihnya hanyalah berupa gagasan-gagasan manusia saja. Manakah yang akan kita pilih yang gagasan ataukah yang realitas ?.

Maka pelajarilah perbandingan agama-agama. Kita akan dapati kebenaran ini. Selamat mengkaji. Semoga kita di berikan hidayah untuk menemukan yang satu. Yang satu itu pasti akan berkesesuaian dari dahulu hingga kini. Jika sudah ketemu, berpeganglah yang kuat pada tali itu. Hingga kita tidak terpecah-pecah lagi. Biarkanlah semua itu, setiap manusia dalam makomnya masing-masing. 

Wallahuaklam

Artikel Terkait :

Tidak ada komentar:

Entri Terkini :

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Belanja di Amazon.com :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]