Loading...
 

Ayo belajar dengan TV-e !,

 

GURU SEJATINYA TETAP KUNCI DALAM PROSES PEMBELAJARAN. NAMUN, SEBAGAI AGEN PERUBAHAN, GURU DITUNTUT HARUS MAMPU MELAKUKAN VALIDASI MEPERBAHARUI KEMAMPUANNYA, SESUAI DENGAN TUNTUTAN ZAMAN AGAR TIDAK TERTINGGAL

Jumat, 13 Februari 2026

Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”

Remaja Jompo dan Bahaya ”Digital Dementia”  


Mayoritas masyarakat Indonesia berisiko terkena gangguan Digital Dementia, terutama anak kecil dan Gen Z yang sedang aktif-aktifnya menggunakan ponsel dan internet. 

Penggunaan ponsel pintar di Indonesia semakin masif dari hari ke hari. Melansir data statisik dari data.goodstats.id[1], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia cenderung naik dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2015 jumlahnya tidak sampai 60 juta pengguna, di tahun 2023, sewindu kemudian, jumlahnya melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 180 juta pengguna. 

Melansir prioridata.com[2], jumlah pengguna ponsel pintar di Indonesia saat ini mencapai 187 juta, berada di urutan keempat sebagai negara dengan pengguna ponsel pintar terbanyak di dunia setelah China, India, dan Amerika yang berada di urutan pertama, kedua, dan ketiga. Namun jika dilihat dari persentase penetrasi ponsel pintar, Indonesia memiliki persentase penetrasi yang sama dengan China. 

Persentase penetrasi internet juga sejalan dengan pertumbuhan pengguna ponsel pintar di Indonesia. Menurut data yang diambil dari dataportal.com[3], penetrasi internet di Indonesia naik drastis di tahun 2024 dengan persentase 66.5 persen penduduk Indonesia adalah pengguna internet, dari yang sebelumnya hanya 28 persen di tahun 2015. Mirisnya, masih dari laman yang sama, rata-rata penduduk Indonesia dilaporkan memiliki waktu guna (screentime) internet sekitar 7 jam setiap hari, jumlah yang hampir setara dengan sepertiga waktu harian mereka telah habis digunakan untuk menjelajah dunia maya. 

Ternyata, kondisi serupa juga terjadi di pelbagai belahan dunia. Thailand, Mesir dan Mexico mencatat rata-rata waktu guna internet serupa dengan Indonesia, disusul oleh Malaysia dan Rusia yang penduduknya sedikit lebih lama aktif di dunia maya dengan rata-rata 8 jam waktu guna dalam sehari. Jika dilihat dari kategori usia, di seluruh dunia, pengguna internet yang paling lama aktif di dunia maya adalah Gen Z yang berusia 16-24 tahun yang rata-rata menghabiskan sekitar 7 jam setiap hari untuk eksis di dunia maya. 

Fenomena naiknya jumlah pengguna ponsel pintar dan durasi berselancar di dunia digital menggugah banyak peneliti dan pemerhati kesehatan untuk menginvestigasi dampak penggunaan ponsel pintar dan durasi waktu guna internet pada kesehatan penggunanya. 

Melalui berbagai tes seperti uji daya ingat, tes ketajaman fokus, tes kecemasan, dan indeks prestasi, para peneliti menemukan beberapa efek negatif dari penggunaan ponsel pintar dan internet yang ekstensif. Dampak negatif ini meliputi adiksi gawai, kecemasan jika tidak memegang gawai, fear of missing out (FOMO), penurunan indeks prestasi, dan yang terbaru adalah risiko gangguan Digital Dementia. 

Digital Dementia 

Istilah Digital Dementia pertama kali dikemukakan oleh seorang pakar neuropsikiatris asal Jerman, Manfred Spitzer, yang merujuk pada fenomena menurunnya fungsi kognitif karena terlalu sering bergantung pada teknologi seperti ponsel pintar dan internet. Istilah ini kemudian menyebar cepat melalui berbagai publikasi digital di banyak negara yang digunakan untuk menjelaskan fenomena penurunan kemampuan kognitif seperti menurunnya daya ingat, sulit mengambil keputusan, hingga berkurangnya kemampuan fokus dan bersosialisasi akibat penggunaan gawai yang berlebihan (Manwell et al., 2022). Meski memiliki gejala yang mirip dengan gangguan demensia pada umumnya, gangguan ini lebih berbahaya karena bukan hanya menyerang individu berusia senja, namun juga individu berusia muda sebagai golongan pengguna gawai paling aktif. 

Korelasi antara ketergantungan pada ponsel pintar untuk mengerjakan aktifitas manusia dan minimnya pelibatan kemampuan kognitif bawaan manusia adalah pemicu utama dari gangguan ini. Sejak lahir, otak manusia memiliki sifat plasticity atau neuroplasticitas yang berarti ia dapat berubah, berkembang, dan beradaptasi sebagai respons dari pengalaman, pembelajaran, dan ingatan yang dilalui manusia setiap hari. Artinya, perkembangan otak, berikut fungsi kognitifnya, sangat bergantung pada masukan informasi dan keterlibatannya dalam aktifitas sehari-hari. 

Saat manusia lebih sering bergantung pada ponsel pintar untuk mengerjakan tugas seperti mengingat, navigasi arah, atau menganalisis informasi, kemampuan kognitifnya tidak mendapat masukan dan pengalaman yang diperlukan untuk berkembang. Defisiensi aktivitas koginitif dalam jangka panjang bahkan dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. 

Penurunan fungsi kognitif  bukanlah efek akhir dari ketergantungan manusia terhadap teknologi. Dekadensi kognitif ini justru adalah awal dari ‘efek domino’ yang dapat mengebiri produktifitas manusia. Ironisnya, gangguan ini justru mengancam kaum muda yang seharusnya sedang berada di puncak produktivitas. 

Lebih jauh, penggunaan internet melalui ponsel pintar juga menambah daftar pekerjaan manusia yang diambil alih oleh gawainya. Bertambahnya jumlah tugas yang dapat didelegasikan tentu berbanding terbalik dengan jumlah aktifitas yang dibebankan pada otak. Laporan dari pelbagai publikasi ilmiah telah menyatakan bahwa semakin banyak aktivitas manusia yang didelegasikan pada ponsel pintar dan internet, semakin besar juga risiko mereka tekena digital dementia. Kondisi ini kemudian diperparah oleh durasi pemakaian gawai yang ekstensif. Tidak heran, gangguan digital ini lebih mudah menyerang anak muda di usia produktif yang hampir seluruh waktunya digunakan untuk memakai ponsel pintar dan internet, daripada orang berusia senja dengan waktu guna gawai yang sedikit. 

Menjaga Diet Digital 

Melihat besarnya dampat negatif dari Digital Dementia, sudah saatnya bagi pemerintah secara khusus, dan masyarakat luas pada umumnya untuk lebih memperhatikan ‘porsi’ konsumsi digital yang didapat melalui ponsel dan internet. Masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan aktivitas kognitif seperti membaca atau melakukan games teka-teki yang memerlukan usaha untuk mengingat dan menganalisis. Studi dari Eckroth-Bucher & Siberski (2009) menemukan bahwa memperbanyak aktivitas yang melibatkan fungsi daya ingat dapat secara signifikan memperbaiki daya ingat yang menurun akibat Digital Dementia. 

Sejalan dengan memperbanyak kegiatan luring yang melibatkan kerja kognitif, penerapan salah satu ‘diet’ digital, digital detox, juga terbukti dapat mencegah risiko terkena Digital Dementia. Digital detox merujuk pada upaya secara sengaja untuk beberapa waktu lepas dan tidak aktif memakai ponsel dan internet. Program diet ini memiliki banyak bentuk yang dapat diaplikasikan dan disesuaikan mengikuti kondisi seorang individu. Contohnya, seseorang dapat dengan sengaja menonaktifkan salah satu aplikasi di ponselnya yang dinilai memiliki waktu guna paling lama. Bentuk lainnya adalah menerapkan program sehari tanpa memakai ponsel atau internet, dan menghabiskan waktu untuk berkegiatan jauh dari dunia maya. 

Orang tua dan sekolah, sebagai tokoh penting dalam kehidupan anak muda, juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak-anak muda di bawah umur. Orangtua dianjurkan mengawasi dan membatasi penggunaan ponsel pintar untuk anak, terutama saat di usia 0-5 tahun. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara mengajak buah hati beraktivitas di luar ruangan yang jauh dari gawai, menyibukkan mereka dengan eksplorasi lingkungan sekitar, atau mengenalkannnya pada permainan – permainan tradisional yang dapat melatih kemampuan motorik dan kognitif mereka. 

Pemerintah juga memiliki peran krusial sebagai fasilitator, inisiator, dan pengawas untuk mencegah meluasnya gangguan Digital Dementia. Jajaran pemerintahan terkait seperti Kementerian komunikasi dan digital (Komdigi) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat bekerja bersama untuk memulai penyuluhan, sosialisasi, dan perancangan program penggunaan gawai di akar rumput, sehingga seluruh lapisan masyarakat Indonesia mendapat informasi yang jelas mengenai gangguan Digital Dementia. 

Selayaknya pemerintah Indonesia yang menaruh perhatian penuh pada diet makanan masyarakat Indonesia melalui program makanan bergizi gratis (MBG) yang menargetkan pemuda dan anak – anak sebagai penerima manfaat utama, pemerintah seharusnya juga menaruh perhatian yang sama untuk ‘diet’ penggunaan gawai dan pemakaian internet dengan mulai merencanakan regulasi dan program diet digital yang sehat. Pertumbuhan gizi Masyarakat Indonesia yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas SDM bangsa bisa jadi hanya akan menjadi angan belaka jika fokus perbaikan diet terhenti hanya di perut tanpa sampai ke kepala. 

Literasi Digital 

Akses internet dan penetrasi ponsel pintar yang terus bertumbuh di Indonesia tidak serta merta hanya membawa dampak positif, ada dampak negatif yang membayangi seiring dengan penggunaan teknologi mutakhir tersebut. Digital Dementia yang mengganggu dan menurunkan kemampuan kognitif menjadi bukti nyata bahwa penggunaan teknologi yang tidak bijak bukan membawa manfaat, justru mendatangkan mudarat yang membahayakan. 

Peran literasi digital sangat penting untuk mendeteksi dampak-dampak negatif dari penggunaan teknologi seperti ponsel pintal dan internet agar potensi dari kemajuan di bidang tersebut dapat dioptimalkan sambil tetap menghindari dampak negatifnya. Akhirnya, saat ponsel pintar dan internet menawarkan ketidakbatasan dan kebebasan untuk mengakses informasi, kontrol diri dan dukungan dari lingkungan dan pemerintah menjadi kunci utama untuk tetap menjadi bijak dalam menggunakan teknologi. 

Artikel oleh : Iqbal Fathi Izzudin, Peneliti Linguistik Kognitif Lancaster University 

Jumat, 06 Februari 2026

Kearifan Ibunda Thomas Alva Edison Dalam Mendidik Anak


Kearifan Ibunda Thomas Alva Edison Dalam Mendidik Anak 


THOMAS EDISON, murid kelas tiga sebuah sekolah dasar, suatu hari pulang lebih awal dari sekolahnya. Ia diminta oleh Kepala Sekolah untuk menyampaikan surat kepada ibunya. 

Sesampai di rumah, ia menyerahkan surat itu, dan Ibu Thomas segera membacanya. Lalu airmatanya mengucur tak terbendung. 

Thomas bertanya, apa isi surat itu dan kenapa ibunya menangis. Ibunya tak menjawab, tapi membacakan surat itu dengan suara keras: "Anak Ibu adalah seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil baginya dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mendidiknya. Silakan Ibu ajari dia sendiri.” 

Itu adalah pesan yang sangat jelas bahwa Thomas, anak bungsu dari tujuh bersaudara, diberhentikan dari sekolahnya. Maka ibunya kemudian melakukan apa yang persis disarankan oleh Pak Kepala Sekolah. Ia mengajar sendiri anaknya dengan tekun, sabar dan dedikatif. 

Kerja keras, kesabaran dan ketekunan ibu Thomas dalam mendidik anaknya membuahkan hasil yang melampaui harapan. Thomas pun mewarisi ketekunan ibunya. Ia dengan cepat menunjukkan bakat besar dalam urusan mekanik, selain rajin melakukan bermacam-macam eksperimen kimia. 

Lalu ia menjelma salah satu inventor terbesar di dunia, dan memegang hak paten yang sangat banyak — ada yang mengatakan hingga seribu buah; bola lampu pijar hanya salah satu yang paling terkenal. Ia juga mendirikan perusahaan yang sampai sekarang menjadi salah satu grup bisnis terbesar dan paling mashur di dunia, General Electric. 

Ibunya meninggal dunia dalam usia tua. Dan ketika Edison memeriksa barang-barang peninggalan sang ibu, ia menemukan surat Kepala Sekolah di masa ia duduk di SD dulu. Ia segera membuka dan membacanya: 

"Anak Ibu mengidap gangguan mental. Kami tidak akan mengizinkannya datang ke sekolah lagi." 

Saat itulah Edison baru menyadari apa yang telah dilakukan ibunya untuknya puluhan tahun lalu. Ia kemudian menulis di buku hariannya: "Thomas Alva Edison adalah seorang anak yang lamban yang, berkat ibu pahlawan, menjadi jenius abad ini." 

Bisakah Anda bayangkan apa yang mungkin terjadi pada Thomas Edison jika ibunya ketika itu membacakan untuknya kata-kata kasar dan menyakitkan yang ditulis oleh Pak Kepala Sekolah? 

Ibunda Thomas Edison memilih untuk tidak berbuat seperti kebanyakan orangtua yang menerima surat semacam itu dari sekolah anaknya; yang biasanya kontan menginterogasi si anak tentang perbuatan apa yang dia lalukan di sekolah. 

Ia memilih menyusun skenario yang justeru membesarkan hati, membalik cerita dan menutupi kelemahan yang tampaknya ia ketahui memang diidap oleh anaknya. 

Ibu Thomas lalu menciptakan konteks di mana anaknya dapat tumbuh mencapai potensi penuhnya — suatu potensi yang luput dari pandangan guru-gurunya di sekolah. 

Kisah Thomas Edison membuat kita, sebagai orangtua, sebagai orang dewasa, harus berpikir matang-matang sebelum menyampaikan suatu pesan kepada anak-anak. 

Cerita Edison juga mestinya menginspirasi para guru tentang apa yang sebaiknya mereka katakan kepada murid-murid, terutama yang dianggap kurang berprestasi. 

Perlakuan mereka, kata-kata mereka, akan terpatri abadi dalam diri anak-anak, dengan segala konsekuensinya. Pada kasus Thomas Edison, patri itu membuatnya menjadi penemu cemerlang berkat kearifan ibunya, Nancy Matthews Elliot. 

Pada banyak kasus lain, pada anak-anak yang orangtuanya tak searif ibu Edison, mungkin yang terjadi sebaliknya. 

Tapi kabar baiknya: bersikap seperti Nancy Elliot, seorang ibu rumah tangga biasa di kampung kecil bernama Milan di Ohio, Amerika, sebetulnya sama sekali tidak sulit. 

e-Newsletter Pendididkan @ Facebook :

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PANDUAN VERIFIKASI AKUN PAYPAL ANDA KE REKENING BANK ANDA [KLIK DISINI]